Perjalanan jauh demi cucu
Waduk Kedung Ombo, Yang Uomboooo
![]() |
| Sebelah kiri waduk yang dibatasi tanggul |
![]() |
| Tempat kolam renang yang tenggelam saat ini |
Warung apung
![]() |
| Pintu masuk warung apung |
![]() |
| Sebelah kiri waduk yang dibatasi tanggul |
![]() |
| Tempat kolam renang yang tenggelam saat ini |
![]() |
| Pintu masuk warung apung |
Kali ini aku akan membahas kuliner Karanganyar. Setiap wisata ke Kemuning, setelah pergi ke paralayang Kemuning rasanya kurang lengkap kalau kita tidak mencari kuliner khas Karanganyar. Yang aku heran, kenapa hampir tiap daerah yang tinggi, memiliki kuliner khas yang sama. Seperti di Kota Batu, makanan khasnya ada sate Kelinci, di Boyolali daerah pegunungan juga begitu. Sekarang di Karanganyar khususnya di Kemuning, salah satu makanan yang biasa direkomendasikan itu sate kelinci. Meski aku juga tidak tahu bedanya apa yaa. Mungkin sambelnya kali?
Tentu saja aku tidak mencobanya karena udah pernah mencoba sate kelinci di Boyolali dan Kota Batu. Sebenarnya banyak kuliner Karanganyar yang recommended, rata-rata sih menu-menu yang biasa aku temui di kota lain.
Saat kuliner di Kemuning, orang tuaku merekomendasikan kuliner rica-rica mentok Lek Man. Dan ternyata ramai banget, loh.
Lokasi warung Lek Man ini berada di Spranten, Kemuning, Kec. Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Kalau habis wisata ke Kemuning, aku dan keluarga langsung pergi ke Warung Lek Man. Lokasinya berada di pojok jalan, di dekat kebun sayur yang luas dengan pemandangan Gunung Lawu. Sulitnya, warung ini tidak ada tempat parkir khusus mobil. Jadi mobil parkir di pinggir jalan.
Setiap pergi ke Warung Lek Man saat makan siang selalu ramai. Kadang bingung mau parkir di mana. Soalnya kan di pinggir jalan. Syukurnya ada pak tukang parkir yang mau arahkan parkir di mana. Mobilku pun parkir di bawah tulisan besar Lek Man Rica Menthok.
Kalau dilihat bangunan warung Lek Man ini cukup sederhana dan bukan bangunan rumah tertutup. Tentu saja, kita bisa melihat aktivitas pengunjung dari luar. Sebagian lelaki sibuk dengan gadgetnya, sisanya sibuk mengobrol sambil mengebulkan asap rokok dan menikmati hidangan yang sudah tersaji. Sebagian wanita sibuk dengan anak-anaknya, sebagiannya lagi sibuk makan dan gadgetny. Anak-anak pun sibuk merecoki orang tuanya. Haha. Anak-anak itu membuka mulut untuk menerima makanan, tapi matanya tak lepas dari layar gadget di depannya.
Hampir seluruh meja telah terisi penuh dengan pengunjung. Bersyukurlah, masih ada sisa satu meja. Beberapa kali datang ke sini, meski tampak ramai, tapi selalu ada tempat. Aku pun memesan makanan dengan mendatangi meja kasir yang dekat dengan dapur sederhana biar segera dieksekusi. Maklum sudah lapar.
Beberapa orang melewatiku dengan nampan di satu tangannya. Piring-piring nasi bertumpuk di atasnya dan akan segera menemui pemesannya. Pria yang mengantarkan bergerak cepat seolah banyak hal yang harus dikerjakan. Pegawai wanita mengantarkan gelas-gelas berisi teh-teh khas Kemuning. Penjaja pasti tak sabar menyegarkan tenggorokan mereka dengan teh-teh itu.
Aku pun tak sabar ingin segera mencicipi makanannya. Selama menunggu itu, anakku yang kecil menunjukkan gelagat tak enak. Beberapa kali tangannya memegang bagian tiittt. Dan ia berucap ingin ke kamar mandi. Baiklah. Aku mencari kamar mandi yang ternyata ada di bawah bangunan. Kami melewati tangga menuju ke bawah. Toiletnya di dekat tangga. Di dalamnya cukup luas dan bersih. Tak ada bak mandi, hanya ember cukup besar berisi air yang dingin sedingin es.
Dari situ, aku tahu bahwa di lantai bawah juga ada tempat makan tapi tidak seramai yang di lantai atas. Pemandangan ke hutan di belakang warung terlihat dari tempat aku berdiri. Suasananya lebih dingin. Menurutku lebih nyaman di lantai atas karena udaranya lebih hangat.
Setelah kembali ke tempat duduk, tak sampai 10 menit, makanan yang aku pesan pun sudah tiba. Sebenernya tidak terlalu lama juga menurutku. Layanan juga cukuplah. Aku tidak merasa mendapat layanan buruk saat makan di sana.
Setelah itu, kami melahapnya.
Ketika hendak kunjungan pertama kali ke Warung Lek Man, aku mengira menu yang ditawarkan hanya rica-rica mentok saja. Kalau cuma rica-rica saja, aku pasti nggak mau ke sana karena anak-anak makan apa.
![]() |
| Menu Rica-Rica di Lek Man Karanganyar (Foto : Gandhes) |
Ternyata ada menu lainnya. Alhamdulillah. Menu Lek Man Rica Menthok yaitu :
Rica basah ini rica-rica menthok yang ada kuatnya. Meskipun enak dan gurih tapi rasanya pedas. Bagi pencinta pedas memang cocok makan ini. Mulut dan lambung tentu tidak mungkin bisa menerima makanan pedas itu. Daripada maagku kambuh, aku makan menu lainnya. Cuma incip sedikit. Suamiku yang kuat makan rica basah.
Dagingnya juga empuk. Tidak alot. Bagi orang tua yang giginya mulai banyak yang cocok kayak ortuku, cocok sih makan ini. Menurutku dagingnya juga nggak amis. Bagi sebagian ulasan mengatakan agak amis dan harga lebih mahal dibanding warung lain yang katanya lebih enak, porsi banyak dan murah. Waduh, di mana tuh. Jadi penasaran.
Rica goreng ini sama pedasnya seperti rica basah tapi digoreng. Tentunya tidak ada kuah. Kalau kalian lebih suka goreng memang mending pilih ini. Siap-siap pedes yaa.
Nah, bagi yang tidak suka pedas tapi tetap mau merasakan menthok bisa pesan goreng biasa. Menu ramah anak ini menjadi penyelamat perut anak-anak yang sudah lapar. Rasanya juga gurih dan disukai anak-anakku. Dagingnya juga empuk.
Kalau nggak suka mentok, anak-anak bisa makan ayam goreng juga. Tapi aku tidak memesan ayam goreng karena udah terlalu biasa masak di rumah. Eh, tapi kalau mau coba, nggak apa-apa loh. Mungkin rasanya beda sama masakan di rumah. Hehe.
Sebenarnya cukup mengherankan, rica-rica yang sudah pedas begitu masih ada sambal yang disuguhkan. Kira-kira siapa yang makan kalau bukan orang yang doyan sambal? Kalau aku suka banget beli pete dan trancamnya. Segar banget. Perasaanku, ketiga kali beli trancam rasanya beda dibandingkan pertama kali beli disana. Seperti ada yang berubah tapi tetep seger sih.
Ada satu minuman khas Warung Lek Man yaitu teh kemuning yang diambil dari kebun-kebun teh di Kemuning. Rasanya memang segar tapi menurutku sedikit lebih pahit dibanding teh biasanya. Jadinya aku pesan teh biasa. Semua soal selera sih yaa.
Untuk harga warung Lek Man Rica Menthok menurutku termasuk tidak mahal. Untuk makan bertujuh aja biasanya habis sekitar 150an ribu. Untuk harga mentok dan ayam sekitar 22ribu - 33 ribu. Aku tidak terlalu memperhatikan juga saat bayar.
Jadi menurutku, makan siang di sini cukup worth it dan cukup mengenyangkan. Rasanya enak, tidak amis, harga nggak mahal, dan bumbunya meresap. Nah, kira-kira kalian punya rekomendasi kuliner Karanganyar nggak yang ramah anak, enak dan murah.
![]() |
| Masjid al-Wustha Pura Mangkunegaran, Solo (dok. Pri) |
![]() |
| Pura Mangkunegaran yang dipagari dinding tinggi (dok. Pri) |
![]() |
| Maligen, tempat khitan zaman dulu |
![]() |
| Kaligrafi pada kusen pintu dan jendela (Mulyadi, 2015) |
![]() |
| Tempat sound system (dokpri) |
![]() |
| Kaligrafi di gapura pintu masuk (dokpri) |
![]() |
| Kaligrafi di gapura arah keluar (dokpri) |
![]() |
| Markiz bagian depan (dokpri) |
![]() |
| Kaligrafi di Markiz samping (dokpri) |
Beberapa kali ke Karanganyar, ke air terjun Ngargoyoso, ke air terjun Jumog, juga main ciblon di Kalimas, rasanya tempat wisata Karanganyar belum habis-habis aku kunjungi. Kali ini, aku ke wisata paling terkenal di Karanganyar, tempat wisata yang selalu dikunjungi wisatawan kalau pergi ke Karanganyar, yaitu wisata paralayang Kemuning. Tak perlu bisa olahraga paralayang kok kalau pergi ke wisata dekat Solo itu, kita hanya menjadi penonton paraglider.
Awalnya aku membayangkan pergi ke sana hanya untuk melihat aksi paraglider membelah langit Karanganyar saja. Hampir sama seperti paralayang di Malang. Perjalanan ke sana pun tidak kusambut terlalu antusias tetapi bagiku mengunjungi Kemuning seolah selalu memberiku ketenangan setelah keriweuhan mengurus anak-anak.
Pemandangan hijau yang terlihat di perbukitan pegunungan Lawu yang banyak ditumbuhi kebuh teh, awan yang tampak seperti kabut dan udara dingin menyambut kami sepanjang perjalanan, rumah-rumah penduduk dengan kebun-kebun sayur terlihat berada di atas dan bawah jalanan, suasana yang tenang ternyata mampu memberiku semangat dan ketenangan.
![]() |
| Perjalanan dengan pemandangan indah seperti Swiss |
MaasyaAllah. Itu kenapa Allah menciptakan desa dengan karakteristik lansekapnya yang indah dan berbeda dengan kota. Salah satu tujuannya adalah tempat 'healing' dari penatnya kegiatan harian. Makanya sayang banget kalau pemandangan indah di pedesaan berubah menjadi bangunan.
Sepanjang perjalanan selama 45 menit dengan mobil tidak terasa membosankan. Justru menyenangkan. Mungkin karena dilewati bersama orang-orang tersayang. Akses jalan mendekati Bukit Paralayang Segorogunung, Kemuning, Karanganyar sempit dan cukup tinggi. Di satu bagian jalan, hanya muat dilewati untuk satu mobil. Bagi yang baru pertama kali melewatinya pasti akan terasa menakutkan.
Sebelum masuk ke tempat parkir wisata di sisi kiri dan kanan jalan, beberapa bangunan cafe yang menyuguhkan pemandangan Karanganyar dari ketinggian terlihat cukup ramai.
Ternyata wisata paralayang Karanganyar lebih ramai dibandingkan dengan tempat paralayang Malang yang hanya ada tempat untuk paragliding. Sedangkan wisata paralayang Karanganyar dikelola dengan banyak pilihan.
Bangunan hijau bertingkat dua yang semi terbuka terlihat mencolok di antara bangunan lain di tempat wisata Bukit Paralayang Segorogunung, Kemuning, Karanganyar. Dari balkon bangunan itu yang menjadi tempat makan, kami bisa melihat paraglider beraksi tanpa terhalang manusia-manusia lain.
Hanya satu penyesalanku pas datang ke sana adalah aku lupa membawakan jaket untuk anak-anak. Alhasil mereka kedinginan. Anginnya juga lumayan kencang. Kasihan aja kalau mereka masuk angin.
Saat kami tiba di wisata Paralayang ituq, sebenarnya banyak sekali tempat makan, dari cafe sampai warung makan biasa. ada yang harus naik tangga dulu. Sedangkan kami hanya di dekat tempat parkir mobil saja yang berada dekat dengan bangunan hijau.
Kedatangan kami memang cukup kesiangan di saat jam makan siang. Tempat makan tidak terlalu ramai, jadi kami bisa memilih duduk di mana. Anak-anak mulai berisik dan lapar karena memang waktunya sudah makan siang. Kita hanya beli pop mie yang bisa dinikmati anak-anak. Ada juga gorengan dan minuman hangat. Untuk harganya masih normal seperti warung lainnya. Selesai makan, anak-anak mulai ceria kembali. Mungkin makanannya telah terbakar menjadi kalori dan membuat tubuh mereka tetap hangat.
Beruntung saat aku ke sana siang hari, cuaca sedang cerah. Langitnya biru. Awan berarak tapi tak banyak. Jadi kami bisa melihat pemandangan Karanganyar dari atas gunung. Setelah itu, kita berfoto-foto sejenak. Anakku yang bayi terlihat kedinginan. Sepertinya kami memang tidak kuat berlama-lama di sana. Karena meski cuaca sempat cerah, setelah jam 12 siang, langit mulai gelap dan diselimuti awan.
![]() |
| Pemandangan kota di belakang kami (foto pribadi) |
![]() |
| Paragliding di Bukit Paralayang Segorogunung (foto pribadi) |
Nggak cuma tempat nongkrong, di depan tempat makan, aku melihat beberapa tenda camping berjejer. Ternyata wisata Paralayang Kemuning ini juga memberikan fasilitas camping ground. Beberapa anak muda beraktivitas di sekitarnya. Ada yang duduk-duduk saja. Ada yang sedang mempersiapkan makanan
Kelihatannya memang seru sekali bisa camping 'ringan' di dekat paralayang sambil menikmati paraglider berolahraga. Nggak perlu berat-berat jauh ke atas puncak gunung yang ngga ada toilet dan harus masak sendiri. Di sini, kita bisa camping seperti di gunung tapi dengan fasilitas yang sudah disediakan (toilet dan warung makan).
Saat malam hari, saat cuaca cerah, pasti bisa lihat keindahan kota yang dihiasi lampu-lampu yang terang. Ternyata dari sini, pengunjung bisa melihat keindahan ciptaan Allah saat matahari terbit dan matahari terbenam. Romantis banget, euy! Bisa banget jadi alternatif tempat healing di Karanganyar.
![]() |
| Camping ground Karanganyar saat malam hari (IG @cahsoerakarta) |
Kalau aku pergi wisata paralayang Kemuning lagi, kira-kira aku bakal ikut tandem paragliding atau camping ya? Menurut kalian yang mana enaknya kalau bawa anak 4 tahun, 8 tahun dan 10 tahun?
![]() |
| Mainan kayu dari limbah kayu di Artdias Gallery (dokpri) |
![]() |
| Diorama rumah di pinggir pantai Artdias Gallery (dok.pri) |
![]() |
| Produk awal kerajinan Artdias Gallery (IG @artdias_gallery) |
![]() |
| Produk Home Decor Buatan Sendiri (IG @artdias_gallery) |
![]() |
| Limbah kayu jati yang tidak dipakai (@artdias_gallery) |
![]() |
| Kayu pinus limbah palet (IG @artdias_gallery) |
![]() |
| Kayu jati yang diangkut dengan TOSA (@artdias_gallery) |
![]() |
| Alat yang digunakan saat proses pembuatan (@artdias_gallery) |
![]() |
| Permainan edukatif di Artdias Gallery (@artdias_gallery) |
![]() |
| Seorang anak bermain puzzle kayu dari Artdias Gallery (@artdias_gallery) |
![]() |
| Artdias Gallery saat mengikuti pameran di Pasuruan (@artdias_gallery) |
![]() |
| Anak-anak di lingkungan tempat tinggal sedang mengecat bersama (IG @artdias_gallery) |