![]() |
| Hotel Majapahit (dok. Pribadi) |
Seringkali aku lewat Hotel Majapahit membuatku berdecak kagum sebab bangunan tua itu masih terawat dan difungsikan sampai saat ini. Tak pernah sekali pun aku terpikirkan bisa masuk ke hotel bintang 5 Surabaya ini. Hotel mewah di kota Surabaya ini dulunya menjadi saksi perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan. Pas banget yaa di bulan Agustus ini bulan kemerdekaan membahas Hotel Majapahit.
Aku bisa memasuki hotel berarsitektur kolonial ini karena bapak mertua sedang ada acara di sana dan menginap di sana. Kami, cucu-cucu yang ada di Surabaya, pun mendatangi kakek dan nenek mereka.
Rek Ayo Rek Mlaku-Mlaku Nang Tunjungan
Lokasi hotel Majapahit ini berada di jalan Tunjungan No 65, Genteng, Surabaya. Lokasi sepanjang jalan ini selalu ramai di malam hari karena banyak anak muda nongkrong dan berfoto di jalan yang terkenal dengan lagunya Rek Ayo Rek Mlaku-Mlaku Nang Tunjungan.
Jadi kalau melewati jalan ini di malam minggu, siap-siap saja harus sabar karena macet maasyAllah. Mungkin akan kuceritakan terpisah kali ya. Sekarang masih harus fokus sama hotel dulu yaa...
Perjalanan kami melewati macet pun berakhir sudah. Kami berbelok ke arah hotel Majapahit yang diterangi dengan lampu temaram. Kami sempat bingung dimana pintu masuk untuk parkir mobil.
Di mana parkirnya?
Di lobby hotel yang tampak kolonial itu hanya untuk menurunkan penumpang. Mobil yang masuk ke area parkir hotel harus masuk melewati pintu parkir khusus mobil.
Jadi kalau dari pintu utama hotel jalan terus sedikit sampai bertemu tulisan parkir mobil atau masuk ke parkir hotel. Pintu masuk tidak terlalu besar karena masih berada di bangunan cagar budaya. Jadi hanya seperti pintu garasi rumah tua yang terbuka. Jika tidak ada tulisan atau petugas hotel mungkin kami akan tersesat.
Kami seperti memasuki gedung bawah tanah kemudian beberapa detik keluar dari bangunan dan melewati jalan diantara dinding tinggi dan bertemu dengan gedung hotel yang keren maasyaAllah. Kami pun mencari parkir yang juga masih membuat kami bingung di mana mau parkir. Secara, tempatnya tidak seperti parkir mobil pada umumnya. Kami mencari garis-garis parkir mobil yang kosong.
Dari Insiden Perobekan Bendera Belanda Hingga Hotel Majapahit
Sebelum memulai tur, aku akan jelaskan sejarah hotel Majapahit. Hotel Majapahit ini dibangun sejak tahun 1910-an oleh Lucas Martin Sarkies asal Armenia dengan arsitek James Apfrey. Pertama kali dibangun, hotel ini bernama Hotel Oranje.
Hingga tahun 1942, tepatnya saat penjajahan Jepang, hotel ini kemudian berganti nama menjadi Hotel Yamato yang digunakan menjadi markas tentara Jepang.
Hotel ini menjadi terkenal karena tragedi perobekan bendera yang dikenal dengan Insiden Hotel Yamato. Sejarah ini cukup panjang, tapi aku menceritakan sekilas aja.
Di awal September 1945 terjadi Gerakan Pengibaran Bendera Merah Putih termasuk juga di Surabaya. Ternyata 300an tahun menjajah Indonesia, Belanda belum bisa move on. Mereka kembali ke Indonesia ini menimbulkan kekacauan. Mereka mengibarkan bendera Belanda di Hotel Yamato.
Jelas saja para pemuda Indonesia marah seolah mereka ingin kembali menguasai Indonesia. Sempat terjadi pertikaian di lobi hotel karena perundingan dengan Belanda untuk menurunkan bendera gagal. Kekacauan yang terjadi ini membuat pemuda di luar hotel pun bergerak masuk ke dalam hotel hingga terjadi pertikaian yang lebih besar. Mereka, tepatnya Hariyono dan Kusno Wibowo, merebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda, merobek bagian berwarna biru dan menaikkan kembali bendera merah putih. Pekik Merdeka terdengar dari bawah hotel ketika bendera merah putih berkibar kembali.
Oiya, hotel ini berubah menjadi Hotel Majapahit sekitar tahun 1969 setelah administrasinya diambil oleh Mantrust Holdings Co. Kemudian di tahun 1994, hotel ini direnovasi oleh pengusaha Tionghoa, Harry Susilo, sebesar $51 juta. Total kamar ini 143 kamar di lantai satu dan dua.
Tur Singkat Hotel Majapahit
Kami memasuki hotel Majapahit dari parkiran mobil memang agak membingungkan karena kami tidak bisa menebak di bagian mana lobi hotelnya. Kami memasuki Hall yang di dalamnya banyak ruangan tempat acara.
Secara sekilas, ruangan tempat acara ini masih seperti ruangan lainnya. Belum tampak bangunan khas kolonial. Kemudian aku, suami dan anak-anak ketemu uti dan akungnya anak-anak. Setelah sapa dan salim, kami mengikuti beliau.
Taman Luas
Kami berjalan di sepanjang koridor hotel, kemudian tiba di sebuah taman terbuka di mana ada pepohonan besar di tengahnya. Taman itu dikeliling oleh kamar-kamar hotel yang banyak. Lampu remang-remang dan suasana yang sepi di malam hari bikin aku antara terkesima karena bangunannya yang kolonial sekali dan bikin bergidik. Hehe.
![]() |
| Taman Hotel difoto dari Atas (dok. Pribadi) |
Ada beberapa kursi dan meja berwarna putih di pinggir taman untuk bercengkerama.
Aku merasa sepertinya yang menginap di sini hanya mertuaku saja wkwkwk. Tak ada tamu hotel lain yang kami temui. Hehe.
Dari taman yang luas ini, kita bisa melihat gedung Tunjungan Plaza yang tinggi dengan lampu-lampunya yang berkela-kelip.
Kamar Hotel Luas
Kami memasuki kamar hotel mengikuti adik ipar dan mertua yang berjalan di depan. Aku tidak mau ketinggalan karena agak-agak gimana gitu kan. Hehe. Anak-anakku mengikuti di depan. Syukurlah mereka tidak merasakan hawa yang aneh-aneh.
![]() |
| Kamar Hotel Majapahit (dok. Pribadi) |
Kamar hotel, yang aku juga tidak tahu tipe apa, termasuk luas. Di dalamnya ada ruang tamu dengan sofa, ruang tidur dan kamar mandi. Lukisan hitam putih zaman dulu terpampang di dinding kamar hotel. Salah satu lukisan itu digambar oleh Taylor berdasarkan foto dari orang Prancis M. Cotteau.
Koridor hotel yang panjang
Anak-anakku senang berlarian di koridor hotel yang panjang, menyalurkan energi mereka tanpa merasa takut dengan vibe-vibe mistis yang selama ini diperbincangkan. Mungkin hati mereka masih bersih belum pernah mendengar cerita mistis apa pun, maka keberanian lebih menguasai diri mereka. Coba kalau sekarang mereka diminta ke sana lagi, setelah berkali-kali mendengar cerita horor, apakah mereka masih berani?
![]() |
| Koridor Hotel Majapahit (dok. Pribadi) |
Aku sendiri merasa ngeri sendiri mereka berlarian. Sebenarnya lebih takut mereka kalau jatuh sih. Haha. Suara tangisannya bisa terdengar satu hotel. Sebenarnya takut juga kalau mengganggu tamu hotel lainnya dan penghuni-penghuni tak kasat mata lainnya. Wkwkwkwk.
Ruangan Santai
Aku, suami, anak-anak mencoba keliling hotel. Si kecil kami dorong pakai stroller. Kami memasuki ruangan di mana awalnya tak ada orang selain kami.
Aku juga kurang paham ini ruangan apa. Sepertinya ruangan ini digunakan untuk duduk bersantai, tempat mengobrol dengan tamu hotel atau keluarga.
Beberapa kursi dan meja kayu model zaman dulu diletakkan dekat dinding. Lampu gantung klasik berwarna hitam juga menambah kesan klasik yang kuat. Kipas angin gantung pun dibuat selaras dengan model klasik.
Desain bangunan masih klasik. Pintu kacanya pun berbentuk melingkar di bagian atas, begitu juga tiap jendelanya. Di dinding-dinding tergantung hiasan baik vas bunga kecil maupun keramik. kebanyakan benda-benda jadul seperti teko jadul, lampu teplok, jam jadul, tempat gantung baju klasik. Ada juga sangkar burung kosong yang cukup besar dan klasik di letakkan di pinggir ruangan.
Kalau ke ruangan ini memang lebih baik kalau rame jangan sendirian wkwkw kecuali kalian emang berani dan biasa sendiri di tempat klasik-klasik begini.
Bingkai-bingkai foto tampak hitam putih mungkin menjelaskan tentang kehidupan zaman dulu cukup banyak memenuhi dinding-dinding ruangan. Aku tak sempat melihat tentang apa saja.
![]() |
| Ruangan Santai (dok. Pribadi) |
Aku sedikit merasa lega ketika ada beberapa tamu hotel lain yang melewati ruangan ini kemudian keluar lagi. Rata-rata tamu hotel itu adalah turis mancanegara yang ditemani oleh tur guide atau mungkin pasangan hidup mereka. Aku sempat mendengar percakapan mereka dalam bahasa Prancis yang sepertinya mereka adalah turis dan tur guide.
Lobi Hotel
Lobi hotel yang banyak kacanya ini tampak lebih mewah, lebih terang, lebih dingin, lebih ramai, tapi tetap tenang. Seorang resepsionis berdiri di balik mejanya. Beberapa tempat duduk kayu cokelat diisi sebagian tamu hotel yang sedang mengobrol. Vibe di lobi hotel ini tidak se-creepy ruangan santai tadi. Masih ada suara-suara manusia yang mengobrol. Hahaha.
![]() |
| Lobi hotel (dok. Pribadi) |
Musholla dan Toilet
Jika tidak menginap di hotel ini, pengunjung (mungkin untuk seminar atau apa pun) bisa menggunakan mushola dan toilet yang sudah disediakan. Ketika aku mencoba membuka mushollanya, gelaapp dan tidak tampak seperti musholla. Sedangkan toiletnya masih terang.
Tempat Perobekan Bendera
Kami naik ke lantai atas dimana insiden perobekan bendera dulu terjadi. Kami menaiki tangga kayu yang kalau berjalan terdengar suara langkah kaki kami. Di dekat tangga pun ada cermin besar jadi kami akan tahu siapa yang berjalan di depan dan belakang kami. Lampu gantung cukup menerangi tangga menuju lantai atas ini.
Di atas, ada jembatan yang menghubungkan ke ruang terbuka sebelum menuju tempat insiden perobekan bendera itu yang terang itu. Jadi kalau mau ke tempat pengibaran bendera itu, kita harus naik ke atas lagi.
![]() |
| Tempat Perobekan Bendera Belanda (dok. Pribadi) |
Di tempat kami berdiri, lampunya sedang mati tapi masih terbantu dengan lampu-lampu dari gedung Tunjungan Plaza yang terang. Di dekat jembatan itu ada jam jadul. Di bagian bawahnya jendela kaca yang khas zaman dulu, ada kaca patrinya. Dari atas jembatan kita bisa melihat taman yang ada di bawah dan arcade-arcade hotel. Façade bangunan arcade ini mirip sekali dengan bangunan Museum Pos Indonesia Bandung.
Siapa yang mau menginap di sini?
Sebenarnya kalau siang hari, hotel ini terasa tampak seperti hotel lainnya. Tapi kalau malam hari, maasyaAllah kerasa banget apalagi kalau sepi. Haha. Kalau misa ada tawaran menginap di hotel ini mau nggak?
Aku sih mau-mau ajaa. Tapi kayaknya bakal sering di luar kamar hihihi. Kalau pun di dalam kamar, kudu sering dibuat mengaji, sholat dan tidur dengan cepat. Wkwkwk.



















.jpg)




















