Setelah zonk cari kuliner malam di Probolinggo yang udah aku ceritakan di artikel keliling kota Probolinggo, aku nggak mau capek-capek lagi cari tempat makan recommended di Probolinggo. Dahlah, aku cari kuliner dekat alun-alun saja. Nggak mau berlama-lama lagi mencari tempat makan, aku langsung memilih rumah makan Ikan Bakar Gatsu. Yaahh setidaknya nggak kecewa bener lahh bisa makan hasil laut, hehe.

Ikan bakar gatsu probolinggo
Ikan bakar Gatsu Probolinggo (foto: Google ikan bakar Gatsu)

Resto Ikan Bakar Gatsu, Special Seafood di Probolinggo

Rumah makan Ikan Bakar Gatsu ini merupakan kuliner Probolinggo yang menjual berbagai menu masakan laut, mulai dari ikan, dan udang baik dibakar maupun digoreng. Kalau lihat ulasan di google sih tampak lezat banget yaa. Ikan Bakar Gatsu ini sudah dibangun sejak tahun 2007. Meski ada ikan yang digoreng tapi di rumah makan ini recommended dibakar. Jam buka resto ikan bakar Gatsu dari setiap hari dari pukul 09.30 sampai 21.30.

Lokasi dekat alun-alun, parkir aman?

Ikan Bakar Gatsu berada di sebelah timur alun-alun Probolinggo, tepatnya di Jalan KH. Mas Mansyur. No. 50. 

Kuliner di probolinggo
Parkir mobil Ikan Bakar Gatsu di pinggir jalan (Google foto: Maria Alkayyis)

Sampai di sana, alhamdulillah saja, masih ada tempat parkir mobil meski di pinggir jalan, sedangkan motor ada tempat parkir khusus. Kami pun mencari tempat duduk yang nyaman di dekat jendela besar agar kami bisa melihat aktivitas orang di jalanan. Dan tentunya, agar tidak terlalu panas. Meskipun di resto ini disediakan kipas, kami memilih untuk penghawaan alami.

Bangunan rumah makan Ikan Bakar Gatsu ini memanfaatkan bangunan lawas sekitar alun-alun. Sangat tampak dari desain bangunannya yang tinggi, berjendela besar, berpintu besar dan berhalaman luas. Tapi yang unik, bangunan lawas itu sedikit diubah jadi seolah-olah bangunan ala Jepang.

Dalam bahasa Jepang, Gatsu artinya bulan (dalam kalender), misalnya bulan Januari disebut ichi-gatsu atau bulan satu.

Untuk nama resto, di bagian atap depan menggunakan lampu neon warna pink dan biru yang dibentuk menjadi nama resto.

Di dalam bangunannya, atapnya tampak tinggi. Meski tidak ada AC, ruangan tidak panas. 

Menu resto Ikan Bakar Gatsu

Sebenarnya keluarga kami itu sedikit kesulitan makan ikan, jadi kami pilih ikan Gurame bakar karena durinya sedikit. Artinya, durinya hanya besar di bagian tengah dan pinggir saja.

Selain Gurame, sebenarnya tersedia menu lainnya seperti udang, cumi, kakap dan kerapu. Bisa dibilang variasi menu makanan di sini tidak terlalu banyak. Biasanya, di resto seafood, jenis menu makanan seafood bermacam-macam.

Kami pun memilih gurame bakar dan udang bakar. Untuk minuman, kami memecan jeruk panas, teh dan es cao.

Antrian lama

Ketika kamu memasuki resto, pengunjung resto sebenarnya tidak terlalu banyak tapi rupanya belum dilayani semua. Kira-kira ada 6 grup pengunjung yang belum dilayani. Beberapa pengunjung tampak menoleh ke arah lain berharap pesanan sudah selesai.

Kami memilih tempat duduk di pinggir jendela. Petugas mendatangi kami untuk bertanya pesan apa. Sayangnya tidak ada buku menu jadi aku harus bertanya menu apa saja. Sebenarnya kurang nyaman sih karena akhirnya kami tanya-tanya mulu. Jadi sabar aja ya mbak pegawai...

Kami menunggu di dekat jendela besar sambil melihat aktivitas masyarakat yang lewat. Ada odong-odong yang melewati alun-alun.

5 menit... 10 menit... pesanan belum datang juga... kulihat pengunjung lain yang kulihat tadi tampak wajah menahan lapar dan juga belum dilayani.

Wah, sepertinya akan lama. Anak-anak pun mulai bosan menunggu. Mereka selalu bertanya kapan makanannya datang?

Beberapa kali mereka keluar masuk resto dan menyapaku lewat jendela, kadang manjat-manjat pula.

Menunggu pesanan datang (dok. Pribadi)

Aku ikut juga keluar resto hanya untuk melihat aktivitas orang yang sedang membakar seafood pesanan pengunjung. Tempat bakaran ini berada di bangunan tambahan dari bangunan resto. 

Asap mengepul di sela-sela jeruji besi. Tampang pegawai yang sedang membakar ikan mengkerut seolah ingin menghindari asap yang memenuhi wajahnya.

Rumah makan seafood Probolinggo
Tempat Bakaran Ikan Bakar Gatsu (Google Foto: Eko Prasetyo)

Sepertinya memang akan lama padahal ada 3 pemanggang. Satu pemanggang untuk dua ikan besar. MaasyaAllah benar-benar diuji kesabaran yaaa.

Aku pun kembali ke tempat dudukku.

Saat melihat odong-odong lewat, mereka minta naik odong-odong.

Karena aku juga bosan menunggu, aku pun mengajak dua anakku aja naik odong-odong. Untungnya si kakak tidak minta ikut juga, hehe.

Kami pun naik odong-odong seperti yang aku ceritakan di artikel sebelumnya.

Ketika kami selesai naik odong-odong, makanan sudah datang. Pengunjung sebelum kami pun juga sedang menyantap pesanan mereka.

Kami segera cuci tangan dan makan.

Cita rasa menu bakaran Gatsu

Gurame bakar dan udang bakar tampak lezat sekali. Seafood bakar itu diletakkan di piring anyaman bambu yang dilapis kertas bungkus dan daun pisang. Di piring lain, sambal terasi beserta sayur lalapannya (kemangi, kubis, timun) tampak segar. Aku tak sabar ingin melahapnya.

Kuliner seafood probolinggo
Menu Seafood Ikan Bakar Gatsu (Google foto: Maria Hutomo)

Saat mencicipi menu bakaran Gatsu, rasanya menurutku kurang nendang sih. Daging yang dibakar tidak terlalu gosong tapi matang merata. Dagingnya pun lembut. Rasa bumbunya meresap dan tidak terlalu pedas sehingga anak-anak masih bisa makan.

Rasa ikannya juga segar kok tidak terasa seperti ikan yang sudah lama dibiarkan.

Begitu juga dengan udang bakarnya yang ditusuk dengan tusuk sate dan dibelah jadi dua. Tampak lezat. Rasanya kurang lebih sama kok karena dasar bumbunya sama. Dagingnya lembut.

Rasa sambalnya segar sekali, cukup pedas. Karena kami lapar, rasanya ikan bakar yang dimakan dengan sepiring nasi hangat dan sambal terasi yang pedas jadi terasa lezaaaat. Anak-anak pun makan dengan lahap.

Untuk minumannya, menurutku, es cao, es blewah, teh dan jeruknya manissss.

Akhirnya selesai juga, rasa lapar kami seolah hilang seketika. Alhamdulillah. Meskipun rasanya kurang nendang dikiiit tapi saat makan tidak dicela rasanya jadi enak aja bahkan sampai nasi habis.

Mungkin begitulah, ketika ingin merasakan suatu kenikmatan, kita harus menunggu dengan sabaarrrr.. ya kaaannn.. sama lah kalau masuk surgaa, kudu banyak sabaaarr..

Pembayaran

Saat itu, untunglah pembayaran bisa dilakukan dengan QRIS. Semua makanan yang kami pesan harganya normal seperti layaknya makanan seafood. Aku lupa sih berapa total, tapi kalau tidak salah tidak sampai 200ribu.

Apakah Layak Dikunjungi Lagi?

Kalau melihat antrian yang cukup lama, mending ke sana saat kondisi perut tidak terlalu lapar. Atau datang jangan terlalu malam, setelah magrib atau isya gitu. Selain itu, kayaknya semua menu dicoba aja, mulai dari udang bakar, ikan bakar dan cumi bakar.
Read More
Tiba-tiba aja kami pergi ke Probolinggo mengunjungi cucu. Iyaa... CUCU. Aku udah punya cucu di usia 35 tahun. MaasyaAllah. Kok bisaaa? Bukan cucu dari anakku tapi dari ponakanku. Eh, gimana, ya? Pakdeku (kakak dari ibu, alm) punya cucu. Cucunya ini punya anak. Nah, bisa dibilang aku jadi mbah-mbah! Wkwkwk.

Jadilah kedatangan kami ke Probolinggo ini bukan untuk wisata tapi menengok cucu. Perjalanan dari rumah ke Probolinggo ini sekitar 1.5 jam lewat tol dengan jarak 100km, lebih jauh daripada ke Malang. Jadi kami udah bisa disebut musafir lah yaaa.

Tiba di Probolinggo sudah mendekati maghrib, jadi kami mencari masjid di Probolinggo untuk sholat dulu. 

Dan pastinya tempat yang ada masjidnya tanpa harus cari-cari adalah alun-alun. Tahu, kan, konsep alun-alun sudah ada sejak zaman Belanda. Di mana ada alun-alun disitu ada masjid. 

Di alun-alun Kota Probolinggo yang tak begitu jauh dari pesisir, kami menemukan masjid hijau di barat alun-alun. Memang Kota Probolinggo ini berada di kawasan pesisir. Kotanya pun tidak terlalu ramai. 

Jumlah penduduk Kota Probolinggo hampir seperempat dari jumlah penduduk Kota Malang, dan sedikit lebih banyak dari Kota Blitar. Suasana Kota Probolinggo ini lebih tenang. Tapi karena Kota ini menjadi kota pesisir yang dekat dengan pelabuhan dan menghubungkan kota-kota besar lainnya di Jawa Timur, kita masih bisa melihat truk-truk besar yang lewati pinggiran Kota atau tol.

Alun-alun Kota Probolinggo

Akun-Alun Probolinggo setelah direvitalisasi (sumber foto: nuansajatim.com)

Salah satu alasan aku males pergi ke alun-alun kalau naik kendaraan roda empat adalah  kesulitan mencari tempat parkirnya. Jarang sekali ada tempat parkir mobil kecuali di pinggir jalan. Kalau udah penuh mobil, harus cari parkirnya agak jauh.

Alhamdulillah, di samping masjid disediakan tanah kosong untuk tempat parkir mobil lumayan luas. Jadi nggak perlu bingung parkir di pinggir jalan.

Hampir sama dengan alun-alun kota lainnya seperti di Malang, alun-alun kota Probolinggo berbentuk segiempat yang berupa rerumputan. 

Di malam hari, bisa dibilang tidak banyak warga yang memadati alun-alun tersebut. Apalagi pencahayaan kurang terang. Tidak ada aktivitas yang cukup menarik perhatian kami. 

Saat kami ke sana, alun-alun Probolinggo belum direvitalisasi. Kira-kira tiga bulan kemudian, sekitar Juli 2025, alun-alun direvitalisasi.

Sekarang, alun-alun sudah dibuka untuk umum. Di bagian depan, ada tulisan besar 'Alun-Alun Probolinggo' dan beberapa sisi dipercantik. 

Ketika kami ke sana, alun-alun kota malam itu tidak terlalu ramai tapi di satu ruas jalan cukup ramai dengan aktivitas odong-odong hias bertingkat yang membuat jalanan macet. Alun-alun ini menjadi salah satu wisata keluarga di kota Probolinggo.

Setelah parkir mobil, kami melewati pedagang kaki lima yang memenuhi jalanan di sisi depan masjid. Di saat perut lapar, street food di depan masjid alun-alun Probolinggo itu tampak menggiurkan tapi hanya untuk mengganjal perut saja, bukan termasuk jenis makanan berat yang mengenyangkan.

Masjid Agung Raudlatul Jannah

Masjid Agung Raudlatul Jannah yang berwarna hijau ini tampak jauh lebih ramai dari alun-alun. Para jamaah keluar masuk dari pintu utama. 

Masjid Raudlatul Jannah Probolinggo (sumber foto: Radar Bromo)

Suami dan anak-anak memasuki pintu utama masjid. Sedangkan aku mencari pintu untuk akhwat. Pintu masuk perempuan berada di ujung masjid. 

Sebagian jamaah perempuan sudah selesai menyelesaikan kewajibannya.

Desain masjid ini memang tidak seperti masjid-masjid modern lainnya. Konsepnya sama seperti desain masjid zaman dulu, didominasi warna hijau, dan sederhana. Sayang banget aku nggak sempat foto di bagian depan masjid.

Antrian panjang

Tempat wudhu dan toilet perempuan cukup ramai. Aku tidak yakin bisa masuk kamar mandi atau nggak. Tapi apa salahnya mencoba. menunggu di depan pintu kamar mandi sambil menahan BAK tapi yang di dalam kamar mandi tak kunjung keluar. Rasanya ingin kegedor-gedor. Tiga kamar mandi lainnya pun sudah ada yang antri.

Lagi sabar menunggu, eh tiba-tiba seorang ibu berdiri di depanku, seolah-olah aku ini makhluk kasat mata. Menoleh padaku pun tidak. Dia benar-benar mengira aku ini bukan manusia. Rasanya gemes tapi mau negur kok sungkan. Karena aku udah sebel jadi aku memilih untuk beranjak dari antrian. 

Aku pun mengambil wudhu. Di tempat sholat, jamaah sholat magrib sudah selesai tapi masih ada yang melaksanakan sholat di beberapa bagian masjid. 

Al-Qur'an Raksasa

Setelah selesai sholat, aku menghampiri anak-anak yang sudah di teras masjid. Anak-anak memberitahu bahwa ada Al-Quran besar banget.

Aku tak melihat apa pun di masjid ini. Mereka membawaku ke sebuah tempat di mana para jamaah laki-laki hilir mudik. Awalnya aku malu tapi karena anakku sedikit memaksa jadi aku mengikuti saja. 

Di dekat pintu masuk masjid jamaah laki-laki, terdapat lemari kayu besar dengan penutup kaca yang ternyata di dalamnya tempat menyimpan Al-Quran. 

Di depanku, sebuah Al-Quran besar terbuka. Tampak tulisannya pun besar-besar. Aku tidak memperhatikan halaman terbuka di surah apa. Ukuran lebar Al-Quran kira-kira sepanjang lengan tanganku. Panjangnya dua kali lengan. Waooww.  

Yang mantap lagi setiap baris ayat itu seperti ada garis tipis pensil. Setelah kuperhatikan dengan seksama, ternyata bukan hasil percetakan tetapi hasil tulisan tangan seseorang. MaasyaAllah. Benar-benar nggak terlihat seperti tulisan tangan. Saking rapinya.

Al-Qur'an Akbar ini dibuat tahun 2022. Al-Qur'an Akbar ini memiliki ukuran panjang 1.5 meter, lebar 1 meter, tebal 25 cm, sebanyak 310 halaman, menggunakan tinta tahan air, dan dipilih dengan bahan kayu hardplex dilapisi Oscar. Penulisan Al-Qur'an menggunakan Rasm Utsmani.

Al-Quran Akbar Masjid Probolinggo
Anakku di dekat Al-Quran Raksasa (dok. Pribadi)

Al-Qur'an ini ditulis oleh tiga dosen dari Universitas Sain Al-Quran (Unsiq) Wonosobo dan menghabiskan 20 liter tinta selama 7 bulan. Allahuakbar.

Cari Makan di Resto Dekat Laut 'Agak Laen'

Perut kami mulai lapar. Kami maunya mencari tempat makan yang 'agak laen'. Artinya, karena ini di pesisir jadi cari yang deket pesisir atau makanan laut. Ngebayangin kayak di Balikpapan gitu lah. Haha.

Dari Google, kami nemu satu resto dekat pesisir. Namanya Warung Kama. Kami pun mengikuti jalan yang diarahkan Google Map. Tapi semakin kita menjauhi kota dan mendekati pesisir kok tempatnya sepi sekali yaa. Mana penerangan jalannya juga kurang banget. Jalannya juga jelek seperti tidak pernah terawat. 

Ini serius?

Ya karena kami percaya aja sama Google, kami ikut sajaa meski hati agak ketar-ketir. Emang ada bisnis lewat tempat sepi gini?

Kami melewati BeeJee resto apung yang tampak paling terang dan ramai. Meskipun tidak bisa disebut ramai juga untuk ukuran resto. Hehe. Memang ada beberapa mobil masuk ke resto apung itu. Pintu masuknya pun keren. Tapi itu bukan tujuan kami. 

Akhirnya kami jalan terus. Ada bapak satpam menanyakan kami mau ke mana. Kami menjawab ke resto (aku lupa menyebut nama restonya atau nggak), tapi beliau tetap mempersilakan kami jalan. 

Semakin ke utara, tidak ada penerangan. Kiri kami ada pabrik-pabrik. Sebagian air laut masuk ke daratan. Di kanan kami tanah kosong tak tampak apa pun. 

Tibalah kami di ujung jalan. Tak ada aktivitas apa pun hanya bilik kayu sempit penjual rokok, kopi atau apa pun itu. Suara-suara penjual yang meramaikan malam itu. Di depan kami, entahlah seperti tempat pelelangan ikan. Di kanan kami, bangunan kayu yang cukup luas tampak seperti resto yang sudah tutup.

Kami bertanya pada penjual itu dna beliau menunjuk bangunan di kanan kami. Nggak ada cerita apapun tentang resto itu. 

Agak laen bener. Wkwkwk

Dah lah fix kita kena zonk. Di Google Map masih melaporkan bisnis itu buka (tahun 2025). Sekarang setelah aku lihat udah tutup.

Akhirnya, kita kembali ke alun-alun. Kita cari makan di tengah kota aja. Wkwkw.

Melihat Kapal Nelayan

Perjalanan pulang, suami sempat berbelok di suatu tempat yang kosong. Di ujungnya, pagar besi itu ditutup. 

Di seberang kami, banyak perahu kayu tradisional nelayan sedang bersandar. Suara mesin motor kapal terdengar cukup kencang. 

Pemandangan di depan kami memang baru pertama kali dilihat anak-anak. Kami menjelaskan kapan nelayan itu berangkat dan kembali. 

Pelabuhan Nelayan Probolinggo
Parkir di area pelabuhan kapal nelayan (dok. Pribadi)

Naik Odong-odong di Alun-Alun Probolinggo

Nggak mau lagi cari resto zonk, kami pun memilih tempat makan dekat alun-alun. Ngga lagi niat cari tempat makan yang 'agak laen'. Wkwkwk.

Pilihan jatuh di warung ikan bakar Gatsu yang mungkin aku bahas lain kali. Setelah kami memesan makanan ternyata keluarnya cukup lama. 

Anakku minta naik odong-odong. Sambil menunggu makanan, aku mengajak dua anakku naik odong-odong. 

Kami menunggu di pinggir alun-alun. Odong-odong di sini mirip kayak di alun-alun Malang. Bentuknya bertingkat-tingkat. Dan hiasannya seperti ada sayap terbang atau naga. Aku dan anak-anak duduk di belakang. 

Kami keliling sekitar alun-alun Probolinggo. Anak-anak senang sekali bisa naik odong-odong yang berlagu itu. 

Meskipun tampaknya alun-alun itu sepi ternyata yang naik odong-odong lumayan ramai. Yaaa nggak sampai duduk berdempetan. Di beberapa titik, jalanan macet karena odong-odong. Hehe.

Naik odong-odong di alun-alun Probolinggo


Setelah keliling dua putaran kami pun berhenti. Aku lupa bayar berapa. 20ribu atau 30ribu ya.. pokoknya sekitar segituuuu yaa.

Tak lama, pesanan kami datang. Dengan lahan, kami habiskan ikan laut bakar itu. Karena sudah hampir jam 9 malam, kami segera ke rumah cucuuuuu sekitar 15 menit dari alun-alun. Cucunya udah tidur. Wkwkwk.

Read More
Suatu ketika, setelah anak-anak nonton Doraemon, mereka bilang enak yaa bisa ketemu Doraemon. Bisa minta apa aja. Hahaha. Nak, kita punya Allah yang bisa minta apa aja bahkan lebihhhhh banyakkk dari Doraemon. Hehe. Akhirnya berceritalah tentang negara Jepang yang juga punya pinguin dan salju. Mereka penasaran ingin lihat pinguin di Jepang sambil bermain salju. Ngebayangin ngajak bocah-bocah jalan-jalan main salju pas musim dingin, atau sekadar lari-larian di taman bermain atau lihat pinguin kok kayaknya seru banget ya, hehe.

Visa ke jepang apa saja

Terus karena aku iseng, aku cari-cari info persiapan ke Jepang, khususnya visa, kok bingung yaa. Emang sih urusan visa ini agak membingungkan. Dulu, sebelum ke Prancis, aku terima beres aja. Urusan visa udah dibantu sama lembaga pendidikan. Waktu ke mekkah juga udah diuruskan travel.

Nah kalau ngebahas liburan luar negeri bareng keluarga, hal pertama yang muncul di kepalaku tuh visa ke Jepang apa saja jenisnya? Karena tiap negara pasti memiliki kebijakan visanya berbeda. Ngurusin dokumen buat sekeluarga juga butuh energi ekstra.

Urusan beginian kalau tanya suami visa ke Jepang apa saja jenis dan aturannya, sih, pasti udah angkat tangan duluan. Jadilah aku coba cari-cari sendiri.

Biar kalian nggak ikutan pusing nyari info sana-sini, aku coba ngerangkum catatanku di sini ya geeesss.

Apa Saja Jenis Jenis Visa untuk Ke Jepang dan Fungsinya

Jenis Visa Jepang

Kalau jalan-jalan di dalam negeri kan enak, tinggal pesan penginapan, beres-beres koper, dan bawa badan.

Nah, kalau mau ke negara orang, urusan surat-menyuratnya lumayan bikin deg-degan. Biar urusannya lancar dan nggak bikin ribet, kita emang wajib tahu detail visa ke Jepang apa saja beserta fungsi spesifiknya.

Apalagi kalau bawa rombongan yang kadang moodnya nggak bisa ditebak. Biar nggak salah urus dokumen dan malah jadi runyam, kita langsung bedah aja satu-satu jenisnya, hehe.

Bebas Visa (Visa Waiver) Khusus e-Paspor

Pas lagi nge-list visa ke Jepang apa saja, aku baru sadar kalau jenis paspor itu berpengaruh banget ke prosesnya.

Waktu pengalaman bikin paspor kadaluarsa lewat aplikasi M-Paspor, sekarang udah ngga ada paspor biasa. Adanya e-paspor yang harganya 650ribu. Setelah datang langsung  ke Imigrasi Juanda Surabaya, aku udah bisa pegang e-paspor!

Ternyata salah satu kelebihan pemegang e-paspor (yang ada lambang cip di bagian depannya), urusannya jauh lebih gampang karena ada fasilitas bebas visa alias visa waiver dari kedutaan Jepang.

Berdasarkan hasil ngulik-ngulik dari berbagai sumber, ini dia beberapa poin pentingnya:
  • Tetap Harus Registrasi: Mentang-mentang namanya bebas visa, bukan berarti kita bisa langsung main nyelonong ke bandara ya. Kita tetep wajib mendaftarkan e-paspor kita ke kedutaan sebelum jadwal keberangkatan.
  • Masa Berlaku Panjang: Enaknya tuh, registrasi ini berlakunya lumayan lama, sampai 3 tahun lho.
  • Waktu Kunjungan: Lewat jalur ini, kita dikasih izin tinggal sampai maksimal 15 hari aja buat tiap kunjungan. Cukuplah ya buat liburan bareng keluarga, kalau kelamaan nanti tagihan di rumah pada menjerit hahaha.

Visa Kunjungan Singkat (Single Entry)

Terus, ngomongin soal visa ke Jepang apa saja, ada juga dokumen yang namanya Single Entry. Ini khusus diperuntukkan buat turis yang masih pakai paspor biasa atau paspor buku hijau. Paspor suami masih paspor biasa yang belum e-paspor dan masih berlaku.

Dari semua daftar visa, jenis visa single entry ini persyaratannya yang agak bikin ketar-ketir (eh, maksudnya bikin deg-degan wkwk). Soalnya, persyaratannya lumayan detail:

  • Sekali Masuk: Namanya juga single entry, jadi cuma bisa dipakai buat satu kali perjalanan aja. Lumayan makan waktu ya kalau bawa keluarga besar tapi harus ngurus dari awal lagi pas mau berangkat tahun depan.
  • Durasi Izin Tinggal: Biasanya sih izin tinggal yang dikasih tetap sama, yaitu sekitar 15 hari tergantung sama jadwal itinerary kita.
  • Wajib Bukti Keuangan: Nah, ini dia nih! Kita wajib ngelampirin mutasi rekening koran tiga bulan terakhir. Saldonya harus dipastikan cukup buat nutupin biaya hidup sekeluarga di sana. Bener-bener harus nabung kenceng nih pak suami wkwk.


Visa Kunjungan Berkali-kali (Multiple Entry)

Kalau misalnya kita ada urusan di Jepang ya misal bisnis maka lebih baik memilih jenis visa multiple entry ini. Atau siapa tahu ya kaan rencana liburannya bolak-balik. Hehe. 

Ini tuh ibarat punya akses jalur khusus VIP. Cocok banget buat orang yang mobilitasnya tinggi atau memang super sering liburan ke luar negeri. Info pentingnya kayak gini:
  • Masa Berlaku Bertahun-tahun: Sekali bikin dokumen ini, masa berlakunya bisa bertahan mulai dari 1 tahun sampai maksimal 5 tahun!
  • Durasi Tinggal Lebih Lama: Buat tiap kunjungannya, durasi izin tinggalnya juga bisa dikasih lebih panjang sampai 30 hari.
  • Syarat Penghasilan: Tapi ya gitu, syaratnya tentu jauh lebih ketat karena harus ngebuktiin kemampuan finansial yang cukup besar. Dahlah, emak-emak mending pakai yang jalur bebas visa aja kayanya lebih tenang urusannya.

Visa Khusus Transit

Waktu lanjut baca-baca info visa ke Jepang apa saja, ternyata ada juga fasilitas khusus buat turis yang cuma numpang lewat.

Misalnya nih, tujuan akhir perjalanan kita ke negara lain, tapi pesawatnya mengharuskan kita buat turun dan transit dulu nunggu penerbangan esok hari.

Jenis izin transit ini gunanya:
  • Hanya Untuk Singgah: Izin ini bener-bener cuma berlaku buat mampir sebentar aja pas lagi dalam perjalanan.
  • Waktu Sangat Terbatas: Durasinya sangat singkat, jadi jangan ngarep bisa jalan-jalan jauh keliling kota pakai izin yang satu ini ya geeesss.

Bismillah, Semangat Nabung Buat Liburan Rombongan!


Setelah ngulik panjang lebar tentang visa ke Jepang apa saja, rasanya lega banget udah punya bayangan. Nggak kebayang kalau harus jalan buta tanpa riset dulu.

Apalagi liburan bawa anak-anak yang mood nya kadang suka naik-turun pas lagi capek jalan. Ngurusin ginian emang butuh niat dan kesabaran seluas samudra, hehe.

Kalau urusan surat dan dokumen udah jelas arahnya, pe-er kami selanjutnya tinggal milih layanan penerbangan.

Jujur aja, perjalanan berjam-jam bawa anak kecil itu tantangannya luar biasa. Makanya, sebisa mungkin nyari maskapai penerbangan yang ruang kakinya ekstra lega, apalagi kaki suami tuh panjang. Ngga bisa pilih transportasi umum yang jarak antar tempat duduknya sempit.

Yang jelas sih biar bocil-bocil bisa duduk rileks dan nggak rewel karena kesempitan. Apalagi anak cowok yaaa geraknya maasyaAllah. Banyak banget.

Terus, kalau dapet maskapai yang ngasih fasilitas hiburan layar di tiap kursi penumpang, itu bener-bener penolong banget! Paling nggak, anak-anak bisa anteng nonton, dan ibunya bisa ikutan merem sebentar, hehe.

Semoga aja niat baik rencana liburan keluarga ini segera terwujud ya. Aamiinn.

Sambil nyicil beresin urusan dokumen dan nyocokin jadwal, dari sekarang harus mulai rajin pantau ketersediaan tiket ke Jepang nih buat dapetin penerbangan yang pas di hati. Doain ya geeesss, semoga urusannya dilancarkan!
Read More
Alhamdulillah, akhirnya aku punya kesempatan untuk bisa berkunjung ke Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur (Disperpusip). Sebenarnya sudah lama ingin ke sini, tapi karena lokasinya cukup jauh dari rumah jadi aku tidak pernah pergi ke perpustakaan ini. Qodarullah, aku mewakili organisasiku untuk berkunjung ke perpustakaan provinsi Jatim.

Disperpusip Jatim

Kesan pertama keliling perpustakaan

Kesan pertama akan kuceritakan dari berbagai aspek, seperti lokasi, gedung, suasana, apakah nyaman untuk membaca atau belajar?

Dari lokasi, perpustakaan ini berada di Jalan Menur Pumpungan No.32, Menur Pumpungan, Kec. Sukolilo, Surabaya. Lokasi ini cukup jauh dari rumahku, sekitar 45 menit. 

Jam buka Perpustakaan Provinsi Jatim ini:
Senin-Sabtu: 08.00-15.30, kecuali Jumat 08.00-16.00
Khusus ruang baca umum/dewasa 
Senin - Kamis: 08.00-19.30
Jumat : 08.30-20.00

Layanan arsip
Senin-Jumat : 08.30-14.30

Minggu/hari libur nasional Tutup

Awalnya aku enggan juga nyetir mobil ke sini, tapi karena penasaran, aku datang ke sini bersama anakku.

Aku memilih parkir di luar karena ada tempat yang kosong. Aku juga tidak mau putar mencari yang gampang dan teduh.

Oiya, aku tidak memasuki lewat pintu utama, tapi lewat pintu yang terbuka sedikit. Di dekat tempat parkir mobil ini, anakku memasuki area kebun hidroponik yang ditanam macam-macam sayuran, solar panel, dan kolam ikan kecil. Uniknya, kebun hidroponik ini menggunakan solar panel untuk menyalakan pompa air sehingga tanaman tetap mendapat air dari pompa air otomatis.

Solar Hydroponic
Kebun Mini Disperpusip Jatim dengan Solar Hydroponic (dok. Pribadi)

Setelah memberitahukan keperluan kepada petugas keamanan, kami pun diminta menunggu di dalam gedung kantor.

Anakku bermain di depan ruang baca anak-anak karena di sana ada ayunan dan perosotan. Lumayan lah bisa mengurangi kebosanannya menunggu. Namanya anak-anak yaa baru bentar juga udah bosan. Sedangkan aku masih menunggu kepala dinas yang sedang ada acara.

Ternyata terjadi miskom antara pegawai perpustakaan dan teman kami. Akhirnya kami diterima sebagai tamu dan diajak mengobrol di ruang setda,

Setelahnya, kami diajak berkeliling perpustakaan.

Apa saja yang ada di dalamnya?

Kunjungan pertama kami adalah ruang baca anak yang berada paling dekat.

Ruang baca anak

Ruang baca anak ini didesain menarik untuk anak. Dinding-dindingnya dilukis seperti berada di dalam kapal selam dengan pemandangan bawah laut. Jendelanya berbentuk lingkaran-lingkaran seperti jendela kapal. Bentuk ruang anak ini seperti panggung. Anakku berjalan hingga ke sofa di ujung ruangan. Lemari-lemari buku berada di pinggir ruangan. Di bagian depan, meja-meja bundar berwarna-warni untuk tempat membaca.

Ruang baca anak (dok. Pribadi)

Ketika aku berkunjung ke sana, pengunjung ruang baca anak-anak hanya sekitar 3 orang. Mungkin karena jam kerja jadi tidak ada anak-anak, dan akan ramai saat akhir pekan.

Menurutku, untuk variasi buku di perpustakaan ini tidak sebanyak di Perpustakaan Kota Surabaya di Rungkut. Di sini menang fasilitasnya. Ada playground mini juga. Jadi anak tak hanya membaca buku saja tapi juga melakukan aktivitas lainnya. 

Tapi jadinya anakku heboh pas bermain di playground. Takutnya ganggu yang lain. 

Ruang Dongeng

Yang membuatku terkesima adalah di perpustakaan ini memiliki ruang dongeng. Ruangan ini berupa ruang kosong tanpa kursi. Hanya ada panggung dan beberapa sound system. Di dalamnya, beberapa anak-anak disabilitas sedang duduk menunggu arahan gurunya. Kami menyapa mereka. Mereka menyambut sapaan kami dengan antusias.

Ruang Dongeng (dok. Pribadi)

Oiya, ruangan ini bisa dipinjam loh untuk kegiatan literasi, bisa lomba mewarnai, latihan pentas drama/tari, pelatihan menulis, dan lain-lain.

Ruang buku non fiksi

Di ruang referensi, ada satu deret lemari yang berwarna cokelat dan berbeda dengan lemari lainnya. Setiap lemari ini diberi nama per kota di Jawa Timur yang di dalamnya berisi buku-buku dari kota/kabupaten tersebut. Adanya lemari tersebut, aku bisa menyimpulkan bahwa beberapa kota kecil/kabupaten masih memiliki sumber buku yang terbatas. Harapannya, buku-buku tentang kearifan lokal tiap daerah bisa lebih banyak.

Ruang baca non fiksi (dok. Pribadi)

Ruang Referensi

Di ruang ini, cukup banyak buku-buku pengetahuan yang bisa dijadikan referensi. Saat memasuki ruang referensi, kita harus melewati pintu berputar untuk memasuki tuang ini. Ada koleksi tentang kerajaan zaman duu.

Mungkin karena sedang hari kerja, jadi yang datang ke perpustakaan bisa dihitung dengan jari.

Ruang Naskah Kuno

Yang paling unik, kami diberi kesempatan untuk melihat naskah kuno yang sedang dianalisis di ruang khusus pegawai. Beberapa petugas sedang duduk dikursi masing-masing. 

Ruang baca disperpusip jatim


Pada bagian ini, petugas melakukan proses identifikasi, pendaftaran, pelestarian, hingga penguatan pemahaman masyarakat terhadap nilai ilmiah naskah kuno tersebut. Waktu uang dibutuhkan untuk pengelolaan naskah kuno antara tiga hingga lima tahun. Tentunya, proses tersebut juga bekerja sama dengan pihak-pihak ahli.
.

Kunjungan ke Galeri Majapahit

Ruangan ini sebenarnya menghubungkan ruang anak dan ruang perpustakaan lainnya. Galeri Majapahit ini seperti layaknya museum yang menjelaskan tentang sejarah Majapahit yang berupa auduovisual melalui layar televisi maupun bentuk miniatur, permainan edukatif hingga pengalaman virtual 360 derajat yang bisa menampilkan suasana masa lalu. Sebenarnya tak hanya Majapahit saja, tetapi juga penjelasan tentang Wali Songo secara ringkas dan padat.




Ruang Diskusi dan Podcast

Kami diajak ke ruangan di lantai dua. Di dalamnya ada ruang diskusi atau rapat yang terdiri dari sofa, kursi dan meja. Di bagian dalam, ruang podcast dengan berbagai alat rekam ini dan ruang diskusi bisÅ•a juga dipinjam. 
Selain itu, kita juga diajak melihat ruang rapat lainnya yang bisa muat 20an orang.


Drive Thru

Yang Keren dari perpustakaan ini adalah adanya fasilitas Drive Thru jadi masyarakat tak perlu masuk gedung untuk mengembalikan buku. Fasilitas ini memudahkan peminjam buku dan membuat waktu menjadi lebih efisien.

Musholla, Kantin dan Toilet

Di bagian samping bangunan ada musholla, kantin dan toilet. 

Untuk tempat sholat akhwat tidak terlalu luas. Jadi saat waktu sholat mungkin ramai dan harus melewati orang sholat atau bergantian. Toilet sih lumayan bersih meski ada kecil bau-bau hehe. 

Untuk kantin terbatas saja ya makanannya. Rata-rata snack aja. Kalau makaman berat sebelum jam 12 udah habis. Aku beli mie cup saja biar lebih cepat. Lumayan mengganjal perut. Harganya 10ribu. Ada minuman sachet juga. Bisa bayar pakai QRIS.

Ruang Co-working Space

Selain ruang baca, Perpustakaan Provinsi Jawa Timur ini juga memiliki ruang co working space. Ruang khusus pengunjung yang ingin menggunakan bekerja secara mandiri atau kelompok tanpa harus mengganggu pengunjung lain. 

Co-working space Disperpusip Jatim (Sumber foto: Disperpusip Jatim)

Co-working space tampak nyaman karena sudah ada karpet, lampu, meja lesehan, AC, bantal/bag bean. 

Ruang baca umum/dewasa

Di ruang ini di bagian depan dekat meja pendaftaran. Ruangan ini cukup besar. Ada meja-meja untuk pengunjung perpustakaan. Mejanya juga cukup banyak. Jadi insyaallah selalu ada tempat. Ketika aku berkunjung ke sana, suasana cukup ramai. Pengunjung perpustakaan serius saat menghadap laptop atau pun membaca buku. 

Ruang tunggu

Di bagian depan terdapat ruang tunggu untuk pengunjung. Sofa-sofa yang empuk ini menjadi tempat para pengunjung untuk beristirahat sejenak sebelum lanjut beraktivitas lainnya.

Meja Pendaftaran
Bagi yang memiliki KTP Jawa Timur bisa mendaftar di perpustakaan dan kearsipan Jatim ini. Mendaftarkan pun gratis dan mudah. Tinggal ikuti arahan petugas saja. Sekarang serba digital sih. Jadi harus mengisi data di komputer dan di foto dulu. 

Perpustakaan Ramai Pertanda?

Pengunjung yang datang ke perpustakaan Prov Jatim cukup ramai. Pertanda bahwa harusnya kita tidak ragu dengan tingkat minat baca masyarakat. Memang sepertinya kelengkapan buki perpustakaan dan fasilitas menjadi salah satu alasan pengunjung datang ke perpustakaan. Fasilitas di Disperpusip Prov Jatim ini emang keren sih.


Read More

Suatu saat saya bersama anak-anak pergi ke Magetan, bukan untuk wisata tetapi menemani ayahnya anak-anak kegiatan di sirkuit Magetan. Berangkat dari Surabaya kira-kira jam 7 pagi dan tiba di Magetan sekitar jam 10an pagi. Di sana, kegiatan selesai saat sholat isya. Karena besok masih harus melanjutkan kegiatan, maka kami mencari penginapan yang dekat di Madiun. Aku belum sempat pesan hotel di mana. Jadi aku mengikuti rombongan saja. Rombongan menuju Fave Hotel Madiun. Dari Magetan ke Madiun ditempuh dalam waktu kira-kira sekitar setengah jam. Sesampainya di hotel sekitar pukul 8 malam.

Fave hotel madiun
Fave Hotel Madiun ( Google Fave Hotel Madiun)

Fave Hotel Madiun, Rekomendasi Hotel di Madiun

Aku bisa rekomendasikan Fave Hotel Madiun kalau kalian sedang berlibur di area Madiun dan sekitarnya. Beberapa alasan kenapa Fave Hotel Madiun jadi hotel yang aku rekomendasikan.

Lokasi strategis

Fave Hotel Madiun ini berada di Jalan Mayjen Sungkono No. 43, Nambangan Kidul, Kec. Manguharjo, Kota Madiun. Hotel bintang 3 di Madiun ini bersebelahan dengan Hotel Aston.

Hanya dengan melihat di Google Maps, kita tidak kesulitan mencari Fave Hotel Madiun ini karena lokasinya strategis berada di jalan utama dan dekat dengan alun-alun kota Madiun sekitar 2 km atau sekitar 5 menit dengan naik mobil. Mau ke toko oleh-oleh Bluder Cokro pun dekat. 

Kalau mau ke Pahlawan Street Center Madiun, yang banyak ikon-ikon terkenal beberapa negara, juga dekat, sekitar 10 menit atau sekitar 3km. Jika kalian pergi ke Madiun naik kereta pun tidak begitu jauh. Dari stasiun Kota Madiun hanya berjarak 4 km, atau sekitar 15 menit.

Meskipun lokasinya strategis, lingkungan di sekitar Fave Hotel Madiun ini tidak begitu bising dan ramai. Sayangnya, transportasi umum di Kota Madiun tidak seperti di kota-kota besar yang punya bus kota dengan jadwal berkala. Jadi kalau ke kota Madiun lebih baik naik ojek online atau kendaraan pribadi.

Pelayanan Baik

Fave Hotel ini memang sudah banyak di beberapa kota. Jadi aku tidak begitu asing dan tidak ragu lagi dengan pelayanan hotel ini. Kami memasuki gerbang untuk tamu Fave Hotel tetapi di parkir mobil ternyata bisa jadi satu dengan tamu Aston.

Lobi hotel nyaman

Dari luar, tampilan depan memang tampak keren. Kami menaiki tangga dari samping. Di dalam lobby, kami disuguhkan dengan welcome drink berupa minuman jeruk. Di lobi hotel juga ada bagian khusus untuk pameran produk lokal. Anak-anak dan suami menunggu di sofa sementara aku menunggu di resepsionis hotel.

Lobi hotel ini cukup nyaman, AC yang dingin, bersih dan tenang. Petugas pun ramah kepada tamunya. Aroma lobi cukup wangi. Aku mengantri untuk proses check-in hotel. Eh, ternyata sudah dibayarin. Allahuakbar. Semoga Allah membalas kebaikan beliau.

Oiya di lobi ini juga ada toilet juga untuk tamu tanpa harus kembali ke kamar.

Kamar nyaman

Aku mendapat kamar di lantai 3. Saat menaiki lift, pengunjung harus menggunakan kartu kamar agar lift bisa berjalan. Menurutku, salah satu kelebihan Fave Hotel ini adalah keamananya terjaga. Setiap pintu dikasih kunci dan harus memakai akses kartu kamar. Satu kamar diberi 2 kartu.

Kami memasuki kamar dengan desain interior yang nyaman, sederhana tapi tampak elegan. Anak-anak tak sabar menaiki kasur double bed itu untuk televisi. Aku meminta mereka mandi dulu baru boleh naik ke kasur. Aku meletakkan tas di atas meja dan menaruh jilbabku di kursi. Anak-anak segera mandi. Baju-baju bertumpuk tak karuan di meja samping lemari. Di bawahnya ada brankas dan tempat alas kaki.

Kamar Fave Hotel Madiun
Maapkan Kamarnya Berantakan (dok. Pribadi)


Terdengar suara air dari kamar mandi, aku memberitahu mereka agar berhati-hati menyalakan kran air panas.

Suara-suara heboh sebelah kamar cukup terdengar di kamarku. Jadi suaraku sepertinya juga terdengar di kamar mereka. Hehe. Kamarnya kurang kedap suara jadi aku harus memelankan suara.

WiFi hotel pun lancar. Di atas meja ada dua gelas, teko kaca, dan beberapa sachet kopi, teh, gula dan krimer. Karena aku haus, aku meminta anak-anak mengambil air dari galon yang ada di koridor hotel. Kukira dia cuma sebentar saja mengambil air, ternyata lama banget. Ketika sampai kamar, dia bilang galon yang dekat kamar airnya habis, jadi dia harus keliling mencari galon yang masih ada airnya.

Setelah semua mandi, aku terlalu malas untuk berjalan keluar kamar mencari makan. Energiku udah habis seharian di sirkuit. Hehe. Anak-anak pun tampaknya sudah lelah dan asyik nonton televisi sambil tiduran. Channel televisinya lengkap dari channel nasional maupun internasional.

Alhamdulillah kami masih ada makanan yang bisa dimakan. Jadilah aku meminta mereka segera makan.

Kalau dari ukuran luas kamar, meski kehalang dengan tempat tidur, meja kursi, tapi kami masih bisa sholat berjamaah. Bagiku, itu patokan bahwa kamar cukup luas. Kami juga tidak kesulitan untuk beribadah karena ada penunjuk arah kiblat.

Untuk tempat tidur, jangan heran, badan anak-anakku masih kecil-kecil, dan aku pun kurus jadi kami masih bisa tidur bersama di kasur. MaasyaAllah.

Menurutku, kasurnya sudah nyaman banget. Tapi aku baru sadar ada bercak di sepreinya keesokan harinya. Mungkin pas udah siang jadi kelihatan. Aku kira anakku ngompol tapi celana mereka tidak basah atau bau ompol. Kalau pun anakku ngiler, posisi kepala mereka tidak di bagian bawah. Aku nggak tau bercak apa. Ah, sudahlah...

Pengaturan suhu kamar pun sudah nyaman. AC berfungsi dengan baik. Kami bisa tidur dengan nyaman tanpa kedinginan tanpa kepanasan.

Kamar mandi cukup luas dan lumayan bersih

Kamar mandi bersih dan cukup luas. Untuk tempat mandi tidak ada penutup jadi air bisa kemana-mana. Sebenarnya yang agak susah kalau wudhu. Biasanya ada kran untuk shower sama kran air biasa jadi satu jadi bisa buat wudhu tapi ini tidak ada.

Air panas berfungsi dengan baik tapi agak bingung ngaturnya karena meski udah diatur ke dingin tetap agak panas. Tekanan air showernya juga cukup kuat, tidak terlalu lemah. Toilet duduk bersih. Ada tisu toilet di sampingnya. Di kamar mandi disediakan 2 handuk, ada sabun cair yang gabung sama sampo, sikat gigi dan odol. Setelah mandi pun air langsung masuk ke salur pembuangan dan tidak menggenang.

Sarapan Bervariasi

Keesokan harinya, sekitar jam 6 pagi anak-anak meminta berenang tapi aku mengajaknya makan dulu karena khawatir mereka masuk angin. Awalnya mereka bersikeras mau renang dulu, karena pikir mereka setelah berenang akan lapar jadi langsung makan.

Tapi aku nggak mau, hehe. MaasyaAllah gini banget ya. Ortu punya keinginan apa. Anak punya keinginan apa. Akhirnya mereka menuruti ibunya, alhamdulillah. Jadi kami makan dulu.

Resto hotel ini berada di tengah-tengah bangunan Aston dan Fave Hotel berada di lantai dua. Saat keluar dari bangunan hotel, kami harus membuka pintu dengan kartu.

Resto Fave Hotel Madiun
Resto Fave Hotel Madiun (dok. Pribadi)

Sampai di resto, petugas menanyakan kamar berapa dan memberitahukan karena kami berlima jadi kena charge. Untuk anak-anak tambah 70ribu saja. Jadi dianggap separuh harga.

Eh, anakku yang kedua kebanyakan ambil sereal plus susu. Jadi dia kekenyangan. Aku minta dia makan nasi nggak mau. Aku paksa pokoknya karena aku nggak mau kenapa-kenapa perutnya. Kami masih harus jalan. Dia mau makan roti panggang dan nasi cuma lima suap.

Menu-menu di resto Fave Hotel ini cukup beragam. Ada menu lokal, pecel Madiun, makanan sayur jamur, ayam, nasi goreng, nasi putih, bubur kacang hijau, dan salad sayur dan buah,. Ada juga menu anak-anak, seperti sereal, roti bakar, sosis dan omelette.

Menu sarapan di Fave Hotel Madiun (dok. Pribadi)

Rasa makanan utamanya sih cukup terasa bumbunya. Untuk omelette menurutku sedikit hambar tapi masih bisa dinikmati terutama yang terbiasa dengan makanan minim bumbu.

Restoran cukup bersih. Setiap tamu resto selesai makan, pegawai segera membereskan makanan. Suasana tempat makan juga vibe-nya berasa kayak di luar negeri. Jam sarapannya dari jam 6 sampai jam 10.

Di dekat resto juga ada kamar mandi meskipun kamar mandinya maaf agak bau dan sepertinya kurang dirawat karena pintunya rusak.

Kolam Renang View Pegunungan

Setelah sarapan, kami menuju ke kolam renang hotel Aston jadi kami harus lewat hotel Aston. Kami tidak perlu lewat depan hotel, karena setelah keluar restoran ada pintu masuk lewat samping yang langsung masuk ke gedung hotel Aston.

Kami menaiki lift hotel Aston dengan akses kartu kamar kami. Kolam renang berada di lantai 6. Petugas menanyakan nomor kamar kami kemudian memberikan pinjaman handuk.

Di area kolam renang ini ada tempat gym, tempat bermain anak (mini playground), dan spa. Beberapa meja dan kursi sudah ditempati oleh pengunjung.

Sesampainya di sana, anak-anak segera berganti baju. Sayangnya, anak-anak tidak bawa baju renang jadi pakai baju biasa. Petugasnya kemudian menegurku untuk meminta mengganti bajunya. Jadilah anak-anak Cuma pakai celana aja. Hehe.

Di kolam renang dewasa dalamnya seitar 1,5 m. Sedangkan di kolam anak-anak paling cuma setengah meter. 

Kolam renang Fave Hotel Madiun
Kolam Renang Fave Hotel Madiun (dok. Pribadi)

Pemandangan dari kolam renang ini cukup hijau. Masih ada tampak pepohonan yang rimbun. Pegunungan tampak jauh di sana.

Ternyata berenang di jam 7 pagi cukup dingin. Anak-anak baru bentar sudah kedinginan.

Sekitar hampir satu jam akhirnya selesai karena jam 8 kami harus persiapan meluncur ke Magetan lagi. Anak-anak mandi di kamar mandi. Aku tidak masuk kamar mandi tapi nunggu di depan wastafel di depan kamar mandi. Aku meminta kakaknya memandikan adiknya.

Ketika kami keluar, ada dua orang sedang bermain tenis meja. Di samping meja petugas, ada tong sampah besar untuk meletakkan handuk kotor.

Kami pun kembali ke kamar. Anak-anak masih melanjutkan menonton televisi selama aku mempersiapkan barang-barang.

Hotel dengan Family friendly

Fave Hotel Madiun ini bisa kubilang family friendly karena di kamar aku itu termasuk tipe connecting rooms alias punya pintu yang menghubungkan dengan kamar lain. Jadi kalau keluarga besar cocok banget di hotel ini.

Dari parkiran ke lobi hotel ada jalanan yang bisa digunakan untuk stroller, kursi roda atau koper. Jadi tetap aman untuk keluarga dengan kebutuhan yang berbeda. Kolam renang juga ada kolam renang untuk anak.

Tak hanya itu, juga ada tempat bermain anak-anak.

Dengan harga segitu apakah worthy? Cocok untuk siapa?

Secara umum, Fave Hotel ini nyaman untuk jadi tempat menginap keluarga, selain punya connecting room, juga fasilitasnya lengkap. Parkir mobil juga luas. Sedangkan kekurangannya itu ada bercak di seprei. Tak Cuma itu, kamarnya kurang meredam suaranya sehingga dari aktivitas di kamar bisa terdengar sampai di kamar sebelah atau di luar.

Rate Fave Hotel Madiun per malam itu di OTA beda-beda ya harganya, tapi kalau di website Fave Hotel Madiun berkisar 400ribu hingga 700ribu rupiah tergantung tipe kamar. Apakah worthy?

Dengan rate segitu, kita sudah dapat sarapan, fasilitas kamar dan hotel cukup lengkap, lokasi strategis, menu makanan yang cukup banyak, cocok untuk keluarga yang bawa anak.


Read More

Nggak cuma dilema soaal menentukan bus ke Jakarta. Aku sempat dilema cari hotel buat transit karena bus tiba di Jakarta pagi sedangkan penerbanganku malam. Kalau mau nunggu di bandara pun nggak bisa istirahat. Aku cari hotel budget dekat bandara Soekarno Hatta. Tentu saja bisa early check-in dengan harga yang masih terjangkau. Aku pun pesan hotel bintang dua, Hotel Bale Ocasa by Behomy melalui OTA dengan twin bed. Harapannya, aku dan kedua orang tua diizinkan pesan 1 kamar saja twin bed.

Hotel Bale Ocasa

Memilih hotel dekat bandara yang nyaman dan harga terjangkau memang susah-susah gampang. Banyak hotel sekitar bandara Soekarno Hatta yang murah tapi aku khawatir kalau misal kamarnya kurang bersih, kurang terawat atau kurang aman. Jadi aku cari yang kira-kira tampak nyaman, aman dan harganya masih bisa terjangkau. 

Dari sekian banyak alternatif hotel dan review pengunjung, aku memilih Bale Ocasa by behomy. Pencarian hotel budget emang melelahkan. kuakhiri saja pencarianku dengan memilih Bale Ocasa.

Lobi yang terhubung dengan taman (dok. Pribadi)


Dekat di Mata, Jauh dari Pintu Masuk

Yang paling mengejutkan ternyata hotel ini berada di tengah perkampungan padat penduduk. Mobil kami memasuki jalan yang sempit. Jika berpapasan dengan mobil, maka mobil harus mepet sekali ke pinggir jalan. Kami sempat salah tempat, di rumah dengan halaman yang luas dan sepi. Hanya ada usaha laundry di sampingnya.


Kami pun keluar dari rumah itu dan menuju ke hotel. Sampai sopir ojek online mengira aku salah tempat. Dia mengira juga kalau aku agen travel yang 'nakalan' karena ngerjain orang tua ke hotel yang blusukan. Wkakakak. Aku pun baru tahu ini loh.


Alamat Hotel Bale Ocasa yaitu di Jl. Marsekal Suryadarma No.88, RT.004/RW.007, Neglasari, Kec. Neglasari, Kota Tangerang.

Pas cari hotel ini dan lihat di peta, lokasi hotel Bale Ocasa ini kubilang dekat banget sama bandara Soekarno Hatta. 


Kukira kami bisa melihat landasan run off dan bisa melihat pesawat yang akan landing dan take off, itu berarti lokasi hotel sangat dekat. Tapi saat kami akan menuju Terminal 3 bandara Soekarno Hatta ternyata jalannya cukup jauh dan harus memutar. Jarak tempuhnya sekitar 13 km atau 30 menit. Wkakakaka. 


Kelebihannya, kami bisa melihat pesawat landing dan take off saat perjalanan, walaupun sudah malam jadi hanya lampu yang tampak. Bahkan di beberapa titik, banyak warga yang memarkirkan motornya hanya untuk melihat pesawat landing dan take off. 


Early Check-In 

Kami tiba di hotel pagi hari sekitar jam 10 pagi. Secara tidak langsung kami harus early check-in dengan menambah biaya. Sedangkan aku sudah pesan lewat OTA sekitar 270ribu rupiah. Early check-in kena charge 150ribu rupiah. Karena kami bertiga jadi kami juga harus upgrade kamar dengan 1 double bed dan 1 single bed. Pokoknya kalau ditotal seharga 600ribu. Kira-kira masih termasuk murah nggak untuk early check in dan upgrade kamar? 


Karena ada 1 hotel bintang 3 kalo nggak salah harganya 600ribu. Tapi tidak ada early check in jadi baru bisa check in jam 3 sore. Siapa yang mau nunggu lama-lama? Yah akhirnya pilih Bale Ocasa aja.


Kamar hotel yang bersih dan nyaman

Kami memasuki kamar yang berada di lantai satu. Kunci hotel masih memakai kunci manual. Untuk desain interior kamar memang sederhana saja tapi termasuk bersih dan bagus. Di dalam kamar, ada 1 double bed dan 1 single bed. Kamar termasuk luas karena antar kasur masih ada ruang untuk meletakkan koper. 

Situasi Kamar (dok. Pribadi)

AC kamar juga tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Cukup untuk tidur sebentar. 


Di dalam kamar ada televisi tapi tidak kami nyalakan. Kami juga tidak tahu apa bisa dinyalakan atau tidak. Lemari di depan kamar mandi cukuplah sebagai tempat untuk menggantung pakaian dengan hanger atau meletakkan pakaian.


Di samping lemari ada meja untuk meletakkan barang-barang. Di sebelahnya lagi ada meja bundar untuk meletakkan handuk.


Kamar mandi bersih

Kamar mandi cukup luas. Di dalamnya ada shower, kloset, eastafel atau tempat sabun. Beberapa peralatan mandi pun disediakan seperti sabun dan sampo. Tidak ada sikat gigi dan odol. Sayangnya, air panasnya tidak terlalu terasa. Ada wastafel dengan kaca yang besar.



Taman dekat lobi yang menyenangkan

Salah satu tempat yang cukup nyaman di hotel ini adalah tempat duduk di taman yang berada di bawah pepohonan dan dikelilingi kamar. Tempat duduknya pun dari bebatuan. Sedangkan di lobi, ada kursi khusus tamu dan air mancur mini. Kalau sore hari memang enak, kalau siang hari siap terasa panas meski di bawah pepohonan.


WiFi tersendat

Sayang banget sih untuk WiFi di kamar tidak bisa dipakai. Jadi kalau mau pakai WiFi hotel harus ke lobi dulu atau duduk di taman. Tapi yaudahlah... Gara-gara WiFi tersendat ini aku jadi bisa tidur tanpa mikirin media sosial.


Menginap di Bale Ocasa Worth it Nggak?

Pertanyaan ini sebenarnya menjebak banget deh. Sebenarnya kalau untuk transit memang mending di hotel yang bisa early check in. Cuma perlu dihitung lagi kalau cuma berdua dan waktu masih lama, mending menunggu di bandara.


Meskipun dengan beberapa keterbatasan, petugas hotelnya cukup ramah. Jangan lupa cek jarak tempuh ke terminal bandara. Jangan sampai terkecoh sepertiku. 


Kalau tidak upgrade kira-kira harganya nggak sampai 600ribu. Apalagi kalau tidak early check in. Tapi menurutku harga segitu cukup tinggi untuk RedDoorz. 

Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower