Wisata budaya di Solo dengan Keliling Pura Mangkunegaran memang berkesan sih buat aku. Memasuki kehidupan kerajaan seperti punya pengalaman berbeda. Seolah, aku yang menjadi rakyat biasa, bisa sedekat itu dengan kehidupan kerajaan (yaa meski Cuma dari ‘luar’ saja). Dan setelah berwisata ke Pura Mangkunegaran, aku saranin kalian pergi ke masjid Pura Mangkunegaran yang ada di sebelah barat Pura Mangkunegaran. Namanya Masjid Al-Wustha (dibaca Al-Wustho).

Masjid al-Wustha Pura Mangkunegaran, Solo (dok. Pri)

Kunjungan tak terencana ke masjid Pura Mangkunegaran itu sebenarnya bukan menjadi tujuan wisata budaya kami. Awalnya, kami hanya ingin mencari masjid untuk sholat ashar karena setelah seharian keliling Solo, rasanya terlalu capek kalau harus ke masjid yang jauh, seperti masjid agung Kraton Solo. Saat melihat Google Maps, kami diarahkan ke masjid Al-Wustho yang ada di sebelah barat Pura Mangkunegaran.

Lokasinya tidak jauh dari Pura Mangkunegaran. Jika kalian keluar dari gerbang Pura Mangkunegaran bagian utama, kalian belok kanan kemudian belok kanan lagi. Di sepanjang jalan yang dibatasi dinding, kalian cukup menoleh ke kiri, jika kalian melihat pintu gerbang dengan tulisan kaligrafi, maka disitulah masjid Al-Wustho.

Pura Mangkunegaran yang dipagari dinding tinggi (dok. Pri)

Masjidnya tidak terlalu ramai. Bagiku, itu sudah cukup menyenangkan. Parkirnya tidak terlalu besar tapi cukup untuk menampung sepuluhan mobil. Semenjak memasuki halaman masjid, aku terkesima dengan arsitektur masjid Al-Wustho yang masih asli. Aku sempat menebak-nebak, ini pasti bukan masjid biasa. Apakah ini masjid para bangsawan di zaman itu? Karena sudah jarang masjid di Solo yang memiliki desain bangunan ‘berkelas’ yang masih dipertahankan sampai sekarang. Pasti memiliki sejarah yang kuat.

Saking penasarannya, aku pun cari di Google.

Sejarah Masjid Al-Wustha

Ternyata benar! Masjid yang awalnya disebut dengan masjid Mangkunegaran ini memang dibangun untuk keluarga kerajaan di tahun 1878. Pantas saja, bangunan itu dibatasi oleh dinding tinggi, sebagai bentuk eksklusivitas dan perlindungan kehidupan kerajaan, seperti bangunan Pura Mangkunegaran dan Kraton Kasunanan.

Kalian tahu siapa yang arsiteknya? Dia adalah orang yang merancang kota Bandung, Malang dan Semarang. Siapa lagi kalau bukan Thomas Karsten. Atas dasar ide Mangkunegara I inilah Masjid Al-Wustha dibangun. Sebelumnya masjid yang patut dilestarikan ini berada di dekat Pasar Legi, kemudian saat Mangkunegara IV memimpin, masjid ini dipindah ke sisi barat Pura Mangkunegaran.

Pembangunan masjid sempat tertunda karena saat itu Mangkunegara fokus dalam pemulihan kondisi perekonomian Mangkunegaran. Masjid Al-Wustha dibangun kembali tahun 1918.

Arsitektur Masjid Al-Wustha

Hampir sama seperti masjid keraton lainnya, masjid Al-Wustho mengusung arsitektur khas Jawa, meskipun dirancang oleh Thomas Karsten. Atapnya berbentuk tajug, menyerupai piramida yang menjulang tinggi serupa doa tanpa putus menuju langit. Di sisi timur masjid berdiri sebuah menara yang kini digunakan untuk meletakkan pengeras suara.

Kakiku menapaki serambi masjid yang cukup luas. Aroma masa lalu terasa ketika kakiku menyentuh keramik klasik. Seperti lantai rumah masa kecilku. Hatiku terasa haru dan rindu.


Sebuah beduk besar dari kayu dan kulit lembu tampak berada di sudut serambi. Aku sudah melewatkan waktu mendengar ramai tabuhan bergema memanggil sholat. Orang-orang datang dan pergi dengan langkah pelan, tentu saja menghargai para hamba yang sedang menghiba pada Allah. Kepanikanku muncul saat anakku berlari ke sana kemari. Aduh! Aku berusaha menenangkannya sebab takut suara-suara kakinya mengganggu naiknya doa-doa menuju langit.

Ketika anakku cukup tenang, aku pun menuju wudhu yang berada di sisi barat masjid.

Dalam perjalanan menuju tempat wudhu, mataku tertambat pada sebuah bangunan kecil melingkar yang berdiri terpisah dari bangunan utama. Sepintas tampak asing, bukan ruang tunggu, tidak tampak tempat duduk, bukan pula tempat berteduh. Bangunan apa ini?

Maligen, tempat khitan zaman dulu

Ternyata bangunan tersebut bernama maligen, yaitu tempat khitanan pada masa lampau. Ah, maligen itu telah membuat banyak tangis anak laki-laki pecah di sana dan doa para orang tua dan kiai yang mengiringi mereka. Kini, bangunan itu hanya menjadi penanda bahwa tradisi pernah berjalan di sana.

Area kamar mandi dan tempat wudhu tampak sudah direnovasi, terlihat lebih modern dibandingkan bagian masjid lainnya.

Setelah itu, aku memasuki ruang utama masjid dan segera mengambil mukenah. Usai mengenakannya, mataku menelusuri setiap detail arsitektur masjid dengan warna teduh di mata, cokelat, hijau, kuning dan putih.


Empat tiang penyangga utama berdiri kokoh dengan hiasan kaligrafi, sementara tiang lainnya berukuran lebih kecil tanpa ornamen tulisan kaligrafi. 


Lantai bergaya klasik semakin menegaskan kesan bangunan tempo dulu, tetapi tetap terawat dengan baik. Atap kayu dan lampu hias menggantung di beberapa sudut menambah kehangatan suasana.

Bentuk pintunya pun masih setia pada bentuk khas Jawa zaman dulu. Klasik. Sebagian terbuat dari kaca memungkinkan pandangan mengalir bebas antara dalam dan luar. Bagian atas pintu menyerupai kubah masjid dengan ukiran kaligrafi yang indah.


Meski tidak ada AC, masjid ini tidak terlalu panas. Angin berputar-putar dari kipas-kipas di sudut ruangan. Jendela kaca dan besar yang terbuka membiarkan udara masuk menyegarkan para jama’ah. Lengkungan atas jendela serupa motif kubah dengan bingkai kaligrafi sebagai pengingat akan Yang Maha. Dan ternyata tiap kaligrafi di atas jendela itu adalah ayat-ayat Al-Quran, hadits, rukun iman dan rukun islam. MaasyaAllah.

Kaligrafi pada kusen pintu dan jendela (Mulyadi, 2015)

Di salah satu pojok, tepat di area saf para akhwat, terdapat ruangan khusus yang tersembunyi di balik pintu hijau tanpa kaca. Cahaya lampu tampak berpendar melalui kaca patri polos. Rupanya, ruangan itu digunakan untuk menyimpan perangkat sound system. Di area ikhwan terdapat ruangan serupa, ada ruangan bersekat khusus, tapi aku tidak tahu apakah sama untuk meletakkan sound system.

Tempat sound system (dokpri)

Aku mengambil tempat sholat dan berdiri dengan niat yang perlahan menenangkan hati. Takbir pertama terucap dalam hati. Usai salam, aku tetap terduduk. Gerakan bibirku seirama dengan gerakan jemariku, sementara pandanganku berkelana menyusuri setiap sudut masjid.

Bangunan tua yang dirawat begitu baik bisa juga terlihat indah dan khas, meski saat ini banyak bangunan masjid yang megah dan modern. Bagiku, masjid ini punya karakternya sendiri.

Mungkin begitu juga iman, meski zaman terus berubah, lebih modern, tapi iman harus dirawat dan dijaga dengan baik, agar tetap memiliki tempat khusus, tak hanya di hati manusia tapi juga di mata Allah. Selesainya memanjatkan doa, aku segera membereskan mukenah dan keluar dari masjid.

Kaligrafi di Gapura


Dari tengah serambi, aku menatap gerbang depan tempat keluar masuk kendaraan. Tulisan kaligrafi berwarna hijau menghiasi gerbang itu. Tak hanya di gerbang tempat masuk dan keluarnya kendaraan saja, tetapi juga di bagian markiz, seperti pintu utama berupa teras depan yang menonjol.

Sebenarnya apa sih tujuannya kaligrafi ditulis di gapura dan markiz? Aku mencoba mengeja tulisan kaligrafi itu. Huruf-huruf itu melengkung indah dan saling bertaut. Semakin aku eja satu per satu, semakin kusadari....Aku nggak bisa bacaaaa, huaaa...

Membaca kaligrafi memang harus punya ilmu tentang apa yang ditulis. Dan itu memudahkan kita memahaminya. Rasa penasaran tumbuh. Mungkinkah itu penggalan ayat? Sebuah hadits? Atau hanya kata mutiara? Saking penasarannya, aku cari di internet.

Gapura Arah Masuk

Ternyata gapura itu diambil dari bahasa arab “ghafura” yang artinya pengampunan. Artinya bahwa siapa yang memasuki gapura masjid artinya dia telah diampuni oleh Allah (insyaAllah). Seolah, memasuki gapura seperti memasuki ‘dunia’ baru yang memiliki kewajiban baru

Kaligrafi yang terukir di gapura masjid itu diambil dari Al-Qur’an dan hadits, meski tak paham artinya, seolah kalimat itu sebagai ajakan untuk kembali kepada Allah.

Nah, aku mau teman-teman ikut membaca tulisan arab yang aku tulis berikut.

Kalau kalian masuk dari gapura masjid dari arah depan, kalian akan melihat kaligrafi bertuliskan:

Atas:

َاْلاِسْلامُ يَعْلَى وَلا يُعْلَى عَلَيْهِ


“Agama Islam tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.” (Riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, nomor 2825.)

Kaligrafi di gapura pintu masuk (dokpri)

Makna dari hadits ini bukan sekadar pernyataan keunggulan, melainkan sebuah motivasi bagi umat Muslim untuk terus berbuat yang terbaik. Bersyukurlah aku terlahir sebagai muslim dan semoga Allah menjaga nikmat iman dan islam yang sudah diberikan. Aammiinn.

Bawah:


أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ و أَشْهَدُ َأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Sudah pada tahu kan kalau ini syarat menjadi seorang muslim: mengucapkan dua kalimat syahadat.

Gapura arah keluar

Jika kalian keluar dari gerbang menuju jalan raya, akan menemukan kaligrafi bertuliskan:

Atas:

مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ اَلطُّهُوْرُ اَلطُّهُوْرُ نِصْفُ اْلِايْمَانِ

“Kunci shalat adalah bersuci. Bersuci adalah sebagian dari Iman.”

Kaligrafi di gapura arah keluar (dokpri)

Dua kalimat tersebut merupakan beberapa hadits yang digabung jadi satu rangkaian kaligrafi. Tentu saja sebagai pengingat kita bahwa untuk sholat kita harus bersuci.

Sedangkan di bagian bawahnya tertulis:

Bawah:

مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ عَل يْ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ فَمَا بَقِيَ مِنْ ذَالِكَ الدَّنًسُ

“Perumpamaan shalat lima waktu ibarat sungai yang mengalir di pintu salah seorang kamu apabila ia mandi lima kali setiap hari maka tidak akan ada sisa kotoran.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667)

MaasyaAllah. Sebenarnya bagus sekali sih pengingatnya ini. Kotoran ini tentu saja tidak hanya di kulit saja, tetapi di lisan, hati dan perbuatan. Dengan melaksanakan sholat lima waktu dengan baik dan benar, diharapkan tubuh dan hatinya bersih.

Sayangnya, aku yakin, tidak semua orang paham dengan artinya. Mungkin bisa saja ya ada tambahan tulisan begitu seperti plang di bawah gapura, yang tidak menghalangi jalan orang. Setidaknya sebagai pengingat bagi siapa pun yang masih mager melaksanakan sholat lima waktu.

Markiz depan

Apakah teman-teman bisa membaca ini?

Markiz bagian depan (dokpri)

Atas:

إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat diwajibkan atas orang yang beriman pada waktu yang ditetapkan.” (An-Nisa: 103)

Bawah:

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjama’ah itu lebih baik dari shalat sendiri 27 derajat.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 645 dan Muslim, no. 650]

Ya udah yuk, kita sholat berjamaah daripada sholat sendiri.

Markiz samping kanan

Kalau ini apa kalian bisa baca?

Kaligrafi di Markiz samping (dokpri)

Susah kan yaaa?

Tulisannya begini...

Atas:

فَبَشِّرْ عِبَاديَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ

“Maka beri kabar gembiralah hambaku yang mendengarkan perkataan mereka mengikutinya dan berbuat baik.” (Az-Zumar : 17-18)


Bawah:

مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلاَثًا مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ كُتِبَ مُنَافِقًا

“Barangsiapa yang meninggalkan jum`at tiga kali maka ia dicatat sebagai orang yang munafik.” (HR. Ath-Thabrani).

Markiz samping kiri

Masih kesulitan baca? Samaaa


Kayaknya yang hanya lulusan bahasa arab yang bisa baca ini. Hehehe.  

Atas:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul dan para pemimpin di antara kamu.” (An-Nisa : 59)

Bawah:

حِفْظُ دِيْنٍ ثُمَّ نَفْسِ مَالٍ نَسَبٍ وَ مِثْلُهَا عَقْلٍ عَرْضٍ قَدْ وَجَبَ

“Menjaga agama, kemudian jiwa, harta dan demikian juga aqal, kehormatan adalah wajib.”

Teman-teman udah baca semua yang aku tulis, kan?

Alhamdulillahhhhh. Malaikat mencatat pahala dari setiap huruf yang diucapkan. aamiin.

Wisata Religi?

Mulanya, aku cuma cari masjid terdekat agar segera sholat ashar sebelum pulang ke Sragen, nyatanya, aku malah wisata religi (tanpa kunjungan makam) dadakan ke Masjid Pura Mangkunegaran. 

It's ok. Yang penting aku bisa menikmati di mana pun aku berada.

Referensi

Mulyadi. 2015. Penerapan Kaligrafi Pada Elemen Interior Masjid Al Wustho Mangkunegaran Surakarta. https://nurma.staff.uns.ac.id/wp-content/blogs.dir/467/files/2015/08/Kaligrafi-masjid-Al-Wustho-2015.pdf




Read More
Berkeliling ke Karanganyar itu biasa untuk wisata keluarga. Sementara berkeliling Solo itu seperti mengingat kenangan- mungkin karena sebelum nikah aku sering ke Solo. Ada rasa yang kurang jika tidak mengunjungi Solo. Tapi kalau ditanya, tempat yang wajib dikunjungi di Solo itu apa? Aku akan jawab Kraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran. Dua tempat bersejarah itu yang menjadikan Solo terlihat khas dan menjadi destinasi wisata favorit di Jawa Tengah.

Aku sudah beberapa kali pergi ke Kraton Kasunanan Surakarta, sebelum aku menikah. Sekarang aku akan menceritakan pengalamanku pergi ke Pura Mangkunegaran. Sebenarnya aku sudah lama ingin ke sana, tapi aku belum tahu cara pergi ke Pura Mangkunegaran.


Setelah acara pernikahan Kaesang-Erina di Pura Mangkunegaran, aku jadi semakin ingin pergi ke Pura Mangkunegaran. Saat ke Solo, aku mencari cara mengunjungi Pura Mangkunegaran. Karena awalnya, aku kira Pura Mangkunegaran tidak dibuka untuk umum. Sampai akhirnya, saat aku mencari di Google, Pura Mangkunegaran bisa dikunjungi masyarakat umum. Yeay. Senangnya.

Ibuku yang saat itu sendirian di rumah (bapak lagi di Kalimantan), aku mengajak beliau jalan ke solo. Tapi aku bilang dulu, "Bu, aku mau ke Pura Mangkunegaran, tapi di sana jalan, nggak apa-apa?"

Eh, tapi aku khawatir, sih, jangan-jangan dikira tempat ibadah orang Hindu. Hehe.

Jadi aku bilang, "Pura Mangkunegaran ini bukan tempat ibadah orang Hindu ya. Ini tempat tinggal raja. (Bukan raja juga sih.)"

Ibu menjawab, "Oiya, nggak apa-apa."

Intinya, selama ini kalau pergi wisata kan ke tempat wisata pada umumnya, seperti ke air terjun Jumog, wisata Kalimas, paralayang Kemuning atau agrowisata Amanah, dan sejenisnya. Tapi sekarang aku ngajak ke tempat yang mungkin sebagian orang menganggap "kurang menarik" karena hanya melihat-lihat. Kalau aku memang suka ke museum, atau tempat sejarah lainnya. Banyak pengetahuan yang bisa aku peroleh.

Dinding Tinggi, Pembatas Pura

Ternyata lokasi Pura Mangkunegaran sering aku lewati tiap ke Solo, hanya saja aku tidak menyadari. Seperti Kraton Kasunanan yang dikelilingi tembok tinggi, bagian samping dan belakang Pura Mangkunegaran juga dikelilingi tembok tinggi, kecuali pamédan (halaman luas)–tempat para prajurit dulu latihan–yang hanya dikelilingi pagar besi. Di sebelah timur terdapat markas pasukan infanteri dan kavaleri Legiun Mangkunegaran yang terkenal karena didikan dari pasukan Napoleon Bonaparte.

Pura Mangkunegaran ini sebenarnya di bawah pemerintahan Kasunanan Solo yang berbentuk kadipaten (seperti kabupaten di bawah provinsi).

Dinding tinggi pembatas pura ini menunjukkan bahwa kedudukan kadipaten dalam pemerintahan cukup penting. Pura Mangkunegaran ini sebagai bentuk realisasi dari Perjanjian Salatiga yang sudah disepakati antara Raden Mas Said atau disebut Pangeran Sambernyawa kemudian menjadi Mangkunegara I (pendiri Mangkunegaran), Sunan Pakubuwana III, Sultan Hamengkubuwana I, dan VOC pada tahun 1757.

Antrian mengular

Setelah parkir mobil di halaman yang luas dan panas, antrian mengular di depan pintu masuk telah terlihat.

Ternyata pengunjung harus mengisi buku tamu dan membayar tiket masuk (bisa cash dan QRIS). Meskipun mengular, kami tidak menunggu terlalu lama. Tiket masuk Pura Mangkunegaran sebesar Rp. 30.000,-.

Arsitektur Pura Mangkunegaran

Ketika keluar dari bangunan gerbang tempat penjualan tiket, kami menuju ruang terbuka di depan pendopo megah. Kolam melingkar di depan pendopo menarik perhatian anakku. Di dalamnya ada teratai yang berbunga pink. Di tengah ada patung anak kecil yang menaiki angsa berwarna emas.



Aku tahu pasti mereka ingin bermain air di sana. Kularang saat tangannya akan menyentuh airnya yang sudah berwarna hijau. haha.

Pura Mangkunegaran dibangun menyerupai istana, mengikuti arsitektur Jawa dan campuran Empire, dari Prancis yang saat itu sedang berkembang di abad 18. Ukiran emas yang detail di bagian atas pendopo menambah kesan mewah. Gaya arsitektur Prancis terlihat dari ornamen hias seperti relief malaikat, kaca patri, lampu gantung dan hiasan bergaya Eropa.
 

Ruangan Pura Mangkunegaran  

Pura Mangkunegaran memiliki banyak ruangan dan tidak semua ruangan boleh diakses dan difoto untuk menjaga privasi.

Pendopo Ageng

Ruangan pendopo saat itu sedang ramai. Yang tertangkap mataku adalah anak-anak kecil memakai selendang sedang mengikuti gerakan instruktur di depan mereka. Ketika instruktur menekuk lutut, mereka juga mengikutinya. Ketika instruktur berputar sambil mengepakkan sayap yang berbentuk selendang, mereka pun ikut berputar.

Di bagian lain pendopo, banyak seperangkat gamelan pusaka yang biasa digunakan oleh abdi dalam saat Pura Mangkunegaran sedang melaksanakan acara.

Tiang-tiang yang menyangga bangunan pendopo menjadi ciri khas arsitektur jawa. Di bagian atap, hiasan langit berwarna terang melambangkan astrologi Hindu-Jawa. Lampu-lampu cantik nan megah tergantung di atapnya. 



Seseorang pegawai mendekati kami dan meminta kami untuk membawa alas kaki kami kemudian memasukkannya ke dalam tas khusus sepatu yang diberikan pegawai.

Bangunan ini terlihat jelas dari luar. Beberapa kelompok pengunjung berdiri mengelilingi seorang guide dari Pura Mangkunegaran untuk dipandu memasuki ruangan. Sayangnya, kami tidak diizinkan untuk memotret apa pun yang ada di dalam ruangan Dalem Ageng.

Memasuki ruangan pun harus menunggu rombongan lain keluar dari ruangan. Sebelum itu, aku sibuk berfoto dan melihat foto-foto para adipati yang berderet dipajang di depan ruangan.

Dalem Ageng

Ruangan ini merupakan bangunan induk Pura Mangkunegaran yang hanya dimasuki oleh keluarga Mangkunegara dan abdi dalem. Ruangan ini menjadi ruang tidur pengantin kerajaan yang sekarang sudah dijadikan museum. Itulah mengapa di ruangan ini kita tidak boleh mengambil foto. Di ruangan ini, ada koleksi peninggalan dari zaman dulu sampai sekarang, seperti senjata, perhiasan, pakaian, medali, perlengkapan wayang, uang logam, dan benda seni lainnya.

Keluar dari Dalem Ageng, kami disambut oleh taman terbuka dengan kolam ikan di tengah Pura Mangkunegaran yang sejuk dan menyenangkan. Jauh dari keramaian kota. Suara burung terdengar jelas. Sangkat burung besar berada di pinggir taman. Patung di tengah kolam ikan memancarkan air menambah suasana tenang.

Beranda Dalem (Pracimayasa)

Ruang keluarga Mangkunegaran yang menghadap ke taman terbuka ini hanya boleh dilihat dari luar karena diberi pembatas. Di dalamnya, terdapat tempat lilin dan perabotan Eropa yang indah. 

Ruangan makan

Aku juga sempat masuk ke ruang makan dan dapur. Kaca-kaca menempel di bagian atap dan dinding sehingga aku bisa melihat anakku yang beraksi dari atas maupun samping. Hehe.
Sayang banget aku tidak melihat Pracimasana dan Pracimaloka yang lagi viral itu. Tahu kan restoran di dalam Pura Mangkunegaran yang sangat eksotik dan seperti sedang makan di keluarga kerajaan. Dahlah kapan-kapan ke sana lagi. Haha.

Perpustakaan

Oiya, aku baru tahu ternyata di lantai dua ada perpustakaannya, yang berada di atas Kantor Dinas Urusan Istana di sebelah kiri pamedan. Sayangnya, aku tidak pergi ke sana. Di perpustakaan itu, banyak koleksi buku, foto dan dokumen bersejarah. Kebanyakan dalam bahasa Jawa. 

Butik

Berjalan keluar ruangan, di sepanjang koridor, aku melihat butik yang menjual berbagai macam kain batik. 

Markas Legiun

Ternyata lumayan olahraga kaki juga berkeliling Pura Mangkunegaran tapi menyenangkan. Selanjutnya saat keluar menuju parkir, aku mengunjungi markas Legiun sejenak. Di depannya, aku takjub dan membayangkan yang terjadi di masa silam.

Markas Legiun Mangkunegaran

Para prajurit Mangkunegaran, infanteri dan kavaleri, mengadopsi didikan militer Prancis hingga memiliki kemampuan setara dengan militer Eropa. Di masa itu, Perang Napoleon tengah meletus di Eropa. Belanda kalah dari Prancis, sehingga secara tak langsung semua jajahan Belanda, seperti Hindia Belanda, juga dikuasai Prancis. Napoleon memerintahkan Daendels untuk mempertahankan Jawa dari serangan Inggris, termasuk membentuk pasukan elit militer Mangkunegaran.

Penutup: Refleksi Kehidupan Kerajaan

Hal yang menyenangkan bisa berjalan-jalan di Pura Mangkunegaran adalah bisa menikmati ruang terbuka yang luas, menikmati suasana tenang dan asri di tengah Pura Mangkunegaran. 

Hanya terbayang saja di masa itu, kehidupan adipati dan keluarganya bisa menikmati bangunan begitu megahnya, hampir di semua kerajaan seperti itu, di mana pun bahkan di Eropa. 

Sedangkan yang pernah aku baca, kondisi rakyat di masa itu cukup susah. Memang sangat kontras.

Aku kembali ke masa kini, tak perlu jauh-jauh. Para pemimpin kita saat ini pun hidup dalam harta yang berlimpah. Namun, oke, mungkin itu adalah hak yang diterima mereka. Tapi mbok yaa... yang jadi pemimpin, yang ngga boleh dilupakan untuk semua para pemimpin, siapa pun yang akan jadi pemimpin, dari segala kenikmatan yang mereka peroleh, adalah bagaimana memimpin bangsa ini, mengayomi, memakmurkan masyarakatnya dan berbuat adil. Yang tentunya, menjadi amanah berat bagi para pemimpin. 

Read More

Beberapa kali ke Karanganyar, ke air terjun Ngargoyoso, ke air terjun Jumog, juga main ciblon di Kalimas, rasanya tempat wisata Karanganyar belum habis-habis aku kunjungi. Kali ini, aku ke wisata paling terkenal di Karanganyar, tempat wisata yang selalu dikunjungi wisatawan kalau pergi ke Karanganyar, yaitu wisata paralayang Kemuning. Tak perlu bisa olahraga paralayang kok kalau pergi ke wisata dekat Solo itu, kita hanya menjadi penonton paraglider. 


Awalnya aku membayangkan pergi ke sana hanya untuk melihat aksi paraglider membelah langit Karanganyar saja. Hampir sama seperti paralayang di Malang. Perjalanan ke sana pun tidak kusambut terlalu antusias tetapi bagiku mengunjungi Kemuning seolah selalu memberiku ketenangan setelah keriweuhan mengurus anak-anak. 

Perjalanan Tak Membosankan

Pemandangan hijau yang terlihat di perbukitan pegunungan Lawu yang banyak ditumbuhi kebuh teh, awan yang tampak seperti kabut dan udara dingin menyambut kami sepanjang perjalanan, rumah-rumah penduduk dengan kebun-kebun sayur terlihat berada di atas dan bawah jalanan, suasana yang tenang ternyata mampu memberiku semangat dan ketenangan. 

Perjalanan dengan pemandangan indah seperti Swiss

MaasyaAllah. Itu kenapa Allah menciptakan desa dengan karakteristik lansekapnya yang indah dan berbeda dengan kota. Salah satu tujuannya adalah tempat 'healing' dari penatnya kegiatan harian. Makanya sayang banget kalau pemandangan indah di pedesaan berubah menjadi bangunan.


Sepanjang perjalanan selama 45 menit dengan mobil tidak terasa membosankan. Justru menyenangkan. Mungkin karena dilewati bersama orang-orang tersayang. Akses jalan mendekati Bukit Paralayang Segorogunung, Kemuning, Karanganyar sempit dan cukup tinggi. Di satu bagian jalan, hanya muat dilewati untuk satu mobil. Bagi yang baru pertama kali melewatinya pasti akan terasa menakutkan. 


Sebelum masuk ke tempat parkir wisata di sisi kiri dan kanan jalan, beberapa bangunan cafe yang menyuguhkan pemandangan Karanganyar dari ketinggian terlihat cukup ramai.


Wisata Bukit Paralayang Segorogunung Kemuning 

Ternyata wisata paralayang Karanganyar lebih ramai dibandingkan dengan tempat paralayang Malang yang hanya ada tempat untuk paragliding. Sedangkan wisata paralayang Karanganyar dikelola dengan banyak pilihan.


Bangunan hijau bertingkat dua yang semi terbuka terlihat mencolok di antara bangunan lain di tempat wisata Bukit Paralayang Segorogunung, Kemuning, Karanganyar. Dari balkon bangunan itu yang menjadi tempat makan, kami bisa melihat paraglider beraksi tanpa terhalang manusia-manusia lain.  


Hanya satu penyesalanku pas datang ke sana adalah aku lupa membawakan jaket untuk anak-anak. Alhasil mereka kedinginan. Anginnya juga lumayan kencang. Kasihan aja kalau mereka masuk angin.


Menikmati Makan Siang 

Saat kami tiba di wisata Paralayang ituq, sebenarnya banyak sekali tempat makan, dari cafe sampai warung makan biasa. ada yang harus naik tangga dulu. Sedangkan kami hanya di dekat tempat parkir mobil saja yang berada dekat dengan bangunan hijau. 


Kedatangan kami memang cukup kesiangan di saat jam makan siang. Tempat makan tidak terlalu ramai, jadi kami bisa memilih duduk di mana. Anak-anak mulai berisik dan lapar karena memang waktunya sudah makan siang. Kita hanya beli pop mie yang bisa dinikmati anak-anak. Ada juga gorengan dan minuman hangat. Untuk harganya masih normal seperti warung lainnya. Selesai makan, anak-anak mulai ceria kembali. Mungkin makanannya telah terbakar menjadi kalori dan membuat tubuh mereka tetap hangat.  


Menikmati Keindahan Karanganyar

Beruntung saat aku ke sana siang hari, cuaca sedang cerah. Langitnya biru. Awan berarak tapi tak banyak. Jadi kami bisa melihat pemandangan Karanganyar dari atas gunung. Setelah itu, kita berfoto-foto sejenak. Anakku yang bayi terlihat kedinginan. Sepertinya kami memang tidak kuat berlama-lama di sana. Karena meski cuaca sempat cerah, setelah jam 12 siang, langit mulai gelap dan diselimuti awan. 

Wisata paralayang Kemuning
Pemandangan kota di belakang kami (foto pribadi)

Wisata paralayang

Melihat paraglider meluncur dan terbang memang seru sekali. Meskipun kelihatannya cukup deg-degan saat mereka baru awal terbang. Berlari-lari di rumput dan ketika parasut sudah mulai melayang, mereka mengangkat kaki mereka dan terbang menembus awan. Beberapa paraglider pun juga harus mengulang karena parasut belum mengembang. Beberapa pengunjung juga mencoba olahraga menegangkan itu dengan cara menjadi tandem paraglider. 
Paralayang kemuning karanganyar
Paragliding di Bukit Paralayang Segorogunung (foto pribadi)

Olahraga paralayang ini memang cukup menegangkan, makanya harus dilakukan oleh profesional yang sudah pernah melakukan training selama beberapa bulan (biasanya 3 bulan) dan sudah mendapatkan sertifikat.

Dulu, ketika baru lulus kuliah, masih muda sekitar umur 21 tahun, rasanya tertantang banget ingin tandem tapi harganya lumayan. Harganya sekitar 350 ribu. Dan kok rasanya aneh kalau tandem sama cowok lain. Hahaha.

Kalau mau tandem di paralayang Kemuning ini harganya 450 ribu hingga 600 ribu. Fasilitasnya bisa tandem dengan paraglider berlisensi Master Tandemu dan mendapatkan transportasi dari take off sampai landing. Bedanya, yang 600ribu dapat dokumentasi saat terbang.

Untuk masalah asuransi, aku tidak terlalu paham. Apa sekarang sudah ada atau tidak. Suatu ketika pernah ada seorang wisatawan yang ingin tandem. Ketika bersiap terbang, ternyata wisatawan ini kesandung batu bata di pojok hingga mereka gagal terbang dan menyebabkan ia luka berat (geger otak ringan dan patah tulang). Pada akhirnya, beliau dilarikan ke rumah sakit di Solo dan harus membayar biaya pengobatan hingga 20 juta. Sementara dari pihak paralayang memberi 'ganti rugi', mungkin saja berupa uang tapi keluarga korban saat itu belum tahu jumlahnya berapa karena sedang fokus pada pengobatan korban. 

Ya Allah semoga kita selalu berada dalam lindunganNya.

Camping Ground

Nggak cuma tempat nongkrong, di depan tempat makan, aku melihat beberapa tenda camping berjejer. Ternyata wisata Paralayang Kemuning ini juga memberikan fasilitas camping ground. Beberapa anak muda beraktivitas di sekitarnya. Ada yang duduk-duduk saja. Ada yang sedang mempersiapkan makanan


Kelihatannya memang seru sekali bisa camping 'ringan' di dekat paralayang sambil menikmati paraglider berolahraga. Nggak perlu berat-berat jauh ke atas puncak gunung yang ngga ada toilet dan harus masak sendiri. Di sini, kita bisa camping seperti di gunung tapi dengan fasilitas yang sudah disediakan (toilet dan warung makan).


Saat malam hari, saat cuaca cerah, pasti bisa lihat keindahan kota yang dihiasi lampu-lampu yang terang. Ternyata dari sini, pengunjung bisa melihat keindahan ciptaan Allah saat matahari terbit dan matahari terbenam. Romantis banget, euy! Bisa banget jadi alternatif tempat healing di Karanganyar.

Camping ground surakarta
Camping ground Karanganyar saat malam hari (IG @cahsoerakarta)

Biaya sewa camping ground area Surakarta juga murah saja sekitar 10ribu per orang. Sedangkan untuk tenda tentu bisa bawa atau sewa sendiri.

Tertarik?

Kalau aku pergi wisata paralayang Kemuning lagi, kira-kira aku bakal ikut tandem paragliding atau camping ya? Menurut kalian yang mana enaknya kalau bawa anak 4 tahun, 8 tahun dan 10 tahun?

Read More
Siang itu, kegaduhan terjadi saat anak-anak saya mendatangi salah satu stand pameran kerajinan kayu di kampus swasta di Surabaya. Mereka saling berebutan. 

Mata mereka berbinar seolah baru saja menemukan harta karun yang mereka cari selama ini. Pandangan mereka menyelusuri satu persatu keunikan setiap mainan di stand itu hingga mereka bisa menentukan mainan mana yang akan dibawa pulang.

Mainan kayu dari limbah kayu di Artdias Gallery (dokpri)


“Wah, aku suka,” ujarr anak kedua saya yang belum memilih salah satu mainan.

“Yang mana. Yang mana. Ini ada truk. Ada mobil.” Dengan senyum dan keramahannya, pemilik stand, Achmad Adias Wijaya, menanyakan mainan yang mana. 

Ia juga mempersilakan anak-anak menjelajahi ruang pameran kecilnya yang penuh mainan. Ada kebahagiaan tersendiri bagi beliau saat melihat anak-anak itu begitu excited melihat hasil karyanya.

“Ibu, aku mau ini!” ujar anak kedua saya dengan penuh harap sambil menatap ibunya agar diizinkan membawa pulang sebuah tempat pensil berbentuk truk trailer. Saya meminta mereka izin pada ayahnya

“Aku yang ini!” Si paling kecil tak mau kalah sambil menunjuk mainan kayu bentuk yang sama.

Sementara anak pertama saya mencermati satu per satu mainan yang dipajang. Ia ambil satu diorama rumah-rumahan. Ia perhatikan secara detail bentuk kayu itu yang dicat dan dibuat hiasan dinding di rumah.

Diorama rumah di pinggir pantai Artdias Gallery (dok.pri)


Kak Dias menjelaskan pada kami, “Ini kayunya dari sisa-sisa kayu yang nggak dipakai.”

Beliau menunjukkan kerajinan yang berasal dari limbah kayu pinus, bekas palet dan lain-lain. Jam dinding dari velg dan kayu bekas juga terlihat dipajang di stand pameran tersebut. Diorama rumah-rumahan dari kayu bekas menjadi fokus anak saya.

“Wah, kok bisa ya jadi begini,” ujar anak saya yang masih berusia 10 tahun itu terpesona.

Dari situlah, anak saya mengenal bahwa sisa kayu bisa dicat dan dijadikan hiasan dinding, mainan atau pun fungsi yang lain. Anak saya pun belajar bahwa sampah atau limbah tak melulu harus dibuang begitu saja. Justru jika diolah bisa menjadi barang yang bermanfaat. Dari aktivitas bermain itu, anak-anak paham dan bisa mendapat pengalaman seru dengan mengenal kerajinan kayu dari limbah kayu.

Meskipun begitu, perjalanan Kak Dias menjalankan bisnis yang produknya sangat diminati anak-anak itu dan tak terjadi dalam waktu sekejap. Semua perlu proses hingga menjadikan bisnis yang lebih peduli pada lingkungan.

Kritikan yang Menggerakkan

Beberapa tahun silam, sebelum berkutat dengan kerajinan kayu, pekerjaan utamanya di perbankan sempat membuatnya dilema. Namun, ia belum punya keberanian untuk mengajukan pengunduran diri.

Hingga akhirnya, di tahun 2015, ia mencoba berwirausaha di bidang kerajinan kayu. Di tahun itu, beliau masih mengambil produk kerajinan kayu dari keluarganya di Bojonegoro untuk dijual kembali di Pasuruan.

Produk awal kerajinan Artdias Gallery (IG @artdias_gallery)


Hari minggu pagi adalah hari yang ditunggu-tunggu. Beliau menjual produk kerajinan kayu saat Car Free Day di Kota Pasuruan. Penjualannya tak disangka-sangka. Keuntungannya lumayan bagus.

Dari pameran ke pameran, ia mulai memperkenalkan branding diri “Artdias Gallery” yang merupakan perpaduan seni dan namanya sendiri.

Di tahun 2015, beliau mengunjungi Disperindag dan minta diajak saat ada pameran di Pasuruan. Bahkan beliau mendapat kesempatan untuk mengikuti pameran bahkan dapat satu stand sendiri, sementara paguyuban UMKM khusus furnitur atau kerajinan diberikan satu stand untuk beberapa UMKM. Jelas, itu menimbulkan kecemburuan antar UMKM. Mereka mengkritik produk Artdias Gallery sebab bukan produk asli Pasuruan.

Dari kritikan itu, lahirlah tekad yang menggerakkan hingga akhirnya ia menciptakan produknya sendiri di tahun 2018 setelah memberanikan diri untuk resign. Di sinilah kreativitas beliau mulai terasah. Kreativitasnya terlihat saat beliau menciptakan produk-produk pertamanya, seperti home decor, seperti jam dinding, rak dinding sekaligus tempat gantungan kunci, tempat lampu, rak gantung, lampu meja, dan lain-lain.

Produk Home Decor Buatan Sendiri (IG @artdias_gallery)


Keunikan dari produk tersebut yang menjadi nilai jual Artdias Gallery. Sayangnya, pandemi Covid-19 menyebabkan penjualannya semakin menurun. Kegagalan itu tak membuatnya terus berhenti mengembangkan usahanya dari limbah kayu.

Bagi pria lulusan Jurusan Pertanian Universitas Brawijaya ini memanfaatkan barang bekas itu tak hanya ide saja yang diperlukan tetapi juga kerja keras. Keinginan Kak Dias untuk terus berkembang cukup besar. Ia mencoba bergabung dengan grup komunitas dengan hobi kayu di Malang. Ia mengembangkan kemampuannya dengan mengikuti kursus dari anggota grup komunitas tersebut di Malang.

Hingga suatu ketika...

Keramaian anak-anak kecil terdengar. Bukan bermain nekeran, gobak sodor, atau lompat karet, tetapi mereka tengah asyik scroll layar ponsel. Saat libur sekolah, pulang sekolah, atau saat senggang pun tangan generasi muda itu tak lepas dari aktivitas pada layar. Sangat disayangkan jika masa pertumbuhan fisik, kognitif, emosional dan sosial itu dibatasi oleh layar ponsel.

Dari keresahan itu, Achmad Adias Wijaya memikirkan bagaimana generasi penerus bangsa itu tidak menjadi tergantung pada ponsel sebab masa depan bangsa sangat tergantung pada kondisi anak-anak saat ini. Ia tak ingin masa kecil anak-anak itu dihabiskan di depan layar ponsel.

Ia tak berpikir muluk-muluk. “Apa yang saya punya yang bisa saya manfaatkan semaksimal mungkin,” pikir beliau saat itu.

Berbekal telusur desain mainan anak di Youtube, ia mencoba membuat mainan sederhana dari kayu dengan peralatan yang ia miliki, seperti jigsaw, gerinda, amplas, bor tangan, dan bor listrik. Tangannya dengan hati-hati memotong sisa-sisa kerajinan kayu itu untuk dibentuk menjadi mainan mobil-mobilan kemudian dihaluskan agar lebih aman digunakan anak-anak saat bermain.

Kebahagiaan begitu terasa ketika melihat hasil kerajinan mainan anak dari kayu miliknya diminati banyak orang. Tentunya ada rasa senang karena kreativitasnya dihargai banyak orang dan memicu semangat untuk membuat mainan anak lainnya yang lebih edukatif.

Ide-ide segar terkadang tidak bisa datang sendiri tetapi harus dicari. Ia mulai mencari desain mainan kayu yang unik dan belum banyak dijual di Indonesia melalui Pinterest.

“Saya senang kreativitas dan mencari hal yang baru yang belum dilakukan,” ujarnya saat wawancara melalui voice note WhatsApp.

Limbah Kayu Tak Selalu Barang Tak Perlu

Pemanfaatan limbah kayu untuk kerajinan kayu dilakukan oleh Achmad Adias Wijaya sejak tahun 2018 saat mulai membuat produk sendiri. Beliau tak kehilangan akal untuk memanfaatkan bahan baku yang murah.

Di lingkungan sekitarnya, potongan-potongan kayu dari industri kerajinan kayu tergeletak begitu saja dan menunggu untuk dibuang, dibakar atau juga dijual kembali.

Bayangkan saja berapa banyak limbah kayu yang dihasilkan dari mebel kayu di Pasuruan jika tidak di-recycle? Belum lagi, jika limbah-limbah kayu itu dibakar, asapnya sangat mengganggu masyarakat sekitar.

Hal itulah yang menyadarkan Kak Dias untuk memanfaatkan limbah kayu untuk diolah kembali agar memiliki nilai jual. Beliau menggunakan limbah kayu jati, pinus, bekas palet, dan lain sebagainya yang memiliki ukuran dan bentuk yang masih bisa digunakan. Sedangkan detail dan aksesoris mainan anak lainnya yang berasal dari logam, beliau peroleh dari pasar loak.

Limbah kayu jati yang tidak dipakai (@artdias_gallery)

Pemilihan limbah kayu yang berbeda-beda ini juga memiliki alasan tersendiri. Misalnya, kayu pinus ini dipilih karena biasanya kayu pinus yang berasal dari pabrik luar negeri ini sudah diberi obat anti rayap dan diproses pengeringannya. Kak Dias tinggal memotong dan mendesain saja. Sedangkan untuk limbah kayu jati, meskipun bekas tapi memiliki serat yang menarik dan berkualitas.


Bahan baku kerajinan
Kayu pinus limbah palet (IG @artdias_gallery)


Tidak semua limbah kayu itu beliau peroleh secara cuma-cuma dari industri mebel. Beberapa jenis kayu harus beliau beli seperti kayu pinus limbah palet/jati. Biasanya beliau menyewa pick-up untuk membawa limbah kayu.

Kayu jati yang diangkut dengan TOSA (@artdias_gallery)


Di sinilah tantangan Kak Dias. Ia harus mengolah limbah kayu dari berbagai macam bentuk dan ukuran itu menjadi kerajinan kayu yang keren dan unik. Limbah kayu pinus juga dipilih karena mudah dibentuk dan memiliki warna yang cerah yang akan membuat kerajinan menjadi lebih estetis.

Usaha Kak Dias dalam pemanfaatan limbah kayu sebagai usaha untuk mengurangi sampah industri mebel, mengurangi aktivitas penebangan pohon dan tentunya mendukung gaya hidup hijau.

Dari komitmen Artdias Gallery ini dalam menggunakan limbah kayu sebagai bahan baku pembuatan mainan anak, ia pun berhasil mendapatkan penghargaan Satu Indonesia Awards Tahun 2024 dari Astra di bidang Kewirausahaan.

Mencari Tenaga ‘Ngeplong’

Di ruangan khusus di sebelah rumahnya, suara mesin potongan kayu terdengar. Mulai tahun 2018, ia mulai melengkapi peralatan untuk pemotongan kayu seperti table saw, bandsaw, jigsaw dan mittersaw, untuk memudahkan dan mempercepat pekerjaannya.

Alat yang digunakan saat proses pembuatan (@artdias_gallery)


Dalam prosesnya, Kak Dias memang sebagian besar mengolah sendiri, mulai dari mencari bahan baku, desain produk, pemotongan, penghalusan, finishing, dan penjualannya.

Sebenarnya, Artdias Gallery bisa memberikan peluang pekerjaan bagi masyarakat lainnya di sekitar. Sayangnya tidak banyak pengrajin mebel di Pasuruan yang mau dan terbiasa membuat kerajinan mainan kayu yang berukuran kecil dan perlu ketelitian. Namun, Kak Dias berusaha untuk mengajak pekerja mebel di sekitarnya yang bisa ikut berkontribusi bagi pembuatan mainan anak yang ramah lingkungan.

Ia pun mendekati salah seorang pekerja mebel yang kira-kira bisa menjadi bagian dalam proses pembuatan kerajinan mainan anak.

“Ayo, Mas. Ini lebih mudah daripada sampeyan (kamu) membuat ukiran-ukiran. Biayanya berapa, saya bayar,” bujuk Kak Dias pada salah satu pekerja mebel. Tentu, bujukan itu pun disetujui dan dihargai Rp. 1000,- per pcs.

Beliau akhirnya memiliki tenaga yang bersedia membantunya bagian ‘ngeplong’ yang melubangi kayu atau membentuk kayu menjadi kerajinan tangan (handmade) dengan jigsaw. Adanya tenaga kerja tersebut sangat membantu Kak Dias dalam produksi mainan anak dalam jumlah besar.

Mainan Edukatif dari Limbah Kayu

Stand pameran siang itu semakin ramai oleh pengunjung yang datang. Mereka mencoba permainan edukatif dari kayu milik Artdias Gallery. Satu permainan yang menarik minat anak pertama saya adalah permainan kayu yang ditarik pakai tali. Tangan kanan dan kiri memegang tali. Di papannya banyak lubang-lubang. Pemain harus mengikuti jalur dan harus menjalankan kotak berisi kelereng sesuai jalurnya. Jika kelereng masuk ke dalam lubang maka permainan selesai.

Permainan edukatif di Artdias Gallery (@artdias_gallery)


Anak saya kesal karena hampir mendekati garis finish, ia gagal. Tentu saja, permainan ini mengasah kemampuan motorik halus anak, kesabaran dan ketenangan. Nilai-nilai itu yang harus ditanamkan pada anak-anak saat ini yang sering terpapar gadget dan lebih .

Anak saya yang paling kecil mencoba permainan puzzle kayu dan berusaha menyelesaikan puzzle tersebut dengan benar. Sesekali ia meminta bantuan Kak Dias untuk menyelesaikan puzzle. Pada akhirnya dia menyerah dan melihat-lihat mainan kayu lainnya.

Seorang anak bermain puzzle kayu dari Artdias Gallery (@artdias_gallery)


Tak hanya itu saja, masih banyak permainan edukatif lainnya yang dibuat oleh Artdias Gallery untuk melatih anak dalam memecahkan masalah, berpikir kritis, melatih emosional anak, mengasah imajinasi dan kreativitas.

Di tangannya yang inovatif, Artdias Gallery mampu memproduksi mainan edukatif dari kayu sebanyak 200 pcs selama satu bulan yang siap digunakan untuk anak-anak agar teralihkan dari gadget tapi tetap peduli lingkungan.

Penawaran Produk yang Mengejutkan

Tantangan Kak Dias tidak hanya pada proses pembuatannya saja. Beliau harus melakukan pemasaran produk sendiri, dengan menawarkannya di sosial media dan mengikuti pameran-pameran. Beliau juga harus menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) yang tepat dan terukur agar keuntungan bisa diketahui.

Artdias Gallery saat mengikuti pameran di Pasuruan (@artdias_gallery)


Kak Dias pun sudah memiliki harga pada produk yang akan dipamerkan di beberapa pameran sekitar Rp. 5.000,- hingga Rp. 700.000,- tergantung jenis bahan, desain dan proses pembuatannya. Namun, ia mengalami pengalaman mengejutkan saat mengikuti mengikuti pameran di Surabaya. Pertama kalinya, beliau membawa diorama rumah-rumahan.

Seorang ibu-ibu pun mendatanginya. Setelah mengetahui harga dioramanya hanya Rp. 35.000,-, ia pun berkata dengan penuh keyakinan, “Boleh aku beli Rp. 65.000,-?”

Terang saja Kak Dias terkejut. Bagaimana bisa harga 35 ditawar 65?

Wanita itu bercerita bahwa dia sering belanja souvenir ke luar negeri. Apalagi di kota besar, produk yang dijual bisa dapat untung berkali-kali lipat. Akhirnya, wanita itu membeli diorama seharga Rp. 65.000,-.

Dari tawaran beliau tentu saja mengisyaratkan bahwa produk Indonesia tentu tidak kalah dengan luar negeri.

Selamatkan Masa Anak-Anak dan Masa Depan Mereka

Anak-anak memang suka bermain sebab begitulah fitrah anak-anak. Bermain menjadi kebutuhan alami mereka untuk belajar, tumbuh dan menyalurkan energinya. Menyentuh mainan kayu dan merasakan tekstur kayu yang halus merupakan bahan belajar mereka untuk mengenal bahan alam yang bisa dijadikan mainan yang menarik. Tentu saja, hal itu juga menjadi cara belajar anak-anak saat penentuan pengambilan keputusan. Mereka punya pilihan pertimbangan sendiri dan keputusan sendiri.

Meskipun tidak sepenuhnya bisa menghilangkan ketergantungan pada gadget, setidaknya waktu screen time anak-anak bisa berkurang. Anak-anak pun bisa lupa sejenak dengan gadget. Begitulah peran Achmad Adias Wijaya ini untuk anak-anak Indonesia agar teralihkan dari gadget melalui media mainan anak dari limbah kayu.

Anak-anak di lingkungan tempat tinggal sedang mengecat bersama (IG @artdias_gallery)


Jangan sampai masa anak-anak habis di depan gadget karena masa depan anak-anak ditentukan oleh kehidupan mereka di masa anak-anak.

Tak hanya peduli pada masa depan mereka melalui mainan edukatif, Kak Dias terus bergerak dalam pelestarian lingkungan dengan pemanfaatan limbah kayu pada proses pembuatan mainan anak dari kayu.

Berasal dari limbah kayu, produk-produk mainan kayu dari Artdias Gallery pun menjadi payu (dalam bahasa jawa: Laku) di pasaran.

Referensi :
Wawancara langsung 

Wawancara via WhatsApp

https://youtu.be/x8lYk12rCiE?si=5kjHYOdsABKHOlJU

https://portaljtv.com/news/artdias-gallery-umkm-asal-pasuruan-ciptakan-kerajinan-tangan-dari-limbah-kayu?biro=portal-jtv


Read More
Ketika melihat perut sehabis melahirkan ini tidak sekencang dulu, aku mulai berkomitmen untuk nge-gym di rumah. Tapi baru seminggu berjalan, aku merasa mulai lelah karena pekerjaan domestik rasanya tak pernah berhenti. Jujurly—antara urusan rumah, menulis, dan anak, waktu untuk nge-gym di rumah rasanya seperti barang mewah. Apalagi kalau sudah sibuk persiapan travelling keluarga, energi habis duluan sebelum sempat olahraga.

Mengencangkan perut

Di tengah rutinitas itu, keinginan punya tubuh ideal kadang hanya jadi wacana. Tapi tubuh kita nggak butuh cara instan. Yang dibutuhkan hanya solusi cerdas dan aman, yang bisa menyesuaikan dengan gaya hidup kita.

Ada nggak sih, yang bisa ngencangin perut tanpa harus nge-gym? :D

Eh, ada kabar baik. Sekarang ada cara cerdas untuk bantu membentuk tubuh ideal tanpa harus mengorbankan waktu. BC Skin by B Clinic memperkenalkan bahan yang bisa bantu mengencangkan, mengurangi lingkar tubuh dengan praktis, efektif, dan aman. Nama bahannya Actigym yang merupakan bahan aktif Nourishfirm di Indonesia, The first local lotion to nourish and firm made with Actigym Ingredient. Actigym adalah bahan aktif dari ekstrak plankton laut Bermuda yang meniru efek latihan fisik pada sel kulit dan lemak.

Bayangkan saat kamu mengoleskan lotion setelah mandi, sel-sel kulitmu mulai “berolahraga”. Actigym Nourishfirm menstimulasi pembentukan otot dan memperkuat jaringan kulit, membuat kontur tubuh tampak lebih kencang dan terbentuk alami.

Penasaran nggak kenapa Actigym bisa membantu mengurangi lingkar tubuh dan membentuk tubuh ideal? Ternyata cara kerja Actigym ini seperti alat gym itu. Actigym bisa membuat sel tubuh bereaksi seolah sedang melakukan latihan ketahanan. Mungkin metabolisme tubuh sedang tidak baik. Nah, Actigym ini membuat metabolisme tubuh pun menjadi lebih efisien dalam membakar lemak dan mendukung aktivitas otot.

Tak hanya itu, kita seperti sedang melakukan latihan fisik karena Actigym memberikan sensasi gym di kulit. Sel kulit dan jaringan lemak langsung bekerja sehingga kulit terasa lebih kencang. Semakin lama maka kontur tubuh lebih terbentuk. Tentunya, proses pembentukan tubuh ideal bisa dilakukan secara praktis setiap hari, tanpa harus mengganggu rutinitas harian kita. Dan ternyata hasilnya sudah terbukti secara klinis (clinically proven)!

Perut langsing tanpa olahraga

Varian Nourishfirm

Actigym Nourishfirm hadir dalam dua varian, dan keduanya punya fungsi berbeda sesuai waktunya:

Nourishfirm Body Cream Day

Diperkaya Actigym, Caffeine, dan Menthol, lotion ini bantu proses pembakaran lemak (fatbreakdown) sambil memberi sensasi segar. Kandungan Lipomoist Molecular Film menjaga kelembapan kulit, jadi pas banget dipakai sebelum aktivitas seharian, termasuk saat bepergian atau travelling ke tempat beriklim panas.

Nourishfirm Body Cream Night

Untuk malam hari, saat tubuh beristirahat, lotion ini membantu mengurangi lingkar tubuh dan mampu melawan retensi air karena ada kombinasi Shape Perfection dan IsoSlim Complex. Bahkan saat tidur, kulit tetap “bekerja” karena diperkaya Thermo-Burn Action dari Capsaicin dan Caffeine membantu mempercepat metabolisme lokal kulit.

Yang bikin produk ini beda dari lotion biasa adalah adanya terobosan baru dalam perawatan tubuh. Yaitu gabungan kandungan canggih dan teknologi aplikator 360° dengan lima bola pemijat lembut. Pijatannya membantu lotion menyerap lebih cepat sekaligus melancarkan sirkulasi darah. Cocok banget untuk kamu yang ingin me-time singkat sebelum tidur atau saat bersiap pagi hari.

Actigym Nourishfirm


)ion pengencang tubuh yang benar-benar bekerja itu seperti menemukan teman baru dalam rutinitas sibuk.

Dengan Nourishfirm Day & Night, meski belum sempat olahraga, kulit tetap terasa kencang, tubuh terasa lebih fit, dan percaya diri pun meningkat, baik saat di rumah, di kantor, atau saat liburan keluarga.

Kalau kamu juga ingin mencoba pengalaman ini, kamu bisa cari tahu lebih banyak di Instagram @bclinic.official dan @bcskin.official.

B Clinic adalah klinik kecantikan dengan teknologi modern dan pelayanan lengkap, dikenal karena prosesnya yang nyaman, aman, dan hasilnya nyata.

Dengan inovasi seperti Actigym di BC Skin, B Clinic terus membuktikan komitmennya untuk menjadi solusi bagi perempuan modern yang ingin tampil percaya diri dan sehat, tanpa perlu meninggalkan rutinitas rumah tangga atau hobi jalan-jalan.

Karena tubuh ideal bukan soal berapa kali kamu ke gym, tapi seberapa cerdas kamu merawat diri di tengah kesibukan.

 

Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower