Perempuan-perempuan itu memang tak pergi jauh seperti para lelaki pesisir Raja Ampat yang menempuh puluhan kilometer ke tengah laut untuk menangkap hasil laut.
Para lelaki tinggalkan keluarga mereka berhari-hari demi mendapatkan hasil laut.
Perempuan-perempuan itu harus bisa bertahan hidup ketika suami mereka meninggalkan mereka selama beberapa hari.
Mereka lebih banyak beraktivitas di sekitar kawasan mangrove dan di darat.
Ketika Mangrove Mulai Menghilang...
Bagi mereka, hutan mangrove adalah nadi kehidupan mereka yang terus berdenyut. Namun, denyut-denyut itu melemah memberikan sinyal ancaman untuk keberlangsungan hidup mereka semenjak Raja Ampat menjadi wilayah otonom sendiri di tahun 2003 hingga berkembang menjadi kawasan pariwisata mulai tahun 2009. Hutan mangrove di Raja Ampat pun mulai mengalami degradasi setelah bertahun-tahun kemudian menjadi kawasan pariwisata
Padahal mangrove bukan hanya sekadar hutan pesisir. Mangrove berperan sebagai pelindung pantai, habitat berbagai biota laut, dan sumber pangan dan penghidupan bagi masyarakat. Menjaga mangrove berarti menjaga ketahanan pangan, keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir.
Resort dan penginapan yang berdiri di atas air laut sebening kaca di pesisir Raja Ampat itu dibangun dari kayu-kayu mangrove. Para turis domestik maupun mancanegara bisa dengan nyaman tinggal di dalamnya. Para perempuan Raja Ampat cukup menyadari bahwa hutan mangrove mulai mengalami kerusakan.
Kenapa mangrove jadi napas kehidupan?
Semua ini bermula dari kisah suku Biak di pulau Supiori yang melakukan perjalanan ke Raja Ampat. Rupanya, sejak abad 14, Suku Biak telah mengenal dan mengkonsumsi mangrove. Kearifan lokal pada gastronomi mereka tampak dalam penyimpanan mangrove mentah selama 10 tahun. Ketika akan mengkonsumsinya, mereka akan mengambil secukupnya dan mengolahnya.
Sementara buah dari mangrove jenis lindur (Bruguiera gynnorhiza) yang dikonsumsi untuk bekal perjalanan jauh antar pulau itu menjadi warisan gastronomi turun-temurun karena sifatnya yang sangat awet meski telah diolah.
![]() |
| Buah mangrove jenis lindur/aibon cocok untuk tepung mangrove, stik mangrove dll |
Buah bakau ini menjadi sumber karbohidrat alternatif yang penting sebagai pengganti ubi atau sagu ketika sulit didapatkan.
Bagi mereka, mangrove menjadi bukti ketahanan pangan mereka. Mangrove telah menjadi napas kehidupan mereka. Sampai saat ini pun, masyarakat pesisir masih menjadikan mangrove sebagai sumber bahan pangan mereka.
Mangrove memiliki dua peran sekaligus yaitu sebagai perlindungan ekosistem juga sebagai sumber pangan lokal. Ketika hutan mangrove mereka terjaga maka sumber pangan mereka juga terjaga.
Jaga Hutan = Jaga Sumber Pangan
Menurut Wawiyai Steve, narasumber Perkumpulan Kawan Pesisir Raja Ampat (PKPRA), saat webinar bersama Eco Blogger Squad bersama TAF (The Asia Foundation) dan PKPRA, kerusakan mangrove di tahun 2019 sudah mencapai 57%.
![]() |
| Wilayah Mangrove Raja Ampat yang Mengalami Perubahan |
Salah satu penyebabnya adalah pengambilan kayu mangrove untuk pembangunan penginapan atau resort. Ini menjadi tantangan besar sebab Raja Ampat merupakan pulau karst sehingga hutan kayu tidak bisa tumbuh. Mereka pun menggunakan kayu mangrove untuk pembangunan.
Inspirasi dari Suara Perempuan Raja Ampat
Di balik keindahan Raja Ampat, ternyata kawasan pesisir Raja Ampat tersebut menyimpan permasalahan lingkungan yang berdampak bagi masyarakatnya, terutama para perempuan Raja Ampat.
Dalam tiap permasalahan, hukum adat berperan penting. Menurut hukum adat, para perempuan ini tak punya kuasa untuk memutuskan terhadap pengelolaan sumber daya alam.
Kira-kira bagaimana kaum perempuan ini menyikapi hukum adat yang melekat dalam kehidupan mereka?
Hukum adat bukan berarti tidak melibatkan perempuan pada tanah yang mereka pijak. Dari cerita Daniel Kbarek dan Wawiyai Steve, para perempuan Raja Ampat khususnya di kampung Friwen dan Yenbesser memberikan inspirasinya dalam restorasi mangrove.
Mari kita simak inspirasi ketahanan pangan dari para perempuan Raja Ampat.
Keberanian bersuara dari Perempuan Raja Ampat
Keputusan memang di tangan para laki-laki, namun para perempuan juga punya hak suara yang harus didengarkan.
Yang menjadi inspirasi perempuan Raja Ampat di sini adalah keberanian bersuara atas permasalahan lingkungan di kampung mereka. Tidak semua orang mau dan berani dalam menghadapi masalah lingkungan.
Diskusi-diskusi pun dilakukan antara laki-laki dan perempuan dan menghasilkan keputusan bahwa mereka membagi ruang kelola kelompok laki-laki dan perempuan. Pada akhirnya, kelompok perempuan menjadi kelompok yang dominan dalam pengelolaan dan perlindungan hutan mangrove.
Peka dan peduli terhadap masalah lingkungan
Tidak semua orang mau peduli dengan masalah kerusakan lingkungan yang ada di sekitarnya. Namun, para perempuan di Raja Ampat ini cukup peka dan peduli terhadap degradasi hutan mangrove yang menjadi sumber pangan mereka.
Ikut terlibat dalam perlindungan mangrove
Keterlibatan masyarakat Friwen dan Yenbesser dalam perlindungan mangrove menjadi inspirasi bagi kita semua. Hasilnya terasa ketika masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut berperan aktif dalam pengelolaan dan pengawasan mangrove sejak tahun 2019.
Beberapa kegiatan masyarakat dalam merestorasi mangrove adalah melakukan :
Pembibitan, persemaian dan penanaman di kawasan yang mengalami kerusakan
Para perempuan di Raja Ampat ini ikut terlibat dari pembibitan hingga penanaman kembali mangrove.
Pengolahan produk mangrove sebagai pangan lokal dalam peningkatan ekonomi masyarakat.
Masyarakat mengidentifikasi jenis mangrove yang nantinya akan diolah menjadi bahan pangan lokal.
Jenis mangrove yang bisa diolah dari jenis Bruguiera gynnorhiza. Bagian mangrove yang diolah adalah buahnya (aibon) memiliki nilai ekonomi yang dapat dijual bagi wisatawan. Dengan begitu, produk hutan mangrove dari kayu bisa berkurang.
![]() |
| Aibon yang sudah dikeringkan (IG Kawan Pesisir) |
Menciptakan ketahanan pangan memang perlu dilakukan pelatihan-pelatihan agar para perempuan di Friwen dan Yenbesser ini mampu berinovasi terhadap bahan pangan lokal.
Mereka membuat berbagai macam produk mangrove, seperti tepung mangrove, kukis mangrove, mie mangrove, sirup mangrove, madu mangrove dan lain-lain. Produk mangrove tersebut dikemas untuk dijadikan produk yang ditawarkan pada wisatawan di Raja Ampat.
![]() |
| Pangan lokal Raja Ampat: mie mangrove, kukis mangrove dan kripik mangrove |
Mereka membuat kegiatan pelatihan gastronomi yang berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk mengembalikan resep orang tua yang mulai hilang.
![]() |
| Mama-Mama Papua di Raja Ampat Mengolah Pangan Lokal (IG Kawan Pesisir) |
Harapannya, produk pangan lokal ini bisa menjadi ketahanan pangan masyarakat Raja Ampat.
Cerita unik ketika Bupati Raja Ampat mencoba produk mangrove, ia menangis. Ternyata beliau teringat masa kecilnya yang tinggal di kawasan mangrove dan terbiasa dengan konsumsi produk mangrove. Sayangnya, saat ini cita rasa produk mangrove itu hilang. Adanya pelatihan gastronomi ini penting untuk menjaga warisan pangan lokal yang mulai hilang.
Jasa lingkungan dan program adopsi mangrove bagi wisatawan.
Mengunjungi Raja Ampat akan menjadi pengalaman yang luar biasa karena masyarakat Raja Ampat, khususnya di Friwen dan Yenbesser, menyedakan jasa lingkungan seperti mangrove tracking, forest tracking, bird watching, pasir timbul, diving dan snorkeling, dan wisata pantai lainnya.
Melek hukum dengan pengajuan kegalitas hukum
Apalah artinya sebuah upaya perlindungan tanpa legalitas hukum. Sebab tanah yang kita jaga ternyata adalah milik pihak lain. Tak sebatas itu, tentu saja tanpa legalitas hukum maka mereka tak bisa punya hak atas tanah yang mereka tinggali.
Kelompok Tani Mangrove mengajukan legalitas hukum akses sumber daya alam yang sudah mereka jaga. Didukung oleh Kawan Pesisir dan The Asia Foundation dalam PAPeDA 4, mereka memperkuat peran serta masyarakat dalam pengelolaan dan perlindungan mangrove. Dari upaya tersebut, masyarakat Raja Ampat memperoleh SK Hutan Desa seluas 1025 hektar yang menjadi ruang pengelolaan sumber daya alam berbasis perhutanan sosial.
Yang paling penting dalam penglolaan sumberdaya alam adalah membagi pemanfaatan ruang dari 1025 hektar menjadi tiga bagian: hutan lindung, ruang pemanfaatan, dan ruang pemanfaatan berbasis konservasi (di dalamnya ada tempat ‘keramat’ yang harus dijaga).
Dengan adanya akses legal ini, masyarakat hukum adat sekitar di kawasan hutan mangrove dapat mengelola dan memanfaatkan hasil hutan tanpa merusaknya.
Tujuan utamanya tentu saja untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan, menjaga keseimbangan ekosistem dan kelestarian fungsi hutan mangrove, dan mencegah serta menyelesaikan konflik di sekitar kawasan hutan.
Namun, terbitnya legalitas hukum bukan berarti masalah selesai. Justru disitulah masalah terberat. Paska akses legalitas diperlukan penguatan kelembagaan. Bagaimana masyarakat tetap bertahan dalam pengelolaan mangrove secara terorganisir.
Bersama Kawan Pesisir dan The Asia Foundation ini dalam program PAPeDA 5, masyarakat Friwen dan Yenbesser melakukan penguatan kelembagaan melalui program LPHD/LPHK dan 4 kelompok perhutanan sosial (KUPS kerajinan tangan, KUPS pengolahan hasil hutan non kayu, KUPS agroforestri dan KUPS jasa lingkungan).
Dari PAPeDA 5 ini mulai munculnya pembicaraan mengenai Bantuan Keuangan Ekologi (BKE) sebagai bagian dari kebijakan fiskal daerah.
Dari komunitas tersebut, kita tahu bahwa banyak aksi nyata yang tumbuh dari komunitas untu
Oiya, Oktober ini, Bangkok Climate Action Week akan membicarakan solusi untuk menghadapi perubahan iklim. Namun, solusi tidak hanya datang dari ruang-ruang diskusi. Banyak aksi nyata justru sudah tumbuh dari komunitas lokal.
Melakukan praktik Sasi (Pengawasan Berbasis Masyarakat)
Dalam penjelasan dari Daniel Kbarek, masyarakat pesisir Raja Ampat memiliki kearifan lokal dalam pengawasan berbasis masyarakat yang dikenal dengan Sasi. Kearifan lokal ini bisa menjadi inspirasi masyarakat di daerah lainnya untuk menjaga kawasan hutan.
1. Penegakan hukum adat
2. Zonasi kearifan lokal
3. Pelibatan tokoh masyarakat.
Menyadari peran perempuan sangat besar
Dari awal mula, suara perempuan menjadi pengaruh yang besar terhadap keberlanjutan pengelolaan mangrove. Kemudian kelembagaan didominasi oleh perempuan.
Sebesar 80-90% KUPS diisi oleh perempuan yang memainkan peran dalam peningkatan ekonomi rumah tangga mereka. Kelompok patroli pun anggotanya 100% perempuan (10 orang).
Baru-baru ini, mereka mengirimkan salah satu perempuan dari Friwen di Bogor untuk mengikuti pelatihan membuat business plan di Bogor oleh Kementerian Kehutanan.
Kelompok horti dan kelompok tani kopi dikelola dengan baik terutama dari kelompok perempuan. Gender perempuan sangat luar biasa di Raja Ampat. Bahkan, direncanakan akan ada hutan desa perempuan pertama di Indonesia yang memiliki sumberdaya alam dan ketahanan pangan.
Tantangan lainnya dalam pengelolaan mangrove adalah dampak perubahan iklim yang dirasakan oleh masyarakat sehingga diperlukan mitigasi bersama. Beberapa kegiatan yang dilakukan bersama masyarakat adalah mangrove tidak harus ditebang, kayu tidak lagi dijual untuk kebutuhan bahan baku pembangunan resort.
Pemanfaatan mangrove untuk ekowisata. Mereka juga mencoba berinovasi membuat produk tradisional menjadi produk yang bernilai ekonomi. Selain itu, rasanya usaha mereka tidak akan berjalan dengan baik jika tidak ada sinergitas bersama antara pemerintah daerah, swasta dan mitra pembangunan lainnya. Harapannya, kemitraan bersama pemerintah, swasta dan pihak lainnya akan terus berjalan.
Dari Inspirasi Ketahanan Pangan Raja Ampat, Ke Pangan Lokal Jawa Timur
Cerita dari Daniel Kbarek dan Wawiyai Steve, aku pun terinspirasi mencari tanaman di Sidoarjo, Jawa Timur yang memiliki dua peran ganda, seperti mangrove. Tanaman itu kalian pasti nggak asing lagi dan kalian pasti pernah memakannya.
Namanya sukun.
Kalau mendengar kata sukun, mungkin yang terbayang adalah potongan buah yang dagingnya lembut seperti roti dan berwarna putih kekuningan. Ketika digoreng, bagian luarnya renyah. Di beberapa daerah, sukun juga diolah menjadi keripik, direbus, atau dimasak menjadi berbagai makanan tradisional. Bahkan sekarang sudah banyak inovasi olahan sukun yang lezat-lezat.
Mengenal pohon sukun
Pohon dengan nama ilmiah Artocarpus altilis ini merupakan salah satu tanaman pangan yang dapat menyediakan makanan sekaligus memberi manfaat bagi lingkungan. Selain pohonnya yang rindang, tanaman ini juga menjadi bagian dari ketahanan pangan lokal.
![]() |
| Buah sukun |
Sukun memang banyak dikenal di daerah tropis, termasuk Indonesia. Pohonnya dapat ditemukan di pekarangan rumah, kebun, maupun berbagai wilayah pedesaan. Di dekat rumahku, pohon sukun tumbuh cukup besar dengan tajuk yang rimbun. Daunnya lebar dan memiliki bentuk yang khas sehingga pohon sukun mudah dikenali.
Sukun bahkan dikenal sebagai salah satu tanaman pangan penting karena buahnya dapat menjadi sumber karbohidrat.
Kenangan masa kecil
Mendengar kata sukun, tentu ingatan masa kecilnya kembali terbayang di pelupuk mata. Di lingkungan rumah masa kecilku, aku mengalami pohon sukun yang tumbuh besar.
Ketika ibu memasaknya menjadi sukun goreng yang gurih dan manis, aku langsung jatuh hati! Seenaknya itu!
Tak salah, tiap melihat pohon ini, aku teringat pada kampung masa kecil dan makanan yang dahulu dibuat oleh ibu.
![]() |
| Pohon Sukun |
Buah sukun yang sederhana dapat menjadi bagian dari kenangan masa kecil.
Karena dapat menghasilkan buah dalam jumlah banyak, sukun menjadi salah satu tanaman yang menarik bagi masyarakat yang membutuhkan sumber pangan yang dapat tumbuh di wilayah tropis.
Dari sini kita bisa melihat bahwa sebuah pohon sebenarnya menyimpan kenangan yang jauh lebih panjang daripada apa yang terlihat di pasar atau di atas piring.
Dari pohon ke meja makan
Mendapatkan sukun sebenarnya relatif sederhana apabila pohonnya tumbuh di sekitar rumah atau kebun. Buah dipanen ketika sudah mencapai tingkat kematangan yang sesuai untuk kebutuhan pengolahan.
Setelah dipanen, buah dicuci dan dibersihkan. Kulitnya dapat dikupas sebelum daging buah dipotong sesuai kebutuhan.
Untuk membuat sukun goreng, misalnya, daging buah dapat dipotong menjadi beberapa bagian kemudian digoreng hingga matang.
Sementara itu, jika ingin membuat produk yang lebih tahan lama, sukun dapat dikembangkan menjadi keripik atau diolah menjadi tepung.
Cara pengolahan seperti ini menunjukkan bahwa pangan lokal tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang sama. Dengan pengetahuan dan kreativitas, bahan pangan yang tumbuh di sekitar masyarakat dapat dikembangkan menjadi berbagai produk.
Hal tersebut juga membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha berbasis pangan lokal.
Manfaat pohon pangan yang menjadi bagian dari lingkungan
Sebagai pohon yang memiliki tajuk cukup lebat, sukun dapat memberikan keteduhan bagi lingkungan di sekitarnya. Daunnya membantu membentuk kanopi yang membuat area di bawah pohon terasa lebih teduh.
Seperti tanaman pada umumnya, pohon sukun juga menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan menghasilkan oksigen melalui proses fotosintesis. Sistem perakarannya membantu menjaga kondisi tanah dan membuat pohon ini dapat menjadi bagian dari vegetasi di lingkungan tempatnya tumbuh.
Jika pohon sukun ditanam dalam sistem agroforestri, sistem ini dapat membantu mempertahankan kualitas tanah, siklus hara dan mengurangi erosi.
Uniknya, sukun ini mampu hidup di kondisi tanah yang kering. Pohon ini juga berumur panjang. Kita tak perlu sibuk menanam ulang karena pohon ini dapat hidup dan berbuah hingga 50 tahun.
Dengan kemampuan tersebut, pohon sukun memiliki ketahanan yang kuat terhadap krisis iklim. Berbeda dengan mangrove yang rentan jika terjadi perubahan iklim.
Itulah kenapa bulan Oktober ini, Bangkok Climate Action Week akan membicarakan solusi untuk menghadapi perubahan iklim. Solusi nggak hanya datang dari ruang-ruang diskusi. Banyak aksi nyata justru sudah tumbuh dari komunitas lokal.
Adanya ketahanan yang kuat tersebut menjadikan sukun bisa menjadi sumber ketahanan pangan lokal.
Bagian utama sukun yang dimanfaatkan sebagai pangan adalah buahnya. Buah sukun yang sudah cukup matang dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan. Salah satu cara yang paling populer adalah menggorengnya. Daging buah yang lembut berubah menjadi makanan dengan bagian luar yang renyah.
Namun, sukun tidak hanya diolah dengan digoreng saja. Buahnya dapat direbus, dikukus, dipanggang, dibuat menjadi keripik, maupun diolah menjadi berbagai produk pangan lainnya. Dalam pengembangan pangan lokal, sukun juga berpotensi diolah menjadi tepung sehingga dapat digunakan sebagai bahan dalam berbagai jenis makanan.
Sukun dan pelajaran tentang pangan lokal
Hari ini, ketika pembicaraan mengenai ketahanan pangan semakin penting, tanaman seperti sukun menjadi menarik untuk kembali diperhatikan. Ketahanan pangan tidak selalu berarti memiliki makanan dalam jumlah besar di gudang. Ada pula pertanyaan tentang seberapa beragam sumber pangan yang kita miliki.
Ketika masyarakat hanya bergantung pada beberapa jenis tanaman pangan, perubahan iklim, gangguan produksi, atau masalah distribusi dapat memberikan dampak yang lebih besar. Sebaliknya, keberadaan berbagai tanaman pangan lokal dapat membantu memperkaya pilihan sumber makanan. Sukun dapat menjadi salah satunya.
Sukun tumbuh memberikan keteduhan, menyimpan karbon, dan menghasilkan buah yang dapat diolah menjadi makanan. Dari satu tanaman, ada manfaat ekologis sekaligus manfaat pangan.
Menanam pohon, menanam sumber pangan
Mungkin selama ini kita lebih sering melihat pohon sebagai sesuatu yang harus dilindungi karena menghasilkan oksigen atau membuat lingkungan menjadi hijau. Sukun mengajak kita melihat pohon dari sudut pandang lain. Pohon sukun juga bisa menjadi bagian dari sistem pangan.
Ketika sebuah pohon menghasilkan makanan, menjaga keberadaannya berarti ikut menjaga salah satu sumber pangan. Ketika buahnya diolah menjadi produk bernilai ekonomi, pohon tersebut bahkan dapat memberikan manfaat tambahan bagi masyarakat.
Karena itu, mengenal tanaman pangan lokal seperti sukun nggak hanya mengingat makanan tradisional. Ini juga tentang mengingat kembali bahwa alam di sekitar kita memiliki banyak sumber kehidupan.
Sukun mungkin hanya terlihat seperti pohon biasa di halaman rumah. Tetapi dari satu pohon itu, kita bisa mendapatkan buah, makanan, keteduhan, manfaat bagi lingkungan, bahkan cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Menjaga pohon pangan berarti menjaga lebih dari sekadar pohon. Kita sedang menjaga pilihan pangan, pengetahuan lokal, dan hubungan manusia dengan lingkungan tempatnya hidup.
Ketika Mangrove Menjadi Sumber Kehidupan dan Penghidupan bagi Masyarakat Kampung Friwen
Mangrove bukan hanya benteng alami yang melindungi wilayah pesisir dari abrasi dan menjadi habitat berbagai jenis biota. Bagi masyarakat di Raja Ampat, mangrove juga merupakan bagian penting dari ruang hidup dan sumber penghidupan.
Namun, pemanfaatan mangrove perlu dilakukan secara bijak agar tidak mengancam keberlanjutannya. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah mendorong pemanfaatan hasil mangrove non-kayu menjadi produk bernilai ekonomi, sehingga masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi tetapi juga menjaga ekosistem mangrove.
Melalui dukungan TAF bersama PKPRA, masyarakat didorong untuk mengembangkan berbagai produk turunan mangrove dengan pendekatan yang berkelanjutan, berbasis pengetahuan lokal, serta memperhatikan keterlibatan perempuan dan anak muda.
















































