Perempuan-perempuan itu memang tak pergi jauh seperti para lelaki pesisir Raja Ampat yang menempuh puluhan kilometer ke tengah laut untuk menangkap hasil laut. 

Para lelaki tinggalkan keluarga mereka berhari-hari demi mendapatkan hasil laut. 

Perempuan-perempuan itu harus bisa bertahan hidup ketika suami mereka meninggalkan mereka selama beberapa hari. 

Mereka lebih banyak beraktivitas di sekitar kawasan mangrove dan di darat.

Eco Lodge di Kampung Friwen, Raja Ampat (sumber: TripAdvisor.com)

Ketika Mangrove Mulai Menghilang...

Bagi mereka, hutan mangrove adalah nadi kehidupan mereka yang terus berdenyut. Namun, denyut-denyut itu melemah memberikan sinyal ancaman untuk keberlangsungan hidup mereka semenjak Raja Ampat menjadi wilayah otonom sendiri di tahun 2003 hingga berkembang menjadi kawasan pariwisata mulai tahun 2009. Hutan mangrove di Raja Ampat pun mulai mengalami degradasi setelah bertahun-tahun kemudian menjadi kawasan pariwisata

Padahal mangrove bukan hanya sekadar hutan pesisir. Mangrove berperan sebagai pelindung pantai, habitat berbagai biota laut, dan sumber pangan dan penghidupan bagi masyarakat. Menjaga mangrove berarti menjaga ketahanan pangan, keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir.

Resort dan penginapan yang berdiri di atas air laut sebening kaca di pesisir Raja Ampat itu dibangun dari kayu-kayu mangrove. Para turis domestik maupun mancanegara bisa dengan nyaman tinggal di dalamnya. Para perempuan Raja Ampat cukup menyadari bahwa hutan mangrove mulai mengalami kerusakan.

Kenapa mangrove jadi napas kehidupan?

Semua ini bermula dari kisah suku Biak di pulau Supiori yang melakukan perjalanan ke Raja Ampat. Rupanya, sejak abad 14, Suku Biak telah mengenal dan mengkonsumsi mangrove. Kearifan lokal pada gastronomi mereka tampak dalam penyimpanan mangrove mentah selama 10 tahun. Ketika akan mengkonsumsinya, mereka akan mengambil secukupnya dan mengolahnya.

Sementara buah dari mangrove jenis lindur (Bruguiera gynnorhiza) yang dikonsumsi untuk bekal perjalanan jauh antar pulau itu menjadi warisan gastronomi turun-temurun karena sifatnya yang sangat awet meski telah diolah. 

Buah mangrove jenis lindur/aibon cocok untuk tepung mangrove, stik mangrove dll

Buah bakau ini menjadi sumber karbohidrat alternatif yang penting sebagai pengganti ubi atau sagu ketika sulit didapatkan.

Bagi mereka, mangrove menjadi bukti ketahanan pangan mereka. Mangrove telah menjadi napas kehidupan mereka. Sampai saat ini pun, masyarakat pesisir masih menjadikan mangrove sebagai sumber bahan pangan mereka.

Mangrove memiliki dua peran sekaligus yaitu sebagai perlindungan ekosistem juga sebagai sumber pangan lokal. Ketika hutan mangrove mereka terjaga maka sumber pangan mereka juga terjaga.

Jaga Hutan = Jaga Sumber Pangan

Menurut Wawiyai Steve, narasumber Perkumpulan Kawan Pesisir Raja Ampat (PKPRA), saat webinar bersama Eco Blogger Squad bersama TAF (The Asia Foundation) dan PKPRA, kerusakan mangrove di tahun 2019 sudah mencapai 57%. 

Wilayah Mangrove Raja Ampat yang Mengalami Perubahan

Salah satu penyebabnya adalah pengambilan kayu mangrove untuk pembangunan penginapan atau resort. Ini menjadi tantangan besar sebab Raja Ampat merupakan pulau karst sehingga hutan kayu tidak bisa tumbuh. Mereka pun menggunakan kayu mangrove untuk pembangunan.

Inspirasi dari Suara Perempuan Raja Ampat

Di balik keindahan Raja Ampat, ternyata kawasan pesisir Raja Ampat tersebut menyimpan permasalahan lingkungan yang berdampak bagi masyarakatnya, terutama para perempuan Raja Ampat.

Dalam tiap permasalahan, hukum adat berperan penting. Menurut hukum adat, para perempuan ini tak punya kuasa untuk memutuskan terhadap pengelolaan sumber daya alam.

Kira-kira bagaimana kaum perempuan ini menyikapi hukum adat yang melekat dalam kehidupan mereka?

Hukum adat bukan berarti tidak melibatkan perempuan pada tanah yang mereka pijak. Dari cerita Daniel Kbarek dan Wawiyai Steve, para perempuan Raja Ampat khususnya di kampung Friwen dan Yenbesser memberikan inspirasinya dalam restorasi mangrove.

Mari kita simak inspirasi ketahanan pangan dari para perempuan Raja Ampat.

Keberanian bersuara dari Perempuan Raja Ampat

Keputusan memang di tangan para laki-laki, namun para perempuan juga punya hak suara yang harus didengarkan. 

Yang menjadi inspirasi perempuan Raja Ampat di sini adalah keberanian bersuara atas permasalahan lingkungan di kampung mereka. Tidak semua orang mau dan berani dalam menghadapi masalah lingkungan. 

Diskusi-diskusi pun dilakukan antara laki-laki dan perempuan dan menghasilkan keputusan bahwa mereka membagi ruang kelola kelompok laki-laki dan perempuan. Pada akhirnya, kelompok perempuan menjadi kelompok yang dominan dalam pengelolaan dan perlindungan hutan mangrove.

Peka dan peduli terhadap masalah lingkungan

Tidak semua orang mau peduli dengan masalah kerusakan lingkungan yang ada di sekitarnya. Namun, para perempuan di Raja Ampat ini cukup peka dan peduli terhadap degradasi hutan mangrove yang menjadi sumber pangan mereka. 

Ikut terlibat dalam perlindungan mangrove

Keterlibatan masyarakat Friwen dan Yenbesser dalam perlindungan mangrove menjadi inspirasi bagi kita semua. Hasilnya terasa ketika masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut berperan aktif dalam pengelolaan dan pengawasan mangrove sejak tahun 2019.

Beberapa kegiatan masyarakat dalam merestorasi mangrove adalah melakukan :

Pembibitan, persemaian dan penanaman di kawasan yang mengalami kerusakan

Para perempuan di Raja Ampat ini ikut terlibat dari pembibitan hingga penanaman kembali mangrove.

Pengolahan produk mangrove sebagai pangan lokal dalam peningkatan ekonomi masyarakat.

Masyarakat mengidentifikasi jenis mangrove yang nantinya akan diolah menjadi bahan pangan lokal.

Jenis mangrove yang bisa diolah dari jenis Bruguiera gynnorhiza. Bagian mangrove yang diolah adalah buahnya (aibon) memiliki nilai ekonomi yang dapat dijual bagi wisatawan. Dengan begitu, produk hutan mangrove dari kayu bisa berkurang.

Aibon yang sudah dikeringkan (IG Kawan Pesisir)

Menciptakan ketahanan pangan memang perlu dilakukan pelatihan-pelatihan agar para perempuan di Friwen dan Yenbesser ini mampu berinovasi terhadap bahan pangan lokal. 

Mereka membuat berbagai macam produk mangrove, seperti tepung mangrove, kukis mangrove, mie mangrove, sirup mangrove, madu mangrove dan lain-lain. Produk mangrove tersebut dikemas untuk dijadikan produk yang ditawarkan pada wisatawan di Raja Ampat.

Pangan lokal Raja Ampat: mie mangrove, kukis mangrove dan kripik mangrove 

Mereka membuat kegiatan pelatihan gastronomi yang berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk mengembalikan resep orang tua yang mulai hilang.

Mama-Mama Papua di Raja Ampat Mengolah Pangan Lokal (IG Kawan Pesisir)

Harapannya, produk pangan lokal ini bisa menjadi ketahanan pangan masyarakat Raja Ampat.

Cerita unik ketika Bupati Raja Ampat mencoba produk mangrove, ia menangis. Ternyata beliau teringat masa kecilnya yang tinggal di kawasan mangrove dan terbiasa dengan konsumsi produk mangrove. Sayangnya, saat ini cita rasa produk mangrove itu hilang. Adanya pelatihan gastronomi ini penting untuk menjaga warisan pangan lokal yang mulai hilang.

Jasa lingkungan dan program adopsi mangrove bagi wisatawan.

Mengunjungi Raja Ampat akan menjadi pengalaman yang luar biasa karena masyarakat Raja Ampat, khususnya di Friwen dan Yenbesser, menyedakan jasa lingkungan seperti mangrove tracking, forest tracking, bird watching, pasir timbul, diving dan snorkeling, dan wisata pantai lainnya.

Melek hukum dengan pengajuan kegalitas hukum

Apalah artinya sebuah upaya perlindungan tanpa legalitas hukum. Sebab tanah yang kita jaga ternyata adalah milik pihak lain. Tak sebatas itu, tentu saja tanpa legalitas hukum maka mereka tak bisa punya hak atas tanah yang mereka tinggali.

Kelompok Tani Mangrove mengajukan legalitas hukum akses sumber daya alam yang sudah mereka jaga. Didukung oleh Kawan Pesisir dan The Asia Foundation dalam PAPeDA 4, mereka memperkuat peran serta masyarakat dalam pengelolaan dan perlindungan mangrove. Dari upaya tersebut, masyarakat Raja Ampat memperoleh SK Hutan Desa seluas 1025 hektar yang menjadi ruang pengelolaan sumber daya alam berbasis perhutanan sosial.


Yang paling penting dalam penglolaan sumberdaya alam adalah membagi pemanfaatan ruang dari 1025 hektar menjadi tiga bagian: hutan lindung, ruang pemanfaatan, dan ruang pemanfaatan berbasis konservasi (di dalamnya ada tempat ‘keramat’ yang harus dijaga).

Dengan adanya akses legal ini, masyarakat hukum adat sekitar di kawasan hutan mangrove dapat mengelola dan memanfaatkan hasil hutan tanpa merusaknya.

Tujuan utamanya tentu saja untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan, menjaga keseimbangan ekosistem dan kelestarian fungsi hutan mangrove, dan mencegah serta menyelesaikan konflik di sekitar kawasan hutan.

Namun, terbitnya legalitas hukum bukan berarti masalah selesai. Justru disitulah masalah terberat. Paska akses legalitas diperlukan penguatan kelembagaan. Bagaimana masyarakat tetap bertahan dalam pengelolaan mangrove secara terorganisir. 

Bersama Kawan Pesisir dan The Asia Foundation ini dalam program PAPeDA 5, masyarakat Friwen dan Yenbesser melakukan penguatan kelembagaan melalui program LPHD/LPHK dan 4 kelompok perhutanan sosial (KUPS kerajinan tangan, KUPS pengolahan hasil hutan non kayu, KUPS agroforestri dan KUPS jasa lingkungan).

Dari PAPeDA 5 ini mulai munculnya pembicaraan mengenai Bantuan Keuangan Ekologi (BKE) sebagai bagian dari kebijakan fiskal daerah.

Dari komunitas tersebut, kita tahu bahwa banyak aksi nyata yang tumbuh dari komunitas untu

Oiya, Oktober ini, Bangkok Climate Action Week akan membicarakan solusi untuk menghadapi perubahan iklim. Namun, solusi tidak hanya datang dari ruang-ruang diskusi. Banyak aksi nyata justru sudah tumbuh dari komunitas lokal. 

Melakukan praktik Sasi (Pengawasan Berbasis Masyarakat)

Dalam penjelasan dari Daniel Kbarek, masyarakat pesisir Raja Ampat memiliki kearifan lokal dalam pengawasan berbasis masyarakat yang dikenal dengan Sasi. Kearifan lokal ini bisa menjadi inspirasi masyarakat di daerah lainnya untuk menjaga kawasan hutan.

1. Penegakan hukum adat

2. Zonasi kearifan lokal

3. Pelibatan tokoh masyarakat.

Menyadari peran perempuan sangat besar

Dari awal mula, suara perempuan menjadi pengaruh yang besar terhadap keberlanjutan pengelolaan mangrove. Kemudian kelembagaan didominasi oleh perempuan.

Sebesar 80-90% KUPS diisi oleh perempuan yang memainkan peran dalam peningkatan ekonomi rumah tangga mereka. Kelompok patroli pun anggotanya 100% perempuan (10 orang).

Baru-baru ini, mereka mengirimkan salah satu perempuan dari Friwen di Bogor untuk mengikuti pelatihan membuat business plan di Bogor oleh Kementerian Kehutanan.

Kelompok horti dan kelompok tani kopi dikelola dengan baik terutama dari kelompok perempuan. Gender perempuan sangat luar biasa di Raja Ampat. Bahkan, direncanakan akan ada hutan desa perempuan pertama di Indonesia yang memiliki sumberdaya alam dan ketahanan pangan.

Tantangan lainnya dalam pengelolaan mangrove adalah dampak perubahan iklim yang dirasakan oleh masyarakat sehingga diperlukan mitigasi bersama. Beberapa kegiatan yang dilakukan bersama masyarakat adalah mangrove tidak harus ditebang, kayu tidak lagi dijual untuk kebutuhan bahan baku pembangunan resort. 

Pemanfaatan mangrove untuk ekowisata. Mereka juga mencoba berinovasi membuat produk tradisional menjadi produk yang bernilai ekonomi. Selain itu, rasanya usaha mereka tidak akan berjalan dengan baik jika tidak ada sinergitas bersama antara pemerintah daerah, swasta dan mitra pembangunan lainnya. Harapannya, kemitraan bersama pemerintah, swasta dan pihak lainnya akan terus berjalan.

Dari Inspirasi Ketahanan Pangan Raja Ampat, Ke Pangan Lokal Jawa Timur

Cerita dari Daniel Kbarek dan Wawiyai Steve, aku pun terinspirasi mencari tanaman di Sidoarjo, Jawa Timur yang memiliki dua peran ganda, seperti mangrove. Tanaman itu kalian pasti nggak asing lagi dan kalian pasti pernah memakannya.

Namanya sukun.

Kalau mendengar kata sukun, mungkin yang terbayang adalah potongan buah yang dagingnya lembut seperti roti dan berwarna putih kekuningan. Ketika digoreng, bagian luarnya renyah. Di beberapa daerah, sukun juga diolah menjadi keripik, direbus, atau dimasak menjadi berbagai makanan tradisional. Bahkan sekarang sudah banyak inovasi olahan sukun yang lezat-lezat.

Mengenal pohon sukun

Pohon dengan nama ilmiah Artocarpus altilis ini merupakan salah satu tanaman pangan yang dapat menyediakan makanan sekaligus memberi manfaat bagi lingkungan. Selain pohonnya yang rindang, tanaman ini juga menjadi bagian dari ketahanan pangan lokal.

Buah sukun

Sukun memang banyak dikenal di daerah tropis, termasuk Indonesia. Pohonnya dapat ditemukan di pekarangan rumah, kebun, maupun berbagai wilayah pedesaan. Di dekat rumahku, pohon sukun tumbuh cukup besar dengan tajuk yang rimbun. Daunnya lebar dan memiliki bentuk yang khas sehingga pohon sukun mudah dikenali.

Sukun bahkan dikenal sebagai salah satu tanaman pangan penting karena buahnya dapat menjadi sumber karbohidrat.

Kenangan masa kecil

Mendengar kata sukun, tentu ingatan masa kecilnya kembali terbayang di pelupuk mata. Di lingkungan rumah masa kecilku, aku mengalami pohon sukun yang tumbuh besar. 

Ketika ibu memasaknya menjadi sukun goreng yang gurih dan manis, aku langsung jatuh hati! Seenaknya itu!

Tak salah, tiap melihat pohon ini, aku teringat pada kampung masa kecil dan makanan yang dahulu dibuat oleh ibu.

Pohon Sukun

Buah sukun yang sederhana dapat menjadi bagian dari kenangan masa kecil.

Karena dapat menghasilkan buah dalam jumlah banyak, sukun menjadi salah satu tanaman yang menarik bagi masyarakat yang membutuhkan sumber pangan yang dapat tumbuh di wilayah tropis.

Dari sini kita bisa melihat bahwa sebuah pohon sebenarnya menyimpan kenangan yang jauh lebih panjang daripada apa yang terlihat di pasar atau di atas piring.

Dari pohon ke meja makan

Mendapatkan sukun sebenarnya relatif sederhana apabila pohonnya tumbuh di sekitar rumah atau kebun. Buah dipanen ketika sudah mencapai tingkat kematangan yang sesuai untuk kebutuhan pengolahan.

Setelah dipanen, buah dicuci dan dibersihkan. Kulitnya dapat dikupas sebelum daging buah dipotong sesuai kebutuhan.

Untuk membuat sukun goreng, misalnya, daging buah dapat dipotong menjadi beberapa bagian kemudian digoreng hingga matang.


Sementara itu, jika ingin membuat produk yang lebih tahan lama, sukun dapat dikembangkan menjadi keripik atau diolah menjadi tepung.


Cara pengolahan seperti ini menunjukkan bahwa pangan lokal tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang sama. Dengan pengetahuan dan kreativitas, bahan pangan yang tumbuh di sekitar masyarakat dapat dikembangkan menjadi berbagai produk.

Hal tersebut juga membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha berbasis pangan lokal.

Manfaat pohon pangan yang menjadi bagian dari lingkungan

Sebagai pohon yang memiliki tajuk cukup lebat, sukun dapat memberikan keteduhan bagi lingkungan di sekitarnya. Daunnya membantu membentuk kanopi yang membuat area di bawah pohon terasa lebih teduh.


Seperti tanaman pada umumnya, pohon sukun juga menyerap karbon dioksida dari atmosfer dan menghasilkan oksigen melalui proses fotosintesis. Sistem perakarannya membantu menjaga kondisi tanah dan membuat pohon ini dapat menjadi bagian dari vegetasi di lingkungan tempatnya tumbuh.

Jika pohon sukun ditanam dalam sistem agroforestri, sistem ini dapat membantu mempertahankan kualitas tanah, siklus hara dan mengurangi erosi.


Uniknya, sukun ini mampu hidup di kondisi tanah yang kering. Pohon ini juga berumur panjang. Kita tak perlu sibuk menanam ulang karena pohon ini dapat hidup dan berbuah hingga 50 tahun.

Dengan kemampuan tersebut, pohon sukun memiliki ketahanan yang kuat terhadap krisis iklim. Berbeda dengan mangrove yang rentan jika terjadi perubahan iklim.

Itulah kenapa bulan Oktober ini, Bangkok Climate Action Week akan membicarakan solusi untuk menghadapi perubahan iklim. Solusi nggak hanya datang dari ruang-ruang diskusi. Banyak aksi nyata justru sudah tumbuh dari komunitas lokal. 

Adanya ketahanan yang kuat tersebut menjadikan sukun bisa menjadi sumber ketahanan pangan lokal. 

Bagian utama sukun yang dimanfaatkan sebagai pangan adalah buahnya. Buah sukun yang sudah cukup matang dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan. Salah satu cara yang paling populer adalah menggorengnya. Daging buah yang lembut berubah menjadi makanan dengan bagian luar yang renyah.

Namun, sukun tidak hanya diolah dengan digoreng saja. Buahnya dapat direbus, dikukus, dipanggang, dibuat menjadi keripik, maupun diolah menjadi berbagai produk pangan lainnya. Dalam pengembangan pangan lokal, sukun juga berpotensi diolah menjadi tepung sehingga dapat digunakan sebagai bahan dalam berbagai jenis makanan.

Sukun dan pelajaran tentang pangan lokal

Hari ini, ketika pembicaraan mengenai ketahanan pangan semakin penting, tanaman seperti sukun menjadi menarik untuk kembali diperhatikan. Ketahanan pangan tidak selalu berarti memiliki makanan dalam jumlah besar di gudang. Ada pula pertanyaan tentang seberapa beragam sumber pangan yang kita miliki. 

Ketika masyarakat hanya bergantung pada beberapa jenis tanaman pangan, perubahan iklim, gangguan produksi, atau masalah distribusi dapat memberikan dampak yang lebih besar. Sebaliknya, keberadaan berbagai tanaman pangan lokal dapat membantu memperkaya pilihan sumber makanan. Sukun dapat menjadi salah satunya.

Sukun tumbuh memberikan keteduhan, menyimpan karbon, dan menghasilkan buah yang dapat diolah menjadi makanan. Dari satu tanaman, ada manfaat ekologis sekaligus manfaat pangan.

Menanam pohon, menanam sumber pangan

Mungkin selama ini kita lebih sering melihat pohon sebagai sesuatu yang harus dilindungi karena menghasilkan oksigen atau membuat lingkungan menjadi hijau. Sukun mengajak kita melihat pohon dari sudut pandang lain. Pohon sukun juga bisa menjadi bagian dari sistem pangan.

Ketika sebuah pohon menghasilkan makanan, menjaga keberadaannya berarti ikut menjaga salah satu sumber pangan. Ketika buahnya diolah menjadi produk bernilai ekonomi, pohon tersebut bahkan dapat memberikan manfaat tambahan bagi masyarakat.

Karena itu, mengenal tanaman pangan lokal seperti sukun nggak hanya mengingat makanan tradisional. Ini juga tentang mengingat kembali bahwa alam di sekitar kita memiliki banyak sumber kehidupan.

Sukun mungkin hanya terlihat seperti pohon biasa di halaman rumah. Tetapi dari satu pohon itu, kita bisa mendapatkan buah, makanan, keteduhan, manfaat bagi lingkungan, bahkan cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Menjaga pohon pangan berarti menjaga lebih dari sekadar pohon. Kita sedang menjaga pilihan pangan, pengetahuan lokal, dan hubungan manusia dengan lingkungan tempatnya hidup.

Ketika Mangrove Menjadi Sumber Kehidupan dan Penghidupan bagi Masyarakat Kampung Friwen

Mangrove bukan hanya benteng alami yang melindungi wilayah pesisir dari abrasi dan menjadi habitat berbagai jenis biota. Bagi masyarakat di Raja Ampat, mangrove juga merupakan bagian penting dari ruang hidup dan sumber penghidupan.

Namun, pemanfaatan mangrove perlu dilakukan secara bijak agar tidak mengancam keberlanjutannya. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah mendorong pemanfaatan hasil mangrove non-kayu menjadi produk bernilai ekonomi, sehingga masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi tetapi juga menjaga ekosistem mangrove.

Melalui dukungan TAF bersama PKPRA, masyarakat didorong untuk mengembangkan berbagai produk turunan mangrove dengan pendekatan yang berkelanjutan, berbasis pengetahuan lokal, serta memperhatikan keterlibatan perempuan dan anak muda.



Read More
Ketika aku masih tinggal di Paris tahun 2013, beberapa kali aku berjumpa dengan orang Indonesia yang sedang liburan ke Paris, mengikuti kegiatan perlombaan atau ada kegiatan kenegaraan. Sebagai musafir, Allah udah beri kemudahan untuk jamak/qashar sholat. Sayangnya, kita tidak punya banyak tempat sholat di Paris, entah musholla atau masjid. Bisa-bisa aja sih menggelar tikar/sajadah di taman kemudian sholat. Tapi apakah kita yakin kalau di sekitar rumput itu suci? Apalagi Parisiens banyak yang pelihara anjing. Selama liburan di Paris, jangan lupa untuk melaksanakan sholat di Grande Mosquèe de Paris (baca : grongd moske de pari). Memang tidak banyak orang Asia yang mengunjungi masjid terbesar di Prancis ini.

Sebagai negara sekuler, memang kita kudu hati-hati dalam menunjukkan simbol-simbol keagamaan apalagi sholat di tempat umum. 

Qodarullah, kampus 2 ku dulu (AgroParis Tech tapi sekarang pindah deh kayanya. Soalnya pas di searching udah di luar kota) cukup dekat dengan masjid Paris. Bisa jalan kaki atau naik bus cuma berhenti 2 halte kalo ga salah. Naik métro cuma 1 stasiun tapi tetep jalan kaki. Hampir tiap hari pokoknya selama ada kuliah di kampus 2, di jam istirahat aku selalu mengunjungi masjid ini.


Grande Mosquée de Paris

Tidak seperti kebanyakan masjid-masjid di Indonesia, masjid di Paris ini mengikuti arsitektur 'maghreban' atau Maroko (daerah Afrika Utara). 

Sejarah Grande Mosquée de Paris

Sejarah masjid Paris ini ternyata cukup panjang. Di abad 19, masjid Paris ini rencana mau dibangun tapi gagal terus. Selama Perang Dunia 1, banyak tentara muslim sekitar 100ribu yang meninggal akibat peperangan. Akhirnya dibangunlah Grande Mosquée de Paris.

Di masa itu, aku mengira mereka juga mengalami namanya Islamophobia, tapi justru negara mendukung pembangunan masjid. Pembiayaan pun didapatkan dari negara dan juga sumbangan dari negeri muslim. Masjid Paris diresmikan tahun 1926. 

Arsitektur Grande Mosquée de Paris

Desain arsitektur masjid Paris ini bergaya Neo-Moorish, yang mirip dengan gaya masjid atau bangunan di Andalusia atau Afrika Utara. Desain arsitektur ini merupakan perpaduan antara Barat dan timur. 



Meskipun arsiteknya banyak dari Prancis, seperti Maurice Mantout, Maurice Tranchant de Lunel, Charles Heubès, dan Robert Fournez, tetapi tenaga bangunannya banyak dari Aljazair yang bekerja sangat detail pada setiap ukiran. Sekitar 450 pengrajin dan seniman mengerjakan pembangunan dalam empat tahun. Berkat keterampilan dan keahlian mereka, masjid Paris ini menjadikan masjid yang indah di Eropa Barat. Tamannya yang indah, deretan tiang kolam masjid, mozaik di bagian masjid, kaligrafi, kayu-kayu, menjadi elemen masjid yang memancarkan budaya arsitektur muslim.

Dindingnya dari luar tampak cokelat muda dan klasik. Terbuat dari batu bata segiempat yang besar. Tampak garis-garis batu bata itu tersusun. Di bagian pintu bentuk melengkung dengan ukiran-ukiran di atasnya.

Tamannya berada di dalam masjid. Sebagian sudah keramik. Tanaman menjulang tinggi seperti lilin tumbuh di setiap sudutnya yang serasi.

Yang paling aku suka adalah elemen-elemen ukiran bangunannya yang detail di antara lengkungan-lengkungan pintu.


Di tengah taman, ada air mancur kecil yang terus mengalir. Bawahnya berbentuk bintang. Sebagian sudah berumur.


Keramik-keramik di dalam masjidnya disusun berbentuk mozaik-mozaik berwarna dominan biru.


Menara masjid menjulang di langit Paris meski adzan tak pernah terdengar keluar dari ujung menara. Menaranya sangat khas dari Andalusia atau Afrika Utara. Simbol bintang dan bulan juga tampak dari atas masjid.


Oiya, di masjid ini ada terowongan yang ternyata menyambung ke Sungai Bièvre. Dulunya terowongan ini untuk menyelamatkan orang Yahudi saat terjadi pendudukan Jerman di Paris yang dipimpin oleh Hitler tahun 1940-1944. Sampai-sampai masjid mengeluarkan sertifikat muslim palsu pada orang-orang Yahudi. Orang yang melakukan ini ternyata orang Aljazair ya g menjadi imam masjid tapi juga jadi pendeta. Hadeuh. Pada akhirnya orang itu ditangkap dan dideportasi ke Jerman tahun 1944.

Sayangnya saat ke sana, aku tidak melihat ada akses menuju terowongan bawah tanah itu.

Hingga saat ini Grande Mosquée de Paris menjadi pusat bimbingan spiritual umat Islam.

Wallahu a'lam

Naik Métro atau Bus?

Lokasi Grande Mosquée de Paris ini berada di arrondisement V (sejenis kecamatan gitu ya) di pertigaan jalan Rue Daubenton dan Rue Georges Desplas. Berdampingan dengan Jardin des Plantes (seperti kebun tapi luas mirip hutan kota khusus untuk tanaman). Di sekitar Latin Quartier di mana kawasan akademisi dan intelektual. Tak jauh dari sana juga ada kampus Paris Sorbonne dan juga Monumen Panthéon yang terkenal.

Meski lokasi ini bisa diakses dengan kereta bawah tanah atau métro dan bus. Tapi dari kampus saya suka naik bus. Jalan dari kampus ke halte dekat. Turun dari bus pun, dari halte ke masjid pun dekat. 

Kalau naik métro turun di stasiun Censier-Daubenton. Kalau halte, aku lupa halte apa. Hehe.

Tempat Terbaik Untuk Menenangkan Diri

Biasanya setelah seharian mendengar suara-suara berbahasa yang bikin aku berpikir keras. Dosen yang menjelaskan materi di kelas. Teman-teman yang berbicara pakai bahasa siang. Semua hiruk-pikuk itu ingin aku hindari sejenak.

Tempat terbaik jika aku sedang kuliah di AgroParis Tech adalah Grande Mosquée de Paris. 

Begitu memasuki pintu utamanya yang terbuka dan terbuat dari kayu, aku melihat taman-tamannya yang hijau di musim semi dan memutih tertutup salju di musim dingin. 

Taman (jardin) ini berbentuk segiempat dikelilingi bangunan dengan lengkungan di antara tiang-tiang. Di tengahnya banyak tanaman yang diatur hingga tampak indah.

Ketika aku penasaran dengan taman di bagian belakang yang tampaknya tidak terlalu terawat, ada seorang wanita memakai kain tutup rambut tapi masih menampakkan rambutnya sedang duduk di tangga.

Ia tiba-tiba meminta welas kasihku. Aku terkejut. Memang di Paris banyak pengemis tapi aku belum menemukan pengemis muslim. Terus terang sebagai saudara semuslim agak sedih. Tapi aku juga tidak yakin apa benar-benar muslim? Karena aku agak takut, jadinya aku tolak. Ya Allah.

Ketika aku memasuki ruang besar kosong yang juga tempat sholat saat hari Jumat, rasa tenang langsung menyergap dalam hatiku. Meski aku masih mendengar bahasa-bahasa seksi itu tapi aku tidak perlu berpikir mereka berkata apa. Karena aku ingin segera ke ruang wudhu.


Perjalanan ke ruang wudhu pun melewati 'resepsionis' yang membantu para turus asing yang ingin mengunjungi masjid Paris dan menikmati setiap detail masjid yang khas. Tidak selalu ada orang di resepsionis. 


Dan setiap turis yang ingin melihat-melihat diminta membayar 5 euro, sedangkan anak-anak Cuma 3 euro. Tapi untuk yang sholat di masjid tidak perlu membayar kayak aku. Jadi aku mau keliling jardin pun nggak bayar. Apa aku yang nggak paham ya.. wkwkw..

Di waktu tertentu bahkan petugas menunggu turis, kadang menjelaskan sesuatu pada turis.

Untuk tempat wudhu wanita seingetku menuruni tangga. Tempat tertutup dan aman dari luar. Meski aku mencium bau tak sedap dari kamar mandi, aku sedikit maklum. Jadi inget di Indonesia. 


Kamar mandi di masjid tidak seperti kamar mandi di tempat lain di Prancis. Seingetku ada ember kecil. Kloset duduk tapi terbuat dari besi. Dan aku harus beradaptasi lagi dengan kondisi toiletnya. Hampir mirip tapi tetap berbeda. Air tetap mengucur deras tidak seperti toilet lain di Prancis yang tidak basah dan hanya pakai tisu.

Adzan belum berkumandang. Aku duduk di dalam ruang sholat perempuan. Beberapa perempuan muslim sedang sholat. 


Aku mengeluarkan bekal makan siang dan langsung melahap isi makananku. Setelah selesai menyantap bekal makan yang dingin karena udara yang dingin, aku segera berwudhu sebab adzan berkumandang. 

Aku memasang mukenahku dan menempati barisan di depan. Seorang dari Pakistan tersenyum melihatku memakai mukenah. Dia bilang lucu bangeettt. Dia tampak baru sekali ini melihat mukenahku yang warna karena mereka sholat pakai baju panjang dan celana panjang saja dengan jilbab yang dililit2 itu. 

Aku segera keluar dari masjid karena perkuliahan selanjutnya akan dimulai. Sebenarnya jadwal kuliah bentrok dengan jadwal sholat tapi kalo aku ngga sholat dulu, kuliahnya bisa sampai maghrib. Alhasil masuk kelas pasti terlambat.

Di luar, beberapa orang berlalu lalang, ada yang memasuki restoran dan cafe masjid yang ada di samping. Aku penasaran melihat cafe dari luar tapi aku ngga ada keinginan masuk dan beli makanannya. Maklum mahasiswa hemaaatttt. Harganya juga lumayan mahal bagi ukuran mahasiswa. Hehe.


Sumber:
https://www.grandemosqueedeparis.fr/copie-de-une-histoire
Read More
Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmush sholihaat. Allah beri kami nikmat bisa menginap di hotel Mercure Madiun. Aku agak takjub, kota kecil Madiun punya hotel bintang 4! Eh, tapi nggak heran sih soalnya Madiun punya INKA dan Pertamina. Pastilah banyak tamu besar yang ke Madiun ya..hehe..

Mercure Hotel Madiun
Mercure Hotel Madiun (Web All Accor)

Hotel Mercure Madiun, Hotel Bintang 4 di Kota Kecil

Mercure Madiun adalah hotel bintang 4 dari jaringan All Accor ini di Jl. H. Agus Salim, pusat kota Madiun, dengan konsep modern. Hotel ini memiliki sekitar 153 kamar, restoran, kolam renang, gym, kids facility, meeting room, dan ballroom.

Jam check in Mercure Hotel Madiun yaitu jam 14.00 dan check put jam 12.00.

Lokasi Hotel Strategis

Perjalanan ke Hotel Mercure Madiun ini bisa dibilang tidak sulit. Dengan bermodal Google Maps, kita bisa tiba di hotel. 

Hotel Mercure Madiun ini cukup strategis karena dekat dengan alun-Alun Madiun, pusat kuliner, pusat perbelanjaan, tempat wisata, dan stasiun. Akses ke Stasiun Madiun sekitar 2.5 km. Sedangkan ke Tol Gate Madiun sekitar 13 km.

Malam Hari itu, suasana sepanjang Jalan Agus Salim cukup ramai apalagi di sepanjang jalan itu memang dimanfaatkan untuk wisata kuliner dengan lampu-lampu hias ala Malioboro. Banyak mobil-mobil parkir pinggir jalan.

Bagi yang suka lapar di malam hari, mengunjungi kawasan ini seperti surga di malam hari. Hampir semua jenis makanan ada.

Tak hanya itu, lokasi hotel Mercure Madiun ini berada tak jauh dari alun-alun Kota Madiun. Tinggal jalan kaki aja bisa. 

Tapiii kami sudah terlalu lelah, nggak ada tenaga mau jalan ke alun-alun Kota Madiun yang ramai. Hehe.

Tampilan gedung hotel

Dari depan tampilan gedung Mercure Hotel ini tinggi dan terbilang mewah. Gedung dominan kaca dengan lampu hias yang terang di lobi hotel tampak dari luar. 

Tempat parkir hotel

Kami langsung menuju tempat parkir mobil yang berada di bagian bawah gedung. Jalanan agak menurun. Kemudian kami menjumpai lahan parkir di luar gedung, tanpa peneduh. Pepohonan yang masih muda di tanam di beberapa sudut. Semoga kelak yang akan memenuhi mobil-mobil yang parkir. 

Pepohonan itu berayun-ayun. Rupanya angin cukup kencang malam itu. Sebenarnya sejak di sirkuit Magetan anginnya juga nggak sabar banget. Aku tidak mau ambil resiko masuk angin. Segera kuminta anak-anak masuk ke hotel.

Kami memasuki hotel lewat lift di parkir bawah. Aku sudah memegang kunci kamar yang berupa kartu. Koridor hotel tampak nyaman dan modern dengan lapisan karpet dan warna dominan krem.

Mercure Hotel Madiun
Anak-anak mencari kamar (dok. Pribadi)

Kami mencari lift dan menekan tombol 8. Oiya, jangan lupa menempelkan kartu sebagai akses keluar masuk hotel. Lift berhenti di lantai 8.

Ruang kamar, tempat ternyaman untuk istirahat

Sebenarnya aku tak sabar ingin segera istirahat. Eh, aku lupa banget kalau ada kelas menulis jam setengah 8.

Di depan kamar, aku menempelkan kartu ke alat siang. Seketika pintu kamar terbuka.

Begitu sampai kamar, aku segera meletakkan laptop di samping tempat tidur, menyalakan laptop, menyambungkan kabel charge, menyambungkan ke Internet dan join ke ruang zoom. 

Suami juga membuka laptop, mencari colokan listrik dan menyalakan WiFi.

Awalnya, saat aku belum tersambung WiFi, suami lebih dulu mengakses WiFi. Meski sempat bingung akhirnya bisa tersambung internet. Ternyata aksesnya masuk ke Web all accor dan join dulu tanpa password apa-apa udah bisa join langsung. Nggak pakai lemot sih...

Kamar Hotel Mercure Madiun
Kamar hotel Mercure Madiun (dok. Pribadi)

Sejenak aku edarkan pandangan ke seluruh ruangan. MaasyaAllah. Kamar hotel Mercure Madiun ini desain interiornya keren dan modern. Ukuran kamarnya kurang lebih sama kayak Fave Hotel Madiun, hanya saja kamar Hotel Mercure lebih modern. 

Wardrobe-nya dihiasi lampu hingga tampak mewah. Tempat gantungan baju tidak tertutup dan lebih panjang. Di bawahnya, lemari yang agak panjang untuk tempat menaruh tas, sepatu dan lain sebagainya.

Di samping tempat tidur, ada dua meja, satu sofa dan satu kursi bulat. Di bagian ujung ruangan, ada safe deposit box, coffee/tea maker dan air mineral. 

Aku menatap ke arah jendela kaca yang memperlihatkan lampu-lampu kota Madiun. Memang tidak tampak seterang di Surabaya tapi di pagi hari, pemandangan gunung terlihat jelas. Aku tidak hapal itu Gunung Lawu atau bukan.

View dari kamar hotel Mercure Madiun
Pemandangan pegunungan dari kamar hotel (dok. Pribadi)

Seketika, aku merasa kedinginan. Aku mencari remote AC. Eh tapi nggak ada. Yang ada hanya control AC tanpa remote dan touchless gitu. Jadi diarahkan sedikit tanpa disentuh sudah berganti. 

Hotel di Madiun

Kamar mandi

Kelas belum dimulai, aku memandikan si kecil. Di kamar mandi yang ukurannya tidak besar dan tidak kecil kebersihannya terjaga. Toiletries yang tersedia di bawah wastafel seperti sabun cair sekaligus shampoo, sikat gigi, pasta gigi, handuk, tisu, shower cap. 

Penginapan di Madiun
Kamar mandi Hotel Mercure Madiun (dok. Pribadi)

Yang berbeda, untuk bungkus sikat gigi dan odolnya tidak memakai plastik tetapi pakai bungkus kertas. Ini adalah cara mereka untuk mengurangi penggunaan plastik yang tidak ramah lingkungan.

Kemasan sikat dan pasta gigi (dok. Pribadi)  

Hair dryer berada di atas wastafel dan menempel di dinding.

Saat kumandikan anak pakai shower, air panasnya stabil. Tidak tiba-tiba panas banget atau dingin. Showernya pun 3 Way. Air keluar dari shower paling atas dan besar, air keluar dari kran bisa untuk wudhu, dan satu lagi yang keluar dari shower kecil.

Tekanan air juga cukup baik.

Setelah itu kakak-kakaknya mandi sendiri. Aku hanya mengatakan bahwa kran yang panas ke arah kanan. Kubilang ngga usah diubah-ubah. . 

Setelah mandi, aku meminta mereka makan nasi kotak yang kubawa. Tidak terlalu banyak sih tapi cukup untuk mengganjal perut. Sembari mereka makan dan nonton, kelas pun dimulai. 

Ikut kelas dulu (dok. Pribadi)

Sarapan Bervariasi dan Enak 

Jam buka restoran ini dari jam 6 sampai jam 10 pagi. Menu anak juga bervariasi. Bagi vegetarian dan makanan dengan gluten free juga tersedia di sini. Suasana restoran di jam 7 pagi masih sepi. Pas jam 8 udah ramai. Kita di sana bisa sampai 1 jam. Haha.

Oiya, karena kami bawa 3 anak jadi tetap kena charge ya. Aku lupa berapa. Kalau tidak salah untuk anak-anak separuh harga orang dewasa. Harga 1 orang dewasa 98ribu. 

Sarapan di hotel bintang 4 itu biasanya menunya bervariasi. Biasanya yang membedakan apakah stok diisi dengan cepat atau tidak.

Restoran Djawara Hotel Mercure Madiun (dok. Pribadi)

Sarapan di restoran Djawara Hotel Mercure Madiun ini bervariasi. Menunya tak hanya menu tradisional Indonesia, Western maupun Asia Timur. Tentu saja karena di Madiun ada kuliner khas Madiun yaitu Pecel Madiun.

Menunya lengkap mulai dari kue, salad, buah, roti, jajanan tradisional, makanan utama, cereal, minuman. 

Menu hotel

Menu hotel mercure madiun

Rekomendasi hotel di madiun

Menu favorit anak-anak adalah sushi. Sama seperti saat menginap di Hotel Illira Banyuwangi, anakku semua makan sushi, ngga mau coba makan yang lain. Dan untungnya, sushi ini cepat diisi kembali. Selain itu, mereka juga makan cereal dikasih susu.

Menu hotel yang enak

Ide menu hotel

Sebagai orang Indonesia, ku meminta mereka makan nasi. Hehe. Kutawarkan nasi goreng atau soto. Eh ternyata sotonya tidak ada nasi. Kalau mau ambil nasi bisa diambil di stand prasmanan. Di stand prasmanan ini juga bervariasi. Yang paling utama makanan tradisional gitu, ada pecel Madiun, tumis sawit buncis, gule daging, mie goreng, dsb. Makanan yang biasa dijual di warung pun ada. Hehe. Konsep menunya emang tradisional.

Mereka mengambil mie kuah yang sebenarnya banyak isiannya tapi mereka cuma ambil mie saja. Isiannya sih aneka dumpling gitu.

Nasi goreng pun alhamdulillah bisa minta dibuatkan sedikit. Tapi anakku juga nggak habis. Soto pun juga.

Aku sendiri memilih makan nasi sedikit, daging, salad sayur dengan berbagai macam saos, salad buah yang dicelup dengan coklat fountain. 

Pastry dan roti di hotel

Roti-rotian dan pastry-nya juga menarik. Di sini disediakan juga roti gluten free. 

Nah biar bisa nyicipin semua pastry dan roti-rotian, biasanya nih aku bawa kotak makan terus aku bawa pulang hehehe.

Soal rasa makanannya sih sebenarnya kurang micin aja hehe. Tapi bukankah itu yang sehat yaaa.. Kalo roti-rotian dan pastry enak semua. Jajanan tradisional juga ada seperti bubur sumsum, kolak, takoyaki juga ada.

Untuk minum-minuman seperti jus buah aku tidak mencicipi. Anakku suka jus jeruknya. Ada jus jambu juga.

Karena anak-anakku alhamdulillah kenyang, kami pun lanjut berenang.

Kolam renang, Gym, Playground, Dan Kelinci

Ketika kita tiba di kolam renang, eh ternyata ada kasih makan kelinci gratis. Anak-anak jadi lupa mau renang. Mereka excited kasih makan kelinci. Bapak penjaga menyiapkan pancingan yang ujungnya dikasih makanan. Anakku duduk sambil memberi makan kelinci.

Kasih makan kelinci di Mercure Madiun

Kalau nggak dihentikan, mereka ngasih makan kelinci terus nggak renang-renang. Mereka pun berenang setelah aku stop mereka kasih makan kelinci.

Kolam renang di hotel Mercure Madiun ini outdoor dengan dua kolam untuk dewasa dan anak-anak. Ukuran kolamnya juga tidak terlalu panjang. 

Kolam renang Mercure Madiun

Sekitar kolam renang pun kebersihannya terjaga. Di sekitar kolam ada banyak tempat duduk untuk berjemur. Di ujung, ada shower terbuka untuk membalas badan.

Aku duduk-duduk sambil scroll-scrool. Ternyata akses WiFi di kolam renang pun lancar.

Kedalaman kolam renang dewasa sekitar 1.3 m. Sedangkan anak-anak sekitar 0.7 m.

Ternyata mereka juga nggak berlama-lama di kolam renang. Baru sebentar sudah minta mandi. Kami meminjam handuk yang sudah disediakan hotel. 

Setelah selesai mandi, anakku yang kecil langsung berlarian menuju ke arah playground yang ada di dekat kolam renang. Menarik banget ini di dekat kolam renang disediakan fasilitas untuk anak. Cari hotel yang punya playground anak emang ngga banyak. Dan di Mercure Hotel ini playground-nya disediakan ruang sendiri. 

Hotel yang punya playground

Sedangkan dua anakku yang lain malah masuk ke ruang gym dan mencoba alat sepeda dan baebel di sana. Tidak Semua hotel mengizinkan anak kecil main di ruang gym ini karena menurut mereka berbahaya. Sebenarnya kalau ada yang awasi sih nggak apa-apa yaa..

Seorang bapak yang mungkin sudah 60an sedang nge-gym dengan baik hati membantu anakku untuk mencoba alat treadmill. 

Hotel dengan Fasilitas Anak di Madiun

Nggak kebayang sih bisa menginap di Hotel Mercure Madiun. Selain  makanannya enak dan bervariasi, kamar hotel nyaman, ada kasih makan kelinci, ada playground juga. Kolam renang anak yang ditunggu-tunggu anak. Untuk rate hotel per malamnya sekitar 700ribu. Dengan fasilitas dan pelayanan yang didapat emang layak sih.. Beneran sih hotel ini bikin anak-anak senang. Cocok banget buat staycation buat keluarga.

Read More
Suatu waktu, keluarga besar berencana akan pergi ke sebuah tempat wisata yang komplit mulai dari berenang, makan, main, outbond, menginap di sekitar kota Malang. Tempat wisata itu namanya Taman Dolan Batu. Agenda utamanya adalah berenang, makan-makan dan berkumpul. Berangkatlah kami dengan kendaraan bersama-sama.

Dalam bahasa Jawa, dolan artinya bermain. Kalau Taman Dolan berarti Taman Bermain. Nama ini cukup mewakili wisata alam di sekitar kota Malang.

Kenapa Memilih Taman Dolan

Jujur, aku tidak ikut menentukan memilih Taman Dolan. Tapi menurut keluarga yang sudah pernah ke sana, Taman Dolan ini tempat wisata di Kota Batu yang tenang dan cocok untuk keluarga. Di dalamnya banyak tempat bermain untuk anak-anak tapi bukan seperti wahana permainan Jatim Park atau Klub Bunga Theme Park di Batu. Hanya outbond sederhana menyebrangi sungai. Dan itu lah menjadi salah satu alasan kami memilih Taman Dolan.

Taman Dolan Batu ini merupakan tempat wisata dengan nuansa alam yang dekat dengan sumber air begitu asri ketika kami tiba di lokasi. Konsep tempat wisata ini memang dekat dengan alam di mana di sekitar tempat wisata masih ada persawahan, sumber air, dan hutan bambu.

Aku pun tak pernah mendengar Taman Dolan tapi saat aku lihat di ulasan Google, sepertinya tempatnya mengasyikkan. Hanya saja akan tidak ada ekspektasi sebelum mengunjungi wisata alam di Batu ini.

Tempat wisata alam ini cocok untuk keluarga, anak-anak, teman maupun pasangan. Sedangkan untuk lansia, memang sedikit harus berhati-hati karena jalanannya yang naik turun.


Perjalanan Menuju Taman Dolan

Perjalanan menuju lokasi menghabiskan waktu sekitar 30 menit. Lokasi wisata alam Taman Dolan berada di Jl. Raya Pandanrejo No.308, Giripurno, Kec. Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur. Lokasi ini tidak begitu jauh dari rumah mertua atau sekitar 14 km.

Tidak terlalu sulit menemukan wisata Taman Dolan ini. Rute perjalanan dari Candi Panggung - belok menuju Jalan Sasando - belok kiri ke Jalan Ngijo Karangploso. Nah, Taman Dolan berada di jalan Ngijo tersebut.

Kondisi perjalanan menuju tempat wisata bisa dikatakan baik dan mulus. Tidak ada papan petunjuk. Suasana sejuk menimpa wajah kami.

Jika tanpa Google Map, agaknya kita tidak terlalu yakin dengan lokasinya karena memang minim papan penunjuk. Jadi dengan menggunakan Google Maps, kita lebih mudah mencari tempat wisatanya.

Kesan pertama saat tiba

Pertama kali memasuki halaman parkir mobil, aku melihat banyak pepohonan di Taman Dolan ini. Bangunan untuk resepsionisnya pun bergaya arsitektur Jawa. Bangunannya berupa kayu, atapnya berbentuk limasan, dan pintu masuknya dari tengah bangunan dengan pilar-pilar yang tampak menyangga bangunan. Seolah-olah, saat itu aku sedang berada di kampung halaman zaman aku kecil dulu di mana bangunan kakek nenek masih asli bentuknya.

Aku memasuki pintu gerbang dari bebatuan. Pepohonan rindang tampak memenuhi tempat wisata itu. Udara menjadi lebih segar dan tidak terlalu panas.

Jalannya banyak tangga naik dan turun. Memang tempat wisata ini tidak berada di dataran yang datar sehingga kita perlu berhati-hati agar tidak terpeleset. Apalagi saat musim hujan kita harus ekstra hati-hati karena sepertinya jalanan menjadi licin.

Dari jauh, terdengar suara air berbaur dengan suara anak-anak kecil yang sedang asyik berenang. Waterpark dengan kedalaman yang berbeda menjadi tempat yang menyenangkan untuk anak-anak.

Jika kita terus berjalan kaki, kita akan menemukan bangunan-bangunan yang terpisah. Ada tempat untuk duduk-duduk atau tempat makan untuk khusus pengunjung restoran atau kolam renang. Bangunan tersebut ternyata homestay. Di sisi lain juga homestay dengan bangunan bertingkat di mana di bagian bawahnya juga terdapat kolam pemandian.

Di bagian dekat persawahan terdapat tempat outbond anak-anak di atas sungai kecil yang airnya mengalir. Tidak dalam tapi tetap harus berhati-hati.

Kesan pertama masuk ke tempat wisata alam Taman Dolan ini cukup menenangkan. Suasana pedesaan sangat kental di sini seolah menjadi tempat healing yang cocok bagi yang biasa hari-harinya diisi dengan hiruk pikuk perkotaan.

Kami bisa leluasa menikmati kolam renang, tempat makan tanpa harus rebutan dengan pengunjung lainnya. Hal pertama yang menarik perhatian adalah suasananya tenang dan nyaman.

Apa saja yang bisa dilakukan?

Taman Dolan ini tak hanya sekadar taman bermain saja tetapi lebih dari itu. Apa saja yang bisa dilakukan di Taman Dolan Batu?

Berenang

Taman Dolan memiliki tiga jenis kolam renang. Pertama, di dekat pintu masuk, kolam renang khusus anak dengan kedalaman bervariasi dilengkapi dengan wahana permainan seperti perosotan di waterpark.


Tempat renang di Kota Batu
Kolam renang anak Taman Dolan Batu (Foto Google: Azizah Maya)

Kedua, kolam renang yang memang untuk dewasa yang memiliki kedalaman sepertinya sekitar 1,3 meter. Bayangkan ajaa yaa kota Batu udah dingin terus pada berenang.

Kolam renang di Batu
Berenang di Taman Dolan Kota Batu (Dok. pribadi)

Di kolam kedua ini ada kayu yang melintang di kolam yang bisa dijadikan jembatan. Air kolam renang ini berasal dari sumber mata air yang berada dekat dengan Taman Dolan.

Kolam ketiga ini berbeda dengan dua kolam lainnya dimana tidak dipasang keramik hanya plester saja. Kolam ini ada di bawah penginapan bertingkat sehingga benar-benar tampak tradisional.

Menikmati sajian kuliner

Selain berenang, Taman Dolan juga menyediakan berbagai menu kuliner tradisional, seperti ikan gurame, sayur, udang goreng, ayam goreng, soto ayam, pecel, dan berbagai macam makanan lokal lainnya. Kuliner di Taman Dolan cocok bagi siapa saja yang menyukai makanan tradisional. Jika kita mengajak tamu yang ingin menikmati sajian khas Jawa bisa jadikan Taman Dolan ini opsi.

Waktu itu, kami memesan gurame, ayam goreng, ayam bakar, udang goreng, sayur kangkung sama apa lagi ya.. Semua makanan yang diantar juga dibungkus plastik wrap agar terjaga kebersihannya.

Rumah Makan di Kota Batu
Sajian kuliner tradisional di Taman Dolan Batu (Dok. pribadi)

Outbond

Aku coba susuri Taman Dolan hingga ke ujung tempat wisata dengan menyusuri pinggir sungai kecil. Aliran airnya yang tidak besar dimanfaatkan untuk outbond atau kegiatan susur sungai dari atas sampai bawah. Sepertinya, sungai kecil itu bisa dilalui hingga ke ujung tempat wisata di mana terdapat tantangan untuk melewati titian dan beberapa ban. Siap-siap basah aja yaa..

Aku mau mengajak anakku kesini setelah berenang. Eh, setelah berenang tampaknya mereka sudah lelah jadi aku batal mengajak mereka ke tempat outbond.

Melihat Kandang Hewan

Di sudut Taman Dolan terdapat beberapa kandang burung dan ada satu hewan buas, seperti musang. Saat aku melewatinya, tiba-tiba dia seperti ingin menyerang dan menabrak kandangnya sendiri. Aku hampir teriak dan menabrak kandang lainnya saking kagetnya.

Wisata Alam di Omah Dolan Batu
Hewan yang mengejutkanku (Dok. Pribadi)

Bersantai bersama keluarga

Taman Dolan tentu saja dibangun sebagai tempat untuk bersantai bersama keluarga. Kita bisa memilih duduk di gazebo sambil melihat pemandangan alam dan kolam renang dari atas. Atau duduk di gazebo di sudut lain untuk melihat pemandangan sawah yang terbentang hijau. Semilir angin sejuk begitu terasa saat kita bersantai bersama keluarga.

Penginapan bernuansa tradisional

Bagi kalian ingin merasakan penginapan bernuansa tradisional dengan pemandangan sawah sambil healing menikmati suara alam ingin mencari ketenangan, mungkin penginapan ini bisa menjadi salah satu opsi untuk dipilih.

Bermain di ruang terbuka

Taman Dolan punya satu ruang terbuka atau lapangan untuk tempat berkumpul pengunjung. Di ruang terbuka ini bisa dilakukan berbagai macam aktivitas. Misal ada fun gathering di Batu bisa ke Taman Dolan dan bisa menjadi tempat berkumpul.

Tempat Gathering di Batu
Ruang Terbuka di Taman Dolan Batu (Dok. Pribadi)

Pengalaman datang bersama anak

Karena aku datang ke sini bersama anak-anak, mereka tampak senang dan tidak bosan berenang. Padahal udaranya dingin. Airnya pun dingin. Mereka bisa tahan dan senang bermain. Apa mungkin karena airnya dari air sumber ya jadi segar.

Aku belum sempat mengajak mereka melihat kandang burung dan outbond. Aktivitas yang paling menarik buat anak-anak masih di kolam renangnya.

Anak-anak tampak nyaman bermain di Taman Dolan. Namun perlu diperhatikan agar anak-anak tidak lari-lari di sekitar sini karena banyak tangga.

Fasilitas yang Tersedia

Beberapa fasilitas yang tersedia di Taman Dolan adalah:
  • Area parkir. Untuk area parkir ini jalannya agak turun dan tidak terlalu luas. Jika target yang datang ke sini adalah pengunjung bermobil memang alangkah baiknya jika tempat parkir ditambah. Alhamdulillah sih kita datang masih kebagian tempat parkir dan itupun sudah hampir penuh. Mencari parkir yang proper pun agak susah karena jalanan yang menanjak.
  • Toilet, Toilet untuk pengunjung yang berenang disediakan ada 4 toilet kalau tidak salah. Meskipun bangunan biasa tapi air lancar dan penerangan oke.
  • Tempat makan ini bisa di dekat kolam renang atau di gazebo. Di tempat makan dekat kolam renang kedua ini disediakan tempat cuci tangan, kursi dan meja kayu.
  • Musala. Taman Dolan juga menyediakan musala bagi umat muslim yang ingin melaksanakan ibadah.
  • Gazebo. Di beberapa tempat juga disediakan gazebo atau tempat duduk di pinggir sungai.
  • Kolam renang. Sudah aku jelaskan sebelumnya.
  • Penginapan. Di Taman Dolan juga disediakan penginapan dengan tipe yang berbeda. Ada yang jenis vila dengan bangunan sendiri atau kamar seperti bangunan hotel biasanya.
  • Outbond. Sayang banget aku tidak sempat mengajak mereka bermain outbond.

Harga Tiket dan Jam Buka

Harga tiket masuk Taman Dolan Batu yaitu 15 tibu saat hari kerja, dan 20 ribu untuk akhir pekan.
Jam buka Taman Dolan Batu setiap hari dari pukul 08.00 - 17.00 WIB.
  • Tiket Masuk Weekday Rp15.000
  • Tiket Masuk Weekend Rp20.000
  • Outbound Anak Rp85.000 – Rp135.000
  • Outbound Dewasa Team Building Rp110.000 – Rp195.000
  • Outbound Dewasa Family Gathering Rp299.000 – Rp495.000
  • Range Harga Adventure Activity: River Tubing, Battle Paintball, Jeep Adventure Rp60.000 – Rp610.000

Kesimpulan

Selama beberapa jam saat wisata keluarga di Taman Dolan Batu, hal yang masih terkenang sampai saat ini adalah anak-anak saat berenang dan makan bersama. Suasana alam di Taman Dolan Batu cocok banget untuk tempat healing karena nuansa pedesaan yang tenang.


Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower