Suatu saat saya bersama anak-anak pergi ke Magetan, bukan untuk wisata tetapi menemani ayahnya anak-anak kegiatan di sirkuit Magetan. Berangkat dari Surabaya kira-kira jam 7 pagi dan tiba di Magetan sekitar jam 10an pagi. Di sana, kegiatan selesai saat sholat isya. Karena besok masih harus melanjutkan kegiatan, maka kami mencari penginapan yang dekat di Madiun. Aku belum sempat pesan hotel di mana. Jadi aku mengikuti rombongan saja. Rombongan menuju Fave Hotel Madiun. Dari Magetan ke Madiun ditempuh dalam waktu kira-kira sekitar setengah jam. Sesampainya di hotel sekitar pukul 8 malam.

Fave hotel madiun
Fave Hotel Madiun ( Google Fave Hotel Madiun)

Fave Hotel Madiun, Rekomendasi Hotel di Madiun

Aku bisa rekomendasikan Fave Hotel Madiun kalau kalian sedang berlibur di area Madiun dan sekitarnya. Beberapa alasan kenapa Fave Hotel Madiun jadi hotel yang aku rekomendasikan.

Lokasi strategis

Fave Hotel Madiun ini berada di Jalan Mayjen Sungkono No. 43, Nambangan Kidul, Kec. Manguharjo, Kota Madiun. Hotel bintang 3 di Madiun ini bersebelahan dengan Hotel Aston.

Hanya dengan melihat di Google Maps, kita tidak kesulitan mencari Fave Hotel Madiun ini karena lokasinya strategis berada di jalan utama dan dekat dengan alun-alun kota Madiun sekitar 2 km atau sekitar 5 menit dengan naik mobil. Mau ke toko oleh-oleh Bluder Cokro pun dekat. 

Kalau mau ke Pahlawan Street Center Madiun, yang banyak ikon-ikon terkenal beberapa negara, juga dekat, sekitar 10 menit atau sekitar 3km. Jika kalian pergi ke Madiun naik kereta pun tidak begitu jauh. Dari stasiun Kota Madiun hanya berjarak 4 km, atau sekitar 15 menit.

Meskipun lokasinya strategis, lingkungan di sekitar Fave Hotel Madiun ini tidak begitu bising dan ramai. Sayangnya, transportasi umum di Kota Madiun tidak seperti di kota-kota besar yang punya bus kota dengan jadwal berkala. Jadi kalau ke kota Madiun lebih baik naik ojek online atau kendaraan pribadi.

Pelayanan Baik

Fave Hotel ini memang sudah banyak di beberapa kota. Jadi aku tidak begitu asing dan tidak ragu lagi dengan pelayanan hotel ini. Kami memasuki gerbang untuk tamu Fave Hotel tetapi di parkir mobil ternyata bisa jadi satu dengan tamu Aston.

Lobi hotel nyaman

Dari luar, tampilan depan memang tampak keren. Kami menaiki tangga dari samping. Di dalam lobby, kami disuguhkan dengan welcome drink berupa minuman jeruk. Di lobi hotel juga ada bagian khusus untuk pameran produk lokal. Anak-anak dan suami menunggu di sofa sementara aku menunggu di resepsionis hotel.

Lobi hotel ini cukup nyaman, AC yang dingin, bersih dan tenang. Petugas pun ramah kepada tamunya. Aroma lobi cukup wangi. Aku mengantri untuk proses check-in hotel. Eh, ternyata sudah dibayarin. Allahuakbar. Semoga Allah membalas kebaikan beliau.

Oiya di lobi ini juga ada toilet juga untuk tamu tanpa harus kembali ke kamar.

Kamar nyaman

Aku mendapat kamar di lantai 3. Saat menaiki lift, pengunjung harus menggunakan kartu kamar agar lift bisa berjalan. Menurutku, salah satu kelebihan Fave Hotel ini adalah keamananya terjaga. Setiap pintu dikasih kunci dan harus memakai akses kartu kamar. Satu kamar diberi 2 kartu.

Kami memasuki kamar dengan desain interior yang nyaman, sederhana tapi tampak elegan. Anak-anak tak sabar menaiki kasur double bed itu untuk televisi. Aku meminta mereka mandi dulu baru boleh naik ke kasur. Aku meletakkan tas di atas meja dan menaruh jilbabku di kursi. Anak-anak segera mandi. Baju-baju bertumpuk tak karuan di meja samping lemari. Di bawahnya ada brankas dan tempat alas kaki.

Kamar Fave Hotel Madiun
Maapkan Kamarnya Berantakan (dok. Pribadi)


Terdengar suara air dari kamar mandi, aku memberitahu mereka agar berhati-hati menyalakan kran air panas.

Suara-suara heboh sebelah kamar cukup terdengar di kamarku. Jadi suaraku sepertinya juga terdengar di kamar mereka. Hehe. Kamarnya kurang kedap suara jadi aku harus memelankan suara.

WiFi hotel pun lancar. Di atas meja ada dua gelas, teko kaca, dan beberapa sachet kopi, teh, gula dan krimer. Karena aku haus, aku meminta anak-anak mengambil air dari galon yang ada di koridor hotel. Kukira dia cuma sebentar saja mengambil air, ternyata lama banget. Ketika sampai kamar, dia bilang galon yang dekat kamar airnya habis, jadi dia harus keliling mencari galon yang masih ada airnya.

Setelah semua mandi, aku terlalu malas untuk berjalan keluar kamar mencari makan. Energiku udah habis seharian di sirkuit. Hehe. Anak-anak pun tampaknya sudah lelah dan asyik nonton televisi sambil tiduran. Channel televisinya lengkap dari channel nasional maupun internasional.

Alhamdulillah kami masih ada makanan yang bisa dimakan. Jadilah aku meminta mereka segera makan.

Kalau dari ukuran luas kamar, meski kehalang dengan tempat tidur, meja kursi, tapi kami masih bisa sholat berjamaah. Bagiku, itu patokan bahwa kamar cukup luas. Kami juga tidak kesulitan untuk beribadah karena ada penunjuk arah kiblat.

Untuk tempat tidur, jangan heran, badan anak-anakku masih kecil-kecil, dan aku pun kurus jadi kami masih bisa tidur bersama di kasur. MaasyaAllah.

Menurutku, kasurnya sudah nyaman banget. Tapi aku baru sadar ada bercak di sepreinya keesokan harinya. Mungkin pas udah siang jadi kelihatan. Aku kira anakku ngompol tapi celana mereka tidak basah atau bau ompol. Kalau pun anakku ngiler, posisi kepala mereka tidak di bagian bawah. Aku nggak tau bercak apa. Ah, sudahlah...

Pengaturan suhu kamar pun sudah nyaman. AC berfungsi dengan baik. Kami bisa tidur dengan nyaman tanpa kedinginan tanpa kepanasan.

Kamar mandi cukup luas dan lumayan bersih

Kamar mandi bersih dan cukup luas. Untuk tempat mandi tidak ada penutup jadi air bisa kemana-mana. Sebenarnya yang agak susah kalau wudhu. Biasanya ada kran untuk shower sama kran air biasa jadi satu jadi bisa buat wudhu tapi ini tidak ada.

Air panas berfungsi dengan baik tapi agak bingung ngaturnya karena meski udah diatur ke dingin tetap agak panas. Tekanan air showernya juga cukup kuat, tidak terlalu lemah. Toilet duduk bersih. Ada tisu toilet di sampingnya. Di kamar mandi disediakan 2 handuk, ada sabun cair yang gabung sama sampo, sikat gigi dan odol. Setelah mandi pun air langsung masuk ke salur pembuangan dan tidak menggenang.

Sarapan Bervariasi

Keesokan harinya, sekitar jam 6 pagi anak-anak meminta berenang tapi aku mengajaknya makan dulu karena khawatir mereka masuk angin. Awalnya mereka bersikeras mau renang dulu, karena pikir mereka setelah berenang akan lapar jadi langsung makan.

Tapi aku nggak mau, hehe. MaasyaAllah gini banget ya. Ortu punya keinginan apa. Anak punya keinginan apa. Akhirnya mereka menuruti ibunya, alhamdulillah. Jadi kami makan dulu.

Resto hotel ini berada di tengah-tengah bangunan Aston dan Fave Hotel berada di lantai dua. Saat keluar dari bangunan hotel, kami harus membuka pintu dengan kartu.

Resto Fave Hotel Madiun
Resto Fave Hotel Madiun (dok. Pribadi)

Sampai di resto, petugas menanyakan kamar berapa dan memberitahukan karena kami berlima jadi kena charge. Untuk anak-anak tambah 70ribu saja. Jadi dianggap separuh harga.

Eh, anakku yang kedua kebanyakan ambil sereal plus susu. Jadi dia kekenyangan. Aku minta dia makan nasi nggak mau. Aku paksa pokoknya karena aku nggak mau kenapa-kenapa perutnya. Kami masih harus jalan. Dia mau makan roti panggang dan nasi cuma lima suap.

Menu-menu di resto Fave Hotel ini cukup beragam. Ada menu lokal, pecel Madiun, makanan sayur jamur, ayam, nasi goreng, nasi putih, bubur kacang hijau, dan salad sayur dan buah,. Ada juga menu anak-anak, seperti sereal, roti bakar, sosis dan omelette.

Menu sarapan di Fave Hotel Madiun (dok. Pribadi)

Rasa makanan utamanya sih cukup terasa bumbunya. Untuk omelette menurutku sedikit hambar tapi masih bisa dinikmati terutama yang terbiasa dengan makanan minim bumbu.

Restoran cukup bersih. Setiap tamu resto selesai makan, pegawai segera membereskan makanan. Suasana tempat makan juga vibe-nya berasa kayak di luar negeri. Jam sarapannya dari jam 6 sampai jam 10.

Di dekat resto juga ada kamar mandi meskipun kamar mandinya maaf agak bau dan sepertinya kurang dirawat karena pintunya rusak.

Kolam Renang View Pegunungan

Setelah sarapan, kami menuju ke kolam renang hotel Aston jadi kami harus lewat hotel Aston. Kami tidak perlu lewat depan hotel, karena setelah keluar restoran ada pintu masuk lewat samping yang langsung masuk ke gedung hotel Aston.

Kami menaiki lift hotel Aston dengan akses kartu kamar kami. Kolam renang berada di lantai 6. Petugas menanyakan nomor kamar kami kemudian memberikan pinjaman handuk.

Di area kolam renang ini ada tempat gym, tempat bermain anak (mini playground), dan spa. Beberapa meja dan kursi sudah ditempati oleh pengunjung.

Sesampainya di sana, anak-anak segera berganti baju. Sayangnya, anak-anak tidak bawa baju renang jadi pakai baju biasa. Petugasnya kemudian menegurku untuk meminta mengganti bajunya. Jadilah anak-anak Cuma pakai celana aja. Hehe.

Di kolam renang dewasa dalamnya seitar 1,5 m. Sedangkan di kolam anak-anak paling cuma setengah meter. 

Kolam renang Fave Hotel Madiun
Kolam Renang Fave Hotel Madiun (dok. Pribadi)

Pemandangan dari kolam renang ini cukup hijau. Masih ada tampak pepohonan yang rimbun. Pegunungan tampak jauh di sana.

Ternyata berenang di jam 7 pagi cukup dingin. Anak-anak baru bentar sudah kedinginan.

Sekitar hampir satu jam akhirnya selesai karena jam 8 kami harus persiapan meluncur ke Magetan lagi. Anak-anak mandi di kamar mandi. Aku tidak masuk kamar mandi tapi nunggu di depan wastafel di depan kamar mandi. Aku meminta kakaknya memandikan adiknya.

Ketika kami keluar, ada dua orang sedang bermain tenis meja. Di samping meja petugas, ada tong sampah besar untuk meletakkan handuk kotor.

Kami pun kembali ke kamar. Anak-anak masih melanjutkan menonton televisi selama aku mempersiapkan barang-barang.

Hotel dengan Family friendly

Fave Hotel Madiun ini bisa kubilang family friendly karena di kamar aku itu termasuk tipe connecting rooms alias punya pintu yang menghubungkan dengan kamar lain. Jadi kalau keluarga besar cocok banget di hotel ini.

Dari parkiran ke lobi hotel ada jalanan yang bisa digunakan untuk stroller, kursi roda atau koper. Jadi tetap aman untuk keluarga dengan kebutuhan yang berbeda. Kolam renang juga ada kolam renang untuk anak.

Tak hanya itu, juga ada tempat bermain anak-anak.

Dengan harga segitu apakah worthy? Cocok untuk siapa?

Secara umum, Fave Hotel ini nyaman untuk jadi tempat menginap keluarga, selain punya connecting room, juga fasilitasnya lengkap. Parkir mobil juga luas. Sedangkan kekurangannya itu ada bercak di seprei. Tak Cuma itu, kamarnya kurang meredam suaranya sehingga dari aktivitas di kamar bisa terdengar sampai di kamar sebelah atau di luar.

Rate Fave Hotel Madiun per malam itu di OTA beda-beda ya harganya, tapi kalau di website Fave Hotel Madiun berkisar 400ribu hingga 700ribu rupiah tergantung tipe kamar. Apakah worthy?

Dengan rate segitu, kita sudah dapat sarapan, fasilitas kamar dan hotel cukup lengkap, lokasi strategis, menu makanan yang cukup banyak, cocok untuk keluarga yang bawa anak.


Read More

Nggak cuma dilema soaal menentukan bus ke Jakarta. Aku sempat dilema cari hotel buat transit karena bus tiba di Jakarta pagi sedangkan penerbanganku malam. Kalau mau nunggu di bandara pun nggak bisa istirahat. Aku cari hotel budget dekat bandara Soekarno Hatta. Tentu saja bisa early check-in dengan harga yang masih terjangkau. Aku pun pesan hotel bintang dua, Hotel Bale Ocasa by Behomy melalui OTA dengan twin bed. Harapannya, aku dan kedua orang tua diizinkan pesan 1 kamar saja twin bed.

Hotel Bale Ocasa

Memilih hotel dekat bandara yang nyaman dan harga terjangkau memang susah-susah gampang. Banyak hotel sekitar bandara Soekarno Hatta yang murah tapi aku khawatir kalau misal kamarnya kurang bersih, kurang terawat atau kurang aman. Jadi aku cari yang kira-kira tampak nyaman, aman dan harganya masih bisa terjangkau. 

Dari sekian banyak alternatif hotel dan review pengunjung, aku memilih Bale Ocasa by behomy. Pencarian hotel budget emang melelahkan. kuakhiri saja pencarianku dengan memilih Bale Ocasa.

Lobi yang terhubung dengan taman (dok. Pribadi)


Dekat di Mata, Jauh dari Pintu Masuk

Yang paling mengejutkan ternyata hotel ini berada di tengah perkampungan padat penduduk. Mobil kami memasuki jalan yang sempit. Jika berpapasan dengan mobil, maka mobil harus mepet sekali ke pinggir jalan. Kami sempat salah tempat, di rumah dengan halaman yang luas dan sepi. Hanya ada usaha laundry di sampingnya.


Kami pun keluar dari rumah itu dan menuju ke hotel. Sampai sopir ojek online mengira aku salah tempat. Dia mengira juga kalau aku agen travel yang 'nakalan' karena ngerjain orang tua ke hotel yang blusukan. Wkakakak. Aku pun baru tahu ini loh.


Alamat Hotel Bale Ocasa yaitu di Jl. Marsekal Suryadarma No.88, RT.004/RW.007, Neglasari, Kec. Neglasari, Kota Tangerang.

Pas cari hotel ini dan lihat di peta, lokasi hotel Bale Ocasa ini kubilang dekat banget sama bandara Soekarno Hatta. 


Kukira kami bisa melihat landasan run off dan bisa melihat pesawat yang akan landing dan take off, itu berarti lokasi hotel sangat dekat. Tapi saat kami akan menuju Terminal 3 bandara Soekarno Hatta ternyata jalannya cukup jauh dan harus memutar. Jarak tempuhnya sekitar 13 km atau 30 menit. Wkakakaka. 


Kelebihannya, kami bisa melihat pesawat landing dan take off saat perjalanan, walaupun sudah malam jadi hanya lampu yang tampak. Bahkan di beberapa titik, banyak warga yang memarkirkan motornya hanya untuk melihat pesawat landing dan take off. 


Early Check-In 

Kami tiba di hotel pagi hari sekitar jam 10 pagi. Secara tidak langsung kami harus early check-in dengan menambah biaya. Sedangkan aku sudah pesan lewat OTA sekitar 270ribu rupiah. Early check-in kena charge 150ribu rupiah. Karena kami bertiga jadi kami juga harus upgrade kamar dengan 1 double bed dan 1 single bed. Pokoknya kalau ditotal seharga 600ribu. Kira-kira masih termasuk murah nggak untuk early check in dan upgrade kamar? 


Karena ada 1 hotel bintang 3 kalo nggak salah harganya 600ribu. Tapi tidak ada early check in jadi baru bisa check in jam 3 sore. Siapa yang mau nunggu lama-lama? Yah akhirnya pilih Bale Ocasa aja.


Kamar hotel yang bersih dan nyaman

Kami memasuki kamar yang berada di lantai satu. Kunci hotel masih memakai kunci manual. Untuk desain interior kamar memang sederhana saja tapi termasuk bersih dan bagus. Di dalam kamar, ada 1 double bed dan 1 single bed. Kamar termasuk luas karena antar kasur masih ada ruang untuk meletakkan koper. 

Situasi Kamar (dok. Pribadi)

AC kamar juga tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Cukup untuk tidur sebentar. 


Di dalam kamar ada televisi tapi tidak kami nyalakan. Kami juga tidak tahu apa bisa dinyalakan atau tidak. Lemari di depan kamar mandi cukuplah sebagai tempat untuk menggantung pakaian dengan hanger atau meletakkan pakaian.


Di samping lemari ada meja untuk meletakkan barang-barang. Di sebelahnya lagi ada meja bundar untuk meletakkan handuk.


Kamar mandi bersih

Kamar mandi cukup luas. Di dalamnya ada shower, kloset, eastafel atau tempat sabun. Beberapa peralatan mandi pun disediakan seperti sabun dan sampo. Tidak ada sikat gigi dan odol. Sayangnya, air panasnya tidak terlalu terasa. Ada wastafel dengan kaca yang besar.



Taman dekat lobi yang menyenangkan

Salah satu tempat yang cukup nyaman di hotel ini adalah tempat duduk di taman yang berada di bawah pepohonan dan dikelilingi kamar. Tempat duduknya pun dari bebatuan. Sedangkan di lobi, ada kursi khusus tamu dan air mancur mini. Kalau sore hari memang enak, kalau siang hari siap terasa panas meski di bawah pepohonan.


WiFi tersendat

Sayang banget sih untuk WiFi di kamar tidak bisa dipakai. Jadi kalau mau pakai WiFi hotel harus ke lobi dulu atau duduk di taman. Tapi yaudahlah... Gara-gara WiFi tersendat ini aku jadi bisa tidur tanpa mikirin media sosial.


Menginap di Bale Ocasa Worth it Nggak?

Pertanyaan ini sebenarnya menjebak banget deh. Sebenarnya kalau untuk transit memang mending di hotel yang bisa early check in. Cuma perlu dihitung lagi kalau cuma berdua dan waktu masih lama, mending menunggu di bandara.


Meskipun dengan beberapa keterbatasan, petugas hotelnya cukup ramah. Jangan lupa cek jarak tempuh ke terminal bandara. Jangan sampai terkecoh sepertiku. 


Kalau tidak upgrade kira-kira harganya nggak sampai 600ribu. Apalagi kalau tidak early check in. Tapi menurutku harga segitu cukup tinggi untuk RedDoorz. 

Read More
Gimana ceritanya naik bus sleeper tapi tidak ambil seat sleeper? Sayang banget nggak sih? Apalagi kalau belum pernah naik bus sleeper. Di awal bulan Juli, aku dan kedua orang tua berangkat ke Jakarta dari Sragen. Pertimbangan memilih transportasi rute Sragen-Jakarta ternyata cukup drama juga dan membuat puyeng.

Pertimbangan Memilih Bus Sleeper Rute Sragen-Jakarta

Sragen ini kota kecil di Jawa Tengah sebelum Solo (kalau dari Jatim). Tidak semua bus sleeper berangkat dari Sragen. Rata-rata berangkat dari Solo, sementara kalau berangkat dari Solo ribet banget, kecuali kalau dianter keluarga. Kita nggak mau ngerepotin keluarga. Jadi kami cari bus yang nyaman untuk lansia. Aku merekomendasikan pada orang tua untuk naik bus sleeper saja.

Kenapa?

Karena tiket kereta cukup mahal. Kalau naik kereta pun dari Sragen jadwalnya kurang cocok. Keretanya ekonomi premium yang harganya kurang lebih sama bus. Stasiun terakhir pun masih jauh dari Bandara Soekarno Hatta. Kalau kereta eksekutif, lebih mahal lagiii dan berangkat dari Solo.

Kalau naik bus sleeper, orang tua nggak capek di jalan, tinggal tidur udah nyampe Jakarta hehe. Dan masalah lainnya sebenarnya adalah tulang ekorku yang tidak bisa duduk lama. Iya, aku pernah jatuh waktu ngejar bus di Paris dulu sampai aku tidak bisa duduk saat kuliah. Sudah sejak akhir tahun 2012, tapi sampai sekarang tulang ekorku sakit dan tidak bisa duduk berjam-jam.

Selain itu, naik bus bisa mencari lokasi pemberhentian bus yang dekat dengan bandara. Masalahnya lagi, ternyata naik bus sleeper dari Sragen itu tidak banyak. Aku mencoba mencari di Traveloka. Bus sleeper hanya sedikit. Terus kurang meyakinkan.

Aku pun menginstal aplikasi RedBus, aplikasi khusus untuk mencari bus. Ternyata di aplikasi RedBus, pilihan bus sleeper lebih banyak. Aku juga bisa memilih jam berangkat dan lokasi pemberhentian terakhir.

Aku juga mengirimi video-video review bus sleeper Sragen-Jakarta di Instagram atau Youtube ke bapak. Beberapa pilihan bus sleeper dari Sragen ke Jakarta yang aku tahu adalah bus Agra Mas, Garuda Mas, Berlian Jaya atau Tunas Muda. Tapi untuk AgraMas ini berangkat dari Solo, jadi kami skip dulu.

Tapi setelah dilihat-lihat kok sepertinya seat sleeper-nya seperti kursi bus yang digabung jadi satu ya? Kita tetap bisa rebahan tapi bertingkat, seperti kamar asrama, ada yang di atas dan di bawah. Mungkin ortu hanya bisa di bagian bawah, kan ngga mungkin orang tua manjat-manjat ke seat atas. Kalau bus sleeper ini cocok untuk gen-Z. Ruangnya jadi terbatas juga. Tampak penuh dan sesak. Hmm...tapi kalau aku sih nggak masalah. Kalau ortu kan gimana ya...

Bus Sleeper M-Trans saat istirahat makan (dok. Pribadi)


Aku pun mengirimi tampilan video atau foto bus sleeper.

Tak ada tanggapan sih.

Terus pilihan kita jatuh pada M-Trans. Aku coba telusuri dari websitenya dan menghubungi kontaknya. Ternyata bus double deeker cuma ada 2 seat sleeper dan tersisa 1 seat. Lah, siapa yang mau duduk di seat sleeper sendiri. Ibu nggak mungkin lah. Kalau pun bapak duduk di seat sleeper, aku dan ibu duduk di seat standar. Duh.. kebayang tulang ekorku.

Dan seat sleeper M-Trans ini ada di lantai dua bagian depan benar-benar menghadap kaca bus besar. Karena bus double decker, aku tanyakan ke bapak, “Emang kalau di atas terus ngelihat jalanan langsung gitu nggak pusing?”

Jawaban bapak, “Dulu pernah naik double decker, iya kerasa pusing.”

Lah! Ya udah akhirnya kami tidak jadi ambil sleeper. Hahaha.

Pas aku cari bus Garuda Mas, tipe kursinya seperti captain seat, tampak nyaman. Cuma kurang informasi aja, aku nggak yakin. Kadang ya di foto tampak keren, di dunia nyata bikin kecewa, hehe.

Aku menghubungi kontak M-Trans lagi. Yang sisa masih 1 seat sleeper. Pas chat ini pun aku juga bingung soalnya tipe bus banyak. Yang aku cari beda sama yang dishare adminnya. Satu kekhawatiranku ya ituuu antara foto dan kenyataan beda. Hehehe.

Cuma karena aku sudah bilang bus dari sragen ke Jakarta, di tanggal 1 Juli, jadi admin udah ngasih video yang berangkat di tanggal itu. Ya iyalaahh. Wkwkwkwk. Admin share video 4 seat di lantai bawah yang masih kosong. Harganya sama seperti seat sleeper 410rb. Awalnya aku nggak terima, masak sleeper sama non-sleeper juga sama harganya.

Memang seat ini 1-1 dan itu di dalam ruangan khusus. Ada pintunya jadi sangat privasi. Kita nggak bisa ngobrol kanan-kiri, hehe. Jadi bisa istirahat.

Setelah aku tunjukkan videonya, bapak milih seat ‘seperti itu’ (entahlah aku juga nggak tahu nama seatnya apa, karena adminnya cuma bilang ‘seat seperti itu’ hehe)

Sebelum kehabisan, aku segera booking lewat aplikasi M-Trans Connect dua pekan sebelum keberangkatan. Kudu gercep pokoknya. Soalnya sepusing itu pilih transportasi.

Menunggu Kedatangan Bus Sleeper M-Trans

Aku kira berkaitan komunikasi dengan penumpang akan dihubungi pramugaranya, ternyata penumpang yang sudah memesan tiket bus M-Trans dimasukkan ke dalam grup penumpang bus M-Trans, khusus yang berangkat hari itu di jam itu. Kaget juga sih, baru kali ini ada grup WA-nya, hehe. Maklum udah lama nggak naik transportasi umum jarak jauh.

Di grup pun diumumkan kalau bus akan terlambat 1 jam karena katanya sedang dilas. Waduh, pikiran udah kemana-mana. Apanya yang dilas coba, wkwkwk. Tapi yaudah lah...

Aslinya di tiket itu diminta untuk tiba di terminal Pilangsari Sragen jam 6 sore. Karena terlambat 1 jam jadi jam kami rencana datang 7 malam.

Di grup sudah ramai dengan chat penumpang karena sudah ada yang menunggu setengah jam sampai satu jam tapi bus belum datang. Bus pun baru berangkat dari titik awal keberangkatan yaitu Ponorogo jam set 7an malam. Menurut perhitungan, bus akan tiba di Sragen kira-kira 3 jam lagi.

Tapi untungnya karena masuk dalam grup aku jadi tahu lokasi terkini bus di mana. Bapak juga masuk dalam grup (ibu tidak).

Kami pun tiba di terminal sekitar pukul setengah 9 malam. Aku menunggu di depan agen yang ada spanduk M-Trans. Aku bertanya kepada petugas yang ada di agen itu (agen dari banyak bus) tentang lokasi agen M-Trans. Dia malah bertanya balik dengan nada yang agak ‘membuatku terkejut’ dan membatin, “Wah salah tanya deh aku.” Karena aku beli online dia jawab tunggu aja atau telpon petugasnya aja.

Yaudah aku duduk saja di depan tokonya karena ada spanduk M-Trans.

Sambil menunggu bus, beberapa bus malam tingkat masuk ke terminal melalui pintu keluar. Tampilannya keren. Aku lupa nama busnya apa. Pokoknya singkatan gitu. Ibu di dalam tadi keluar dan menghampiri bus. Rupanya beliau menunggu bus datang ke terminal karena setelah itu beliau pulang naik mobil brio.

Sebelum pulang beliau sempat berpamitan dan minta maaf karena agennya ditutup sementara kita masih duduk-duduk di depan. Ibunya juga bilang kalau online gitu dia nggak dapat ‘bagian’... Me be like... hmmm...

Setelah beberapa kali menghubungi pramugara bus M-Trans, petugas tampak mengalami kebingungan. Mereka meminta kami menunggu di pinggir jalan di masjid Baznas karena bilang tidak masuk terminal.

Lah, padahal kami sudah menunggu di terminal. Kalau kami harus ke masjid Baznas repot banget karena kami bawa koper-koper melewati jalan yang trotoarnya nggak proper. Dan itu butuh usaha banget. Ngga mungkin banget juga orang tua ini jalan kaki malam-malam bawa koper berat, lumayan jauh, rame mobil, jalanan jelek.

Karena bapak di dalam grup WA juga akhirnya ditelpon petugasnya. Intinya bapak minta di terminal aja dan menyarankan masuk dari pintu keluar terminal karena bus double deker ngga bisa masuk dari pintu masuk. Bus bisa nabrak jalur bus yang dibeton.

Sekitar pukul setengah 10 bus pun tiba dekat terminal Pilangsari. Pramugara bus menelepon bapak dan meminta bapak memandu bus masuk ke terminal. Haha. Ini lucu banget. Jadi bapak harus jalan keluar terminal dan menunggu di pinggir jalan untuk mencegat bus. Sepertinya ini pertama kalinya pramugara dan sopirnya masuk terminal.

Tiba di terminal, mereka memberi label pada koper-koper kami dan memasukkan ke dalam bagasi. Kami pun masuk ke dalam bus.

Rasanya naik bus sleeper tapi bukan seat sleeper?

Gimana rasanya naik bus sleeper tapi bukan seat sleeper? Ini review bus sleeper M-Trans ke Jakarta yang aku gunakan.

Pelayanan baik

Alhamdulillah pramugaranya juga baik pada penumpang. Tidak protes saat kami meminta datang ke terminal. Mereka juga menawarkan coffee break, memberikan snack, dan makanan kepada kami.

Desain interior elegan

Kami memasuki bus double dekker yang tampilannya keren itu. Jam menunjukkan pukul 10 malam, pramugara masih memasukkan koper ke bagasi. Ketika masuk melalui pintu masuk di tengah, sebuah pintu toilet tampak di depan kami.

Di sebelah kiri ada tangga kecil menuju ke dek atasSeat kami ada di sebelah kanan dari pintu masuk, dibatasi oleh pintu kaca berwarna hitam dengan desain yang elegan. Aku membukanya.

Desain interior yang keren (dok. Pribadi)


Ada 4 ruangan di dalamnya dipisah oleh koridor. Setiap ruangan diberi nama-nama Jawa. Dua ruang di kanan dan dua ruang di kiri. Satu ruangan untuk satu seat. Aku membuka salah satu pintu tapi sayangnya sedikit berat dan terlepas dari relnya. Untungnya, pintu itu tidak sampai jatuh mengenai kepalaku. Alhamdulillah tanpa harus memanggil petugas, pintu sudah bisa dipasang kembali.

Ibu memilih ruangan yang pintunya mudah digeser. Satu ruangan itu hanya muat untuk satu seat. Untuk berdiri susah karena diapit kursi dan televisi.

AC dingin sekali

Berjalan di koridor bus, AC bus diingiiinn. Jaket tebal zaman aku kuliah dulu masih cukup aku pakai untuk menghalau dingin. Di ruangan ini, sayangnya tidak ada pengaturan untuk mengurangi suhu ruangan. Di bagian atas seat, aku menutup lubang tempat keluar AC. Tapi itu masih dingiiiinnn.

Meski ada selimut, AC nya keluar dari atas kepalaku dan membuatku tidak bisa tidur. Akhirnya aku menutup seluruh tubuhku dengan kepala jaket selimut agar tidak terlalu dingin. Cara itu berhasil membuatku tidur sampai ngiler-ngiler. *eh

Nggak tahan AC. Dingin bangeettt (dok. Pribadi)

Tidak akan kelaparan

Sepertinya pihak bus M-Trans tidak ingin kami kelaparan tengah malam. Soalnya, saat aku masuk ruangan itu, aku dapat satu tas berisi snack yang beraneka ragam yang diletakkan di atas seat. Serius sih ini snack kesukaan anakku semua. Haha. Semua snack itu tidak aku makan sampai ke hotel dan bandara. Selain dapat snack, pramugara juga memberi kami satu kotak nasi KFC.

Jadi inget sesuatu. Mau makan kok gak tega. Nggak dimakan kok mubazir. Akhirnya dibiarkan sampai besok siang (dok pribadi) 


Karena aku sudah makan malam dan masih kenyang, snack dan nasi itu tidak aku makan. Sudah gitu, kami masih berhenti di rumah makan tengah malam setelah lepas dari Semarang.

Ruanganl

Menu resto cukup banyak

Kami berhenti di rumah makan setelah keluar dari Semarang. Di resto, variasi makanan cukup banyak. Kami mendapat kupon yang bisa ditukar dengan makanan. Selain makanan prasmanan, menu yang bisa dipilih seperti bakso atau soto.

Fasilitas keren

Kursinya sudah menggunakan model reclaining seat yang serba otomatis. Penumpang tinggal tekan tombolnya, kursi bisa tegak atau posisi tidur, tapi tidak sampai 180 derajat. Tempat kakinya juga bisa di setting naik dan turun. Keren banget. Aku agak udik maklum belum pernah naik bus gitu. Haha. Empuk juga.

Di dalamnya, pihak bus meminjamkan selimut yang sudah tersedia di kursi.

Di bagian atas seat, ada lemari kecil untuk menyimpan barang. Di dalamnya, ada sandal seperti sandal hotel. Lemari penuh diisi tas ranselku dan snack.

Pramugara menawarkan kopi dan teh yang disediakan di meja bagian belakang. Ada air panas juga. Mesti hati-hati saat mengambil air panas ketika bus sedang berjalan. Gelas berisi air panas bapak sempat tumpah saat bus tiba-tiba mengerem. Untung saja air panasnya tidak mengenai kulit tetapi membasahi koridor.

Kesan pertama baik bus sleeper 

Meskipun nggak dapat seat sleeper, tapi naik bus ini emang nyaman banget meskipun aku agak kedinginan, hehe. 

Ada satu lagi, karena naik bus double dekker dan seat kita di bagian dek bawah jadi menurutku terasa getaran bannya saat berjalan. Apalagi di tempat dudukku tepat di atas ban bus.

Dan lagi, karena di bagian bawah, aku tidak seperti naik bus yang lebih tinggi dari mobil-mobil. Pandangan kita jadi sama seperti mobil-mobil lainnya.

Read More
Setelah rumah ditinggal travelling dalam jangka waktu yang lama, tiba-tiba rayap menyerang beberapa bagian rumah. Apalagi setelah lelah bepergian, rasanya ingin segera membereskan semuanya dan kembali beristirahat.

Dalam kondisi seperti ini, kebanyakan kita cenderung terburu-buru mencari solusi tercepat seperti memilih layanan pertama yang muncul di pencarian atau yang menawarkan harga paling murah. Padahal, penanganan rayap yang asal-asalan sering berujung pada masalah yang sama muncul kembali beberapa bulan kemudian, dengan biaya tambahan yang justru lebih besar dari yang seharusnya.

Memilih penyedia layanan yang tepat sejak awal jauh lebih penting daripada sekadar mencari yang paling murah atau paling cepat merespons.

Memilih jasa basmi rayap

Kenapa Tidak Semua Penanganan Rayap Sama Efektifnya

Penanganan rayap yang benar butuh lebih dari sekadar menyemprotkan cairan ke area yang terlihat rusak. Metode yang tepat perlu disesuaikan dengan jenis rayap, tingkat serangan, dan kondisi bangunan mulai dari treatment tanah di sekitar pondasi untuk rayap tanah, hingga penanganan titik spesifik untuk rayap kayu kering.

Penyedia layanan yang tidak melakukan identifikasi menyeluruh sebelum bertindak biasanya hanya menangani gejala yang terlihat, bukan sumber masalah yang sebenarnya. Inilah kenapa memilih penyedia yang tepat jadi langkah krusial, bukan sekadar soal harga.

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Memilih

Beberapa pertimbangan berikut bisa membantu menilai apakah sebuah layanan benar-benar terpercaya:

  • Apakah ada inspeksi menyeluruh sebelum penanganan dimulai? Layanan yang baik biasanya melakukan pemeriksaan detail terlebih dahulu untuk memetakan area terdampak, bukan langsung menawarkan paket penanganan tanpa melihat kondisi rumah secara langsung.
  • Apakah metode yang digunakan dijelaskan dengan jelas? Penyedia yang kredibel biasanya bisa menjelaskan alasan di balik metode yang direkomendasikan, disesuaikan dengan jenis rayap dan kondisi bangunan.
  • Apakah ada garansi atas hasil penanganan? Garansi jadi indikator penting, karena menunjukkan penyedia layanan cukup yakin dengan metode yang mereka gunakan dan bersedia bertanggung jawab jika masalah muncul kembali dalam periode tertentu.
  • Bagaimana rekam jejak dan pengalaman mereka? Penyedia yang sudah lama beroperasi dan menangani berbagai jenis bangunan biasanya punya pemahaman yang lebih matang terhadap berbagai kasus, dibanding yang baru berdiri tanpa portofolio jelas.
  • Apakah bahan dan metode yang digunakan aman untuk penghuni rumah? Terutama penting untuk rumah dengan anak kecil, lansia, atau hewan peliharaan.

Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai

Selain mengetahui apa yang harus dicari, penting juga mengenali tanda-tanda yang sebaiknya membuat lebih berhati-hati:

  • Penawaran harga jauh di bawah pasaran tanpa penjelasan metode yang jelas, karena bisa jadi indikasi penanganan yang tidak menyeluruh.
  • Tidak ada proses inspeksi sama sekali sebelum penanganan langsung ditawarkan.
  • Tidak ada garansi tertulis atau garansi yang syaratnya terlalu rumit untuk dipahami.
  • Minim informasi tentang bahan yang digunakan, terutama soal keamanannya bagi penghuni rumah.

Bandingkan, Tapi Jangan Hanya Soal Harga

Wajar untuk membandingkan beberapa pilihan sebelum memutuskan, tapi perbandingan sebaiknya tidak berhenti di angka harga saja. Pertimbangkan juga cakupan garansi, kejelasan metode, dan pengalaman menangani kasus yang mirip dengan kondisi rumah sendiri. Harga yang sedikit lebih tinggi dengan penanganan yang tepat sejak awal biasanya jauh lebih hemat dibanding harga murah yang berujung pada penanganan berulang.

Untuk memastikan penanganan yang tepat sasaran dan bertanggung jawab, memilih jasa basmi rayap yang menawarkan inspeksi menyeluruh, metode yang jelas, dan garansi yang pasti jadi langkah awal yang jauh lebih aman dibanding sekadar memilih berdasarkan harga termurah.

Keputusan yang Tepat di Awal Menghemat Banyak Hal di Kemudian Hari

Memilih penyedia layanan penanganan rayap bukan keputusan yang sebaiknya diambil terburu-buru. Waktu yang diluangkan untuk membandingkan dan memastikan kredibilitas penyedia layanan di awal bisa menghemat biaya, waktu, dan kekhawatiran yang jauh lebih besar di masa depan.

Jadi, sebelum kembali menikmati perjalanan berikutnya, pastikan rumah sudah dalam kondisi aman dan bebas dari masalah rayap. Dengan begitu, saat tiba di rumah setelah travelling, kita bisa beristirahat dengan tenang tanpa harus dibuat pusing oleh kerusakan yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal.

Read More
Masih dalam rangka kemerdekaan RI, aku akan membahas kunjungan kami pergi ke museum 10 Nopember Surabaya di mana di dalamnya terdapat Monumen Tugu Pahlawan. Kunjungan ini bermula dari tugas sekolah anak kami yang harus mengunjungi museum-museum di Surabaya karena kebetulan hari itu hari libur dan ayahnya upacara, jadi kami langsung berangkat dari kantor ke Museum 10 Nopember Surabaya.

Monumen Tugu Surabaya

Hati-hati nyasar

Museum 10 Nopember ini berada di kompleks atau lingkungan yang sama dengan Monumen Tugu Pahlawan, tepatnya Jl. Pahlawan, Alun-alun Contong, Kec. Bubutan, Surabaya.

Ketika awal datang, aku sedikit bingung karena lokasi ini berada di tengah-tengah seperti alun-alun yang berbentuk persegi di tengah. Apalagi lalu lintas Surabaya yang kudu hati-hati karena ramai. Jadi saat berada di sekitar Monumen Tugu Pahlawan, mobil berjalan pelan dan melipir ke arah kanan. Aku juga mengikuti Google Maps agar tidak tersasar.

Lokasi Museum 10 Nopember berada di sebelah kanan jalan. Kami memasuki lokasi tersebut. Kami juga harus melewati lapangan Monumen Tugu Pahlawan. Di tengah terika matahari siang hari, kami berjalan melewati jalur jalan yang dibangun di pinggir lapangan. Panasnya maasyaAllah tapi alhamdulillah tidak menyurutkan langkah anak-anak kami.


Tiket Masuk Murah

Kami pun tiba di depan loket tiket. Beberapa pengunjung sibuk dengan ponselnya.

Hampir sama saat pergi ke Kampung Peneleh, pengunjung harus mengisi dulu formulir kunjungan yang ada di website. Kami pun memilih Museum 10 Nopember. Harga tiket juga tidak mahal kok yaitu sekitar 8 ribu rupiah.

Setelah memesan tiket, kami pun masuk ke ruangan museum. Museum 10 Nopember ini sebenarnya tidak terlalu besar tapi insyAllah ilmunya cukup bagiku dan anak-anak untuk mengenang kembali perjuangan para tabi’in.

Arek-arek Suroboyo Berjuang Tanpa Pamrih

Sebelum memasuki ruangan, kami harus melewat kolam ikan koi yang banyak itu. Kemudian saat masuk, kami disuguhkan dengan patung gelap para pahlawan yang membawa tombak melawan penjajah. Mereka gugur membela bangsa. Ada yang tersungkur. Ada yang duduk dengan kepala terkulai seolah tak bernyawa dan ada yang mengangkat senjata seolah mengekspresikan kebahagiaan melawan penjajah.

Di bagian pinggir gedung di bagian atas terdapat tulisan yang memiliki semangat Bhinneka Tunggal berisikan tentang tidak peduli agama maupun suku, asal bisa membantu melawan penjajah.


Seperti halnya museum pada umumnya, museum ini memberikan poster-poster besar bertuliskan sejarah kepahlawanan Arek-arek Surooboyo melawan penjajah. Tentu saja, bagiku ini membutuhkan waktu yang banyak untuk membaca dan menelusurinya. Karena aku membawa anak kecil yang tidak mungkin bisa berlama-lama, jadilah semua hanya kupintas kubaca.

Cuma dari sekian banyak kisah sejarah, ada satu cerita yang cukup menarik perhatian aku dan suami, yang selama ini aku kurang sadari, adalah para pejuang Arek-Arek Suroboyo dari para santri yang mengeluarkan Resolusi Djihad Fi-Sabilillah.

Naskah tersebut ditulis setelah dilakukan rapat besar wakil-wakil daerah Perhimpunan Nahdlatul Ulama seluruh Jawa-Madura tanggal 21-22 Oktober 1945 di Surabaya. Dalam naskah tersebut menyebutkan bahwa kehadiran NICA (Jepang) dan Belanda di NKRI telah membuat banyak sekali kejahatan dan kekejaman, yang melanggar kedaultan NKRI dan agama, bahkan Belanda kembali lagi untuk menjajah negeri ini meski telah memproklamirkan kemerdekaan dua bulan sebelumnya.

Dari rapat tersebut, mereka menyepakati bahwa mempertahankan NKRI menurut hukum Islam adalah kewajiban bagi umat Islam, apalagi sebagian besar warga negaranya adalah umat Islam.

Mereka juga menuntut pemerintah untuk segera menentukan sikap dan tindakan nyata serta melanjutkan perjuangan yang bersifat ‘sabilillah’ demi tegaknya NKRI dan agama Islam.

Tak hanya itu, dalam poster lain, seorang pemimpin revolusioner Bung Tomo dengan semangat menggebu-gebu melawan pasukan Inggris yang membantu pasukan Belanda pada pertempuran Surabaya 10 November 1945.

Saat kami sedang asyik melihat koleksi benda bersejarah, kami mendapat informasi bahwa di jam 11 kalau tidak salah, akan ada pemutaran film pendek tentang sejarah pertempuran Surabaya. Saat jam tiba, kami pun memasuki ruangan bioskop yang berbentuk ampitheater tapi tidak terlalu besar dan tinggi. Kami pun segera mencari tempat duduk di bagian agak belakang agar lebih tampak.

Dalam film tersebut menjelaskan Jenderal Mallaby dari pasukan Inggris terbunuh hingga memicu terjadi pertempuran November 1945. Banyak pejuang bangsa yang gugur hingga di tanggal 10 November selalu diperingati sebagai hari Pahlawan.

Sebelum keluar dari ruangan, sebuah papan panjang berlukiskan tubuh pejuang dan bangunan tua. Di bagian kepala pejuang tersebut dilubangi sehingga pengunjung bisa memasukkan kepala di lubang itu seolah-olah pengunjung adalah pejuang.

Tentu saja harus antri ya...


Menikmati Sensasi Naik Tank Seolah Berperang

Keluar dari museum, disambut matahari siang yang menyengat, anak-anak menikmati sensasi naik tank asliiii yang ada di dekat pintu keluar. Mereka menaiki tank dari dalam kemudian mengeluarkan tubuhnya dari lubang di bagian atas (nggak tahu namanya yaa). Mereka tampak saling berebut mencari tempat yang kosong dan bermain peran seolah sedang berperang melawan penjajah.


Setelah itu kami berfoto di area tugu pahlawan. Tanpa perlu berlama-laama karena mataharinya sangat nyentrong. Tidak kuat berlama-lama di tempat panas, aku memutuskan untuk segera masuk mobil karena panasnyaaa.

Mengajak Anak ke Museum?

Dalam momen memperingati hari kemerdekaan ini, perlulah sesekali ajak anak ke Museum dan menceritakan kembali perjuangan para pejuang, khususnya pejuang Islam, dalam menjaga negara dari penjajah.

Read More
Seringkali aku lewat Hotel Majapahit membuatku berdecak kagum sebab bangunan tua itu masih terawat dan difungsikan sampai saat ini. Tak pernah sekali pun aku terpikirkan bisa masuk ke hotel bintang 5 Surabaya ini. Hotel mewah di kota Surabaya ini dulunya menjadi saksi perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan. Pas banget yaa di bulan Agustus ini bulan kemerdekaan membahas Hotel Majapahit.

Aku bisa memasuki hotel berarsitektur kolonial ini karena bapak mertua sedang ada acara di sana dan menginap di sana. Kami, cucu-cucu yang ada di Surabaya, pun mendatangi kakek dan nenek mereka.

Rek Ayo Rek Mlaku-Mlaku Nang Tunjungan

Lokasi hotel Majapahit ini berada di jalan Tunjungan No 65, Genteng, Surabaya. Lokasi sepanjang jalan ini selalu ramai di malam hari karena banyak anak muda nongkrong dan berfoto di jalan yang terkenal dengan lagunya Rek Ayo Rek Mlaku-Mlaku Nang Tunjungan

Jadi kalau melewati jalan ini di malam minggu, siap-siap saja harus sabar karena macet maasyAllah. Mungkin akan kuceritakan terpisah kali ya. Sekarang masih harus fokus sama hotel dulu yaa...

Perjalanan kami melewati macet pun berakhir sudah. Kami berbelok ke arah hotel Majapahit yang diterangi dengan lampu temaram. Kami sempat bingung dimana pintu masuk untuk parkir mobil.

Di mana parkirnya?

Di lobby hotel yang tampak kolonial itu hanya untuk menurunkan penumpang. Mobil yang masuk ke area parkir hotel harus masuk melewati pintu parkir khusus mobil.

Jadi kalau dari pintu utama hotel jalan terus sedikit sampai bertemu tulisan parkir mobil atau masuk ke parkir hotel. Pintu masuk tidak terlalu besar karena masih berada di bangunan cagar budaya. Jadi hanya seperti pintu garasi rumah tua yang terbuka. Jika tidak ada tulisan atau petugas hotel mungkin kami akan tersesat.

Kami seperti memasuki gedung bawah tanah kemudian beberapa detik keluar dari bangunan dan melewati jalan diantara dinding tinggi dan bertemu dengan gedung hotel yang keren maasyaAllah. Kami pun mencari parkir yang juga masih membuat kami bingung di mana mau parkir. Secara, tempatnya tidak seperti parkir mobil pada umumnya. Kami mencari garis-garis parkir mobil yang kosong.

Dari Insiden Perobekan Bendera Belanda Hingga  Hotel Majapahit

Sebelum memulai tur, aku akan jelaskan sejarah hotel Majapahit. Hotel Majapahit ini dibangun sejak tahun 1910-an oleh Lucas Martin Sarkies asal Armenia dengan arsitek James Apfrey. Pertama kali dibangun, hotel ini bernama Hotel Oranje.

Hingga tahun 1942, tepatnya saat penjajahan Jepang, hotel ini kemudian berganti nama menjadi Hotel Yamato yang digunakan menjadi markas tentara Jepang.

Hotel ini menjadi terkenal karena tragedi perobekan bendera yang dikenal dengan Insiden Hotel Yamato. Sejarah ini cukup panjang, tapi aku menceritakan sekilas aja.

Di awal September 1945 terjadi Gerakan Pengibaran Bendera Merah Putih termasuk juga di Surabaya. Ternyata 300an tahun menjajah Indonesia, Belanda belum bisa move on. Mereka kembali ke Indonesia ini menimbulkan kekacauan. Mereka mengibarkan bendera Belanda di Hotel Yamato.

Jelas saja para pemuda Indonesia marah seolah mereka ingin kembali menguasai Indonesia. Sempat terjadi pertikaian di lobi hotel karena perundingan dengan Belanda untuk menurunkan bendera gagal. Kekacauan yang terjadi ini membuat pemuda di luar hotel pun bergerak masuk ke dalam hotel hingga terjadi pertikaian yang lebih besar. Mereka, tepatnya Hariyono dan Kusno Wibowo, merebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda, merobek bagian berwarna biru dan menaikkan kembali bendera merah putih. Pekik Merdeka terdengar dari bawah hotel ketika bendera merah putih berkibar kembali.

Oiya, hotel ini berubah menjadi Hotel Majapahit sekitar tahun 1969 setelah administrasinya diambil oleh Mantrust Holdings Co. Kemudian di tahun 1994, hotel ini direnovasi oleh pengusaha Tionghoa, Harry Susilo, sebesar $51 juta. Total kamar ini 143 kamar di lantai satu dan dua.

Tur Singkat Hotel Majapahit

Kami memasuki hotel Majapahit dari parkiran mobil memang agak membingungkan karena kami tidak bisa menebak di bagian mana lobi hotelnya. Kami memasuki Hall yang di dalamnya banyak ruangan tempat acara.

Secara sekilas, ruangan tempat acara ini masih seperti ruangan lainnya. Belum tampak bangunan khas kolonial. Kemudian aku, suami dan anak-anak ketemu uti dan akungnya anak-anak. Setelah sapa dan salim, kami mengikuti beliau.

Taman Luas

Kami berjalan di sepanjang koridor hotel, kemudian tiba di sebuah taman terbuka di mana ada pepohonan besar di tengahnya. Taman itu dikeliling oleh kamar-kamar hotel yang banyak. Lampu remang-remang dan suasana yang sepi di malam hari bikin aku antara terkesima karena bangunannya yang kolonial sekali dan bikin bergidik. Hehe.

Hotel Berarsitektur Kolonial Surabaya
Taman Hotel difoto dari Atas (dok. Pribadi)

Ada beberapa kursi dan meja berwarna putih di pinggir taman untuk bercengkerama.

Aku merasa sepertinya yang menginap di sini hanya mertuaku saja wkwkwk. Tak ada tamu hotel lain yang kami temui. Hehe.

Dari taman yang luas ini, kita bisa melihat gedung Tunjungan Plaza yang tinggi dengan lampu-lampunya yang berkela-kelip.

Kamar Hotel Luas

Kami memasuki kamar hotel mengikuti adik ipar dan mertua yang berjalan di depan. Aku tidak mau ketinggalan karena agak-agak gimana gitu kan. Hehe. Anak-anakku mengikuti di depan. Syukurlah mereka tidak merasakan hawa yang aneh-aneh.

Kamar hotel bintang 5 surabaya
Kamar Hotel Majapahit (dok. Pribadi)

Kamar hotel, yang aku juga tidak tahu tipe apa, termasuk luas. Di dalamnya ada ruang tamu dengan sofa, ruang tidur dan kamar mandi. Lukisan hitam putih zaman dulu terpampang di dinding kamar hotel. Salah satu lukisan itu digambar oleh Taylor berdasarkan foto dari orang Prancis M. Cotteau.

Koridor hotel yang panjang

Anak-anakku senang berlarian di koridor hotel yang panjang, menyalurkan energi mereka tanpa merasa takut dengan vibe-vibe mistis yang selama ini diperbincangkan. Mungkin hati mereka masih bersih belum pernah mendengar cerita mistis apa pun, maka keberanian lebih menguasai diri mereka. Coba kalau sekarang mereka diminta ke sana lagi, setelah berkali-kali mendengar cerita horor, apakah mereka masih berani?

Koridor Hotel Majapahit
Koridor Hotel Majapahit (dok. Pribadi)

Aku sendiri merasa ngeri sendiri mereka berlarian. Sebenarnya lebih takut mereka kalau jatuh sih. Haha. Suara tangisannya bisa terdengar satu hotel. Sebenarnya takut juga kalau mengganggu tamu hotel lainnya dan penghuni-penghuni tak kasat mata lainnya. Wkwkwkwk.

Ruangan Santai

Aku, suami, anak-anak mencoba keliling hotel. Si kecil kami dorong pakai stroller. Kami memasuki ruangan di mana awalnya tak ada orang selain kami. 

Aku juga kurang paham ini ruangan apa. Sepertinya ruangan ini digunakan untuk duduk bersantai, tempat mengobrol dengan tamu hotel atau keluarga.

Beberapa kursi dan meja kayu model zaman dulu diletakkan dekat dinding. Lampu gantung klasik berwarna hitam juga menambah kesan klasik yang kuat. Kipas angin gantung pun dibuat selaras dengan model klasik.

Desain bangunan masih klasik. Pintu kacanya pun berbentuk melingkar di bagian atas, begitu juga tiap jendelanya. Di dinding-dinding tergantung hiasan baik vas bunga kecil maupun keramik. kebanyakan benda-benda jadul seperti teko jadul, lampu teplok, jam jadul, tempat gantung baju klasik. Ada juga sangkar burung kosong yang cukup besar dan klasik di letakkan di pinggir ruangan.

Kalau ke ruangan ini memang lebih baik kalau rame jangan sendirian wkwkw kecuali kalian emang berani dan biasa sendiri di tempat klasik-klasik begini.

Bingkai-bingkai foto tampak hitam putih mungkin menjelaskan tentang kehidupan zaman dulu cukup banyak memenuhi dinding-dinding ruangan. Aku tak sempat melihat tentang apa saja.

Ruangan di Hotel Majapahit
Ruangan Santai (dok. Pribadi)

Aku sedikit merasa lega ketika ada beberapa tamu hotel lain yang melewati ruangan ini kemudian keluar lagi. Rata-rata tamu hotel itu adalah turis mancanegara yang ditemani oleh tur guide atau mungkin pasangan hidup mereka. Aku sempat mendengar percakapan mereka dalam bahasa Prancis yang sepertinya mereka adalah turis dan tur guide.

Lobi Hotel

Lobi hotel yang banyak kacanya ini tampak lebih mewah, lebih terang, lebih dingin, lebih ramai, tapi tetap tenang. Seorang resepsionis berdiri di balik mejanya. Beberapa tempat duduk kayu cokelat diisi sebagian tamu hotel yang sedang mengobrol. Vibe di lobi hotel ini tidak se-creepy ruangan santai tadi. Masih ada suara-suara manusia yang mengobrol. Hahaha.

Hotel Majapahit Surabaya
Lobi hotel (dok. Pribadi)

Musholla dan Toilet

Jika tidak menginap di hotel ini, pengunjung (mungkin untuk seminar atau apa pun) bisa menggunakan mushola dan toilet yang sudah disediakan. Ketika aku mencoba membuka mushollanya, gelaapp dan tidak tampak seperti musholla. Sedangkan toiletnya masih terang.

Tempat Perobekan Bendera

Kami naik ke lantai atas dimana insiden perobekan bendera dulu terjadi. Kami menaiki tangga kayu yang kalau berjalan terdengar suara langkah kaki kami. Di dekat tangga pun ada cermin besar jadi kami akan tahu siapa yang berjalan di depan dan belakang kami. Lampu gantung cukup menerangi tangga menuju lantai atas ini.

Di atas, ada jembatan yang menghubungkan ke ruang terbuka sebelum menuju tempat insiden perobekan bendera itu yang terang itu. Jadi kalau mau ke tempat pengibaran bendera itu, kita harus naik ke atas lagi. 

Insiden hotel Yamamato
Tempat Perobekan Bendera Belanda (dok. Pribadi)

Di tempat kami berdiri, lampunya sedang mati tapi masih terbantu dengan lampu-lampu dari gedung Tunjungan Plaza yang terang. Di dekat jembatan itu ada jam jadul. Di bagian bawahnya jendela kaca yang khas zaman dulu, ada kaca patrinya. Dari atas jembatan kita bisa melihat taman yang ada di bawah dan arcade-arcade hotel. Façade bangunan arcade ini mirip sekali dengan bangunan Museum Pos Indonesia Bandung.

Siapa yang mau menginap di sini?

Sebenarnya kalau siang hari, hotel ini terasa tampak seperti hotel lainnya. Tapi kalau malam hari, maasyaAllah kerasa banget apalagi kalau sepi. Haha. Kalau misa ada tawaran menginap di hotel ini mau nggak?

Aku sih mau-mau ajaa. Tapi kayaknya bakal sering di luar kamar hihihi. Kalau pun di dalam kamar, kudu sering dibuat mengaji, sholat dan tidur dengan cepat. Wkwkwk.
Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower