Hotel Majapahit
Hotel Majapahit (dok. Pribadi)

Seringkali aku lewat Hotel Majapahit membuatku berdecak kagum sebab bangunan tua itu masih terawat dan difungsikan sampai saat ini. Tak pernah sekali pun aku terpikirkan bisa masuk ke hotel bintang 5 Surabaya ini. Hotel mewah di kota Surabaya ini dulunya menjadi saksi perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan. Pas banget yaa di bulan Agustus ini bulan kemerdekaan membahas Hotel Majapahit.

Aku bisa memasuki hotel berarsitektur kolonial ini karena bapak mertua sedang ada acara di sana dan menginap di sana. Kami, cucu-cucu yang ada di Surabaya, pun mendatangi kakek dan nenek mereka.

Rek Ayo Rek Mlaku-Mlaku Nang Tunjungan

Lokasi hotel Majapahit ini berada di jalan Tunjungan No 65, Genteng, Surabaya. Lokasi sepanjang jalan ini selalu ramai di malam hari karena banyak anak muda nongkrong dan berfoto di jalan yang terkenal dengan lagunya Rek Ayo Rek Mlaku-Mlaku Nang Tunjungan

Jadi kalau melewati jalan ini di malam minggu, siap-siap saja harus sabar karena macet maasyAllah. Mungkin akan kuceritakan terpisah kali ya. Sekarang masih harus fokus sama hotel dulu yaa...

Perjalanan kami melewati macet pun berakhir sudah. Kami berbelok ke arah hotel Majapahit yang diterangi dengan lampu temaram. Kami sempat bingung dimana pintu masuk untuk parkir mobil.

Di mana parkirnya?

Di lobby hotel yang tampak kolonial itu hanya untuk menurunkan penumpang. Mobil yang masuk ke area parkir hotel harus masuk melewati pintu parkir khusus mobil.

Jadi kalau dari pintu utama hotel jalan terus sedikit sampai bertemu tulisan parkir mobil atau masuk ke parkir hotel. Pintu masuk tidak terlalu besar karena masih berada di bangunan cagar budaya. Jadi hanya seperti pintu garasi rumah tua yang terbuka. Jika tidak ada tulisan atau petugas hotel mungkin kami akan tersesat.

Kami seperti memasuki gedung bawah tanah kemudian beberapa detik keluar dari bangunan dan melewati jalan diantara dinding tinggi dan bertemu dengan gedung hotel yang keren maasyaAllah. Kami pun mencari parkir yang juga masih membuat kami bingung di mana mau parkir. Secara, tempatnya tidak seperti parkir mobil pada umumnya. Kami mencari garis-garis parkir mobil yang kosong.

Dari Insiden Perobekan Bendera Belanda Hingga  Hotel Majapahit

Sebelum memulai tur, aku akan jelaskan sejarah hotel Majapahit. Hotel Majapahit ini dibangun sejak tahun 1910-an oleh Lucas Martin Sarkies asal Armenia dengan arsitek James Apfrey. Pertama kali dibangun, hotel ini bernama Hotel Oranje.

Hingga tahun 1942, tepatnya saat penjajahan Jepang, hotel ini kemudian berganti nama menjadi Hotel Yamato yang digunakan menjadi markas tentara Jepang.

Hotel ini menjadi terkenal karena tragedi perobekan bendera yang dikenal dengan Insiden Hotel Yamato. Sejarah ini cukup panjang, tapi aku menceritakan sekilas aja.

Di awal September 1945 terjadi Gerakan Pengibaran Bendera Merah Putih termasuk juga di Surabaya. Ternyata 300an tahun menjajah Indonesia, Belanda belum bisa move on. Mereka kembali ke Indonesia ini menimbulkan kekacauan. Mereka mengibarkan bendera Belanda di Hotel Yamato.

Jelas saja para pemuda Indonesia marah seolah mereka ingin kembali menguasai Indonesia. Sempat terjadi pertikaian di lobi hotel karena perundingan dengan Belanda untuk menurunkan bendera gagal. Kekacauan yang terjadi ini membuat pemuda di luar hotel pun bergerak masuk ke dalam hotel hingga terjadi pertikaian yang lebih besar. Mereka, tepatnya Hariyono dan Kusno Wibowo, merebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda, merobek bagian berwarna biru dan menaikkan kembali bendera merah putih. Pekik Merdeka terdengar dari bawah hotel ketika bendera merah putih berkibar kembali.

Oiya, hotel ini berubah menjadi Hotel Majapahit sekitar tahun 1969 setelah administrasinya diambil oleh Mantrust Holdings Co. Kemudian di tahun 1994, hotel ini direnovasi oleh pengusaha Tionghoa, Harry Susilo, sebesar $51 juta. Total kamar ini 143 kamar di lantai satu dan dua.

Tur Singkat Hotel Majapahit

Kami memasuki hotel Majapahit dari parkiran mobil memang agak membingungkan karena kami tidak bisa menebak di bagian mana lobi hotelnya. Kami memasuki Hall yang di dalamnya banyak ruangan tempat acara.

Secara sekilas, ruangan tempat acara ini masih seperti ruangan lainnya. Belum tampak bangunan khas kolonial. Kemudian aku, suami dan anak-anak ketemu uti dan akungnya anak-anak. Setelah sapa dan salim, kami mengikuti beliau.

Taman Luas

Kami berjalan di sepanjang koridor hotel, kemudian tiba di sebuah taman terbuka di mana ada pepohonan besar di tengahnya. Taman itu dikeliling oleh kamar-kamar hotel yang banyak. Lampu remang-remang dan suasana yang sepi di malam hari bikin aku antara terkesima karena bangunannya yang kolonial sekali dan bikin bergidik. Hehe.

Hotel Berarsitektur Kolonial Surabaya
Taman Hotel difoto dari Atas (dok. Pribadi)

Ada beberapa kursi dan meja berwarna putih di pinggir taman untuk bercengkerama.

Aku merasa sepertinya yang menginap di sini hanya mertuaku saja wkwkwk. Tak ada tamu hotel lain yang kami temui. Hehe.

Dari taman yang luas ini, kita bisa melihat gedung Tunjungan Plaza yang tinggi dengan lampu-lampunya yang berkela-kelip.

Kamar Hotel Luas

Kami memasuki kamar hotel mengikuti adik ipar dan mertua yang berjalan di depan. Aku tidak mau ketinggalan karena agak-agak gimana gitu kan. Hehe. Anak-anakku mengikuti di depan. Syukurlah mereka tidak merasakan hawa yang aneh-aneh.

Kamar hotel bintang 5 surabaya
Kamar Hotel Majapahit (dok. Pribadi)

Kamar hotel, yang aku juga tidak tahu tipe apa, termasuk luas. Di dalamnya ada ruang tamu dengan sofa, ruang tidur dan kamar mandi. Lukisan hitam putih zaman dulu terpampang di dinding kamar hotel. Salah satu lukisan itu digambar oleh Taylor berdasarkan foto dari orang Prancis M. Cotteau.

Koridor hotel yang panjang

Anak-anakku senang berlarian di koridor hotel yang panjang, menyalurkan energi mereka tanpa merasa takut dengan vibe-vibe mistis yang selama ini diperbincangkan. Mungkin hati mereka masih bersih belum pernah mendengar cerita mistis apa pun, maka keberanian lebih menguasai diri mereka. Coba kalau sekarang mereka diminta ke sana lagi, setelah berkali-kali mendengar cerita horor, apakah mereka masih berani?

Koridor Hotel Majapahit
Koridor Hotel Majapahit (dok. Pribadi)

Aku sendiri merasa ngeri sendiri mereka berlarian. Sebenarnya lebih takut mereka kalau jatuh sih. Haha. Suara tangisannya bisa terdengar satu hotel. Sebenarnya takut juga kalau mengganggu tamu hotel lainnya dan penghuni-penghuni tak kasat mata lainnya. Wkwkwkwk.

Ruangan Santai

Aku, suami, anak-anak mencoba keliling hotel. Si kecil kami dorong pakai stroller. Kami memasuki ruangan di mana awalnya tak ada orang selain kami. 

Aku juga kurang paham ini ruangan apa. Sepertinya ruangan ini digunakan untuk duduk bersantai, tempat mengobrol dengan tamu hotel atau keluarga.

Beberapa kursi dan meja kayu model zaman dulu diletakkan dekat dinding. Lampu gantung klasik berwarna hitam juga menambah kesan klasik yang kuat. Kipas angin gantung pun dibuat selaras dengan model klasik.

Desain bangunan masih klasik. Pintu kacanya pun berbentuk melingkar di bagian atas, begitu juga tiap jendelanya. Di dinding-dinding tergantung hiasan baik vas bunga kecil maupun keramik. kebanyakan benda-benda jadul seperti teko jadul, lampu teplok, jam jadul, tempat gantung baju klasik. Ada juga sangkar burung kosong yang cukup besar dan klasik di letakkan di pinggir ruangan.

Kalau ke ruangan ini memang lebih baik kalau rame jangan sendirian wkwkw kecuali kalian emang berani dan biasa sendiri di tempat klasik-klasik begini.

Bingkai-bingkai foto tampak hitam putih mungkin menjelaskan tentang kehidupan zaman dulu cukup banyak memenuhi dinding-dinding ruangan. Aku tak sempat melihat tentang apa saja.

Ruangan di Hotel Majapahit
Ruangan Santai (dok. Pribadi)

Aku sedikit merasa lega ketika ada beberapa tamu hotel lain yang melewati ruangan ini kemudian keluar lagi. Rata-rata tamu hotel itu adalah turis mancanegara yang ditemani oleh tur guide atau mungkin pasangan hidup mereka. Aku sempat mendengar percakapan mereka dalam bahasa Prancis yang sepertinya mereka adalah turis dan tur guide.

Lobi Hotel

Lobi hotel yang banyak kacanya ini tampak lebih mewah, lebih terang, lebih dingin, lebih ramai, tapi tetap tenang. Seorang resepsionis berdiri di balik mejanya. Beberapa tempat duduk kayu cokelat diisi sebagian tamu hotel yang sedang mengobrol. Vibe di lobi hotel ini tidak se-creepy ruangan santai tadi. Masih ada suara-suara manusia yang mengobrol. Hahaha.

Hotel Majapahit Surabaya
Lobi hotel (dok. Pribadi)

Musholla dan Toilet

Jika tidak menginap di hotel ini, pengunjung (mungkin untuk seminar atau apa pun) bisa menggunakan mushola dan toilet yang sudah disediakan. Ketika aku mencoba membuka mushollanya, gelaapp dan tidak tampak seperti musholla. Sedangkan toiletnya masih terang.

Tempat Perobekan Bendera

Kami naik ke lantai atas dimana insiden perobekan bendera dulu terjadi. Kami menaiki tangga kayu yang kalau berjalan terdengar suara langkah kaki kami. Di dekat tangga pun ada cermin besar jadi kami akan tahu siapa yang berjalan di depan dan belakang kami. Lampu gantung cukup menerangi tangga menuju lantai atas ini.

Di atas, ada jembatan yang menghubungkan ke ruang terbuka sebelum menuju tempat insiden perobekan bendera itu yang terang itu. Jadi kalau mau ke tempat pengibaran bendera itu, kita harus naik ke atas lagi. 

Insiden hotel Yamamato
Tempat Perobekan Bendera Belanda (dok. Pribadi)

Di tempat kami berdiri, lampunya sedang mati tapi masih terbantu dengan lampu-lampu dari gedung Tunjungan Plaza yang terang. Di dekat jembatan itu ada jam jadul. Di bagian bawahnya jendela kaca yang khas zaman dulu, ada kaca patrinya. Dari atas jembatan kita bisa melihat taman yang ada di bawah dan arcade-arcade hotel. Façade bangunan arcade ini mirip sekali dengan bangunan Museum Pos Indonesia Bandung.

Siapa yang mau menginap di sini?

Sebenarnya kalau siang hari, hotel ini terasa tampak seperti hotel lainnya. Tapi kalau malam hari, maasyaAllah kerasa banget apalagi kalau sepi. Haha. Kalau misa ada tawaran menginap di hotel ini mau nggak?

Aku sih mau-mau ajaa. Tapi kayaknya bakal sering di luar kamar hihihi. Kalau pun di dalam kamar, kudu sering dibuat mengaji, sholat dan tidur dengan cepat. Wkwkwk.
Read More
Di hari selain kunjungan ke Museum Gedung Sate dan Museum Pos Indonesia, aku mengajak suami jalan-jalan ke tempat wisata Braga setelah tugasnya selesai. Jalan terkenal di Bandung itu berjarak sekitar 1,5 km dari Penginapan kami di Best Western. Bukan hanya jalan-jalan saja, tetapi JALAN KAKI! Sebenarnya jarak itu tidak terlampau jauh, khususnya bagi siapa pun yang terbiasa jalan kaki. Namun, karena mungkin suami juga baru pulang kerja jadilah rasanya jauh sekali. Apalagi ditambah anak kami yang ketiga ini kan minta gendong terus. Kadang kami bergantian menggendongnya, hehe. Ya allah maapkan kerandoman istrimu ini paak. Wkwk.

Berjalan kaki hingga ke Braga

Kami melewati jalanan kota yang ramai. Syukurlah di sebagian jalanan masih ada trotoar yang bagus. Eh, ternyata di sebelahnya adalah balai Kota Bandung. 

Di suatu titik kami melewati taman kota yang ternyata Taman Balai Kota Bandung yang cukup luas. Trotoar tampak keren. Di mana tampak lampu hias ala zaman dulu menghiasi trotoar. Kursi besi di trotoar menjadi tempat kami beristirahat sejenak. Sampai kami disamperin seorang anak remaja laki-laki yang meminta uang pada kami. Katanya untuk makan. 

Aku memberinya secukupnya uang untuk makan. Apa memang banyak ya orang seperti itu di Bandung? Karena tampangnya bukan peminta-minta. Apa karena kelihatan banget wajah kami bukan orang bandung asli? Setelah kami memberinya, ia pun pergi segera ke arah taman. 

Sampailah kami menyeberangi rel kereta api. Jalanan mulai padat kendaraan. Langit juga sudah mulai gelap. Syuruq pun tiba. Perasaanku mulai waswas. Entah mengapa, padahal ada suami. Mungkin apa aku tidak terbiasa keluar jam segitu ya.

Akhirnya sampailah kami di Jalan Braga....

Jalan-jalan ke Braga
Tiba di Braga (dok. Pribadi)

Ini bukan kunjungan pertamaku ke Braga. Beberapa tahun lalu saat studytour, aku pergi ke Jalan Braga dan juga Konferensi Asia Afrika tapi hanya sebentar. Seperti kurang menikmati gitu... dan kayaknya emang jarang banget aku pergi ke Bandung. Jauh banget euy...

Itulah mengapa salah satu alasanku berjalan kaki. Biar bisa menikmati hehe. 

Kenapa Jalan Braga?

Pertanyaannya kenapa Jalan Braga menjadi tempat destinasi wisata Bandung? Sebab Braga punya kenangan panjang sendiri. Jalan Braga memang terkenal sejak zaman kolonial. Mungkin sama seperti Jalan Kajoetangan di Malang dan Jalan Malioboro di Yogyakarta.

Sejarah jalan Braga ini cukup panjang. Bermula dari tahun 1880an, di jalan Braga ini dulunya adalah pedati weg atau jalan pedati yang berlumpur. Jalan ini menghubungkan gudang kopi milik Andreas de Wilde dengan jalan raya pos yang kemudian berganti menjadi Jalan Asia Afrika.

Di tahun tersebut, Jalan Braga cukup sepi. Saking sepinya sampai dibilang jalan Culik. Kemudian mulai ramai ketika pengusaha Belanda mendirikan toko, bar dan tempat hiburan di jalan ini. Hmm... ternyata Jalan Braga sudah terkenal tempat hiburan di zaman dulu. 

Setelah itu, Braga terus berkembang. Butik-butik dari fashion Paris pun mulai menyebar. Societeit Concordia dibangun sebagai tempat berkumpul dan bersosialisasi para kalangan hartawan Belanda.

Tak berhenti sampai di situ, Hotel Savoy-Homann juga dibangun hingga menambah kesan mewahnya. Hingga pada waktu itu, image Braga pun berubah menjadi daerah hiburan atau daerah "remang-remang". Hingga akhirnya Braga di zaman itu menjadi ramai. 


Wisata di Kota Bandung
Suasana Pertokoan Jalan Braga Bandung (Dok. Pribadi)

Pantas saja, saat aku melewati jalan Braga pun suasananya juga remang-remang (bukan karena udah malam). Kebanyakan memang anak muda. Tak hanya cafe-cafe dan pusat perbelanjaan saja tetapi juga banyak bar, yang kalian pasti tahu kan di sana tak hanya menjual minuman biasa saja, hehe.

Menurutku vibe-nya berbeda dengan suasana di Kajoetangan Malang atau Malioboro Yogyakarta yang lebih meriah, ramai, juga lebih terang. Bahkan sepanjang jalan kami berjalan sampai jalan Asia Afrika, jalan Pos dan jalan pulang naik ojek online pun suasananya remang-remang, seperti khasnya kota lama di Surabaya, atau Malang (bukan di kawasan ikonik seperti Kajoetangan dan Malioboro).

Aku dan suami sempat mempertanyakan kenapa sih kok vibe-nya remang-remang begitu? Jadi berasa kayak suasana romantis tapi juga nggak romantis juga, hehe.. Ternyata memang dari zaman kolonial sudah dibuat seperti itu...

Braga Bandung

Papan nama jalan Braga yang ikonik ramai menjadi sasaran pengunjung ingin berfoto di sana. Sepertinya hanya kamera yang canggih aja yang bisa berfoto di malam hari. Kalau pake hapeku tampak biasa wkak. Alhasil, aku nggak berfoto. 

Aku hanya melewati jalan Braga saja. Tidka mampir karena hampir zemua tempat itu ramai sekali. Bahkan toko yang penjual kue tradisional di Braga pun ramai sekali. Dahlah... aku skip. Karena memang seramai itu. 

Arsitektur Bangunan dan Suasana Jalan Braga

Ketika sampai di jalan Braga, sangat terlihat jelas perbedaannya dengan jalanan lain di Bandung. Kendaraan-kendaraan begitu ramai sampai tidak bisa berjalan cepat. Bisa dibilang kondisi lalu lintas saat itu padat merayap. Jalanannya pun bukan aspal. Banyak orang menyeberang jalan untuk mendatangi satu cafe ke cafe kain, dari satu bar ke bar lainnya.

Lampu-lampu khas di pinggir jalan yang khas dan berukir tersebut menambah kesan campuran Jawa dan Belanda.

Arsitekturnya pun jelas sangat berbeda dibanding bangunan lain di Bandung. Bangunan-bangunan di Jalan Braga sudah dibangun sejak zaman kolonial Belanda. Beberapa toko yang bangunannya masih dipertahankan adalah pertokoan Sarinah, Apotek Kimia Farma dan Gedung Merdeka (Gedung Asia Afrika yang dulunya adalah gedung Societeit Concordia). Beberapa bangunan mungkin sudah direvitalisasi atau direnovasi agar mirip keadaan aslinya tapi bukan bangunan kuno.

Arsitektur bangunan di Braga Bandung
Arsitektur Bangunan di Jalan Braga (dok. Pribadi) 

Hantu di Braga

Ternyata Braga tak hanya tentang cafe saja, tetapi ternyata juga ada orang yang kerjaannya nakut-nakutin orang. Di ujung jalan dekat Gedung Asia Afrika, aku melihat anak-anak muda memakai kostum hantu, mulai dari kuntilanak, drakula, dan lain sebagainya. Kalau mau foto silakan bayar. Untung saja ankku belum mengenal itu jadi nggak takut.

Tempat Makan dekat Braga

Setelah di ujung jalan Braga, aku dan suami mencari tempat makan terdekat di sekitar jalan ABC (eh bener nggak sih yang banyak food street itu). Sebenernya suami mau cari tempat makan yang ramai karena tandanya makanannya enak hehe. Tapi kami terlalu lelah dan cari warung tenda yang makanannya diolah dengan cepat saja. 

Kesimpulan

Sepertinya kalau mau ke Braga, mending sore hari sekitar jam 4 ke atas. Jadi jalanan masih ramai, mau foto pun bisa pakai cahaya matahari. Sedangkan saat aku ke sana, hanya sedikit sekali yang aku ambil fotonya. Dan kayanya kalau ke Braga enakan makan es krim aja geeesss. 

Oiya aku sempat ke masjid raya Bandung tapi sayang nggak sempat ke halaman depan teras masjid karena sudah ditutup. Memang bener kalau ke Braga mestinya setelah jam 4 sore. Setelah sholat di masjid Raya Bandung terus jalan ke Braga.

Read More
Setelah wisata budaya mengunjungi Museum Kota Bandung dan Museum Pos Indonesia, selanjutnya aku mengunjungi tempat yang wajib dikunjungi selama di Bandung, yaitu Gedung Sate. Sebelum aku tiba di Museum Pos Indonesia, aku sempat berhenti di depan Taman Gasibu dan berfoto di depan Gedung Sate yang menjadi kantor Guberner Jawa Barat itu. Berfoto dengan latar belakang Gedung Sate menurutku epic banget karena arsitektur bangunan Gedung Sate ini ala kolonial Belanda.

Gedung Sate, Wisata di Kota Bandung
Gedung Sate (dok. pribadi)

Dari Museum Pos Indonesia ke Museum Gedung Sate

Lokasi Gedung Sate ini tidak jauh dari Museum Pos Indonesia karena memang posisinya berada bersebelahan. Museum Gedung Sate ini berada di Jalan Diponegoro No. 22, kota Bandung. Karena hanya beberapa puluh meter saja, jadi kami cukup berjalan kaki ke Gedung Sate. Tapi karena kami sudah cukup berjalan jauh jadi rasanya cukup lelah juga, hehe. 

Museum Gedung Sate ini berada di sebelah timur Gedung Sate. Aku tiba di sana sudah hampir ashar dan sepertinya museum akan segera tutup. Tapi karena aku lihat Museum Gedung Sate masih terbuka, alhasil, aku segera mengajak suami dan anak masuk ke museum Bandung itu.

Ternyata museum Gedung Sate ini didirikan tahun 2017 oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan.

Gedung Sate

MaasyaAllah. Nggak nyangka banget akhirnya aku bisa melihat dari dekat Gedung Sate. Dulu, meski aku pernah studytour ke Bandung, aku tidak ingat sama sekali. Rasanya aku hanya melewati saja. Karena kemegahannya, aku cukup penasaran siapa yang bangun Gedung Sate ini?

Gedung Sate ini dibangun pada tahun 1920 oleh arsitek Belanda lulusan sekolah teknik Delft, Ir. J.Gerber. Di masa itu, banyak sekali orang Eropa yang sudah bisa membangun bangunan megah seperti itu. Dan kerennya bangunan orang Belanda ini bisa bertahan sedemikian lama dan bisa menjadi peninggalan sejarah sampai saat ini. 

Tak hanya Eropa saja kan, jauh sebelum itu peradaban Islam juga sudah membangun bangunan, infrastruktur, yang tak kalah fenomena dan bahkan masih ada terlihat sampai saat ini.

Dulunya, gedung ini difungsikan untuk Departemen Lalu Lintas dan Pekerjaan Umum dan kantor pusat jawatan instansi pemerintah pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Kenapa disebut gedung sate?

Kenapa dinamai Gedung Sate
Puncak Gedung Sate (Sumber foto: TravelsPromo)

Alasan dinamai gedung sate karena di bagian puncak menaranya terdapat hiasan seperti tusuk sate dengan enam buah bola seperti sebuah tusuk sate. Sebenarnya dengan nama Gedung Sate itu lebih memudahkan masyarakat untuk menyebutnya daripada harus pakai bahasa Belanda di masa itu.

Ternyata 6 bola di puncaknya itu menunjukkan biaya total pembangunan Gedung Sate yaitu sebanyak 6 juta gulden.

Tiket Masuk Museum Gedung Sate

Kami harus melewati pintu metal detector. Seorang penjaga memeriksa kami kemudian mempersilakan kami masuk. Ingatanku sedikit samar di sini. Aku tidak ingat sama sekali berapa tiket masuk Museum Gedung Sate. 

Masuk ke Museum Gedung Sate
Security Check sebelum masuk museum Gedung Sate (dok. pribadi)

Menurut penelusuran Google, sebelum masuk kita harus mengisi form dulu kemudian pergi ke loket dan membayar tiket masuk, tapi ingetku sih langsung ke loket aja yaaa duhh lupaa. Harganya murah saja yaitu Rp. 5.000,-.

Jam buka Museum Gedung Sate ini dari hari Senin sampai Sabtu, dari jam 09.30 hingga 16.00 WIB.

Kelebihan Museum Gedung Sate dibanding Museum Lainnya

Menurutku, setiap museum itu memiliki kelebihan masing-masing selain tema yang disajikan pada setiap museum, tetapi juga cara penyampaian kepada pengunjung. Teknologi apa yang digunakan? Saking kerennya (termasuk juga waktu yang terbatas), aku menikmati apa yang ada di dalam museum sampai aku lupa untuk memotret, so akan ada beberapa foto-foto yang aku ambil dari luar.  

Dan Museum Gedung Sate ini memiliki kelebihan yang menurutku cukup keren untuk menjadi sebuah museum. Museum Gedung Sate ini bisa dikatakan sebagai smart museum karena memadukan teknologi dan sejarah. Apa saja kelebihan Museum Gedung Sate dibanding museum lainnya?

Penataan Museum Yang Modern

Dari awal saja sudah ada security check, pertanda bahwa Museum Gedung Sate memang menjadi satu bangunan yang harus dilindungi karena sejarahnya dan memiliki dua fungsi berbeda (obyek pemerintahan dan wisata). 

Ketika berjalan memasuki lorong di museum pun, penataannya sudah dibuat semodern mungkin agar menarik pengunjung. Bersyukurlah karena saat ini banyak museum-museum yang dibangun secara modern. Dinding-dindingnya pun tidak dibiarkan kosong tetapi tetap diberikan informasi Gedung Sate dengan desain yang menarik.

Museum Gedung Sate
Koridor Museum Gedung Sate yang Modern (Dok. pribadi)

Menampilkan Sejarah Gedung Sate dan Kota Bandung

Ketika kita memasuki museum, kita akan disuguhkan dengan sejarah perkembangan kota Bandung secara singkat dalam bentuk timeline sejarah kota Bandung dan Provinsi Jawa Barat sejak tahun 1810 hingga 1924.

Tak hanya itu, kita disuguhkan dengan peta Kota Bandung interaktif yang bisa bergerak lengkap dengan konturnya. 

Peta interaktif Kota Bandung (kompas.com)

Berada di dalam gedung ikonik kota Bandung

Aku mengira bahwa aku tidak bisa masuk ke gedung ikonik kota Bandung itu. Ternyata museum dan gedung Sate ini tergabung menjadi satu bangunan. Aku bisa memasuki Gedung Sate tetapi menjadi pengunjung museum Gedung Sate. Museum ini berada di bagian timur Gedung Sate. 

Penggunaan Teknologi Digital yang Interaktif

Begitu memasuki Museum Gedung Sate, kami disuguhkan dengan miniatur bangunan Gedung Sate di sudut ruangan yang remang. Di belakangnya, layar yang menjelaskan sejarah pembangunan Gedung Sate Bandung. 

Gedung Sate Bandung
Miniatur Gedung Sate (dok. pribadi)

Berbeda dengan museum konvensional lainnya, museum Gedung Sate ini memiliki satu daya tarik yaitu penggunaan digital interaktif. Aku seolah-olah bisa merasakan sedang kembali ke zaman dulu ikut membangun Gedung Sate dengan teknologi realitas berimbuh.

Informasi sejarah disajikan dengan teknologi visual atau grafis. Aku bisa menggunakan layar sentuh kemudian informasi sejarah pembangunan Gedung Sate muncul. Kita bisa melihat bentuk tiga dimensi Gedung Sate.

Tak hanya arsitektur bangunannya saja yang dijelaskan, tetapi juga bahan bangunan yang digunakan saat membangun pun dijelaskan.

Di ruang audio visual, kita bisa menonton film pendek tentang Gedung Sate. Di ruangan lain, ada juga interactive floor yang bercahaya. 

Ada lagi satu yang unik tapi aku belum sempat mencoba, karena waktu itu masih ada pengunjung, adalah balon udara di Museum Gedung Sate dengan Virtual Reality (VR). Pengunjung masuk dalam kotak balon udara kemudian memakai kacamata virtual, pengunjung pun menjelajahi Gedung Sate Bandung dan sekitarnya.

Naik Balon Udara di Museum Gedung Sate Bandung (Sumber foto: kompas.com)

Tak hanya itu, kita juga bisa merasakan lebih dekat tentang sejarah kota Bandung termasuk juga pembangunan Gedung Sate dengan Augmented Reality (AR). Di dalam ruangan itu hanya ada beberapa benda, ketika kita mengarahkan ponsel kita ke benda-benda itu, maka akan muncul cerita tentang benda-benda itu. (Maafkan yang sesi ini nggak aku eksplor banyak karena terbatas waktu)

Teknologi Augmented Reality pada Museum Gedung Sate (museumgedungsate.org)

Kita bisa mengetahui teknologi Gedung Sate yang sudah dibangun sejak dulu seperti sirine tanda bahaya. Sirine ini untuk menjaga keselamatan warga Bandung, tak hanya jika ada musuh (Jepang) tetapi juga saat ada bencana alam.Sirine ini akan berbunyi biasanya saat 17 Agustus. Uniknya, sirine ini bisa terdengar berpuluh-puluh kilometer, seperti Subang, Cianjur, Purwakarta, bahkan Bogor. Bayangkan betapa kerasnya suara sirine ini.

Kesan Berkunjung ke Museum Gedung Sate

Kesanku setelah berkunjung ke Museum Gedung Sate adalah kereeeeeennn bangeettttt. Menurutku ini museum paling keren di Indonesia. Seneng banget akhirnya Indonesia punya museum sekeren ini. Semenjak aku doyan mengunjungi museum-museum di Paris 12 tahun lalu, aku berharap banget Indonesia punya museum keren kayak gini. 

Katanya di Kota Tua Jakarta juga hampir sama kayak gini juga? Aku belum pernah ke sana sihh. Harapannya, jangan sampai museum ini terbengkalai atau banyak teknologi yang akhirnya tidak terpakai atau rusak karena kurangnya biaya perawatan. Karena dengan fasilitas yang keren ini hanya dikenai biaya masuk yang murah banget. 

Sebenarnya museum ini tidak terlalu luas, tapi karena fitur-fiturnya banyak jadi butuh waktu banyak untuk mengeksplor dan mendalami setiap informasi yang ada. Rasanya 2 jam udah cukup sih, 3 jam udah puas banget bisa mendalami setiap informasi yang ada.

Ada yang sudah ke sini?
Read More
Setelah dari Museum Kota Bandung, esoknya saat acara terakhir sudah selesai, aku mengajak suami berjalan-jalan di Bandung dengan jalan kaki. Sekali lagi.... JALAN KAKI. Aku lagi pengen aja menikmati kota Bandung dengan jalan kaki dari Hotel Best Western ke Gedung Sate terus ke Museum Pos Indonesia. Kalau dilihat dari peta sebenarnya cuma 1.7 km sih tapi kenyataannya capek jugaaa. Apalagi bawa anak kecil yang maunya digendong mulu. Wkwkw. Pulangnya kita nggak mau nyari capek lagi. Cukuplah naik gocar aja. :D

Dengan perjuangan yang melelahkan, ya Allah yang kubayangkan saat itu, belum umroh ini ternyata 1.7 km itu bikin capek. Sempet underestimated bisa nggak saat umroh aku jalan kaki sejauh itu? Ah, mungkin karena belum terbiasa, batinku.

Kami pun tiba di depan Gedung Sate. Saat aku ingin berfoto-foto sejenak, tiba-tiba bus mini berhenti di depan kami menutupi pemandangan gedung sate uang unik. Seorang pemandu yang ada di dalam Bandung Tour on Bus menjelaskan tentang sejarah Gedung Sate. 

Tak lama, Bandros itu pun pergi. Aku pun mulai mengambil berfoto-foto di depan gedung sate. Setelah puas, kami berjalan mendekat ke arah  gedung sate. Kami pun berjalan lewat samping. Museum Pos Indonesia tidak jauh dari Gedung Sate..leganyaa...

Museum Pos Indonesia di Bandung
Di depan Museum Pos Indonesia Bandung (Foto Pribadi)

Sejarah Museum Pos Indonesia

Kami sudah berada di Jalan Cilaki No. 73 Bandung di mana Museum Pos Indonesia berada. Kami memasuki gerbang museum. Mobil-mobil terparkir di halamannya yang luas. Sedangkan untuk museum berada di samping foto ini. Jadi kita jalan sedikit ke arah samping bangunan.

Bangunan Museum Pos Indonesia ini keren banget. Sejarah Museum Pos Indonesia ini cukup panjang dan melewati banyak masa. Pendirian museum ini tidak lepas dari pengaruh kolonial Belanda. 

Tepatnya tahun 1920, Museum Pos Bandung ini dibangun oleh seorang arsitek Belanda yaitu Ir. J. Berger dan Leutdsgebouwdienst untuk menyimpan barang-barang pos, seperti perangko, baju dinas petugas Pos, surat-surat emas, alat transportasi yang digunakan untuk mengirim surat, dan lain-lain.

Bangunan Museum Pos Indonesia ini sangat khas. Setiap bagian jendela atau pintu berbentuk melengkung seperti masa Renaissance. Ada yang menyebut juga bangunan ini bergaya eklektik yang memadukan gaya Moor dan Oriental (Thailan dan Indonesia).

Museum Pos Indonesia menjadi salah satu museum tertua di Bandung karena di tahun 1932, museum ini dibuka dengan nama Museum Pos dan berganti Museum Pos Telegrap dan Telepon (PTT). Sempat vakum setelah perang dunia kedua, Museum PTT berubah menjadi Museum Pos dan Giro ditahun 1983.  Di tahun 1995, museum tersebut berubah menjadi Museum Pos Indonesia.

Tiket dan Jam Buka Museum Pos Indonesia

Museum di Bandung
Pintu masuk Museum Pos Indonesia (Dok. pribadi)

Saat kami bertanya berapa tiket masuk Museum Pos, ternyata tiket museum Pos keren ini tidak dipungut biaya alias gratis. Kami hanya perlu laporan saja.

Wah, ternyata emang banyak banget museum gratis di Bandung. Sebenarnya ini adalah cara biar banyak yang datang berkunjung ke Museum Pos Indonesia. 

Menurutku Museum Pos Bandung ini lebih ramai daripada Museum Kota Bandung. Mungkin yang dipamerkan di museum Pos ini lebih banyak dan tidak hanya poster-poster saja. Selain itu, memang museum ini bergabung dengan kantor pos pusat Bandung jadi banyak pegawai yang seliweran dekat pintu masuk.

Jam buka Museum Pos ini dari Senin sampai Jumat pukul 09.00 - 15.00 WIB, Sabtu pukul 09.00 - 13.00 WIB.

Kepala Kantor Pos Indonesia dari Masa ke Masa

Sejarah Pos Indonesia
Kepala Kantor Pos Indonesia di Bandung

Memasuki Museum Pos Indonesia bikin aku takjub karena aku jadi tahu banyak hal tentang psistem perposan Indonesia. Pertama, aku melihat Kepala Kantor Pos Indonesia di Bandung dari masa ke masa. Pada awalnya, Pos Indonesiai yang bernama Post Telegraf dan Telepon dipimpin oleh orang Belanda sejak tahun 1897 hingga tahun 1937. Selanjutnya kantor pos berganti nama dan berganti kepemimpinan yang dikepalai oleh orang Indonesia.

Pos Teriak

Di zaman dahulu ketika belum ada pengiriman surat atau barang melalui pos, sebelum orang zaman dulu menulis di batu, pelepah daun, dan lain sebagainya, penyampaian pesan jarak jauh dilakukan secara lisan dan visual. Yang lucu ternyata di zaman kerajaan, pengiriman pesan tulisan dilakukan dengan berteriak dari satu orang ke orang lain sehingga pesan bisa sampai kepada penerima.

Penyampaian berita zaman dulu dilakukan dengan memukul kentongan, genta, meniup sangkakala (duh kok kayak mau kiamat ya, hehe!), menyalakan api atau cahaya, 

Pengiriman Pesan pada Zaman Kerajaan

Di zaman ini, pengiriman pos dilakukan dengan menuliskan pesan di atas batu, kayu, kertas, kulit kayu bambu. Tapi yang lumrah ditulis di atas daun lontar. Jenis tulisan yang ditulis adalah bahasa Sansekerta sehingga tidak semua orang bisa melakukan surat menyurat tertulis ini. Semenjak itu, muncullah profesi pengantar surat bernama pesuratan, pelayangan gadek, dan caraka.

Lucunya, dalam surat-surat pada masa kerajaan itu, bahasa banyak digunakan oleh raja-raja di Indonesia saat korespondesi kepada raja di luar negeri (Inggris) adalah bahasa dan aksara arab. Tergantung raja mana sih. Kalau di Bali, berarti pakai bahasa dan aksara Bali. Kalau di Bugis, raja memakai bahasa dan aksara Bugis dengan cap dalam bahasa arab.

MaasyaAllah, ternyata di masa itu, korespondensi pun masih memakai bahasa dan aksara lokal. coba deh sekarang, pasti disuruh pakai bahasa Inggris. Itu tandanya, di masa itu, pengaruh raja-raja Indonesia begitu kuatnya sehingga raja-raja di luar negeri pun menerima surat dengan menggunakan bahasa lokal.

Namanya surat ini adalah surat emas, naskah Melayu bersungging yang paling indah. Di masa itu, korespondensi menggunakan bahasa yang indah. Struktur suratnya pun sangat rapi. Pembuka surat menggunakan puji-pujian, memiliki keindahan kaligrafi, dan kehalusan seni sungging. Tak hanya itu pemberian hadiah juga tergantung derajat sang pengirim dan penerima surat.

Mesin Pencetak Perangko

Di zaman itu, aku kurang paham mungkin setelah kemerdekaan Indonesia, Kantor Pos sudah memiliki mesin cetak perangko dengan uang koin. 

Sejarah Prangko Pos
Mesin Cetak Perangko (dok. pribadi)

Benda bersejarah museum pos ini menarik perhatianku karena dulu aku suka mengumpulkan perangko dari surat yang aku terima dari berbagai wilayah. Prangko-prangko di museum ini diletakkan pada lemari kayu besar. Ternyata dulu aku pernah menjadi filateli dan sekarang perangkonya sudah hilang seiring aku pindah-pindah kota.

Sejarah Perangko Indonesia

Filateli Indonesia

Benda Pos Bersejarah

Tak cuma itu, aku juga melihat banyak peralatan pos yang digunakan untuk mengirimkan pos ke tempat tujuan, baju-baju dinas pegawai tukang pos sampai kendaraan sepeda pak tukang pos. 

Sejarah Pegawai Pos Indonesia
Pakaian dinas Pegawai Pos (dok. pribadi)

Aku juga melihat kotak pos yang berbeda-beda, mulai dari berwarna abu-abu, oranye, merah sampai cokelat. Bentuknya pun bermacam-macam. 

Kotak Pos di Museum Pos Indonesia

Kotak pos Brievenbus

Kesimpulan

Cerita di Museum Pos Indonesia ini seru-seru sih sebenarnya. Banyak banget ide di kepala buat dijadikan cerpen tapi sampai sekarang pun belum kesampaian. Setelah mengunjungi Museum Pos Indonesia, aku jadi bisa membayangkan bagaimana raja-raja di zaman itu memiliki hubungan diplomatik yang kuat antara nusantara dengan raja-raja Inggris. Kekuatan raja-raja nusantara tak bisa diremehkan.

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, kami pun segera bergegas keluar ruangan. Kami segera mencari musholla untuk menunggu sholat ashar. Setelah selesai sholat, sembari menunggu suami keluar dari musholla, aku melihat petugas sedang membersihkan dinding-dinding bangunan yang tinggi itu dengan kemoceng yang sudah dipasangkan kayu panjang. Padahal nggak kelihatan kotor loh. Hehe. 


Read More
Alhamdulillah Allah kasih kesempatan bisa mengunjungi kota Bandung. Terakhir, ketika aku kuliah antara tahun 2008-2009 untuk study tour. Sekarang, aku ngekor suamiku pas lagi ikut seminar. Karena acaranya sekitar 3 hari, aku bingung mau ke mana. Mau sendiri pergi pun aneh aja gitu bawa anak. Hehe. Akhirnya aku cari destinasi wisata Bandung yang dekat dengan hotel tempatku menginap, Best Western Bandung.

Di depan hotel sebenarnya ada Mall, tapi aku kurang berminat hehe. Saat mencari di Google Map, ternyata ada museum kota Bandung dekat hotel.

Yah, jalan sedikit lah. Cuma memang karena bawa anak kecil nih siap-siap aja si kecil minta gendong. Ya udahlah. Toh deket aja. Sebenarnya banyak banget pilihan wisata edukasi dan sejarah di Bandung, seperti museum-museum begitu. Jadi aku memilih museum yang kudu aku kunjungi. Salah satunya adalah museum Kota Bandung. Anak tata kota kudu banget sih datang ke museum ini buat belajar tentang sejarah kota Bandung.

Museum Kota Bandung

Aku meminta si kecil untuk mematikan televisi yang ia tonton. Aku pun mengajak si kecil pergi ke Museum Kota Bandung. Awalnya, dia mau jalan sendiri, tapi setelah 100 meter, dia minta gendong. Yaahh... cuaca Bandung menurutku tidak dingin dan tidak terlalu panas.

Museum Kota Bandung buka dari pukul 10.00 sampai 15.00 WIB. Bayangkan saja berjalan ke museum jam 10 pagi itu matahari sudah mulai terika.

Berjalan ke Museum Kota Bandung sambil gendong si bayi pun cukup bikin keringatan. Kondisi trotoar yang kurang rata pun bikin usahaku makin maksimal. Kadang ngedumel juga, kapan sih punya trotoar bagus kayak di luar negeri. Di negara kita sih trotoar bagus Cuma di jalan utama. Sisanya? Sabar ajaaa...

Perjuangan belum selesai karena aku harus menunggu kendaraan itu berhenti saat lampu merah. Kukira jaraknya tidak akan membuatku lelah sebelum tiba, nyatanya...kok nggak nyampe-nyampe ya? Berjalan kaki di negeri ini emang se-effort itu apalagi gendong anak bayi. MaasyaAllah. Ternyata dekat di Google Map tidak dekat di kenyataan, apalagi bawa bayi. Hahaha.

Lokasi Museum Kota Bandung ini ada di Jalan Aceh No. 47, Babakan Ciamis, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung.

Tak lama, kami pun tiba di Museum Kota Bandung. Dari luar sudah tampak bangunan ala zaman kolonial Belanda. Bangunan lawas yang tampat terawat itu membuat lelahku langsung menguap.

Ternyata dulunya Museum Kota Bandung ini adalah sekolah taman kanak-kanak Frobelschool yang didirikan tahun 1880. Kemudian di tahun 1950 berubah menjadi sekolah “Yahua” hingga rahun 1960, kepimilikan museum ini diambil oleh pemerintah.

Aku meminta si kecil turun dan berjalan. Ia langsung mengeksplor apa yang ada di dekatku.

Patung Dewi Sartika

Di dekat kami, ada patung dewi sartika yang hanya setengah badan, tanpa tangan. Di bagian bawah berupa batu dan papan informasi kecil yang menjelaskan tentang sejarah Dewi Sartika. Kalian sudah pada tahun kan siapa Dewi Sartika? Sampai patungnya diabadikan di Museum Kota Bandung.

Perjuangan Dewi Sartika ini berliku demi memajukan perempuan Sunda. Dewi Sartika membangun fasilitas pendidikan berupa sekolah khusus perempuan. Ia mendirikan Sakola Istri pada bulan Rabu di tahun 1904.

Aku sempat salah masuk karena tidak ada tanda pintu masuk. Lagian juga di museum itu sepi banget. Aku pun agak bingung, ini bener buka atau tidak? Pintu masuknya mana? Setelah celingak-celinguk, seorang petugas mendatangiku dan memberitahu pintu masuk. Aku pun mengajak anakku masuk. Sekolah itu pun semakin berkembang.

Museum Kota Bandung
Sisi samping Museum Kota Bandung (Dok. Pri)

Tiket Gratis

Ketika memasuki gedung museum, aku langsung melihat ruang pameran besar. Tidak ada petugas yang berjaga ataupun yang menarik tiket. Biasanya kan museum ada tiketnya walau Cuma 5000. Ternyata semua pengunjung diperbolehkan masuk tanpa membayar tiket masuk alias GRATIS! Wah, keren banget sih. Karena biasanya museum kota itu ditarik uang meski Cuma lima ribu rupiah. MaasyaAllah berarti pemerintah kota Bandung keren banget. Biasanya nih ya... biasanya, museum gratis-an itu tidak terawat tapi saat aku memasukinya emang vibe-nya beda.

Ruang pameran

Di ruang pameran pertama ini cukup luas, di dinding-dindingnya terpajang foto para pahlawan. Bung Karno berorasi dengan semangat membara.

Dari dinding satu ke dinding lainnya memuat sejarah Kota Bandung. Aku tidak terlalu menikmati membaca setiap informasi karena anakku sudah berlarian ke sana kemari. Aku takut saja mengganggu pnu

Di ruang pameran selanjutnya menjelaskan tentang sejarah kota Bandung dari awal banget. Sejarah kota Bandung ini dijelaskan secara singkat dari tahun ke tahun.

Yang paling menarik adalah sejarah pengembangan kota Bandung. Aku jadi teringat ketika aku masih kuliah dan mempelajari sejarah Kota Bandung. Thomas Karsten sangat berjasa membangun kota-kota di Jawa di zaman kolonial.

Sejarah kota Bandung
Sejarah Rencana Pengembangan Kota (dok. pri)

Di museum ini juga dijelaskan tentang sejarah Kweekschool atau sekolah guru pertama di Karesidenan Priangan.

Selain pendidikan, pembangunan kota juga tidak melupakan pengembangan taman. Museum Kota Bandung juga menceritakan tentang pengembangan taman kota yang menjadi salah satu elemen penting. Di tahun 1885, taman tertua di Kota Bandung, Pieters Park, dibangun. Di tahun 1879, perkumpulan berbadan hukum untuk orang Eropa, Societit Concordia, dibangun.

Tak hanya pendidikan dan ruang terbuka hijau, pembangunan Kota Bandung juga terus berlanjut dengan membangun usaha penginapan. Di zaman itu, banyak perkebunan di sekitar kota Bandung. Pada akhir pekan, pengusaha perkebunan itu pergi ke Bandung dan menginap di sana. Maka dibangunlah usaha penginapan/ hotel.

Lokasi titik nol Bandung pun ada sejarahnya.

Sebenarnya banyak kalau mau diceritakan akan jadi banyak banget, tapi daripada aku spill mending datang langsung aja, hehe. Takutnya ni artikel nanti jadi artikel sejarah bukan travelling. MaasyaAllah. Ternyata mengunjungi Museum Kota Bandung menambah wawasanku tentang pembangunan kota. Tak hanya berkaitan dengan sejarah fasilitas pendidikan di Kota Bandung, tetapi juga fasilitas penginapan, sosial masyarakat, ruang terbuka hijau, permukiman, dan lain-lain.

Bedanya museum Kota Bandung dengan museum kota lainnya, adalah tidak ada artefak atau benda peninggalan seperti pada museum lain. Sayangnya karena bawa anak kecil jadi tidak bisa berlama-lama.

Kesimpulan

Aku pun segera keluar dari museum dan duduk sejenak di kursi besi. Di sebelah kanan aku, tampak tulisan dari Bung Karno mengingatkan kita bahwa kita tidak boleh meninggalkan sejarah. Dan kedatanganku kali ini sebagai bukti bahwa sejarah tidak akan aku lupakan.


Museum di Kota Bandung

Menurutku Museum Kota Bandung ini sudah dibikin sekeren gini, ditambah lagi gratis. Harapannya kan pasti bisa menarik banyak pengunjung, khususnya anak muda. Sayang banget tapi ini masih sepi sih. Memang ada beberapa pengunjung tapi rasanya kok nggak serame Mall gitu. Hehe.
Read More
Bagi pecinta kereta api, sayang banget kalau tidak pergi ke Museum kereta api Ambarawa yang punya kereta uap ikonik dan juga sayang banget melewatkan event yang hanya dibuka satu kali satu tahun oleh Balai Yasa Surabaya Gubeng. 

Kunjunganku ke Balai Yasa Surabaya Gubeng itu pun tidak direncanakan. Tiba-tiba saat scroll Instagram, muncul postingan tentang Open House Balai Yasa Surabaya Gubeng. Tentu saja aku tidak mau melewatkan event tahunan ini. Kalau mau ke stasiun pun bisa, bisa lihat kereta di pinggir rel kereta api kapan pun. Tapi kalau ke bengkel kereta api, tidak setiap hari bisa. Makanya aku nggak mau ketinggalan event Open House dari KAI ini.

Balai Yasa

Balai Yasa merupakan bengkel khusus kereta api untuk perbaikan dan perawatan lokomotif, gerbong, kereta maupun sarana perkeretaapian milik PT. KAI. Indonesia memiliki delapan Balai Yasa yaitu Manggarai, Kiaracondong, Tegal, Yogyakarta, Surabaya Gubeng, Pulubrayan, Padang, dan Lahat.

Seneng banget di kotaku ada Balai Yasa Surabaya Gubeng. Lebih excited lagi ternyata Balai Yasa Surabaya Gubeng mengadakan open house. Event satu tahun sekali ini emang kudu banget dikunjungi! Selain menyenangkan untuk anak-anak.

Tiket Masuk Open House Balai Yasa Surabaya Gubeng

Mencari informasi tentang tiket masuk ke Open House Balai Yasa ini agak membingungkan. Cuma entah bagaimana akhirnya setelah mencari-cari informasi melalu media sosial maupun website, aku dapat juga tiketnya. Gratis. Kita tinggal memilih jam kunjungan. Dan aku memilih jam 11 siang. Kebayang panasnya Surabaya. Hehe. Tapi demiii banget biar anak-anak seneng ya udah lanjut ajaaa.

Melihat Bengkel Kereta Api

Mendekati lokasi, ternyata jalanan lumayan padat. Jalanan yang tidak terlalu lebar menambah kepadatan lalu lintas siang itu. Mobil-mobil sudah parkir di pinggir jalan. Mau tak mau kami juga mencari parkir di luar. 

Setelah mendapat parkir, kami segera menuju pintu masuk Open House. Kami mengira pintu masuk untuk Open House itu sama dengan Balai Yasa. Ternyata beda. Kami diarahkan ke pintu masuk di mana banyak orang menuju berjalan ke arah itu.

Meski panas sudah berada di atas kepala, para pengunjung sudah banyak yang antri padahal masih di depan gerbang. MaasyaAllah. Di depan, beberapa petugas pengecekan tiket dan bagian keamanan berjaga di depan gerbang. Bagi yang sudah menunjukkan tiket, pegunjung diperbolehkan masuk. Setelah antri sekitar 10 menit, kami pun memasuki Balai Yasa yang menjadi jalur masuknya kereta api yang akan diperbaiki. 

Ruang terbuka tampak ramai dengan orang berlalu-lalang. Panasnya membuat kami segera mencari tempat teduh. Eh, tapi kami berfoto dulu di tulisan BUMN. Hehe. 



Kami juga berfoto di depan seperti mesin excavator tapi tidak pakai ban untuk di jalan raya tapi pakai roda kereta api.

Balai Yasa Gubeng Surabaya

Tak lama, odong-odong datang dan berhenti di dekat kami. Beberapa orang turun dan kemudian naik saling berebutan. 

Awalnya, aku mau ajak naik odong-odong tapi kok kalah sama ras terkuat di bumi ini. Alias para ibu-ibu. Meski aku juga ibu-ibu, tapi aku kalah duluan. Hehe. Mereka rebutan naik dan aku gagal.

Sebelum Itu, Lihat Satwa liar Dulu

Yausah, aku, suami dan anak-anak pergi ke tempat pameran. Sebelum melihat kereta api, kami mendatangi stand paling depan yang memamerkan beberapa hewan liar, seperti beberapa jenis ular, iguana, dan lain-lain. Petugas yang juga pemilik hewan itu berdiri mengawasi para pengunjung yang ingin merasakan sensasi memegang hewan paling menggelikan.

Aku mengira anakku takut, rupanya mereka penasaran ingin memegang. Okelah, meski aku agak geli-geli juga, kubiarkan mereka memegangnya.

Setelah sekitar 10 menit, aku menyuruh mereka sudah saja. Soalnya aku takut nanti aku berubah jadi Nagin. Cacacaca.. XD

Melihat Kereta Panoramic dari Dekat

Satu obyek di Open House yang menarik perhatian banyak pengunjung adalah adanya kereta panoramic yang viral. Naik kereta panoramic emang dambaan banyak orang kayaknya yaa.. siapa yang nggak pengen bisa naik kereta mirip di luar negeri bisa melihat pemandangan alam yang indah. Kereta panoramic ini harganya lumayan sih. Nah, karena belum kesempatan naik kereta panoramic jadi kita manfaatkan nih di event ini bisa merasakan kereta panoramic.

Kereta Panoramic

Eh, sayangnyaaaa...banyak banget yang mau masuk ke gerbong kereta panoramic dan foto-foto di dalam. Jadi pas aku udah naik, cuma sempet ngerasain AC gerbong panoramic yang dingin, tapi nggak bisa masuk karena semua pengunjung udah duduk di kursi, foto-foto, dan cukup penuh. 

Wes lah. Capek juga mau pencitraan naik kereta panoramic. Wkwkwk. Akhirnya anak-anak aja aku suruh foto di depan gerbong kereta panoramic dan ikut foto sama bapak petugas KAI. 

Barisan Gerbong Kereta

Sebenarnya aku juga nggak begitu paham dengan kereta. Jadi kebanyakan saat kunjungan ke bengkel kereta api, suamiku yang lebih banyak cerita. Saat gerbong-gerbong kereta berbaris rapi di depo, sebuah tempat khusus beratap untuk memperbaiki mesin kereta. Gimana gerbong kereta dibawa sampai ke tempat bengkel. 

Bengkel Kereta Api Surabaya

Tidak tampak aktivitas pegawai Balai Yasa yang sedang memperbaiki gerbong kereta. Kami pergi ke ruang lain yang memang sudah diperuntukkan untuk pameran. Pengunjung cukup ramai melihat petugas Balai Yasa yang menjelaskan sistem roda perkeretaapiaan. Emang cocok banget sih buat anak kuliahan. Aku nggak paham. Hiks. Suamiku yang bisa lama di ruang pameran itu sih karena emang paham.

Open Housr Balai Yasa Surabaya

Naik Roll Wagon

Yang unik dari Balai Yasa ini yaitu pengunjung bisa naik roll wagon yang merupakan fasilitas perkeretaapian untuk membawa gerbong kereta ke depo kereta. Roll wagon ini bentuknya memanjang menyesuaikan panjang gerbong. Di bagian tengah roll wagon tersusun konstruksi rel kereta. Di bagian depan ada ruang khusus pengemudi. Roll wagon ini hanya jalan maju dan mundur saja. 

Bengkel kereta api

Aku pun mengajak anak-anak naik roll wagon. Kami sudah berdiri di pinggir agar bisa segera naik. Saat berhenti, pengunjung rebutan naik. Tapi kalau ini kayaknya semua pengunjung bisa merasakan semua. Setelah roll wagon cukup terisi banyak pengunjung, roll wagon berjalan.

Sensasinya sih seperti naik kereta dengan kecepatan pelan tapi jalan maju sampai ujung kemudian mundur lagi. Dan tidak ada pembatas kaca jadi masih merasakan angin sedikit. Syukurnya ada atap jadi tidak terasa panas. 

Open House Balai Yasa Gubeng Surabaya

Kesimpulan

Naik roll wagon ini seperti puncak acara ikutan open house Balai Yasa. Ikutan open house ini selain memperkenalkan profesi kereta api juga mengenalkan sistem kereta api kepada anak-anak. Open House Balai Yasa ini emang kudu banget sih dikunjungi apalagi anak-anak yang suka kereta api. Cuma aku kurang paham yaa kalau di kota lain apa ngadain Open House juga apa nggak. Coba di cek-cek aja medsosnya.

Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower