Sebagai warga domisili Sidoarjo mepet Surabaya, rasanya kurang afdol kalau belum mengunjungi masjid Al-Akbar, masjid terbesar kedua setelah masjid Istiqlal Jakarta.
Beberapa kali ke sana dengan kondisi yang berbeda. Pertama, diajak naik sepeda dari Waru ke Masjid Al-Akbar yang sangat effort karena sepeda harus dinaikkan ke jembatan penyeberangan hahah. Syukurnya tangga di jembatan penyeberangannya ada jalur khusus sepeda.
![]() |
| Masjid Al-Akbar (dok. Pribadi) |
Lokasi Masjid Al-Akbar
Jarak dari rumah ke Masjid Al-Akbar sekitar 6 km atau sekitar 15 menit. Bolak balik jadi 12 km. Anak kami pun pernah ikut juga naik sepeda. Hasilnya dia sangat kelelahan wkwkw.
Kesempatan selanjutnya saat aku akan pergi ke suatu tempat, sudah waktu sholat dzuhur dan melewati Masjid Al-Akbar. Jadi kami sholat di sana.
Sholat jumat juga pernah tapi aku nunggu di taman. Terus saat kami ke sana untuk naik ke menara dan melihat Surabaya dari atas.
Sejarah Masjid Al-Akbar Surabaya
Masjid Nasional Al-Akbar yang berada dekat dengan tol Surabaya-Gempol dibangun pada tahun 1995 atas inisiasi mantan walikota Surabaya, Soenarto Soemoprawiro.
Peletakan batu pertama dilaksanakan oleh Wapres Try Sutrisno dan diresmikan oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid pada tanggal 10 November 2000.
Perjalanan pembangunan masjid Al-Akbar ini tidaklah singkat daĥn mudah. Saat terjadi krisis moneter, pembangunan masjid Al-Akbar dihentikan sementara pada tahun 1997 kemudian di lanjutkan tahun 1999 dan selesai tahun 2000.
Arsitektur Masjid Al-Akbar
Masjid yang dibangun di atas tanah 11.2 hektare ini memiliki gaya arsitektur Timur Tengah yang dipadukan dengan unsur khas Jawa dan gaya modern.
Yang unik dari masjid yang bisa menampung sekitar 36.000 jamaah ini memiliki ciri kubah besar biru kehijauan dan berbentuk setengah telur setinggi 27 meter. Di sekitarnya terdapat empat kubah kecil berbentuk limasan.
![]() |
| Kubah masjid dari dalam |
Kubah masjid ini terinspirasi dari masjid raya Selangor di Shah Alam.
Dengan kondisi tanah yang labil dan tingkat kekerasannya yang minim, masjid itu dibangun dengan 2000 tiang pancang.
Di dalamnya tampak megah dan indah meski dibangun dengan banyak tiang.
Masjid ini dibangun lebih tinggi dari jalan sehingga kita perlu menaiki beberapa anak tangga untuk menuju tempat sholat. Sementara menuju tempat wudhu, kita harus menuruni beberapa anak tangga karena berada di basement.
Memasuki pintu masjid kayu jati yang penuh dengan ukiran ini membuat masjid tampak megah. Kalian bisa memasuki pintu masjid mana saja karena masjid ini memiliki 45 pintu masjid.
Di bagian dalam masjid, dinding-dindingnya juga dipenuhi ukiran. Di bagian kubahnya, terdapat banyak ornamen kaligrafi Al-Qur'an dengan panjang 180 meter dan lebar 1 meter.
Ketika aku sholat di dalamnya, benar-benar terasa lapang dan luas. Di beberapa bagian ada kulkas berisi gelas air mineral.
Di depan masjid, terdapat menara yang menjulang setinggi 99 meter sebagai simbol Asmaul Husna.
Melihat Surabaya dari Atas
Untuk naik ke menara ini pengunjung bisa membayar sejumlah tiket dan menaiki lift. Tiket naik menara Masjid Al-Akbar kalau tidak salah 10ribu rupiah untuk dewasa dan 7500 rupiah untuk anak kepada petugas tiket yang juga operator lift.
Ditemani oleh operator lift, aku dan tiga anakku naik ke atas. Di atas, kami bisa melihat lansekap Surabaya yang banyak bangunan tinggi di beberapa titik.
Menara ini sudah ditutupi dengan kaca sehingga lebih aman buat anak-anak yang suka manjat-manjat. Teringat saat naik menara Eiffel, di lantai atas tidak ada kaca, hanya pembatas besi dan angin yang bertiup cukup kencang.
![]() |
| Surabaya dari atas (dok. Pribadi) |
Di atas menara cukup sepi, hanya 2 atau 3 pengunjung selain kami tapi kemudian turun lagi setelah kami tiba di atas.
Tidak ada penjual jajanan meski ada stand jajanan, kulkas dan perabotan penjual. Entah mungkin sedang istirahat atau memang tidak buka.
Dari sini aku bisa melihat bahwa Surabaya bangunannya sudah sangat padat, di beberapa titik memang banyak apartemen, khususnya daerah Surabaya Barat. Karakteristik bangunannya pun heterogen, warnanya tidak seragam. Jika dibandingkan dengan Paris, karakteristik bangunannya seragam dan sebagian besar berwarna putih jika dilihat dari menara Eiffel.
Selain itu, aku melihat jarangnya ruang terbuka hijau. Bahkan pepohonan pun jarang. Beda sekali ketika aku melihat Paris dari atas di mana meski banyak bangunan tetap ada pepohonan, taman, hutan kota bahkan koridor jalan terlihat jelas ditumbuhi pepohonan. Mungkin akan aku ceritakan nanti yaa..
Selain itu, aku juga berdialog pada anak-anak tentang bumi yang dihamparkan seperti karpet untuk tempat tinggal manusia. Luas dan rata. Betapa Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang pada makhluk ciptaanNya menjadikan bumi untuk tempat tinggal. Ini menjadi salah satu bukti ciptaan Allah.
"Dan bumi bagaimana dihamparkan?" (Al-Ghasyiyah ayat 20)
Setelah puas berfoto-foto, dan anak-anak pun juga sudah mulai bosan, aku mengajak mereka turun karena agak serem juga loh nggak ada cowok dewasa. Dan karena tertutup ya kondisinya, lebih baik rombongan kalau naik ke sini. Agak serem soalnya kalau ada sesuatu. Hehe.
Taman-Taman Masjid Al-Akbar
Saking luasnya, Masjid Al-Akbar ini memiliki taman-taman yang luas dan dengan tema berbeda. Kalau kalian mengelilingi taman masjid ini semua dijamin gempooorrr.
Saat menunggu mas dan ayahnya sholat, aku dan si kecil bermain di taman-taman masjid.
Taman Peradaban
![]() |
| Taman Peradaban Masjid Al-Akbar (masjidalakbar.or.id) |



































