Alhamdulillah, Allah pertemukan kita di Ramadan tahun ini. Sebagai emak-emak, tentunya persiapan sahur selama satu bulan menjadi hal yang dipikirkan berhari-hari. Kita harus punya rencana yang matang tentang menu sahur praktis saat Ramadan. Meskipun sudah punya rencana matang, ada hal lain yang harus dipersiapkan yaitu perabot memasak seperti tabung gas, rice cooker, oven, atau air fryer. Kita harus memastikan tabung gas elpiji masih terisi. Pasti kesel banget kan pas mau masak sahur ternyata tabung gas elpiji habis, mau cari ke toko penjual gas elpiji yang buka jam segitu juga belum tentu ada.

Gas elpiji habis


Terus, kalau kondisi apesnya, gas elpiji di rumah habis, nggak ada toko buka, nggak ada warung makanan buka, kalaupun ada toko jual elpiji tapi stok gas habis, apakah kita lebih baik nggak usah sahur? Jangan, yaa, Bestieee.

Masih ada banyak jalan kok biar kita bisa mendapatkan pahala sahur atau keutamaan sahur saat puasa ramadan karena memang sahur ini hukumnya sunnah muakkad. Alias amalan yang dianjurkan untuk dilakukan.

Bahkan nabi Muhammad SAW juga meminta umat muslim untuk melaksanakan sahur.

“Maknanya, yang menjadi pembeda dan keistimewaan antara puasa kita dan puasa mereka (Yahudi dan Nasrani) adalah sahur. Karena sesungguhnya mereka tidak ada kesunahan sahur, sedangkan kita disunnahkan untuk sahur.” (An-Nawawi, Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi)

Sayang banget deh di puasa ramadan kalau kita nggak memaksimalkan amalan-amalan kebaikan, sesederhana melaksanakan sahur. Nah, daripada bingung, kalian bisa banget masak sahur tanpa pakai elpiji. Kalau kalian ada oven listrik atau air fryer bisa jadi solusi untuk masak lauk. Cuma kalian juga bisa masak menu yang sekaligus nasi dan lauk.

Menu Sahur Praktis dengan Rice Cooker

Sebenarnya cara ini paling praktis karena tinggal memasukkan semua bahan saja. Hanya saja pastikan airnya juga pas. Tidak kebanyakan dan tidak terlalu sedikit nasinya berbumbu. Rasanya tidak enak kalau terlalu lembek. Menu yang aku tulis di sini untuk kalian yang punya stok nasi jadi ide menunya semua nasi dimasak jadi satu. Tiga menu sahur yang bisa dimasak pakai penanak nasi adalah:

1. Nasi Liwet

Beberapa waktu lalu aku membuat nasi liwet tanpa dandang atau kompor gas. Aku penasaran aja sih gimana rasanya. Haha. Dan caranya juga gampang. Hanya saja salah satu caranya harus menggoreng teri medan. Sedangkan kalau gas habis, coba tumis bumbu iris dan teri medan ke dalam panci pembuat nasi yang dikasih minyak, setelah agak kering masukkan air bersama beras sesuai takaran. Biasanya aku pakai 2 garis dari atas permukaan beras.

Nasi liwet rice cooker


Bahannya gampang:

750gr beras putih

1ltr santan dari 2bgks kecil santan instan

35gr teri medan

100gr pete

1btg sereh

5lbr daun salam

35gr lengkuas

3lbr daun pandan

1sdt garam

1,5sdt kaldu jamur

30gr cabe rawit utuh


Bumbu Iris

75gr bawang merah

35gr bawang putih

50gr cabe merah besar karena anakku juga makan jadi aku cuma pakai 1 cabai merah dan cabe hijau yang sudah dibuang bijinya

35gr cabe hijau besar


Setelah itu diaduk dan masukkan bahan lainnya. Tunggu sampai matang.

2. Nasi Kuning

Kalau masak nasi kuning memang harus memikirkan masa, lauknya gimana? Saranku kalau kalian punya oven listrik bisa bikin ayam panggang pakai oven listrik. Kalau tidak ada juga, bisa diakali dengan rebus air dulu, tunggu mendidih kemudian masukkan rebus telor atau ayam potong kecil di dalamnya. Setelah itu baru masak nasi.

Nasi kuning rice cooker


Bahan-bahannya:

3 cup beras

3 siung bawang putih

3-5 cm kunyit

1 daun pandan

1 daun salam

4 daun jeruk

1 batang sereh

1 sdt garam

1/2 sdt kaldu jamur

kurang lebih 700 ml santan

Aromanya nasi kuning ini emang sedap banget.

3. Beef rice

Kalau kalian punya stok daging slice, kalian bisa coba satu resep ini dan pasti rasanya nikmat banget. Nggak ribet. Nasi bercampur daging dan bumbu yang rasanya lezat.

Resep praktis sahur


Bahan-bahannya:

250 gr beras, lalu cuci bersih

350 ml air

1 pack daging slice secukupnya

7 siung bawang putih, haluskan

1 batang daun bawang/bawang bombay


1 sdm soy sauce/kecap asin

1 sdm margarin

Gula sedikit

3 Irisan jahe tipis

0,5 sdm kaldu sapi bubuk

Di dalam mangkok, campurkan kecap asin, kaldu bubuk, gula, bawang putih yang dihaluskan. Masukkan bumbu dan irisan jahe ke dalam daging slice. Susun daging di bagian bawah panci bersama daun bawang/bombay. Kalian bisa menambahkan sayur seperti wortel biar enak.

Kemudian masukkan beras yang sudah dicuci di bagian atas. Ratakan dengan sendok. Tambahkan air ke dalam panci seperti biasa saya pakai hampir dua garis dari atas batas beras.

Kalau sudah matang, tunggu kurang lebih 5 menit sebelum membuka tutupnya. Setelah itu, aduklah menggunakan sumpit hingga daging sapi di bagian bawah bercampur dengan nasi. Selamat mencoba.

Gas Elpiji Habis, Tetap Bisa Masak, Kan?

Meskipun gas elpiji habis, kita masih bisa masak kok. Meskipun memang terbatas yaa, yang penting gizi tetap terpenuhi dan bisa menjalankan amalan sunnah. Kalian juga bisa masak menu makanan tersebut dengan rice cooker kesayangan Nikita Willy. Udah pada tau belum? Yup. Rice cooker Miyako. Miyako Nanoal menjadi salah satu produk Miyako yang recommended karena udah terbukti awet dari zaman dulu, anti lengket, dan harga yang ramah di kantong.


Kalian nggak perlu repot lagi masak sahur saat kehabisan gas elpiji. Selamat puasa ramadan!

Read More

Setelah berhasil dapat ikan banyak saat mancing di Waterboom Jambangan Permai Sragen, — meski agak aneh ya dengerin mancing di waterboom haha—, akhirnya rasa penasaran dua Akhmad sudah hilang sih. Mereka tidak lagi merengek-rengek minta memancing. 


Masih tentang waterboom, kali ini saat anak-anak di Sidoarjo minta berenang di waterboom. Aku pun langsung mencari waterboom di Sidoarjo yang tidak terlalu jauh dari rumah. Yah, lagi-lagi kami harus mencari waterboom tapi yang bisa buat anak-anak. Sebenarnya Suncity Waterpark Sidoarjo jadi salah satu destinasi kolam renang di Sidoarjo, sayangnya jauh dari rumah kami.  


Akhirnya, kami cari waterboom murah Sidoarjo yang lebih dekat. Sebenarnya bukan waterboom sih. Lebih tepatnya waterpark. Tempat main-main air. Namanya Kraton waterpark. 

Kolam renang sidoarjo


Lokasi Kraton Waterpark

Kraton waterpark berada di Perumahan Kraton Superblock, Jl. Bypass Krian No.KM. 30, Sidomukti, Kraton, Kec. Krian, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.


Lagi-lagi, meski kami Google Maps, eh malah kelewatan. Akhirnya kami cari jalan lain yang tidak perlu meter balik. Soalnya kalau muter balik, jalannya jauh—setidaknya menurut perhitungan kami. Sebab lokasinya ada di jalan Bypass Krian yang selalu dilewati bus dan truk antar provinsi. 


Lokasi Waterpark ini berada di dalam fasilitas perumahan yang berada di antara gudang perindustrian dan jarang ada pepohonan. Bayangkan deh betapa panasnya. 


Saat parkir pun kami tidak di bawah pepohonan karena jarang ada pohon. Duh, pasti panas banget.


Harga tiket dan Jam Buka

Kok ya pas libur kami ke sana, harganya kukira cuma 20an ribu ternyata 35ribuan. Menurutku harganya masih normal. Memang ada perbedaan antara berkunjung hari biasa dna weekend. Kraton Waterpark buka setiap hari mulai dari jam 08.00 pagi sampai jam 15.00 WIB. 



Kraton Waterpark ada apa di sana?

Serius sih, aku cari tempat renang plus waterboom nya itu nggak cari detail apa yang ada di sana. Cuma lihat seluncurannya oke yaudah cus. 

Setelah bayar, anak-anak tak sabar ingin segera ganti baju dan berenang. Sebagai ibu yang tidak ingin tergesa-gesa, aku minta mereka sabar dulu dan mencari tempat duduk. Sayangnya, saat kami datang, semua tempat strategis yang teduh dan nyaman sudah dipakai banyak orang. Memang tidak ada gazebo di sini tapi banyak pohon-pohon yang bisa dijadikan tempat menunggu anak-anak. 


Saran sih kalau mau ke sini bawa tikar aja. Sayangnya, aku nggak bawa tikar jadi duduk di atas cor-coran aja dan lumayan teduh juga.


Seluncuran tinggi

Di Kraton Waterpark, ada seluncuran yang tinggi dan pendek. Kakaknya langsung saja ke perosotan yang besar. Airnya belum dinyalakan jadi anaknya nggak bisa main. Kata orangnya buka jam 9 pagi. Si kakak pun menunggu. Ketika sudah jam 9, beberapa orang langsung menyerbu seluncuran. 

Aku kira anakku bakal berani apa nggak. Ternyata maasyaAllah, ia nggak takut bahkan sangat menyenangkan. Bisa teriak katanya. Kolamnya pun tidak dalam hanya sampai tulang punggung. 

"Bu, aku mau lagi," Ujarnya padaku memohon izin agar diizinkan bermain lagi.

"Iya." Jawabanku singkat.

Dia ingin waterboom yang bentuknya lingkaran itu tapi kata petugas anak kecil harus pakai ban dan harus sewa.


Kolam renang murah sidoarjo


Anakku main sampai beberapa kali di seluncuran lurus. Sedangkan adiknya nggak mau. ia memintaku untuk segera pergi ke kolam yang lebih kecil. Sayangnya aku tidak bawa baju ganti. Aku pun meminta ayahnya memakai celana pendek aja buat menemani anaknya. Nah, masalahnya nggak punya celana pendek. Aduh.

Akhirnya aku sewa baju renang. Suamiku  dan anak-anak berenang dengan hati yang senang.



Sewa baju renang dan ban

Kraton Wtaerpark juga menyediakan sewa baju renang semua usia. Harganya juga normal. Untuk satu set baju renang yang tampak seperti baju olahraga harganya 25ribu. Kok ya pas banget ukurannya.


Nggak cuma pakaian, di sana juga ada sewa ban. Harganya juga sekitar 10-20an ribu. Kami tidak sewa ban juga sih.


Tempat makan

Tentu di mana-mana pasti ada tempat makan. Yang dijual juga beraneka ragam tapi aku nggak beli apa pun haha. Kebetulan kami udah bawa makanan dari luar. Dan setahu kami sih nggak dipermasalahkan.


Mainan mobil-mobilan

Nggak cuma berenang aja. Di sana juga ada main mobil-mobilan. Seru deh pokoknya. Anak bisa main yang lain saat menunggu yang lain merenangnya. Nah, anakku sangat excited ya naik mobil.


Aku juga terengah-engah karena harus mengikuti dari belakang. Hampir aja mobil mainannya masuk ke kolam renang.haha


Toilet

Kubilang cukup bersih meski beberapa bagian belum terawat. 


Wahana Mandi Busa

Sekitar jam 11 tiba-tiba banyak orang berkumpul dit engah kolam anak-anak. Mereka berlari segera. Aku mengira ada sesuatu kejadian.

Dari jauh terliat ada wujud gurita berjalan di pinggir kolam. Suara mesin terdengar. Tiba-tiba, senjata gurita itu keluar busa dan diarahkan ke pengunjung. Semua heboh. Aku kangsung mengajak anakku ke sana.


Asli, aku ngga tau kalau ternyata ada wahana mandi busa! Anakku excited dong lihat banyak busa keluar dari senjata gurita. Dan mandi busa ini 2x dalam sehari. Jam 11 siang dan jam 3 sore. Tak cuma itu, anakku dapat hadiah permen kaki dari petugas. Jadi petugas memang membagi-bagikan snack dan permen ke pengunjung secara random.


Anak-anak di sana semuanya tampak bahagia. Bahkan orang tuanya pun ikut main. Si adek ngelihat banyak busa sempat takut karena dikira semakin tinggi dan bikin tenggelam. Beberapa kali keluar dari kolam renang terus masuk lagi pelan-pelan. Kira-kira setengah jam busa menghilang.


Seru banget!

Ternyata ke Kraton Waterpark seru banget. Bisa jadi salah satu rekomendasi tempat renang di Sidoarjo. Kalau datang ke Kraton Waterpark jangan sampai melewatkan permainan busanya. Eh, jangan sampai termakan ya karena nanti sakiittt. 

Read More

Kukira mancing di waduk Kedung Ombo yang luas bakal dapat ikan yang banyak. Ternyata belum tentu juga. Haha. Memang belum rezeki. Apa yang tampaknya jadi ladang cuan yang banyak ternyata belum tentu dapat. Rezeki memang teka-teki. Hehe. 


Antar anak memancing memang capek banget. Kita juga nggak ngapa-ngapain. Dan anakku juga belum minat lagi mau memancing meski masih penasaran gimana rasanya dapat ikan dari hasil mancing.


Sampai ketika liburan selanjutnya di Sragen, anakku minta berenang yang ada waterboom-nya. Permintaan yang cukup sulit karena waterboom yang beneran kan harganya lumayan dan ketinggiannya juga nggak main-main. Untuk anak usia 9 tahun ya agak serem aja kan.


Aku pun mencari waterboom Sragen yang dekat rumah. Sebenarnya kolam renang di Sragen banyak, cuma rata-rata ya hanya buat berenang aja. Nggak ada waterboom-nya. Maunya sih sekalian ajak yang ada tempat wisatanya.


Pilihannya ada di Wisata Sendang Kun Gerit, daerah Gemolong, tapi perjalanan sekitar 1 jam. Terus aku coba searching di internet fasilitas apa saja yang ada di sana. Worth it nggak sih dengan perjalanan sejauh itu. Ternyata yaa biasa aja sih. Emang ada yang viral tapi menurutku nggak terlalu menarik buat anaknya selain kolam renangnya. Haha.


Aku cari lagi deh kolam renang Sragen yang nggak jauh dari rumah. Namanya Waterboom Jambangan Permai. Kalau lihat-lihat di internet, seru juga sih karena emang bukan wisata selfie-selfie. Hehe.


Lokasi dekat tapi sempat kesasar

Lokasi Waterboom Jambangan Permai dari kota Sragen cukup dekat sekitar 30 menit sudah tiba di tujuan. 


Lokasinya ada di Gondang-Kaliwedi, Dimoro, Kaliwedi, Kec. Gondang, Kab. Sragen, Jateng. Menuju ke sana, aku mengandalkan Google Map. Sepertinya sulit sekali jika tidak mengandalkan aplikasi tersebut padahal di zaman dulu semua belum mengenal aplikasi tersebut.


Kami sempat nyasar karena masuk ke tempat wisatanya melewati jalan kecil, melewati sawah di kanan kiri. Padahal udah pakai aplikasi, loh. Haha. 


Saat tiba di lokasi, tampilannya tidak seperti tempat wisata tapi seperti kantor yang dipenuhi motor, mobil dan angkot. Beberapa orang berjualan di depan. Mobil-mobil parkir di sepanjang jalan. Kami parkir di depan saja karena memang sangat terbatas.


Waterboom Jambangan Permai

Tempat wisata Waterboom Jambangan Permai ini merupakan tempat wisata yang dikelola oleh BUMDes Karya Mandiri Kaliwedi. Aku sempat underestimated sama tempat wisata yang dikelola sama BUMDes. Haha.


Kami memasuki gerbang utama. Pengunjung ramai duduk menikmati makanan di sebelah kiri bangunan. Warung itu menyediakan beberapa menu makanan. Aku lupa deh menunya apa aja.


Pandangan di depanku terlihat kolam ikan dengan bebek-bebek air yang bisa dinaiki. Wah, lumayan nih, naik bebek-bebek saat nunggu anak-anak berenang. 


Kami melewati loket yang hanya terdapat meja kayu dengan etalase di sekitarnya. Mbak penjaga sibuk menerima uang dan menyobek karcis dari pengunjung yang datang. Harga tiket Waterboom Jambangan Permai seharga Rp. 10.000,-. Waterboom Jambangan Permai buka dari hari Senin sampai Ahad, dari pukul 08.00 - 17.00, sedangkan hari ahad mulai pukul 07.00.


Tiketnya termasuk murah. Pantas saja ramai sekali. Fasilitas juga lumayan.


Kolam renang

Dengan harga sepulih ribu, kita sudah boleh berenang. Kolam renangnya dibagi menjadi kolam renang anak-anak dan dewasa. Kolam renang anak-anak sudah ada seluncuran yang lurus dan melingkar (spiral slide). Seluncuran untuk anak-anak yang sudah agak tinggi dan seluncuran khusus balita. 


Anakku sangat excited bisa berenang di kolam renang yang ada waterboom ala-ala. Mereka segera ganti baju dan menceburkan diri ke kolam renang.


Beberapa kali Ahmad 1 mencoba seluncuran yang pendek kemudian yang tinggi. Sedangkan Ahmad 2 masih mencoba mengenali Medan dulu sampai akhirnya ia berani naik ke seluncuran yang tinggi.



Serius, aku yang lihat agak ketar-ketir karena meskipun sudah ada air mengalir kadang mereka berhenti di tengah seluncuran karena ada anak lain yang mengikuti dari belakang. Beberapa kali kupesankan jangan sampai berhenti di tengah bahaya. Takut nggak kuat. Ihh. Merinding.


Si Ahmad 3 ini yang takut-takut masuk air. Maunya sama masnya tapi masnya sudah sibuk sendiri. Karena ayah ibunya nggak ikut nyemplung, dia nggak berani. Haduh. Baru juga sebentar berenang, dia meminta berhenti. 


Gazebo/tempat teduh

Suara cukup riuh. Banyak keluarga menunggu di bawah pepohonan yang teduh dengan menggelar tikar. Pasokan makanan yang dibeli dari luar disajikan di hadapan mereka. Sambil berkisah apa saja, mereka menyantap kudapan yang mereka bawa. Beberapa gazebo tampak berdiri di pinggir kolam renang tapi sebagian sudah terisi. Masih ada sisa satu yang belum terisi. Tempat duduknya seperti angkot tapi berjarak jadi kita tidak terlalu singkat kalau mau gabung sama orang lain. 


Toilet

Karena si Ahmad 3 sudah minta berhenti berenang, aku pun mengajaknya membersihkan diri di toilet. Toiletnya lumayan jauh dari tempat dudukku. Di sana sudah ada beberapa orang yang antri untuk masuk ke dalam toilet. 

Tak lama, ada ruang kosong, aku mengajaknya masuk. Eh tapi sayang banget air krannya nggak nyala. Haha. Akhirnya aku pakai air di bak mandi yang sisa sedikit. Untungnya aku sudah terlatih saat tinggal di asrama SMA menggunakan air yang sedikit saat mandi. Haha.


Warung 

Di dekat tempat duduk gazeboku ada warung yang menjual minuman, mie cup, es krim dan lain-lain. Anakku minta dibelikan mie cup. Harganya standar 10 ribu rupiah. Begitu juga yogurt Cimori 10ribu. Harganya masih normal sih.


Di pintu masuk juga ada warung. Lumayan buat penahan lapar meski menunya yang kurang bervariasi. Mending beli di luar hehe.


Bebek-bebek air

Setelah anakku yang ketiga selesai ganti pakaian, aku mengajaknya dan suami main bebek-bebek air. Harganya 15ribu selama setengah jam. Sayangnya, permainan ini tidak ada yang jaga. Jadi kita melepas tadinya sendiri. Nanti kalau sudah selesai kita yang tambatkan sendiri tali ke kayunya. Agak ribet sih tapi yaudahlah. Enjoy aja, hahaha. 


Agak capek juga ngayuhnya. Berasa olahraga. Kita juga mainnya cuma di pinggir kolam aja. Kalau di tengah takut nggak bisa balik. Hehe. Di kolam ini nggak boleh dipakai mancing soalnya banyak ikan berwarna oranye kecil-kecil. Aku nggak paham nama ikannya. Mungkin ada nila juga.


Kolam pemancingan

Memang di kolam ikan tempat bebek-bebek air itu dilarang memancing. Tapi tempat wisata ini juga punya kolam pemancingan. Setelah main bebek air, aku tidak melihat anakku di dalam kolam renang.


Kata suami sedang mancing. Aku pun segera ke kolam pemancingan di bagian belakang. Untuk memancing ini, harga sewa 1 pancingan 15 ribu sudah dapat umpan.


Ahmad 1 tampak memegang alat pancing yang terbuat dari bambu. Akungnya membantu memasangkan umpan di ujung kail.



Wajahnya sangat excited sekali. Rupanya, mereka berhasil mendapatkan ikan lele yang menggelepar di dalam kresek. 


"Aku dapat banyak, Bu!" Ujarnya dengan wajah gembira. Aku melihat lele-lele itu terus berpikir. Gimana ini matiinnya. Hahaha. Karena selama ini aku beli lele udah marinasi. Jadi aku tinggal goreng. Lah, kalau masih hidup gini gimana. Dulu pernah beli hidup dikasih garam biar mati. Itu pun nunggu matinya lama. Terus nggak pernah lagi deh beli hidup-hidup. Duh, PR banget sih kamu Naaak!!


Ngelihat si Ahmad 1 bisa menangkap ikan, anakku yang kedua juga mau mencoba. Meski gagal beberapa kali, akhirnya bisa juga mendapat ikan lele. Wajahnya begitu gembira. Akungnya dengan sigap menangkap ikan lele dan melepaskan dari kail. Emang kita harus hati-hati agar tidak terkena sungutnya. Kalau kena sangat bisa sampai nggreges (menggigit demam). Wah, aku nyerah deh. Biar akungnya aja. Haha.


Tangannya berumur darah, kukira tangannya berdarah karena kena kali. Ternyata itu darahnya ikan lele. 



Anakku yang ketiga juga penasaran mau memancing. Akhirnya dia juga mencoba dna nggak mau sama sekali dibantuin. Dia maunya dipegang sendiri. Duh, susah kali anak kecil ini. Saat tali bergerak-gerak, semua berteriak "Angkat, Dek! Angkaaat!" 


Namanya anak bayi ya.. bingung gimana bisa angkat ternyata cukup berat, dia nggak bisa angkat akhirnya dibantu masnya. Akhirnya berhasil. Dia senang sekali. MaasyaAllah.


Aku juga nggak mau kalah dong. Mencoba memancing di kolam yang banyak ikannya dan aku yakin pasti dapat. Saat percobaan pertama, ternyata aku telat angkat pancingnya. Jadi gagal. Percobaan kedua juga sama gagal. Haha. Tetap aja yaa kalau belum rezeki juga nggak bakal dapat. Saat percobaan selanjutnya baru deh berhasil. Senangnya. Haha. 


Aku meminta mereka mengubahnya saja. Kalau diteruskan bisa habis deh isi kolamnya dipancing anak-anakku. 


Saat pulang melewati pintu karcis tadi, ikan lele ditimbang dulu. Kalau tidak salah dapat sekitar 1,5 kilo dengan harga sekitar 38ribu. Dah emang cocok mending beli langsung aja. Udah marinasi tinggal goreng. Tapi yang tidak didapat kalau beli sendiri adalah kepuasan saat mendapatkan ikan langsung pada sumbernya. Walaupun kolamnya barusan diisi dengan ikan. 


Konsep ini sebenarnya bagus karena secara tidak langsung menjual ikan lele tapi orang harus berusaha memancing pasti dapat ikan. Dan tentunya pasti senang bahagia ketika berhasil mendapat ikan.


Saat kami pulang, ternyata ada kolam ikan lain lagi. Katanya itu bukan ikan lele, mungkin ikan nila. Yang penting rasa penasaran anakku hilanggggg.


Gratis Soto

Sebenarnya setiap tiket bisa ditukar soto ayam. Sayangnya, saat ke sana sedang tidak ada soto ayam gratis karena akhir pekan. Coba deh kalau ke sana saat hari kerja, pasti dapat soto. Hehe.


Taman indah

Di antara fasilitas itu, taman-taman dibuat agar terasa lebih menyenangkan. Di bawah pepohonan yang rindang, para pengunjung menikmati suasana yang tenang. 


Tempat Wisata Murah dan Menyenangkan

Ternyata liburan menyenangkan itu nggak harus mahal. Memang harus pintar-pintar memilih tempat aja. Bersyukur banget BUMDes Kaliwedi ini punya Waterboom Jambangan Permai, tempat wisata Sragen yang cocok untuk anak, murah dan menyenangkan.


Sampai rumah, apa yang dilakukan akungnya? Membebeti ikan lele untuk siap dibumbui dan digoreng. Setelah utinya masak, semua pada makan ikan lele. Enak kok. Parahnya, anakku kelelekan duri ikan lele.



Read More
Anakku remaja yang semakin penasaran dengan hal-hal baru mulai merayu orang tuanya untuk mengantarkan ke tempat pemancingan. Mungkin selera memancingnya sedang kuat. 

Ketika mudik ke Sragen, dia tak henti-henti minta diantarkan ke kolam pemancingan dekat rumah. Akung punggung mengantarkan ke pemancingan dekat rumah. Pulang-pulang dari sana, aku sudah membayangkan ikan nila menggelepar di kresek siap untuk di masak. Namun, aku tak melihat apa pun di tangan selain alat pancing dan segelas kecil bekas air mineral. Di dalamnya, makhluk kecil-kecil berkeliling di air keruh. Saat kutanya dapat ikan apa, ia menunjukkan ikan kecil sekecil ikan teri yang lebih kecil lagi.

Rupanya, tak ada satu pun ikan nila yang berhasil ia tangkap. Karena kesal, ia bilang menangkap ikan pakai jaring dengan pegangan kayu. Meski ikan kecil-kecil berhasil di bawa pulang, wajahnya tampak bahagia. Aku gagal menyantap ikan nila. Haha.

Rasa penasarannya tak berhenti sampai di sana. Ia masih merengek minta memancing ke tempat yang lain yang banyak ikannya. Nggak tanggung-tanggung, akung mengajaknya memancing di tempat wisata Sragen yang ada di perbatasan tiga kabupaten, yaitu Grobogan, Sragen dan Boyolali, yaitu Waduk Kedungombo, Sragen. Nggak kurang ombo taaa?? Wes puas wes banyak ikan di sana.

Perjalanan jauh demi cucu

Perjalanan sejauh satu jam tetap dijalani demi cucu tersayang. Pusing juga dengerin tiap hari minta mancing muluuu. Alat pancing ikan yang dibeli di Sidoarjo sudah dimasukkan ke dalam mobil. 

Sepanjang perjalanan, anakku bingung nanti ikannya mau dikasih umpan apa. Akhirnya, kami melewati sebuah toko alat pancing ikan. Mobil berhenti dan akung keluar dari mobil untuk membeli pelet, jangan sampai lah makanan cacing. Haha. Harga pelet ikan murah kok hanya lima ribu rupiah udah dapat banyak. 

Wah, kebayang dong berapa ikan yang bakal didapat. Hehe. Masalahnya, aku dan suami nggak pernah mancing. Jadi kuserahkan aja semuanya pada akung e.

Sepanjang perjalanan mendekati waduk, terlihat pepohonan di kanan kiri dengan kondisi kering. Sepertinya daerah kurang air padahal dekat dengan waduk. Atau mungkin alirannya tak sampai ke sana. Mendekati waduk, pepohonan terlihat lebih segar. 

Waduk Kedung Ombo, Yang Uomboooo

Sebenarnya beberapa kali berwisata ke Waduk Kedung Ombo, yang pertama banget sebelum nikah. Sempat foto beberapa kali di sana dan bermain di dekat air di atas bebatuan. Sayangnya, aku tidak ingat lewat mana. 

Terus juga pernah sama akung dan uti ke Kedungombo tapi bangunan warung-warungnya hanya di pinggir waduk. Nggak ada warung apungnya. Pas ke sana kita lupa lewat jalan mana. 

Tapi ingatanku tidak lupa saat melewati bendungan waduk yang keren seperti di luar negeri karena tanggulnya yang sangat tinggi dan ditanami rerumputan hijau terawat. Meski siang panas terik, banyak motor terparkir di pinggir tanggul. Pemiliknya sedang asyik berswafoto.

Sebelah kiri waduk yang dibatasi tanggul


Itu tandanya, perjalananku sebentar lagi tiba di tempat tujuan. Kami melewati PLTA Mrica. Aku tetap meneruskan perjalanan.

Sebenarnya di sepanjang jalan Waduk Kedung Ombo, ada beberapa tempat wisata, seperti Embun Bening Park Kedung Ombo dan Wana Wisata Waduk Kedung Ombo. Sebelum tanggul itu ada juga Green Lake Kedung Ombo. Tapi aku dan keluarga memilih pergi ke Wana Wisata Waduk Kedung Ombo yang ada resto apungnya.

Dulu, aku pernah juga wisata ke Waduk Kedung Ombo ada kolam renangnya di pinggir waduk tapi saat aku ke sana, yang aku lihat kolamnya sudah tenggelam karena air waduk yang semakin tinggi. Beberapa tempat juga mulai tenggelam. 

Tempat kolam renang yang tenggelam saat ini

Warung apung 

Akhirnya kami pergi warung apung. Sama seperti warung apung lainnya, bangunan dari kayu itu mengapung di atas air. Ibuku harus berhati-hati saat menaiki jembatan yang bergerak. Kami mengantri dengan pengunjung lainnya karena jembatan yang sempit.

Pintu masuk warung apung

Setelah berjalan, beberapa orang sibuk memesan makanan di loket khusus pemesanan makanan. Kulihat mereka mencatat pesanan orang. Di sampingnya terlihat alat pancing dan ternyata juga menyediakan makanan ikan. 

Tempat bermain

Kami mencari tempat duduk yang masih kosong. Di tengah-tengah ternyata ada tempat bermain anak, seperti perosotan, jungkat-jungkit, dan lainnya. Anakku yang kecil tak sabar untuk bermain. Kami duduk lesehan di dekat tempat bermain itu.
 

Tempat memancing

Sebenarnya tidak ada tempat khusus untuk memancing. Hanya saja di pinggir warung apung, tidak ada pagar dan hanya tempat duduk lesehan untuk tempat memancing.
Kami memesan makanan ikan bakar sementara anakku mulai mencari tempat untuk memancing. Di sana juga banyak orang yang memancing. 

Anakku mencari tempat. Ia diajarkan akungnya memasang pelet di ujung alat pancing kemudian menjatuhkannya ke air. Tapi beberapa kali pelet itu hancur bahkan belum sempat dimakan ikan. Pelet selanjutnya berhasil terpasang. Dan menunggu ikan untuk menyantapnya.



Beberapa orang sudah mulai memancing sambil duduk dan bersantai. Di dekat anakku, dua orang pria datang dan duduk dengan santainya. Mereka mulai memasang kali di ujung pancingnya. Kalau dilihat dari alat pancingnya, pasti mereka pemancing profesional. Umpan ikan yang dipasang pun besar banget.

Rintik hujan mulai turun. Bibir anakku mulai cemberut. Ia belum mendapatkan satu ikan pun. Sedihnya. Sementara dua pria di sebelahnya sudah mendapat ikan hampir 10 biji. Ya Allah...

Ternyata aku baru kalau umpan ikan dipakaikan essence biar wangi dan ikan mau makan umpannya.
Sampai makanan jadi pun, anakku nggak dapat sama sekali. Haha. 

Toilet

Toilet warung apung ada di ujung warung dan sendiri, agak terisolir dari warung makan. Aku bahkan ngga pergi ke toilet karena takut. Hahaha.

Ada lagi kok toilet di dekat tempat parkir tapi tidak di atas warung apung. Jadi aman.

Menu makanan

Menu makanannya sangat terbatas. Jadi aku hanya memesan ikan bakar saja. Selama menunggu ikan bakar, anak-anak bermain di tempat bermain. Ibuku bercerita panjang lebar tentang apa pun. Untuk harga ikan bakar di warung Kedung Ombo.

Setelah datang, anak-anak segera makan. Kami pun makan. Rasanya sih... hmmm... aku akan memberinya 7 saja. Biasa sih. Kurang bervariasi dan berasa. Setelah dilihat-lihat, ikan Yang aku pesan ternyata digoreng dulu baru dibakar. Mungkin untuk mengurangi waktu memasak. Untuk lidah orang tuaku, mereka merasa kurang sreg.

Untuk harga makanan ikan bakar yang aku pesan masih normal. Beli dua ikan bakar total habis sekitar 250an ribu

Musholla

Usai makan siang, kami pun segera pulang dan menunaikan sholat dzuhur dulu. Musholla berada di bagian depan dekat tempat parkir.

Resto

Jadi selain warung apung, juga ada resto sebelum masuk warung apung. Aku kurang begitu paham berapa harganya dan juga menu yang dijual.

Playground dan ATV

Di dekat parkir mobil, ada playground tapi dari balon istana itu. Anakku beberapa kali minta main ke sana tapi nggak aku bolehnya karena susah ngawasinnya. Ketika pulang, aku melihat ada beberapa orang naik ATV keliling tempat wisata di bagian atas.

Senang Nggak Mancing di Waduk?

Anakku kalau ditanya senang apa nggak mancing di waduk? Katanya nggak senang karena nggak dapat ikan sama sekali. Haha.
Aku bilang ya emang bukan rezeki kita. Mau mancing di mana aja kalau bukan rezeki kita juga nggak dapat. Sama seperti ladang pekerjaan kita. Mau semudah apa pun kerjaannya kalau bukan rezeki juga nggak akan menghampiri kita. Tapi kalau sudah rezeki juga pasti datang. Seperti cerita tentang mancing lele di postinganku selanjutnya.

Kalau ke sana lagi sepertinya aku memilih tidak. 



Read More

Kali ini aku akan membahas kuliner Karanganyar. Setiap wisata ke Kemuning, setelah pergi ke paralayang Kemuning rasanya kurang lengkap kalau kita tidak mencari kuliner khas Karanganyar. Yang aku heran, kenapa hampir tiap daerah yang tinggi, memiliki kuliner khas yang sama. Seperti di Kota Batu, makanan khasnya ada sate Kelinci, di Boyolali daerah pegunungan juga begitu. Sekarang di Karanganyar khususnya di Kemuning, salah satu makanan yang biasa direkomendasikan itu sate kelinci. Meski aku juga tidak tahu bedanya apa yaa. Mungkin sambelnya kali? 

Tentu saja aku tidak mencobanya karena udah pernah mencoba sate kelinci di Boyolali dan Kota Batu. Sebenarnya banyak kuliner Karanganyar yang recommended, rata-rata sih menu-menu yang biasa aku temui di kota lain.

Saat kuliner di Kemuning, orang tuaku merekomendasikan kuliner rica-rica mentok Lek Man. Dan ternyata ramai banget, loh.



Lokasi Warung Lek Man

Lokasi warung Lek Man ini berada di Spranten, Kemuning, Kec. Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Kalau habis wisata ke Kemuning, aku dan keluarga langsung pergi ke Warung Lek Man. Lokasinya berada di pojok jalan, di dekat kebun sayur yang luas dengan pemandangan Gunung Lawu. Sulitnya, warung ini tidak ada tempat parkir khusus mobil. Jadi mobil parkir di pinggir jalan. 


Setiap pergi ke Warung Lek Man saat makan siang selalu ramai. Kadang bingung mau parkir di mana. Soalnya kan di pinggir jalan. Syukurnya ada pak tukang parkir yang mau arahkan parkir di mana. Mobilku pun parkir di bawah tulisan besar Lek Man Rica Menthok.


Warung Lesehan Lek Man Rica Menthok

Kalau dilihat bangunan warung Lek Man ini cukup sederhana dan bukan bangunan rumah tertutup. Tentu saja, kita bisa melihat aktivitas pengunjung dari luar. Sebagian lelaki sibuk dengan gadgetnya, sisanya sibuk mengobrol sambil mengebulkan asap rokok dan menikmati hidangan yang sudah tersaji. Sebagian wanita sibuk dengan anak-anaknya, sebagiannya lagi sibuk makan dan gadgetny. Anak-anak pun sibuk merecoki orang tuanya. Haha. Anak-anak itu membuka mulut untuk menerima makanan, tapi matanya tak lepas dari layar gadget di depannya.



Hampir seluruh meja telah terisi penuh dengan pengunjung. Bersyukurlah, masih ada sisa satu meja. Beberapa kali datang ke sini, meski tampak ramai, tapi selalu ada tempat. Aku pun memesan makanan dengan mendatangi meja kasir yang dekat dengan dapur sederhana biar segera dieksekusi. Maklum sudah lapar. 


Beberapa orang melewatiku dengan nampan di satu tangannya. Piring-piring nasi bertumpuk di atasnya dan akan segera menemui pemesannya. Pria yang mengantarkan bergerak cepat seolah banyak hal yang harus dikerjakan. Pegawai wanita mengantarkan gelas-gelas berisi teh-teh khas Kemuning. Penjaja pasti tak sabar menyegarkan tenggorokan mereka dengan teh-teh itu.


Aku pun tak sabar ingin segera mencicipi makanannya. Selama menunggu itu, anakku yang kecil menunjukkan gelagat tak enak. Beberapa kali tangannya memegang bagian tiittt. Dan ia berucap ingin ke kamar mandi. Baiklah. Aku mencari kamar mandi yang ternyata ada di bawah bangunan. Kami melewati tangga menuju ke bawah. Toiletnya di dekat tangga. Di dalamnya cukup luas dan bersih. Tak ada bak mandi, hanya ember cukup besar berisi air yang dingin sedingin es. 


Dari situ, aku tahu bahwa di lantai bawah juga ada tempat makan tapi tidak seramai yang di lantai atas. Pemandangan ke hutan di belakang warung terlihat dari tempat aku berdiri. Suasananya lebih dingin. Menurutku lebih nyaman di lantai atas karena udaranya lebih hangat. 


Setelah kembali ke tempat duduk, tak sampai 10 menit, makanan yang aku pesan pun sudah tiba. Sebenernya tidak terlalu lama juga menurutku. Layanan juga cukuplah. Aku tidak merasa mendapat layanan buruk saat makan di sana.

Setelah itu, kami melahapnya.


Menu Warung Lek Man Ramah Anak

Ketika hendak kunjungan pertama kali ke Warung Lek Man, aku mengira menu yang ditawarkan hanya rica-rica mentok saja. Kalau cuma rica-rica saja, aku pasti nggak mau ke sana karena anak-anak makan apa.


Menu Rica-Rica di Lek Man Karanganyar (Foto : Gandhes)

Ternyata ada menu lainnya. Alhamdulillah. Menu Lek Man Rica Menthok yaitu :

Rica Basah

Rica basah ini rica-rica menthok yang ada kuatnya. Meskipun enak dan gurih tapi rasanya pedas. Bagi pencinta pedas memang cocok makan ini. Mulut dan lambung tentu tidak mungkin bisa menerima makanan pedas itu. Daripada maagku kambuh, aku makan menu lainnya. Cuma incip sedikit. Suamiku yang kuat makan rica basah.


Dagingnya juga empuk. Tidak alot. Bagi orang tua yang giginya mulai banyak yang cocok kayak ortuku, cocok sih makan ini. Menurutku dagingnya juga nggak amis. Bagi sebagian ulasan mengatakan agak amis dan harga lebih mahal dibanding warung lain yang katanya lebih enak, porsi banyak dan murah. Waduh, di mana tuh. Jadi penasaran. 

Rica Goreng

Rica goreng ini sama pedasnya seperti rica basah tapi digoreng. Tentunya tidak ada kuah. Kalau kalian lebih suka goreng memang mending pilih ini. Siap-siap pedes yaa.

Goreng biasa

Nah, bagi yang tidak suka pedas tapi tetap mau merasakan menthok bisa pesan goreng biasa. Menu ramah anak ini menjadi penyelamat perut anak-anak yang sudah lapar. Rasanya juga gurih dan disukai anak-anakku. Dagingnya juga empuk.

Ayam goreng

Kalau nggak suka mentok, anak-anak bisa makan ayam goreng juga. Tapi aku tidak memesan ayam goreng karena udah terlalu biasa masak di rumah. Eh, tapi kalau mau coba, nggak apa-apa loh. Mungkin rasanya beda sama masakan di rumah. Hehe. 

Trancam, Pete dan Sambal

Sebenarnya cukup mengherankan, rica-rica yang sudah pedas begitu masih ada sambal yang disuguhkan. Kira-kira siapa yang makan kalau bukan orang yang doyan sambal? Kalau aku suka banget beli pete dan trancamnya. Segar banget. Perasaanku, ketiga kali beli trancam  rasanya beda dibandingkan pertama kali beli disana. Seperti ada yang berubah tapi tetep seger sih.

Teh Khas Kemuning 

Ada satu minuman khas Warung Lek Man yaitu teh kemuning yang diambil dari kebun-kebun teh di Kemuning. Rasanya memang segar tapi menurutku sedikit lebih pahit dibanding teh biasanya. Jadinya aku pesan teh biasa. Semua soal selera sih yaa.

Teh Kampul

Selain teh Kemuning, juga ada teh Kampul yang merupakan minuman khas Karanganyar. Kampul ini berasal dari bahasa Jawa yang artinya mengambang. Jadi teh ini lebih kental dan diberi potongan jeruk nipis atau lemon. Kalau bahasa Inggris, lemon tea. Hahaha. Rasanya segar seperti lemot tea biasanya tapi ternyata terasa lebih kuat.

Harga

Untuk harga warung Lek Man Rica Menthok menurutku termasuk tidak mahal. Untuk makan bertujuh aja biasanya habis sekitar 150an ribu. Untuk harga mentok dan ayam sekitar 22ribu - 33 ribu. Aku tidak terlalu memperhatikan juga saat bayar. 


Kuliner Karanganyar Yang Lain?

Jadi menurutku, makan siang di sini cukup worth it dan cukup mengenyangkan. Rasanya enak, tidak amis, harga nggak mahal, dan bumbunya meresap. Nah, kira-kira kalian punya rekomendasi kuliner Karanganyar nggak yang ramah anak, enak dan murah.

Read More
Wisata budaya di Solo dengan Keliling Pura Mangkunegaran memang berkesan sih buat aku. Memasuki kehidupan kerajaan seperti punya pengalaman berbeda. Seolah, aku yang menjadi rakyat biasa, bisa sedekat itu dengan kehidupan kerajaan (yaa meski Cuma dari ‘luar’ saja). Dan setelah berwisata ke Pura Mangkunegaran, aku saranin kalian pergi ke masjid Pura Mangkunegaran yang ada di sebelah barat Pura Mangkunegaran. Namanya Masjid Al-Wustha (dibaca Al-Wustho).

Masjid al-Wustha Pura Mangkunegaran, Solo (dok. Pri)

Kunjungan tak terencana ke masjid Pura Mangkunegaran itu sebenarnya bukan menjadi tujuan wisata budaya kami. Awalnya, kami hanya ingin mencari masjid untuk sholat ashar karena setelah seharian keliling Solo, rasanya terlalu capek kalau harus ke masjid yang jauh, seperti masjid agung Kraton Solo. Saat melihat Google Maps, kami diarahkan ke masjid Al-Wustho yang ada di sebelah barat Pura Mangkunegaran.

Lokasinya tidak jauh dari Pura Mangkunegaran. Jika kalian keluar dari gerbang Pura Mangkunegaran bagian utama, kalian belok kanan kemudian belok kanan lagi. Di sepanjang jalan yang dibatasi dinding, kalian cukup menoleh ke kiri, jika kalian melihat pintu gerbang dengan tulisan kaligrafi, maka disitulah masjid Al-Wustho.

Pura Mangkunegaran yang dipagari dinding tinggi (dok. Pri)

Masjidnya tidak terlalu ramai. Bagiku, itu sudah cukup menyenangkan. Parkirnya tidak terlalu besar tapi cukup untuk menampung sepuluhan mobil. Semenjak memasuki halaman masjid, aku terkesima dengan arsitektur masjid Al-Wustho yang masih asli. Aku sempat menebak-nebak, ini pasti bukan masjid biasa. Apakah ini masjid para bangsawan di zaman itu? Karena sudah jarang masjid di Solo yang memiliki desain bangunan ‘berkelas’ yang masih dipertahankan sampai sekarang. Pasti memiliki sejarah yang kuat.

Saking penasarannya, aku pun cari di Google.

Sejarah Masjid Al-Wustha

Ternyata benar! Masjid yang awalnya disebut dengan masjid Mangkunegaran ini memang dibangun untuk keluarga kerajaan di tahun 1878. Pantas saja, bangunan itu dibatasi oleh dinding tinggi, sebagai bentuk eksklusivitas dan perlindungan kehidupan kerajaan, seperti bangunan Pura Mangkunegaran dan Kraton Kasunanan.

Kalian tahu siapa yang arsiteknya? Dia adalah orang yang merancang kota Bandung, Malang dan Semarang. Siapa lagi kalau bukan Thomas Karsten. Atas dasar ide Mangkunegara I inilah Masjid Al-Wustha dibangun. Sebelumnya masjid yang patut dilestarikan ini berada di dekat Pasar Legi, kemudian saat Mangkunegara IV memimpin, masjid ini dipindah ke sisi barat Pura Mangkunegaran.

Pembangunan masjid sempat tertunda karena saat itu Mangkunegara fokus dalam pemulihan kondisi perekonomian Mangkunegaran. Masjid Al-Wustha dibangun kembali tahun 1918.

Arsitektur Masjid Al-Wustha

Hampir sama seperti masjid keraton lainnya, masjid Al-Wustho mengusung arsitektur khas Jawa, meskipun dirancang oleh Thomas Karsten. Atapnya berbentuk tajug, menyerupai piramida yang menjulang tinggi serupa doa tanpa putus menuju langit. Di sisi timur masjid berdiri sebuah menara yang kini digunakan untuk meletakkan pengeras suara.

Kakiku menapaki serambi masjid yang cukup luas. Aroma masa lalu terasa ketika kakiku menyentuh keramik klasik. Seperti lantai rumah masa kecilku. Hatiku terasa haru dan rindu.


Sebuah beduk besar dari kayu dan kulit lembu tampak berada di sudut serambi. Aku sudah melewatkan waktu mendengar ramai tabuhan bergema memanggil sholat. Orang-orang datang dan pergi dengan langkah pelan, tentu saja menghargai para hamba yang sedang menghiba pada Allah. Kepanikanku muncul saat anakku berlari ke sana kemari. Aduh! Aku berusaha menenangkannya sebab takut suara-suara kakinya mengganggu naiknya doa-doa menuju langit.

Ketika anakku cukup tenang, aku pun menuju wudhu yang berada di sisi barat masjid.

Dalam perjalanan menuju tempat wudhu, mataku tertambat pada sebuah bangunan kecil melingkar yang berdiri terpisah dari bangunan utama. Sepintas tampak asing, bukan ruang tunggu, tidak tampak tempat duduk, bukan pula tempat berteduh. Bangunan apa ini?

Maligen, tempat khitan zaman dulu

Ternyata bangunan tersebut bernama maligen, yaitu tempat khitanan pada masa lampau. Ah, maligen itu telah membuat banyak tangis anak laki-laki pecah di sana dan doa para orang tua dan kiai yang mengiringi mereka. Kini, bangunan itu hanya menjadi penanda bahwa tradisi pernah berjalan di sana.

Area kamar mandi dan tempat wudhu tampak sudah direnovasi, terlihat lebih modern dibandingkan bagian masjid lainnya.

Setelah itu, aku memasuki ruang utama masjid dan segera mengambil mukenah. Usai mengenakannya, mataku menelusuri setiap detail arsitektur masjid dengan warna teduh di mata, cokelat, hijau, kuning dan putih.


Empat tiang penyangga utama berdiri kokoh dengan hiasan kaligrafi, sementara tiang lainnya berukuran lebih kecil tanpa ornamen tulisan kaligrafi. 


Lantai bergaya klasik semakin menegaskan kesan bangunan tempo dulu, tetapi tetap terawat dengan baik. Atap kayu dan lampu hias menggantung di beberapa sudut menambah kehangatan suasana.

Bentuk pintunya pun masih setia pada bentuk khas Jawa zaman dulu. Klasik. Sebagian terbuat dari kaca memungkinkan pandangan mengalir bebas antara dalam dan luar. Bagian atas pintu menyerupai kubah masjid dengan ukiran kaligrafi yang indah.


Meski tidak ada AC, masjid ini tidak terlalu panas. Angin berputar-putar dari kipas-kipas di sudut ruangan. Jendela kaca dan besar yang terbuka membiarkan udara masuk menyegarkan para jama’ah. Lengkungan atas jendela serupa motif kubah dengan bingkai kaligrafi sebagai pengingat akan Yang Maha. Dan ternyata tiap kaligrafi di atas jendela itu adalah ayat-ayat Al-Quran, hadits, rukun iman dan rukun islam. MaasyaAllah.

Kaligrafi pada kusen pintu dan jendela (Mulyadi, 2015)

Di salah satu pojok, tepat di area saf para akhwat, terdapat ruangan khusus yang tersembunyi di balik pintu hijau tanpa kaca. Cahaya lampu tampak berpendar melalui kaca patri polos. Rupanya, ruangan itu digunakan untuk menyimpan perangkat sound system. Di area ikhwan terdapat ruangan serupa, ada ruangan bersekat khusus, tapi aku tidak tahu apakah sama untuk meletakkan sound system.

Tempat sound system (dokpri)

Aku mengambil tempat sholat dan berdiri dengan niat yang perlahan menenangkan hati. Takbir pertama terucap dalam hati. Usai salam, aku tetap terduduk. Gerakan bibirku seirama dengan gerakan jemariku, sementara pandanganku berkelana menyusuri setiap sudut masjid.

Bangunan tua yang dirawat begitu baik bisa juga terlihat indah dan khas, meski saat ini banyak bangunan masjid yang megah dan modern. Bagiku, masjid ini punya karakternya sendiri.

Mungkin begitu juga iman, meski zaman terus berubah, lebih modern, tapi iman harus dirawat dan dijaga dengan baik, agar tetap memiliki tempat khusus, tak hanya di hati manusia tapi juga di mata Allah. Selesainya memanjatkan doa, aku segera membereskan mukenah dan keluar dari masjid.

Kaligrafi di Gapura


Dari tengah serambi, aku menatap gerbang depan tempat keluar masuk kendaraan. Tulisan kaligrafi berwarna hijau menghiasi gerbang itu. Tak hanya di gerbang tempat masuk dan keluarnya kendaraan saja, tetapi juga di bagian markiz, seperti pintu utama berupa teras depan yang menonjol.

Sebenarnya apa sih tujuannya kaligrafi ditulis di gapura dan markiz? Aku mencoba mengeja tulisan kaligrafi itu. Huruf-huruf itu melengkung indah dan saling bertaut. Semakin aku eja satu per satu, semakin kusadari....Aku nggak bisa bacaaaa, huaaa...

Membaca kaligrafi memang harus punya ilmu tentang apa yang ditulis. Dan itu memudahkan kita memahaminya. Rasa penasaran tumbuh. Mungkinkah itu penggalan ayat? Sebuah hadits? Atau hanya kata mutiara? Saking penasarannya, aku cari di internet.

Gapura Arah Masuk

Ternyata gapura itu diambil dari bahasa arab “ghafura” yang artinya pengampunan. Artinya bahwa siapa yang memasuki gapura masjid artinya dia telah diampuni oleh Allah (insyaAllah). Seolah, memasuki gapura seperti memasuki ‘dunia’ baru yang memiliki kewajiban baru

Kaligrafi yang terukir di gapura masjid itu diambil dari Al-Qur’an dan hadits, meski tak paham artinya, seolah kalimat itu sebagai ajakan untuk kembali kepada Allah.

Nah, aku mau teman-teman ikut membaca tulisan arab yang aku tulis berikut.

Kalau kalian masuk dari gapura masjid dari arah depan, kalian akan melihat kaligrafi bertuliskan:

Atas:

َاْلاِسْلامُ يَعْلَى وَلا يُعْلَى عَلَيْهِ


“Agama Islam tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.” (Riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, nomor 2825.)

Kaligrafi di gapura pintu masuk (dokpri)

Makna dari hadits ini bukan sekadar pernyataan keunggulan, melainkan sebuah motivasi bagi umat Muslim untuk terus berbuat yang terbaik. Bersyukurlah aku terlahir sebagai muslim dan semoga Allah menjaga nikmat iman dan islam yang sudah diberikan. Aammiinn.

Bawah:


أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ و أَشْهَدُ َأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Sudah pada tahu kan kalau ini syarat menjadi seorang muslim: mengucapkan dua kalimat syahadat.

Gapura arah keluar

Jika kalian keluar dari gerbang menuju jalan raya, akan menemukan kaligrafi bertuliskan:

Atas:

مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ اَلطُّهُوْرُ اَلطُّهُوْرُ نِصْفُ اْلِايْمَانِ

“Kunci shalat adalah bersuci. Bersuci adalah sebagian dari Iman.”

Kaligrafi di gapura arah keluar (dokpri)

Dua kalimat tersebut merupakan beberapa hadits yang digabung jadi satu rangkaian kaligrafi. Tentu saja sebagai pengingat kita bahwa untuk sholat kita harus bersuci.

Sedangkan di bagian bawahnya tertulis:

Bawah:

مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ عَل يْ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ فَمَا بَقِيَ مِنْ ذَالِكَ الدَّنًسُ

“Perumpamaan shalat lima waktu ibarat sungai yang mengalir di pintu salah seorang kamu apabila ia mandi lima kali setiap hari maka tidak akan ada sisa kotoran.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667)

MaasyaAllah. Sebenarnya bagus sekali sih pengingatnya ini. Kotoran ini tentu saja tidak hanya di kulit saja, tetapi di lisan, hati dan perbuatan. Dengan melaksanakan sholat lima waktu dengan baik dan benar, diharapkan tubuh dan hatinya bersih.

Sayangnya, aku yakin, tidak semua orang paham dengan artinya. Mungkin bisa saja ya ada tambahan tulisan begitu seperti plang di bawah gapura, yang tidak menghalangi jalan orang. Setidaknya sebagai pengingat bagi siapa pun yang masih mager melaksanakan sholat lima waktu.

Markiz depan

Apakah teman-teman bisa membaca ini?

Markiz bagian depan (dokpri)

Atas:

إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat diwajibkan atas orang yang beriman pada waktu yang ditetapkan.” (An-Nisa: 103)

Bawah:

صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Shalat berjama’ah itu lebih baik dari shalat sendiri 27 derajat.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 645 dan Muslim, no. 650]

Ya udah yuk, kita sholat berjamaah daripada sholat sendiri.

Markiz samping kanan

Kalau ini apa kalian bisa baca?

Kaligrafi di Markiz samping (dokpri)

Susah kan yaaa?

Tulisannya begini...

Atas:

فَبَشِّرْ عِبَاديَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ

“Maka beri kabar gembiralah hambaku yang mendengarkan perkataan mereka mengikutinya dan berbuat baik.” (Az-Zumar : 17-18)


Bawah:

مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلاَثًا مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ كُتِبَ مُنَافِقًا

“Barangsiapa yang meninggalkan jum`at tiga kali maka ia dicatat sebagai orang yang munafik.” (HR. Ath-Thabrani).

Markiz samping kiri

Masih kesulitan baca? Samaaa


Kayaknya yang hanya lulusan bahasa arab yang bisa baca ini. Hehehe.  

Atas:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul dan para pemimpin di antara kamu.” (An-Nisa : 59)

Bawah:

حِفْظُ دِيْنٍ ثُمَّ نَفْسِ مَالٍ نَسَبٍ وَ مِثْلُهَا عَقْلٍ عَرْضٍ قَدْ وَجَبَ

“Menjaga agama, kemudian jiwa, harta dan demikian juga aqal, kehormatan adalah wajib.”

Teman-teman udah baca semua yang aku tulis, kan?

Alhamdulillahhhhh. Malaikat mencatat pahala dari setiap huruf yang diucapkan. aamiin.

Wisata Religi?

Mulanya, aku cuma cari masjid terdekat agar segera sholat ashar sebelum pulang ke Sragen, nyatanya, aku malah wisata religi (tanpa kunjungan makam) dadakan ke Masjid Pura Mangkunegaran. 

It's ok. Yang penting aku bisa menikmati di mana pun aku berada.

Referensi

Mulyadi. 2015. Penerapan Kaligrafi Pada Elemen Interior Masjid Al Wustho Mangkunegaran Surakarta. https://nurma.staff.uns.ac.id/wp-content/blogs.dir/467/files/2015/08/Kaligrafi-masjid-Al-Wustho-2015.pdf




Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower