Gimana ceritanya naik bus sleeper tapi tidak ambil seat sleeper? Sayang banget nggak sih? Apalagi kalau belum pernah naik bus sleeper. Di awal bulan Juli, aku dan kedua orang tua berangkat ke Jakarta dari Sragen. Pertimbangan memilih transportasi rute Sragen-Jakarta ternyata cukup drama juga dan membuat puyeng.
Pertimbangan Memilih Bus Sleeper Rute Sragen-Jakarta
Sragen ini kota kecil di Jawa Tengah sebelum Solo (kalau dari Jatim). Tidak semua bus sleeper berangkat dari Sragen. Rata-rata berangkat dari Solo, sementara kalau berangkat dari Solo ribet banget, kecuali kalau dianter keluarga. Kita nggak mau ngerepotin keluarga. Jadi kami cari bus yang nyaman untuk lansia. Aku merekomendasikan pada orang tua untuk naik bus sleeper saja.
Kenapa?
Karena tiket kereta cukup mahal. Kalau naik kereta pun dari Sragen jadwalnya kurang cocok. Keretanya ekonomi premium yang harganya kurang lebih sama bus. Stasiun terakhir pun masih jauh dari Bandara Soekarno Hatta. Kalau kereta eksekutif, lebih mahal lagiii dan berangkat dari Solo.
Kalau naik bus sleeper, orang tua nggak capek di jalan, tinggal tidur udah nyampe Jakarta hehe. Dan masalah lainnya sebenarnya adalah tulang ekorku yang tidak bisa duduk lama. Iya, aku pernah jatuh waktu ngejar bus di Paris dulu sampai aku tidak bisa duduk saat kuliah. Sudah sejak akhir tahun 2012, tapi sampai sekarang tulang ekorku sakit dan tidak bisa duduk berjam-jam.
Selain itu, naik bus bisa mencari lokasi pemberhentian bus yang dekat dengan bandara. Masalahnya lagi, ternyata naik bus sleeper dari Sragen itu tidak banyak. Aku mencoba mencari di Traveloka. Bus sleeper hanya sedikit. Terus kurang meyakinkan.
Aku pun menginstal aplikasi RedBus, aplikasi khusus untuk mencari bus. Ternyata di aplikasi RedBus, pilihan bus sleeper lebih banyak. Aku juga bisa memilih jam berangkat dan lokasi pemberhentian terakhir.
Aku juga mengirimi video-video review bus sleeper Sragen-Jakarta di Instagram atau Youtube ke bapak. Beberapa pilihan bus sleeper dari Sragen ke Jakarta yang aku tahu adalah bus Agra Mas, Garuda Mas, Berlian Jaya atau Tunas Muda. Tapi untuk AgraMas ini berangkat dari Solo, jadi kami skip dulu.
Tapi setelah dilihat-lihat kok sepertinya seat sleeper-nya seperti kursi bus yang digabung jadi satu ya? Kita tetap bisa rebahan tapi bertingkat, seperti kamar asrama, ada yang di atas dan di bawah. Mungkin ortu hanya bisa di bagian bawah, kan ngga mungkin orang tua manjat-manjat ke seat atas. Kalau bus sleeper ini cocok untuk gen-Z. Ruangnya jadi terbatas juga. Tampak penuh dan sesak. Hmm...tapi kalau aku sih nggak masalah. Kalau ortu kan gimana ya...
 |
| Bus Sleeper M-Trans saat istirahat makan (dok. Pribadi) |
Aku pun mengirimi tampilan video atau foto bus sleeper.
Tak ada tanggapan sih.
Terus pilihan kita jatuh pada M-Trans. Aku coba telusuri dari websitenya dan menghubungi kontaknya. Ternyata bus double deeker cuma ada 2 seat sleeper dan tersisa 1 seat. Lah, siapa yang mau duduk di seat sleeper sendiri. Ibu nggak mungkin lah. Kalau pun bapak duduk di seat sleeper, aku dan ibu duduk di seat standar. Duh.. kebayang tulang ekorku.
Dan seat sleeper M-Trans ini ada di lantai dua bagian depan benar-benar menghadap kaca bus besar. Karena bus double decker, aku tanyakan ke bapak, “Emang kalau di atas terus ngelihat jalanan langsung gitu nggak pusing?”
Jawaban bapak, “Dulu pernah naik double decker, iya kerasa pusing.”
Lah! Ya udah akhirnya kami tidak jadi ambil sleeper. Hahaha.
Pas aku cari bus Garuda Mas, tipe kursinya seperti captain seat, tampak nyaman. Cuma kurang informasi aja, aku nggak yakin. Kadang ya di foto tampak keren, di dunia nyata bikin kecewa, hehe.
Aku menghubungi kontak M-Trans lagi. Yang sisa masih 1 seat sleeper. Pas chat ini pun aku juga bingung soalnya tipe bus banyak. Yang aku cari beda sama yang dishare adminnya. Satu kekhawatiranku ya ituuu antara foto dan kenyataan beda. Hehehe.
Cuma karena aku sudah bilang bus dari sragen ke Jakarta, di tanggal 1 Juli, jadi admin udah ngasih video yang berangkat di tanggal itu. Ya iyalaahh. Wkwkwkwk. Admin share video 4 seat di lantai bawah yang masih kosong. Harganya sama seperti seat sleeper 410rb. Awalnya aku nggak terima, masak sleeper sama non-sleeper juga sama harganya.
Memang seat ini 1-1 dan itu di dalam ruangan khusus. Ada pintunya jadi sangat privasi. Kita nggak bisa ngobrol kanan-kiri, hehe. Jadi bisa istirahat.
Setelah aku tunjukkan videonya, bapak milih seat ‘seperti itu’ (entahlah aku juga nggak tahu nama seatnya apa, karena adminnya cuma bilang ‘seat seperti itu’ hehe)
Sebelum kehabisan, aku segera booking lewat aplikasi M-Trans Connect dua pekan sebelum keberangkatan. Kudu gercep pokoknya. Soalnya sepusing itu pilih transportasi.
Menunggu Kedatangan Bus Sleeper M-Trans
Aku kira berkaitan komunikasi dengan penumpang akan dihubungi pramugaranya, ternyata penumpang yang sudah memesan tiket bus M-Trans dimasukkan ke dalam grup penumpang bus M-Trans, khusus yang berangkat hari itu di jam itu. Kaget juga sih, baru kali ini ada grup WA-nya, hehe. Maklum udah lama nggak naik transportasi umum jarak jauh.
Di grup pun diumumkan kalau bus akan terlambat 1 jam karena katanya sedang dilas. Waduh, pikiran udah kemana-mana. Apanya yang dilas coba, wkwkwk. Tapi yaudah lah...
Aslinya di tiket itu diminta untuk tiba di terminal Pilangsari Sragen jam 6 sore. Karena terlambat 1 jam jadi jam kami rencana datang 7 malam.
Di grup sudah ramai dengan chat penumpang karena sudah ada yang menunggu setengah jam sampai satu jam tapi bus belum datang. Bus pun baru berangkat dari titik awal keberangkatan yaitu Ponorogo jam set 7an malam. Menurut perhitungan, bus akan tiba di Sragen kira-kira 3 jam lagi.
Tapi untungnya karena masuk dalam grup aku jadi tahu lokasi terkini bus di mana. Bapak juga masuk dalam grup (ibu tidak).
Kami pun tiba di terminal sekitar pukul setengah 9 malam. Aku menunggu di depan agen yang ada spanduk M-Trans. Aku bertanya kepada petugas yang ada di agen itu (agen dari banyak bus) tentang lokasi agen M-Trans. Dia malah bertanya balik dengan nada yang agak ‘membuatku terkejut’ dan membatin, “Wah salah tanya deh aku.” Karena aku beli online dia jawab tunggu aja atau telpon petugasnya aja.
Yaudah aku duduk saja di depan tokonya karena ada spanduk M-Trans.
Sambil menunggu bus, beberapa bus malam tingkat masuk ke terminal melalui pintu keluar. Tampilannya keren. Aku lupa nama busnya apa. Pokoknya singkatan gitu. Ibu di dalam tadi keluar dan menghampiri bus. Rupanya beliau menunggu bus datang ke terminal karena setelah itu beliau pulang naik mobil brio.
Sebelum pulang beliau sempat berpamitan dan minta maaf karena agennya ditutup sementara kita masih duduk-duduk di depan. Ibunya juga bilang kalau online gitu dia nggak dapat ‘bagian’... Me be like... hmmm...
Setelah beberapa kali menghubungi pramugara bus M-Trans, petugas tampak mengalami kebingungan. Mereka meminta kami menunggu di pinggir jalan di masjid Baznas karena bilang tidak masuk terminal.
Lah, padahal kami sudah menunggu di terminal. Kalau kami harus ke masjid Baznas repot banget karena kami bawa koper-koper melewati jalan yang trotoarnya nggak proper. Dan itu butuh usaha banget. Ngga mungkin banget juga orang tua ini jalan kaki malam-malam bawa koper berat, lumayan jauh, rame mobil, jalanan jelek.
Karena bapak di dalam grup WA juga akhirnya ditelpon petugasnya. Intinya bapak minta di terminal aja dan menyarankan masuk dari pintu keluar terminal karena bus double deker ngga bisa masuk dari pintu masuk. Bus bisa nabrak jalur bus yang dibeton.
Sekitar pukul setengah 10 bus pun tiba dekat terminal Pilangsari. Pramugara bus menelepon bapak dan meminta bapak memandu bus masuk ke terminal. Haha. Ini lucu banget. Jadi bapak harus jalan keluar terminal dan menunggu di pinggir jalan untuk mencegat bus. Sepertinya ini pertama kalinya pramugara dan sopirnya masuk terminal.
Tiba di terminal, mereka memberi label pada koper-koper kami dan memasukkan ke dalam bagasi. Kami pun masuk ke dalam bus.
Rasanya naik bus sleeper tapi bukan seat sleeper?
Gimana rasanya naik bus sleeper tapi bukan seat sleeper? Ini review bus sleeper M-Trans ke Jakarta yang aku gunakan.
Pelayanan baik
Alhamdulillah pramugaranya juga baik pada penumpang. Tidak protes saat kami meminta datang ke terminal. Mereka juga menawarkan coffee break, memberikan snack, dan makanan kepada kami.
Desain interior elegan
Kami memasuki bus double dekker yang tampilannya keren itu. Jam menunjukkan pukul 10 malam, pramugara masih memasukkan koper ke bagasi. Ketika masuk melalui pintu masuk di tengah, sebuah pintu toilet tampak di depan kami.
Di sebelah kiri ada tangga kecil menuju ke dek atasSeat kami ada di sebelah kanan dari pintu masuk, dibatasi oleh pintu kaca berwarna hitam dengan desain yang elegan. Aku membukanya.
 |
Desain interior yang keren (dok. Pribadi)
|
Ada 4 ruangan di dalamnya dipisah oleh koridor. Setiap ruangan diberi nama-nama Jawa. Dua ruang di kanan dan dua ruang di kiri. Satu ruangan untuk satu seat. Aku membuka salah satu pintu tapi sayangnya sedikit berat dan terlepas dari relnya. Untungnya, pintu itu tidak sampai jatuh mengenai kepalaku. Alhamdulillah tanpa harus memanggil petugas, pintu sudah bisa dipasang kembali.
Ibu memilih ruangan yang pintunya mudah digeser. Satu ruangan itu hanya muat untuk satu seat. Untuk berdiri susah karena diapit kursi dan televisi.
AC dingin sekali
Berjalan di koridor bus, AC bus diingiiinn. Jaket tebal zaman aku kuliah dulu masih cukup aku pakai untuk menghalau dingin. Di ruangan ini, sayangnya tidak ada pengaturan untuk mengurangi suhu ruangan. Di bagian atas seat, aku menutup lubang tempat keluar AC. Tapi itu masih dingiiiinnn.
Meski ada selimut, AC nya keluar dari atas kepalaku dan membuatku tidak bisa tidur. Akhirnya aku menutup seluruh tubuhku dengan kepala jaket selimut agar tidak terlalu dingin. Cara itu berhasil membuatku tidur sampai ngiler-ngiler. *eh
 |
| Nggak tahan AC. Dingin bangeettt (dok. Pribadi) |
Tidak akan kelaparan
Sepertinya pihak bus M-Trans tidak ingin kami kelaparan tengah malam. Soalnya, saat aku masuk ruangan itu, aku dapat satu tas berisi snack yang beraneka ragam yang diletakkan di atas seat. Serius sih ini snack kesukaan anakku semua. Haha. Semua snack itu tidak aku makan sampai ke hotel dan bandara. Selain dapat snack, pramugara juga memberi kami satu kotak nasi KFC.
 |
| Jadi inget sesuatu. Mau makan kok gak tega. Nggak dimakan kok mubazir. Akhirnya dibiarkan sampai besok siang (dok pribadi) |
Karena aku sudah makan malam dan masih kenyang, snack dan nasi itu tidak aku makan. Sudah gitu, kami masih berhenti di rumah makan tengah malam setelah lepas dari Semarang.
 |
| Ruanganl |
Menu resto cukup banyak
Kami berhenti di rumah makan setelah keluar dari Semarang. Di resto, variasi makanan cukup banyak. Kami mendapat kupon yang bisa ditukar dengan makanan. Selain makanan prasmanan, menu yang bisa dipilih seperti bakso atau soto.
Fasilitas keren
Kursinya sudah menggunakan model reclaining seat yang serba otomatis. Penumpang tinggal tekan tombolnya, kursi bisa tegak atau posisi tidur, tapi tidak sampai 180 derajat. Tempat kakinya juga bisa di setting naik dan turun. Keren banget. Aku agak udik maklum belum pernah naik bus gitu. Haha. Empuk juga.
Di dalamnya, pihak bus meminjamkan selimut yang sudah tersedia di kursi.
Di bagian atas seat, ada lemari kecil untuk menyimpan barang. Di dalamnya, ada sandal seperti sandal hotel. Lemari penuh diisi tas ranselku dan snack.
Pramugara menawarkan kopi dan teh yang disediakan di meja bagian belakang. Ada air panas juga. Mesti hati-hati saat mengambil air panas ketika bus sedang berjalan. Gelas berisi air panas bapak sempat tumpah saat bus tiba-tiba mengerem. Untung saja air panasnya tidak mengenai kulit tetapi membasahi koridor.
Kesan pertama baik bus sleeper
Meskipun nggak dapat seat sleeper, tapi naik bus ini emang nyaman banget meskipun aku agak kedinginan, hehe.
Ada satu lagi, karena naik bus double dekker dan seat kita di bagian dek bawah jadi menurutku terasa getaran bannya saat berjalan. Apalagi di tempat dudukku tepat di atas ban bus.
Dan lagi, karena di bagian bawah, aku tidak seperti naik bus yang lebih tinggi dari mobil-mobil. Pandangan kita jadi sama seperti mobil-mobil lainnya.