Baru dua pekan di Paris, temanku sudah mengajak untuk mengunjungi rumah Victor Hugo atau Maison de Victor Hugo, rumah milik sastrawan Prancis abad ke-19. Aku sama sekali nggak kepikiran mau ke rumah sastrawan terkenal itu karena emang aku belum ada rencana menjadi penulis. Bayang-bayangku lebih banyak mengarah ke dosen, profesi yang aku inginkan dari dulu, yang mungkin sekarang tidak lagi aku kejar.

Ketika aku banting stir jadi penulis, ada rasa sesal mengapa aku tidak mengunjungi rumah para sastrawan Prancis, seperti Shakespeare, Balzac, Alexandre Dumas. Atau setidaknya, membeli salah satu novel Prancis (well, beli novel di sana bisa buat makan 2 hari. Aku justru beli buku tentang perkuliahan 100an euro. Yang akhirnya gak kepake sekarang. Hiks.)

Siapa, sih, Victor Hugo?

Saat ke sana, aku sedikit tahu tentang Victor Hugo, seorang penulis Les Misérables atau Orang-orang Malang (eh, tak ada kaitannya ya sama asal keluarga suami dan tempat aku kuliah wkwkw).

Victor Hugo adalah seorang sastrawan Prancis terkenal yang menghasilkan karya berupa novel, puisi, naskah drama. Ia lahir tahun 1802 di Besançon dan meninggal pada tahun 1885 di Paris. Ia dimakamkan di Panthéon di mana banyak tokoh penting dimakamkan di sana. 

Awalnya dia sukses dengan novelnya berjudul Notre-Dame de Paris tahun 1831 kemudian lebih terkenal lagi adalah novelnya Les Misérables tahun 1862. Artinya di usianya yg ke-29, ia sudah menghasilkan karya Notre-Dame de Paris yang mendunia. Tak banyak penulis di usia muda yang bisa menghasilkan karya luar biasa seperti Victor Hugo. Dan di usia 59, Les Misérables juga dikenal hingga saat ini. 

Bisa dibilang, setiap tahun Victor Hugo menghasilkan karya seperti puisi, naskah drama, dan novel. Sepanjang hidupnya, Victor Hugo menghasilkan 5 prosa, 6 naskah drama dan 5 puisi.

Dari biografi singkatnya, aku jadi paham bahwa menghasilkan sebuah karya yang mendunia dan longlasting itu butuh waktu, tidak hanya 3 bulan selesai. Memang, seorang penulis harus sabar menjalani prosesnya. Dan Victor Hugo membuktikannya.

Maison de Victor Hugo

Aku turun di stasiun metro Bastille, metro paling dekat dengan lokasi Maison de Victor Hugo yang berada di arrondissement 4 (seperti kecamatan gitu). Metro yang berhenti di stasiun Bastille ini ada Line 1, 5, 8. 

 Monumen Bastille di Place de la Bastille. Monumen ini dibangun untuk memperingati Revolusi Prancis tahun 1830 ( Three Glorious Days ), bukan untuk Revolusi Prancis 1789 (penyerbuan penjara Bastille). Di dekat sini ada penjara Bastille tapi sudah dihancurkan (dok. pribadi)

Setelah bertemu dengan teman di pintu keluar stasiun, kami berjalan menuju lokasi. Tibalah di sebuah bangunan tingkat nan cantik dan khas berwarna merah bata dengan banyak jendela dan atap tinggi. Orang berlalu lalang lewat jalan di bawah bangunan itu. Kami pun berjalan ke sana. 

Menuju Maison de Victor Hugo (dok. pribadi)

Bangunan itu ternyata mengelilingi sebuah taman Place des Vosges, sebuah ruang terbuka hijau yang cantik dan banyak dinikmati orang-orang Paris. Memang, mereka sangat suka berjemur sambil mengobrol atau membaca buku. Tapi, kalau aku nggak akan mau berjemur kayak mereka soalnya kulitku udah eksotissssss..


Place de Vosges, tempat bersantai saat cuaca sedang sejuk (dok. pribadi)

Siang Hari di Maison de Victor Hugo

Sebenarnya siang itu tidak terlalu panas meski masuk musim gugur, terik jam 2 siang tetap saja bikin gerah (gerah tapi tetep adem sih). Orang-orang tampak ramai. Kami berada di koridor bangunan bertingkat berwarna merah bata itu. Di lantai dasar, bangunan itu dimanfaatkan menjadi toko. Beberapa penjual lukisan juga tampak membeberkan lukisannya di sepanjang koridor bangunan.   

Jalan menuju Maison de Victor Hugo (dok. pribadi)

Kami menyusuri koridor dan melewati pengunjung lainnya, mencari rumah Victor Hugo di mana. Aku tidak tahu persis. Sepertinya temanku lebih paham. Tak lama, kami tiba di depan sebuah bangunan dengan nomor 6. Tampak plakat bertuliskan Maison de Victor Hugo. Kami pun berhenti. 

Dua orang petugas berjas hitam yang rapi sedang menunggu pengunjung di depan pintu masuk. Aku tidak begitu ingat berapa tiket masuk Maison de Victor Hugo. Apakah gratis atau berbayar? Untuk bagian ini aku tidak ingat sama sekali.

Tapi kalau lihat di websitenya Maison de Victor Hugo, harga tiket masuknya 11 euro. Pembelian juga bisa online. 

Pintu masuk (dok. pribadi)

Kami kemudian menaiki tangga kayu tampak dipertahankan keasliannya dengan pegangan besi menuju lantai 2 di mana Victor Hugo pernah tinggal. Beberapa bagian rumah ini memang sudah direnovasi tapi beberapa bagian masih dipertahankan.

Ruang- ruang Kehidupan Victor Hugo 

Perjalanan kehidupan Victor Hugo melewati masa-masa krusial sebuah negara. Ia merasakan kehidupan ketika terjadi Revolusi Prancis. Ia harus merasakan di tempat pengasingan akibat perlawanannya pada Napoleon Bonaparte. Maison de Victor Hugo ini menjadi museum yang menyimpan sejarah Victor Hugo dari sebelum pengasingan, saat pengasingan hingga setelah pulang dari pengasingan.

Pada ruang pertama, tampak potret keluarga dan masa muda Victor Hugo yang berupa lukisan sebelum di pengasingan. 

Ruang pertama (dok. pribadi)

Berjalan di ruang kedua, dindingnya berwarna merah muda. Di ruangan ini menjadi tempat pertemuan seniman, sastrawan, tokoh politik di rumah tokoh yang jadi panutan pada gerakan romantisisme abad 19, sebuah gerakan sastra yang mengedepankan emosi manusia, penderitaan, ketidakadilan sosial dan perjuangan memperoleh kebebasan, yang tampak pada karyanya Les Miserables dan Notre Dame de Paris. Mungkin itulah mengapa dindingnya berwarna merah muda karena erat kaitannya dengan gerakan tersebut. Di ruang inilah, karya sastra Hugo dipamerkan disebuah meja kaca. Tampak kertasnya yang kecoklatan dan tulisan tinta yang masih bertahan tidak meluber. Aku lupa apa itu Les Misérables atau bukan.

Ruang kedua (dok. pribadi)

Di ruangan ini, koleksi seni di sebuah ruangan menggambarkan status sosial, perjalanan karier, dan hubungan Victor Hugo dengan keluarga kerajaan Prancis. Di dindingnya terdapat lukisan keluarga Victor Hugo yang menggambarkan keluarganya. Patung dada dari marmer itu menunjukkan bahwa ia menjadi penyair yang dihormati. Lukisan kisah Ines de Castro menunjukkan bahwa Victor Hugo punya hubungan erat dengan keluarga kerajaan di Orleans. Lukisan lainnya berhubungan dengan karya sastra yang ia tulis.

Di ruangan selanjutnya, sebuah ruang kerja Victor Hugo memberi arti yang cukup mendalam buat Victor Hugo. Tak hanya karirnya menjadi penulis terkenal tetapi juga kehidupan personalnya dan kedukaannya. Kesuksesannya menjadi penulis terlihat pada lukisan, patung dan peninggalan meja untuk menulis, tetapi juga lukisan kedua cucunya. Ini mengingatkan akan karyanya L'Art d'etre Grand Pere (Seni Menjadi Kakek) dan menjadi bentuk kasih sayang pada cucunya yang sudah ditinggal oleh kedua orang taunya (meninggal). Ada juga lukisan kekasihnya (belum menemukan sumber yang bilang istrinya) yang dibuat beberapa bulan sebelum meninggal.

Bersama cucunya? (dok. pribadi)

Yang paling unik, Victor Hugo ini memiliki kebiasan tidak dilakukan penulis lainnya, yaitu menulis di mejanya sambil berdiri. Meja itu dibuat lebih tinggi dari meja biasanya. Tingginya sekitar 155 cm.

Di ruang kamar, yang berwarna merah terang dan mewah ini menjadi tempat Victor Hugo beristirahat. Kamar tidurnya direkonstruksi ulang meyerupai kondisi aslinya selama masa pengasingannya. Dindingnya seperti dilapisi kain berwarna merah, atap langitnya dilukis indah, dan lantainya dari kayu ditutupi karpet. Sebuah kaca besar dan lemari kayu tampak menghiasi ruangan itu. Sofa merah empuk di tata di depan tempat tidur. Perabot vas-vas keramik di kamar itu merupakan pemberian pemerintah Sevres sebagai hadiah ulang tahun Victor Hugo yang ke 79 dan 80. Victor Hugo mengembuskan nafas terakhir di kamar ini. 

Kamar Tidur Victor Hugo (foto dari www.maisonsvictorhugo.paris.fr, soalnya dari kameraku ternyata blur)

Kita masuk ke ruangan makan yang desainnya sangat ramai. Maksudnya tidak seperti kebanyakan rumah dengan cat polos. Di ruang makan, dinding dan lantainya bergambar dedaunan musim gugur. Perabotan bergaya gothik mewarnai ruangan makan khas keluarga kerajaan yang biasa kita lihat-lihat di televisi.

Ruang makan Victor Hugo (www.maisonsvictorhugo.paris.fr)

Di ruangan ini ternyata tak hanya sekedar ruang makan, tetapi lebih dalam dari itu. Ruangan ini menunjukkan kreativitas dan imaginasi Hugo yang dituangkan dalam banyak karya. 

Selama pengasingan, Hugo punya ketertarikan unik, yang lebih ekstrim dari sekedar kolektor barang gothik. Yap, selain suka melakukan "perburuan peti tua", Hugo suka mendesain ulang barang gothik menjadi barang baru. Dari pintu menjadi meja, dari peti tua menjadi bufet/bangku, dari gulungan benang jadi tempat lilin.

Bahkan benda furnitur bisa menjadi bentuk kasih sayang Hugo, meja yang digunakan Hugo untuk menulis karya puisinya, La Légende des Siècles, diberikan kepada Juliette Drouet. 

Selama masa pengasingan itu, Victor Hugo menghasilkan karya La Légende des siècles (kumpulan puisi), Les Misérables (novel), Les Travailleurs de la mer (novel).

Di ruangan lain yang terhubung melalui pintu yang terkoneksi, aku melihat dua sisi Victor Hugo yang berbeda. Agak aneh melihat banyak koleksi keramik yang tampaknya dari Asia, berbeda dengan ruangan lain yang banyak barang gotik. Penataan barangnya pun rapi. Barang-barang di ruangan ini menjadi saksi Victor Hugo saat masa pengasingannya di Guernsey. Rupanya, selain menulis, Hugo juga memiliki bakat dan minat lain sebagai desain interior. Hugo mendesainnya seperti panel bergaya Tiongkok. 



Di ruangan ini juga ada meja rias Madame Hugo dan kursi-kursi. Di sebuah kotak terdapat empat tempat tinta milik Lamartine, Dumas, Sand, dan Hugo. Ada pemanas ruangan klasik yang masih memakai kayu bakar.

Sepertinya setelah ruangan ini masih ada ruangan lain tapi sudah bagian belakang dan sudah selesai tur di rumah Victor Hugo. Aku nggak punya foto-fotonya lagi. Sekarang kalau lihat di websitenya, ada perpustakaan di lantai 3 yang mengarah ke Places des Vosges. 

Sepulangnya dari rumah Hugo, aku dan temanku mengunjungi Place des Vosges.




Kunjungan Singkat Tapi Bermakna

Bagiku dulu kunjungan singkat ini tak berarti apa-apa. Ternyata setelah aku menuliskannya, banyak hal yang aku luput dan tidak kuketahui saat berkunjung ke sana. Memang harusnya baca-baca dulu, baru datang langsung.

Bagiku, pergi ke rumah Hugo tak hanya melihat benda-benda bersejarah saja, dengan menuliskannya aku memahami bahwa proses menulis novel atau puisi itu butuh waktu yang lama dan butuh kesabaran. Dan aku rasa menghasilkan karya yang fenomenal haruslah lahir dari tempat "keterasingan", jauh dari hiruk pikuk. Mungkin kalau melihat kondisiku, bisa menulis di tempat yang sepi, tidak banyak distraksi. Lebih tepatnya malam hari. Kalau punya ruang khusus sih oke yaa tapi aku sekarang masih menulis di kamar aja. Semoga kelak bisa punya ruang kerja sendiri biar lebih terasa yaa "pengasingannya". Hehe

Read More
Salah satu list wisata wajib di kota Paris yang baru kulakukan sebelum kepulanganku ke Indonesia adalah wisata perahu sungai Seine Paris. Sama seperti yang sudah aku ceritakan di artikel saat naik menara Eiffel, aku masih menunggu sisa-sisa uangku hehe. Selain itu, menurutku, naik kapal pesiar di sungai Seine Paris di musim panas adalah waktu yang tepat. Meski ramai dengan turis tapi tidak terkendala dengan cuaca.

Kali ini, aku tidak sendirian. Aku bersama teman dari Indonesia yang kuliah di Sorbonne dan juga sudah selesai. Masih di bulan ramadan, kami menyusuri sungai Seine dengan kapal pesiar.

Seine River Cruise

Setiap kali aku berkunjung ke Eiffel, melihat kapal-kapal berlalu lalang di Sungai Seine yang melewati menara Eiffel bikin aku mupeng. Wisata ini memang menjadi atraksi yang paling menarik bagi turis mancanegara. Tapi aku belum ada rencana naik kapal keliling sungai Seine karena yaaa aku nggak mau terlalu cepat membuang uangku wkwkwk. .

Seine River Cruise ini sebenarnya ada tiga jenis kapal yaitu Vedettes (baca; Vedet), Bateaux Mouches (baca: bato mush) dan Bateaux Parisiens (baca: bato parisiang). Perbedaan Vedettes, Bateaux Mouches dan Bateaux Parisiens terletak pada harga, luas kapal, fasilitas yang ditawarkan dan lokasi naik dan turunnya.

Vedettes du Pont Neuf, Bateaux Mouches, Bateaux Parisiens

Perjalanan menyusuri sungai Seine dengan naik kapal Vedettes dimulai dari jembatan Pont Neuf, jembatan tertua di Paris. Bateaux Mouches dimulai dari Pont de l’Alma, yang lebih dekat ke menara Eiffel. Bateaux Parisiens dari kaki menara Eiffel.

Bateaux-Mouches (seinerivercruise.com)
 
Bateaux Mouches ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1867, Cuma sempat redup dan dihidupkan kembali tahun 1949. Vedettes ini sudah beroperasi sejak tahun 1976. Bateaux Parisiens dibangun dan mulai beroperasi tahun 1956. MaasyaAllah ternyata pariwisata mereka itu udah sejak zaman dahulu. Kepemilikannya pun berbeda-beda.

Ukuran kapal Vedettes lebih kecil dan ramping dibanding Bateaux Mouches dan Bateaux Parisiens. Jika dua kapal Bateaux ini bisa menampung hingga 700 wisatawan, maka Vedettes ini hanya bisa menampung sekitar 30an wisatawan. Bayangin aja naik kapal dengan jumlah wisatawan sampai 700 an. Pasti ramai bangeetttt.

Vedettes de Pont Neuf 

Vedettes berfokus pada wisata ya, sedangkan Bateaux menyediakan paket mewah untuk makan siang dan malam dengan musik pengiring. Jadi kalau kalian mau berfoto Eiffel di atas kapal sambil dinner atau makan siang bisa naik Bateaux.

Harga tiket Vedettes dan Bateaux sama aja kecuali kalau tambah makan.

Harga tiket kapal keliling Sungai Seine

Qodarullah, di akhir masa tinggalku di Prancis, aku punya kesempatan naik kapal pesiar keliling sungai Seine. Menurutku, musim panas menjadi momen paling pas mengelilingi Paris. Nah karena aku cari yang murah, yang penting bisa naik kapal keliling sungai Seine, melihat Eiffel dari atas kapal, dan nggak terlalu ramai, jadi aku ambil Vedettes.

Vedette du Pont Neuf
Penumpang antri sebelum naik Vedettes (dok. pribadi)

Tiket Vedettes dan Bateaux kalau keliling aja sekitar 17 euro, tapi kalau makan bisa antara 60-100 euro, udah hampir seharga biaya makanku 2 pekan di sana. 

Tanpa pakai pikir panjang, aku langsung mengiyakan naik vedettes dengan tiket 17 euro doonggg, bukan yang dinner wkwk. Btw, waktu awal-awal di sana, aku suka konversikan ke rupiah, jadinyaaa mahall dan ujung2nya nggak beli. Kalau aku tetep begitu, bisa-bisa batal naik kapal. Hehe.

Menyusuri Sungai Seine dengan Vedettes

Aku mencari tempat duduk di lantai dua tanpa atap. Dengan begitu, kita bisa melihat pemandangan dari atas kapal tanpa ada penghalang. Pengunjung lain pun juga duduk di bagian lantai atas kapal. Kursi-kursi di susun menghadap depan dengan dua bagian kiri dan kanan. Kursinya berdempetan. Aku dan temanku memilih kursi di bagian belakang kapal.

Tak lama, kapal berjalan pelan terus menuju ke tengah sungai. Seorang pemandu wisata berdiri di bagian depan dan menghadap pada wisatawa. Ia menjelaskan sejarah dalam bahasa Prancis dan Inggris. Sayangnya, karena berada di tempat yang ramai, suara terdengar putus-putus.

Kami melewati berbagai bangunan bersejarah di kanan dan kiri. Landmark ikonik Paris sangat menarik seperti Musée d'Orsay, Museum Louvre, Katedral Notre-Dame, dan jembatan-jembatan bersejarah lainnya.




Pont Alexandre III, Jembatan Favoritku soalnya keren. Plis abaikan orang di belakang (dok. Pribadi)

Pont Alexandre III, jembatan favorit (dok. pribadi)

Eiffel Tower
Eiffel dari atas kapal (dok. pribadi)

Aku menikmati perjalanan cruise. Sampai di menara Eiffel sekitar 10 menit kemudian. Guide tetap menjalankan misinya untuk terus menjelaskan tentang apa saja yang mereka lewati. Aku sibuk memotret apa saja seolah tak ingin melewatkan sedetik pun apaan pun yang ada di sana. 

Kapal sempat memelan. Para turis mulai berfoto dengan latar Eiffel. Aku juga tidak ingin melewatkan kenangan indah dengan memotret Eiffel dari kapal. 

Selanjutnya kapal berjalan dan berputar balik tak jauh dari Eiffel. 

Jembatan dekat Notre-Dame (dok. pribadi)

Kapal berjalan mengarah ke Notre Dame (dok. Pribadi)


Conciergerie Paris
Conciergerie, penjaranya Marie Antoinette (dok. pribadi)

Biasanya saat musim panas ada Paris Plage, pinggir sungai seine yang disulap seperti pantai, banyak pasirnya, jadi wisatawan pada pakai baju bikini berjemur seperti di pantai. Tapi di foto ini belum ada (dok. Pribadi)

Melewati jembatan tertua, Pont Neuf (dok. pribadi)

Samaritaine, Mall dengan brand mewah yang dibangun sejak 1870 (dok. Pribadi)

Vedettes du Pont Neuf
Titik naik Vedettes du Pont Neuf (dok. pribadi)

Akhirnya sampai juggaa (dok. pribadi)

Pulang...

Di sini aku sempat merasa sedih karena pada akhirnya aku harus pulang. Perjalanan menikmati sungai Seine dengan naik Vedette sama seperti Perjalanan studiku. Atau... justru seperti perjalanan hidup?

Bahwa selama perjalanan kita akan menikmati segala keindahan. Kadang kita harus berhenti sejenak demi menikmati hidup. Melupakan sejenak segala gedebak-gedebuk tapi tetap harus berjalan kembali dengan fokus satu tujuan.

Justru sebenarnya ini adalah simulasi akhir ujian hidup. Mampu tidak kita melewatinya. Meski banyak godaan hidup, berhenti sejenak hanya untuk membuat kita fokus pada satu tujuan.

Bagiku Vedettes ini memang layak untuk dicoba.






Read More

Awal-awal kedatanganku ke Paris, jetlag masih terasa. Aku belum bisa menahan rasa kantuk di siang hari. Di malam hari pun, mataku sulit menutupkan mata. Teman-teman dari kampus di Indonesia (karena kami double degree) mengajakku jalan-jalan ke Arc de Triomphe dan Musée du Louvre. Aku sempat naik ke Arc de Triomphe. 

Saat di Musée du Louvre, kita cuma foto di depan Piramida kaca dan taman tempat Harry Potter dan musuhnya bertarung.



Siang itu cukup panas meski seharusnya sudah masuk musim gugur di bulan September. Mungkin karena aku belum bisa mengendalikan jetlag-ku, jadi aku tidak begitu antusias melihat bangunan Louvre yang keren itu. Kebayang banget, orang-orang yang travelling cuma beberapa hari di Eropa, belum juga ngendalikan jetlag udah balik ke Indo. 

Musée du Louvre

Musée du Louvre atau Louvre Museum adalah museum di Paris, Prancis, yang terkenal dengan lukisan Monalisa dan piramida kaca. Museum ini menyimpan banyak karya seni dan artefak dari seluruh dunia. Jumlahnya sekitar 38.000 karya dari zaman prasejarah hingga abad 19. Luas Museum Louvre ini sekitar 60.600 m2. Luass bangetttt kaaann. Dan aku nggak nyangka karyanya banyak banget dan tempatnya seluas ituu.

Museum Louvre ini dulunya istana Louvre dan juga benteng yang dibangun pada 12, di bawah kepemimpinan Philip II. Kemudian istana ketika dipindah ke Versailles, Louvre dijadikan tempat menyimpan koleksi kerajaan dan di tahun 1692 dijadikan tempat pendidikan seni.

Bisa dikatakan museum Louvre menjadi salah satu museum terbesar yang dibuka tahun 1793 dengan memamerkan sekitar 573 karya lukisan di tahun itu.

Akses Museum Louvre

Untuk mengunjungi Musée du Louvre, kita bisa naik métro line 1 dan 7 dan turun di stasiun Palais Royal - Musée du Louvre.

Masuk ke pintu utama di bawah pintu Piramida kaca di lantai -2. Kita harus turun ke bawah dulu.

Jadi bangunan Louvre ini sebenarnya ada 5 lantai tapi dua lantai di bawah lantai dasar dan dua lantai di atas lantai dasar. Dan bangunannya tidak terlalu tinggi.


Tiket Masuk Museum Louvre

Kunjunganku ke Louvre sudah kulakukan sampai 2x. Sebenarnya ke Louvre ini berbayar tapi ada juga yang gratis. Harga tiket masuk Museum Louvre untuk dewasa sekitar 32 euro.

Dulu, setiap hari ahad di pekan pertama tiap bulan tiket Louvre selalu gratis. 

Setelah aku baca di webnya sekarang. Tiket gratis masuk Museum Louvre ini untuk:
  • Anak usia 18 tahun ke bawah
  • Usia kurang 26 tahun baik orang asli Eropa atau orang yang tinggal di Eropa yang dibuktikan dengan izin tinggal
  • Jumat pertama di tiap bulan setelah jam 6 sore (kecuali Juli dan Agustus pas musim panas) 
Kunjungan pertamaku, meski agak-agak membingungkan, aku berhasil menjadi pengunjung yang masuk Louvre dengan gratis karena waktu itu usiaku masih 24 dan nunjukin kartu izin tinggal (kartu mahasiswa). Oiya sebelum masuk Louvre, jangan lupa buang air kecil di apartemen/hotel/studio, karena toilet di Louvre mahal banget sekitar 10-15 euro.

Jam buka Museum Louvre

Jam buka museum Louvre agak compliquée sih. Setiap hari buka kecuali selasa.
  • Hari senin, kamis, sabtu, minggu buka pukul 09.00 - 18.00
  • Hari rabu, jumat buka pukul 09.00 - 21.00
  • Hari libur nasional pada 1 Januari, 1 Mei dan 25 Desember TUTUP. Sedangkan hari libur nasional lain tetap buka.

Keliling Museum Louvre

Setelah berhasil melewati antrian wisatawan, aku melewati piramida kaca terbalik yang memang berada dekat dengan loket.

Aku tidak begitu ingat yaa saat keliling Museum Louvre. Yang aku ingat, aku melewati ruangan dengan lukisan berukiran emas yang detail. Agak takjub sih. 


Mereka bisa buat ukiran-ukiran yang detail. Lukisan yang besar dan detail. Rata-rata tentang kehidupan kerajaan di masa itu. Patung-patung kadang memperlihatkan aurat wkwkwk. Yang sebenarnya aku tidak terlalu berminat. 

Lukisan Mona Lisa

Aku lebih penasaran sama lukisan Mona Lisa karya Leonardo da Vinci yang terkenal itu. Aku mengikuti alur jalan antar ruangan dan tiba-tiba udah di depan segerombolan pengunjung sedang berfoto di depan sebuah karya yang tidak begitu jelas.

Begitu aku mendekati ternyata di depan pengunjung itu adalah lukisan Mona Lisa. Dan apa yang membuat aku kaget adalah ternyata lukisan Mona Lisa kecil bangeettt wkwkwk. 

Lukisan Mona Lisa yang kecil dalam kerumunan pengunjung (dok. Pribadi)

Aku berfoto-foto sejenak. Aku mencoba menerobos pengunjung lain hingga ke baris depan dan berfoto. Selesai berfoto, aku segera menjauh dari kerumunan yang masih memperhatikan lukisan itu.

Pembagian departemen pameran

Selanjutnya aku pergi ke ruangan-ruangan lain di Museum Louvre yang memamerkan barang antik dari beberapa benua. Karya yang dipamerkan seperti lukisan, patung, gambar, keramik, artefak arkeologi, dan karya seni dalam berbagai bahan.

Koridor yang menghubungkan satu ruang ke ruang lain (dok. Pribadi)

Aku berjalan dari satu ruangan ke ruangan yang lain. Awalnya aku berada di ruangan dengan barang bersejarah dari Mesir. Kemudian ke ruangan lain dengan barang bersejarah dari Yunani, Etruska dan Romawi. Aku mengira aku sudah selesai ternyata belum. Ini masih di awal-Awal. Dan perjalanan masih panjangggggg. Hahaha.

Museum ini dibagi menjadi beberapa departemen.
  1. Barang Antik Mesir ( 66.300 )
  2. Barang Antik Oriental ( 137.628 )
  3. Barang Antik Yunani, Etruska, dan Romawi ( 68.362 )
  4. Seni Islam ( 15.311 )
  5. Lukisan ( 12.660 )
  6. Patung ( 6.115 )
  7. Karya Seni ( 23.405 )
  8. Seni Grafis ( 122.212 )
  9. Koleksi Rothschild ( 86.858 )
  10. Kalkografi ( 14.647 ).
  11. Seni Bizantium dan Kekristenan di Timur ( 501.167 )
Well, dari semua pameran itu, aku tidak bisa berlama-lama karena saking luasnyaaa dan ya Allahhhh nggak selesai-selesai. Sampai kayak engap sendiri. Mana ngga ada kursi buat tempat duduk. Istananya luas banget. 

Seni Islam

Di Kunjungan pertama memang aku tidak terlalu menikmati. Kunjungan kedua aku mencoba mencari sesuatu yang menarik. Sebenarnya kunjungan kedua itu adalah permintaan temanku untuk mengunjungi departemen seni Islam.


Di departemen seni Islam banyak karya dari peradaban Islam yang dipamerkan di museum ini seperti ukiran kaligrafi dan barang-barang peninggalan kekhalifahan. MaasyaAllah. Ternyata mereka menaruh perhatian pada kejayaan peradaban Islam. 


Aku kira departemen ini bakal sepi. Eh ternyata tetap ramai. Bagiku, departemen seni Islam ini paling menarik karena terasa dekat dengan kehidupanku dibanding departemen lain.

Seni karya Indonesia di Louvre

Nggak cuma seni Islam, di Museum Louvre juga ada seni karya dari Indonesia yang dipamerkan di sana. Seperti karya seni patung dari Papua dan wilayah lain. 

Patung dari Papua (dok. Pribadi)

Hampir 4 jam keliling Museum

Kedatanganku kalau tidak salah sekitar jam 9 pagi dan aku pulang sekitar jam 1 siang. Itu pun aku tidak terlalu detail melihat setiap karya di sana. Karena emang banyak banget ya Allahhhh... capeekkkkkk. Apalagi nggak banyak tempat istirahat di dalam. Beneran kalau bawa anak kecil kudu bawa stroller. Dan mungkin akan jadi tempat yang membosankan bagi mereka. Tapiii meskipun menghabiskan waktu seharian, kalau kalian pencinta museum, kudu banget masuk ke museum Louvre. Jadi nggak cuma foto di depan Piramida kaca.

Paling enak tuh kalo ada guide yaaa jadi bisa jelasin setiap obyek yang ada di ruangannya. Soalnya kita tuh ngga tau ini lukisan tentang apa. Ini patung apa. Terus sejarahnya. Kalo ada guide enak. Tapi aku juga kurang paham apa sekarang ada ky audio guide gitu.
 
Read More
Tempat wisata di Paris itu banyak sekali. Kalau cuma satu hari di Paris rasanya kurang banget tapi nggak bisa dipungkiri kalau obyek wisata di Paris itu mahal-mahal. Apalagi kalau kalian ke sana mencari oleh-oleh barang branded. Kalau cuma satu hari memang lebih baik naik ke menara Eiffel terus duduk-duduk atau berjalan-jalan di Champs-de-Mars, ruang terbuka hijau di antara Eiffel dan Ecole Militaire, menikmati Eiffel dari berbagai sudut.

Champ-de-Mars memberi kenangan tersendiri buatku. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di Champ-de-Mars ini yang aku ceritakan selanjutnya. 

Champ-de-Mars dari menara Eiffel (dok. Pribadi)

Champ-de-Mars

Champ-de-Mars adalah salah satu ruang terbuka hijau terbesar di Parisyang berada di antara menara Eiffel dan École militaire. Luasnya mencapai 24 hektar. Taman ini dibangun sejak tahun 1770. Saking luasnya kalian harus kuat jalan kaki. 

Akses

Untuk bisa mengunjungi menara Eiffel dan Champ-de-Mars, teman-teman bisa naik métro line 6 dan turun di Trocadéro, Passy, Bir Hakeim atau Dupleix. Kalau mau turun di stasiun yang dekat dengan menara Eiffel turun di Trocadéro. 
Kalau mau lihat champ-de-mars maka turunnya bisa di ecole militaire. Kalau aku sendiri lebih suka nani.

Dulu masih bisa turun di stasiun Champ de Mars-Tour Eiffel naik kereta jarak jauh RER C tapi katanya sekarang sudah ditutup. Entah bener atau nggak? 

Apa yang dilakukan di Champ-de-Mars?

Banyak hal yang bisa dilakukan di champ-de-Mars. Ini beberapa hal yang aku lakukan selama di Paris.

Piknik

Taman ini cocok untuk piknik. Tanahnya lebih lapang dan hijau. Beberapa pengunjung biasa duduk-duduk di taman ini tanpa alas lagi. Makanan dan minuman dikeluarkan. Burung-burung merpati terbang ke sana-kemari. Meninggalkan jejak kotoran yang bisa diketahui manusia.


Temam-temanku mulai menyantap makanan dan minuman yang enak. Sedangkan kondisi tubuh aku masih belum 100%. 

Di musim panas, duduk-duduk di taman ini memang menyenangkan. Meski hawanya agak nyelekit di kulit. Musim dingin pun tidak mungkin karena hawanya dingin. Paling enak memang saat musim semi karena udaranya tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas.

Pertama kali aku melihat Eiffel, aku dan teman-teman duduk-duduk di Champ-de-Mars. Eiffel berdiri dengan megahnya di dekat kami. Kami tidak duduk dekat kaki menara tapi saat di foto, kaki menara cukup jelas terlibat. Sayangnya saat itu kepalaku lagi pening. Jadi tidak terlalu bisa menikmati. 

Banyak pengunjung yang juga melakukan piknik di Champ-de-Mars dengan membawa makanan. Mereka duduk sambil baca novel, atau sekedar melihat orang berlalu lalang.

Kumpul bersama teman

Kalau pun tidak membawa makanan, kita bisa hanya duduk-duduk berkumpul bersama teman, pasangan atau kacang. Ya hampir sama kayak piknik tapi di sini kita bisa berkumpul untuk tujuan tertentu.

Jadi setelah beberapa bulan di Paris, seorang desainer pakaian dan penyanyi terkenal sedang pergi ke Paris. Ngga tau gimana yaa... para mahasiswa berkumpul. 

Kita di sana melakukan permainan games. Yang aku ingat, mbak Dian Pelangi membuat permainan memakai hijab. Siapa yang tercepat akan membawa hadiahnya.

Saat lomba dimulai, aku melilitkan pashmina warna-warni langsung ke kepala peserta.

Eh alhamdulillah banget. Aku bisa memenangkan lomba dan mendapat alat kosmetik dari Wardah dan hijab pashmina dari Dian Pelangi. Hijab itu sering aku pakai selama kuliah di sana.

Setelah itu kami berfoto bersama. Hehe.

Nonton orkestra 14 Juli

Yang paling berkesan menurutku saat duduk-duduk di Champ-de-Mars adalah bisa nonton orkestra saat perayaan Bastille Day 14 Juli. Ibaratnya hari kemerdekaan Prancis meski tidak ada penjajahan.

Pengalaman ini tidak bisa aku dapatkan tanpa izin dari Allah. 

Aku ingat banget, saat itu masih puasa ramadhan. Sedangkan orkestra itu dimulai sejak siang hingga malam kemudian berlanjut dengan kembang api di Eiffel.

Teman Indonesiaku qadarallah bisa mendapatkan tiket vip. Jadi kami bisa duduk di bagian depan dekat dengan panggung orkestra yang ada di kaki Eiffel.

Teman perjuangan (dok. Pribadi)

Kami masih puasa donggg di bawah terik matahari musim panas (dok. Pribadi)

Dari siang, vip udah ramai banget (dok. Pribadi)

Buka puasa jam 9.30 malam (dok. Pribadi)

Nonton Orkestra (dok. Pribadi)

Suasana magrib (dok. Pribadi)

Mulai malam (dok. Pribadi)

Kalau kami tidak mendapat tempat duduk vip, kemungkinan kami akan berebut tempat duduk di bagian belakang. Meskipun di atas rerumputan tapi pengunjung Eiffel ini sangat banyak. 

Saat siang terik. Sekitar jam 3 siang kami sudah tiba di tempat. Puasa ramadan jadi tidak begitu terasa. Ketika maghrib tiba sekitar pukul 9, kami segera buka puasa. Tak lama setelah itu, langit semakin gelap, lampu-lampu Eiffel terus menyala. Panggung orkestra pun semakin terang oleh pencahayaan malam. MaasyaAllah keren banget.

Ketika orkestra sudah selesai. Tiba-tiba suasana hening. MC kemudian membawakan bait-bait syair perjalanan Prancis hingga terjadi Bastille Day sampai saat ini. Seketika Eiffel menjadi terang dengan lampu-lampu yang terang berkerlap-kerlip. Kemudian kembang api keluar berkejar-kejaran di langit. Meramaikan suasana malam itu. Semua penonton riuh melihatnya. Aku asyik merekamnya dengan kameraku.



Momen ini hanya pernah terjadi saat 14 Juli saja. Aku pernah menunggu kembang api di Eiffel saat tahun baru. Rela aku tidak tidur demi pergantian tahun eh malah tidak terjadi apa-apa. Hanya lampu kerlap-kerlip saja. Haha. 

Berfoto-foto

Tempat ini asyik banget buat berfoto di empat musim. Paling seru adalah saat aku berburu foto menara Eiffel saat musim dingin.

Salju turun tepat saat ulang tahunku di bulan maret. MaasyaAllah. Dan turunnya cukup deras. 

Aku menahan dingin saat air salju menembus sepatuku. Jaketku yang tebal juga ternyata masih kurang menahan dinginnya salju.

Aku berjalan hingga di depan Champ-de-Mars mendekati École Militaire yang tertutup salju. Semua menjadi putih. Tak ada hijau yang menutupi taman seperti biasanya. 

Aku berfoto di jalan pinggir taman bersama teman-temanku dengan latar menara Eiffel yang samar tertutup kabut salju. Bukan aku dan temanku saja yang mengejar foto Eiffel saat bersalju. Beberapa orang meski tak banyak juga tak ingin luput mengabadikan momen yang jarang terjadi di Paris. Yup, memang jarang sekali salju turun deras di kota besar akibat pemanasan global. Isu itu sudah ada sejak aku tinggal di sana, tiga belas tahun silam.

Menahan dingin dari Champ-de-Mars (dok. pribadi)

Menahan dingin dari Champ-de-Mars (dok. Pribadi)
 
Champ-de-Mars saat salju berkurang (dok. Pribadi)

Champ-de-Mars, tempat terbaik menikmati Eiffel

Bagiku, Champ-de-Mars punya kenangan sendiri. Tempat terbaik untuk menikmati Eiffel dan berfoto dengan latar menara Eiffel. Momen Bastille Day 14 Juli juga menjadi momen yang nggak akan kulupa. Aku bisa melihat Eiffel menyala dengan riuhnya kembang api. Jangan kecele, karena saat tahun baru tidak ada kembang api di Eiffel.
Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower