Sebagai warga domisili Sidoarjo mepet Surabaya, rasanya kurang afdol kalau belum mengunjungi masjid Al-Akbar, masjid terbesar kedua setelah masjid Istiqlal Jakarta.


Beberapa kali ke sana dengan kondisi yang berbeda. Pertama, diajak naik sepeda dari Waru ke Masjid Al-Akbar yang sangat effort karena sepeda harus dinaikkan ke jembatan penyeberangan hahah. Syukurnya tangga di jembatan penyeberangannya ada jalur khusus sepeda. 


Masjid Al-Akbar (dok. Pribadi)


Lokasi Masjid Al-Akbar

Masjid Al Akbar Surabaya berada di Jalan Masjid Al Akbar Timur No 1, Pagesangan, Kecamatan Jambangan.

Jarak dari rumah ke Masjid Al-Akbar sekitar 6 km atau sekitar 15 menit. Bolak balik jadi 12 km. Anak kami pun pernah ikut juga naik sepeda. Hasilnya dia sangat kelelahan wkwkw.


Kesempatan selanjutnya saat aku akan pergi ke suatu tempat, sudah waktu sholat dzuhur dan melewati Masjid Al-Akbar. Jadi kami sholat di sana. 


Sholat jumat juga pernah tapi aku nunggu di taman. Terus saat kami ke sana untuk naik ke menara dan melihat Surabaya dari atas.


Sejarah Masjid Al-Akbar Surabaya

Masjid Nasional Al-Akbar yang berada dekat dengan tol Surabaya-Gempol dibangun pada tahun 1995 atas inisiasi mantan walikota Surabaya, Soenarto Soemoprawiro.


Peletakan batu pertama dilaksanakan oleh Wapres Try Sutrisno dan diresmikan oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid pada tanggal 10 November 2000.


Perjalanan pembangunan masjid Al-Akbar ini tidaklah singkat daĥn mudah. Saat terjadi krisis moneter, pembangunan masjid Al-Akbar dihentikan sementara pada tahun 1997 kemudian di lanjutkan tahun 1999 dan selesai tahun 2000.


Arsitektur Masjid Al-Akbar

Masjid yang dibangun di atas tanah 11.2 hektare ini memiliki gaya arsitektur Timur Tengah yang dipadukan dengan unsur khas Jawa dan gaya modern. 


Yang unik dari masjid yang bisa menampung sekitar 36.000 jamaah ini memiliki ciri kubah besar biru kehijauan dan berbentuk setengah telur setinggi 27 meter. Di sekitarnya terdapat empat kubah kecil berbentuk limasan.

Kubah masjid dari dalam

Kubah masjid ini terinspirasi dari masjid raya Selangor di Shah Alam.


Dengan kondisi tanah yang labil dan tingkat kekerasannya yang minim, masjid itu dibangun dengan 2000 tiang pancang.


Di dalamnya tampak megah dan indah meski dibangun dengan banyak tiang. 


Masjid ini dibangun lebih tinggi dari jalan sehingga kita perlu menaiki beberapa anak tangga untuk menuju tempat sholat. Sementara menuju tempat wudhu, kita harus menuruni beberapa anak tangga karena berada di basement. 


Memasuki pintu masjid kayu jati yang penuh dengan ukiran ini membuat masjid tampak megah. Kalian bisa memasuki pintu masjid mana saja karena masjid ini memiliki 45 pintu masjid. 


Di bagian dalam masjid, dinding-dindingnya juga dipenuhi ukiran. Di bagian kubahnya, terdapat banyak ornamen kaligrafi Al-Qur'an dengan panjang 180 meter dan lebar 1 meter.


Ketika aku sholat di dalamnya, benar-benar terasa lapang dan luas. Di beberapa bagian ada kulkas berisi gelas air mineral.


Di depan masjid, terdapat menara yang menjulang setinggi 99 meter sebagai simbol Asmaul Husna.


Melihat Surabaya dari Atas

Untuk naik ke menara ini pengunjung bisa membayar sejumlah tiket dan menaiki lift. Tiket naik menara Masjid Al-Akbar kalau tidak salah 10ribu rupiah untuk dewasa dan 7500 rupiah untuk anak kepada petugas tiket yang juga operator lift.


Jam buka Menara Masjid Nasional Al Akbar Surabaya pukul 08.00–16.00 WIB dari hari Senin-Minggu kecuali saat sedang sholat biasanya tutup.


Ditemani oleh operator lift, aku dan tiga anakku naik ke atas. Di atas, kami bisa melihat lansekap Surabaya yang banyak bangunan tinggi di beberapa titik. 


Menara ini sudah ditutupi dengan kaca sehingga lebih aman buat anak-anak yang suka manjat-manjat. Teringat saat naik menara Eiffel, di lantai atas tidak ada kaca, hanya pembatas besi dan angin yang bertiup cukup kencang. 

Surabaya dari atas (dok. Pribadi)

Di atas menara cukup sepi, hanya 2 atau 3 pengunjung selain kami tapi kemudian turun lagi setelah kami tiba di atas. 


Tidak ada penjual jajanan meski ada stand jajanan, kulkas dan perabotan penjual. Entah mungkin sedang istirahat atau memang tidak buka.


Dari sini aku bisa melihat bahwa Surabaya bangunannya sudah sangat padat, di beberapa titik memang banyak apartemen, khususnya daerah Surabaya Barat. Karakteristik bangunannya pun heterogen, warnanya tidak seragam. Jika dibandingkan dengan Paris, karakteristik bangunannya seragam dan sebagian besar berwarna putih jika dilihat dari menara Eiffel.


Selain itu, aku melihat jarangnya ruang terbuka hijau. Bahkan pepohonan pun jarang. Beda sekali ketika aku melihat Paris dari atas di mana meski banyak bangunan tetap ada pepohonan, taman, hutan kota bahkan koridor jalan terlihat jelas ditumbuhi pepohonan. Mungkin akan aku ceritakan nanti yaa..


Selain itu, aku juga berdialog pada anak-anak tentang bumi yang dihamparkan seperti karpet untuk tempat tinggal manusia. Luas dan rata. Betapa Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang pada makhluk ciptaanNya menjadikan bumi untuk tempat tinggal. Ini menjadi salah satu bukti ciptaan Allah.


"Dan bumi bagaimana dihamparkan?" (Al-Ghasyiyah ayat 20)


Setelah puas berfoto-foto, dan anak-anak pun juga sudah mulai bosan, aku mengajak mereka turun karena agak serem juga loh nggak ada cowok dewasa. Dan karena tertutup ya kondisinya, lebih baik rombongan kalau naik ke sini. Agak serem soalnya kalau ada sesuatu. Hehe.


Taman-Taman Masjid Al-Akbar

Saking luasnya, Masjid Al-Akbar ini memiliki taman-taman yang luas dan dengan tema berbeda. Kalau kalian mengelilingi taman masjid ini semua dijamin gempooorrr.


Saat menunggu mas dan ayahnya sholat, aku dan si kecil bermain di taman-taman masjid.


Taman Peradaban

Taman Peradaban ini bernuansa edukatif yang membuat anak-anak senang karena taman ini dilengkapi miniatur ikonik seperti Monas, tugu pahlawan, jembatan Suramadu. 

Taman Peradaban Masjid Al-Akbar (masjidalakbar.or.id)

Taman Asmaul Husna

Adanya taman ini, keluarga bisa mengenalkan nama-nama Asmaul Husna yang banyak pada anak-anak. 

Edu Park dan Green House

Di Edu Park dan Green House kita bisa mengenal area hijau rimbun yang berfungsi ganda sebagai sarana rekreasi yang sejuk dan tempat belajar budidaya tanaman (urban farming). Ada hidroponik juga. Di Green House, banyak tanaman pangan yang tumbuh di sana, seperti bayam, cabe, serai, selada, sawi, dan lain-lain.

Di sini juga ada kolam yang sudah tidak dirawat dan kosong. 

Anakku sangat senang karena bisa berlari ke sana kemari tanpa merasa panas. Ada gazebo juga tapi sayang sudah keduluan orang lain. Jadi kalau mau istirahat duduk-duduk di atas batu berbentuk bola atau di tempat duduk lain dekat parkir mobil.

Diorama Tafsir Digital

Bangunan diorama ini berwarna hijau yang berada di sekitar taman Asmaul Husna. Aku melihat beberapa anak musa keluar masuk dari ruang diorama ini.  Untuk masuk ke diorama ini tidak dipungut biaya ya.

Diorama tafsir digital ini dibangun agar pengunjung bisa belajar makna atau tafsir dari ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan menekan layar digital. Pengunjung juga bisa mendengarkan muadzin mengumandangkan adzan. Ada pilihan hafizh internasional juga. 

Ruang diorama ini juga tersedia kitab kuning agar generasi milenial mau mempelajari Al-Quran dan tafsirnya.

Penutup

Mengunjungi Masjid Al-Akbar sangat sayang jika tidak naik ke menaranya. Oiya, saat ahad pagi di sekitar masjid ini juga banyak orang bersantai, naik kuda dan menikmati kuliner yang ada di pujasera. Kalau mau mencari sarapan pagi di Surabaya dekat masjid Al-Akbar, datang saja ke sana karena akan banyak pilihan kuliner.
Read More
Kunjungan ke Masjid Ampel sebenarnya bukan jadi tujuanku satu-satunya saat itu. Setelah bertahun-tahun tinggal di Waru, perbatasan Sidoarjo-Surabaya, baru kali ini aku pergi ke masjid Ampel yang berada di kawasan Ampel. Bukan untuk wisata religi tapi memang kami melaksanakan sholat wajib. 

Waktu itu, suami sedang mengunjungi temannya yang tinggal di kawasan Ampel, cukup dekat dengan masjid Ampel. 

Suasana Kawasan Ampel

Menikmati Vibe Timur Tengah di Kawasan Ampel (Dok. Pribadi)

Meski aku belum pernah ke Arab, suasana kawasan Ampel ini seperti berada di Arab (meski tidak terlalu mirip juga sih haha).

Beberapa kali orang-orang berwajah Arab berlalu lalang di depanku. Toko-toko yang ada di kawasan Ampel kebanyakan penjualnya orang Arab, seperti toko parfum, resto nasi mandhi.

Menjelang Ashar, anak-anak Arab berjalan melewati trotoar sudah siap menuju Masjid. Anak laki-laki memakai gamis. Anak perempuan yang memakai jilbab, berwajah manis, mendekap Al-Qur'an di dada. Langkah kakinya mantap menyusuri jalan-jalan Ampel  kemudian berbelok masuk ke dalam gang. Ternyata anakku yang cowok, masih 7 tahun, menatap anak perempuan itu terus-terusan. Sampai suamiku menegur biar ngga ngelihatin terus. Haha. Lucu banget. 

Berada di kawasan yang menjadi cikal bakal penyebaran ajaran agama Islam di Jawa Timur membuat vibe negara multikultural semakin terasa.  

Lokasi Masjid Sunan Ampel

Lokasi masjid Ampel ini berada di tengah kampung arab yang kental dengan budaya timur tengah.

Di sinilah pusat penyebaran Islam di Jawa Timur bermula melalui perdagangan dari mouth-to-mouth yang menjadi sarana efektif dalam berdakwah dan menyebarkan agama Islam.

Lokasi masjid sunan Ampel tepatnya berada di Jl. Ampel Masjid No.53, Ampel, Kec. Semampir, Surabaya. 

Karena lokasinya berada di tengah permukiman penduduk yang padat maka jika datang ke sini pakai kendaraan pribadi bisa melewati jalan sebelah RS PKU Muhammadiyah, belok kiri kemudian di pertigaan belok kanan. 

Dan ternyata tempat parkirnya cukup luas ada masjid yang lain juga.

Sejarah Singkat Kawasan Ampel

Seperti yang udah aku ceritakan sekilas di tulisanku tentang Masjid Peneleh, sejarah kawasan Ampel ini tak lepas dari kiprah Sayyid Ali Rahmatullah atau Raden Rahmat yang dikenal sebagai Sunan Ampel.

Ketika itu, Raden Rahmat diminta untuk memperbaiki kondisi moral masyarakat dan elite kerajaan yang banyak melakukan perbuatan tidak baik, seperti mabuk, zina, maling atau korupsi. 

Raden Rahmat pun diberikan sebidang tanah di Ampeldenta (yang sekarang tempat berdirinya masjid Sunan Ampel) untuk membangun masjid yang terinspirasi dari kisah Rasulullah saat hijrah ke Madinah.

Beliau mendirikan pesantren sebagai tempat untuk mendidik putra bangsawan dan pangeran Majapahit serta siapa pun yang mau datang belajar kepada beliau.

Hasil didikan beliau dikenal dengan falsafah Molimo yang merupakan gabungan dari kata Mo (dalam bahasa Jawa artinya tidak mau) dan limo (dalam bahasa Jawa artinya lima). Secara keseluruhan, Molimo artinya tidak mau melakukan lima perkara yang dilarang.

Lima perkara tersebut adalah Emoh Main (tidak mau berjudi), Emoh ngumbi (tidak mau minum minuman yang memabukkan), Emoh madat (tidak mau mengisap  candu atau ganja), Emoh maling (tidak mau kolusi atau mencuri) dan Emoh Madon (tidak mau zina). 

Atas hasil didikan Raden Rahmat, raja Prabu Brawijaya sangat senang karena memberi pengaruh kebaikan bagi masyarakatnya. Dan dari sinilah, penyebaran agama Islam meluas hingga sampai Jawa Timur.

Pasar Kampung Sunan Ampel

Kami memasuki gang menuju Masjid Ampel. Rumah-rumah saling berdempetan dan tidak ada halaman. Di ujung gang aku lihat banyak penjual memenuhi gang. Ada yang berjualan gamis, baju koko, kopiah, makanan khas arab (kurma, kebab), parfum dan oleh-oleh khas Ampel. 

Di sepanjang jalan seperti di gang pasar-pasar, yang sempit dan banyak orang, para penjual menawarkan oleh-oleh. Harga baju dan celana seukuran anak-anak sekitar 35 ribu. 

Karena padat sekali, udara jadi agak sampek. Pasar-pasar di gang ini tidak terlalu panjang tapi rasanya jadi kurang nyaman terutama bagi kita bukan peziarah, hanya untuk sholat.

Setelah keluar dari gang dengan gapura sebagai penanda, aku lega sekali bisa menghirup udara segar. Ternyata masjid Ampel ini berada di tengah-tengah kampung. Tak ada akses untuk kendaraan bermotor. Para pengunjung semua berjalan kaki untuk menuju masjid.

Di sekitarnya pun juga masih banyak penjual makanan kebab, parfum, dan oleh-oleh lainnya.

Kawasan ampel
Penjual parfum di depan masjid Sunan Ampel (dok. Pribadi)

Arsitektur Masjid Sunan Ampel

Di depan gerbang pasar kampung Ampel, aku bisa melihat masjid Ampel beratapkan limas atau tajuk bertumpang tiga. 

Masjid sunan ampel
Masjid Sunan Ampel (dok. Pribadi)

Kalau dilihat secara keseluruhan, tampaknya masjid ini sudah direnovasi banyak. Sudah banyak ornamen yang terlihat tidak otentik.

Pintunya menggunakan kayu jati dan desainnya lebih modern. Jika dibandingkan dengan pintu Mangkunegaran rasanya jauh sekali.

Aku mencoba mendekati bangunan masjid itu. Di sisi luar diberi pagar besi. Beberapa literatur mengatakan bahwa gaya arsitektur dari masjid Ampel ini akulturasi budaya antara pengaruh Hindu-Budha dan Jawa.

Bangunan masjid ini memiliki 16 tiang penyangga dengan tinggi sekitar 17 meter sebagai bentuk jumlah rakaat dalam shalat wajib dalam satu hari.

Menara kuno masjid Ampel berbentuk lingkaran di ujungnya terlihat dari jauh. Di menara juga ada jendela kecil.

Di dalam kawasan masjid ini memiliki 5 gapura yang dipadukan dengan pintu melengkung (lingkungan Persia/Arab).

Gapura Sunan Ampel
Gapura Sunan Ampel yang menghubungkan Pasar Kampung Ampel (dok. Pribadi)

Di sekitar masjid, sudah banyak pengunjung yang datang. Meski pada di mana harusnya segera sholat tapi mereka memimpin.

Di luar ada tempat wudhu pria berbentuk melingkar. Sedangkan tempat wudhu wanita berada di sisi yang lain. Ada yang ke kantin.

Sholat di Masjid Sunan Ampel

Sholat ashar di masjid Sunan Ampel saat akhir pekan sangat ramai sekali. Aku kira banyak didatangi orang kampung Ampel tapi aku jarang melihat wajah arab di sana. Rata-rata jamaah yang sholat adalah peziarah dari luar kota. 

Peziarah sunan ampel
Sempat bingung tempat sholat akhwat. Para peziarah di barisan belakang. Jamaah sholat ashar di depan (dok. Pribadi)

Di bagian akhwat, banyak kelompok jamaah berbaju putih yang sedang berkumpul. Aku ngga tau sedang apa mereka. Seperti sedang berdoa padahal di depan imam dan makmum sedang sholat.

Aku sendiri bingung kalau sholat dengan kondisi ramai begitu. Pantesan aku jarang lihat orang Arab sholat di sini karena memang seramai itu dan kurang nyaman bagi selain peziarah. 

Makam Sunan Ampel

Di kawasan Sunan Ampel ini ternyata banyak sekali makamnya dan terpisah-pisah. Tapi yang paling banyak yang berada di dekat Makam Sunan Ampel.

Petunjuk arah kawasan Masjid Sunan Ampel (dok. Pribadi)

Untuk menuju ke makam, pengunjung harus melewati bangunan sekolah bahasa Arab, kemudian memasuki gerbang. 

Banyak orang berlalu lalang. Ketika aku coba memasuki makam Sunan Ampel, weh ternyata ramai juga. Banyak peziarah masuk dan duduk di dekat makam. 

Sebenarnya aku agak merinding juga masuk ke sana apalagi bawa anak kecil. Mana mereka tahu itu makam. Bahkan pinggiran makam-makam tanpa pembatas, tanpa lantai dan tanpa atap itu banyak jadi tempat duduk pengunjung.

Ziarah makam sunan Ampel
Para Peziarah Makam (dok. Pribadi)

Sedangkan di bagian lain, makamnya memiliki atap dan berlantai keramik. Sedangkan makam Sunan Ampel terlihat beda sendiri tapi tidak ada atapnya. Beberapa orang terlihat duduk menghadap makam Sunan Ampel.

Melihat aktivitas para peziarah (dok. Pribadi)

Hmm.. karena aku juga nggak ngapa-ngapain di sana jadi aku segera melipir dan ambil foto-foto seperlunya.

Penutup 

Bagi kalian yang hanya ingin menumpang sholat, lebih baik mencari tempat sholat di masjid atau mushola lain saja. Karena suasananya ramai sekali dengan peziarah. Dan ini membuat kita kurang nyaman. Di bagian akhwat pun digunakan penziarah untuk berkumpul dan berdoa bersama. Ketika ada sholat ashar berjamaah mereka membaca doa di belakang.  
Read More
Siang begitu terik seolah sedang menusuk-nusuk kulitku. Berjalan di Kawasan Peneleh, Surabaya, yang jarang sekali pohon rindang. Air di botol benar-benar sudah kosong. Rencana kami makan setelah sholat. Setelah berkunjung ke museum HOS. Tjokroaminoto, kami mengejar sholat dzuhur berjamaah di masjid terdekat yaitu Masjid Peneleh.

Jalannya tidak jauh, tetapi setelah keliling dari pagi, tetap saja ada rasa lelah. Apalagi anak-anak yang tampaknya aja masih ceria tapi mungkin mereka sudah lelah.

Berbekal papan petunjuk, kami menuju Masjid Peneleh. Kami memasuki gerbang Kampung Peneleh yang berwarna hijau dan bertuliskan PENELEH SURABAYA. Anak-anakku bersegera mengejar ayahnya yang berjalan cepat. Sementara aku sedikit lambat mengikuti ritme si anak bayi.

Kami melewati rumah-rumah penduduk yang padat. Sampai akhirnya kami melihat bangunan di tengah kampung yang berbeda dari rumah biasa tapi juga seperti bukan masjid.

Masjid Peneleh

Masjid jami' Peneleh
Masjid Jami' Peneleh (dok. Pribadi)

Masjid yang kami datangi adalah masjid Peneleh, katanya menjadi masjid tertua kedua di Surabaya. Tapi aku kurang paham juga karena katanya, berdasarkan prasasti mbah Cempo, Sunan Ampel membangun masjid Peneleh ini lebih dulu daripada masjid Sunan Ampel. Jadi komunitas muslim di Peneleh sudah ada sebelum di kawasan Ampel.

Menurutku, arsitekturnya cukup unik karena tidak seperti bangunan masjid kebanyakan. 

Tidak ada pagar yang membatasi kambing masjid. Antara bangunan dan latar masjid bergabung dengan jalanan kampung. 

Ini membuat aku sedikit bertanya-tanya. Kenapa bisa berbeda begini? Apakah ada cerita di baliknya?

Sejarah Masjid Peneleh

Menurut beberapa referensi, masjid Peneleh ini dibangun pada abad ke 15 atau tahun 1421. Ada juga yang bilang 1430. Pendiri Masjid Peneleh ini adalah Sunan Ampel yang juga membangun masjid Ampel. 

Dulunya hanya surau kecil atau langgar yang menjadi pusat syiar Islam. 

Arsitektur Masjid Peneleh

Ketika pertama kali kulihat, bangunan masjidnya bagian depan memiliki ruang khatib atau mihrab yang berbentuk setengah melingkar bercat hijau. Jendelanya berbentuk lingkaran.

Di sisi lain masjid terdapat menara tampung air yang berbentuk bulat di ujungnya.

Dari desain luarnya, Masjid Peneleh memiliki jendela utama lebar khas zaman dulu. Ada 4 jendela besar utama dan ternyata ditutup sebagian dengan kayu. Mungkin cahaya matahari tidak masuk ke masjid. Bahan kayu dan memiliki kisi agar angin tetap masuk meski jendela ditutup. Model jendela yang aku suka karena hemat energi. Hehe.

Masjid arsitektur kuno
Jendela masjid (dok. Pribadi)

Di antara jendela itu juga ada pintu dengan tangga menyamping.

Pintu samping masjid yang tertutup (dok. Pribadi)

Sepertinya hanya di satu sisi masjid ini saja ada jendela seperti ini. 

Aku mencari pintu masuk untuk wanita tapi agak bingung karena hanya ada satu pintu masuk besar. Di sisi kiri pintu ada tempat wudhu untuk pria. 

Sepertinya semua jamaah masuk di pintu yang sama. Jamaah pria yang baru berwudhu bersiap memasuki masjid. Aku sudah melepas sepatu dan siap masuk ke masjid. Bergantian dengan para pria. 

Untuk ke tempat wudhu wanita, aku harus masuk ke pintu utama masjid. Kemudian aku jalan menuju ke arah tempat sholat wanita.  

Saat pertama masuk masjidnya, aku cuma berucap MaasyaAllah. Keren sih. Kalau aku ya, tiap lihat bangunan masjid yang modern aku cuma bisa mengakui bagus.. tapi kayak yaudah gitu. Biasa aja. Tapi kalau lihat masjid tua yang masih dipertahankan arsitekturnya sampai sekarang tuh rasanya kayak 'ya Allah ini keren bangettttt'. Vibe-nya beda. Berasa kayak kembali ke masa silam. Melupakan segala euphoria tentang modernitas tapi mengingat kembali bahwa kesederhanaan itu bisa menyenangkan. Tergantung cara kita memandang. 

Masjid tertua di surabaya
Coba perhatikan tiang-tiangnya (dok. Pribadi)

Secara umum, atap masjidnya hampir sama dengan masjid lain yang berbentuk limas menjulang ke atas dengan lapis tiga, seperti pada bangunan joglo. Tapi tetap elemennya yang membedakan dengan masjid lain.

Meskipun udah pernah ke masjid Al-Wustho Pura Mangkunegaran, masjid Peneleh ini tetap ada ciri khas yang berbeda. 

Ciri khas yang berbeda dengan masjid lain di Indonesia adalah bagian atapnya seperti perahu terbalik. 

Tiangnya ada 10 yang melambangkan 10 nama malaikat Allah. 

Jendelanya selain kayu di bagian atasnya dipasang kaca patri yang berjumlah 25 dan bertuliskan nama-nama nabi.

Sejarah masjid Peneleh
Kaca patri bertuliskan nama nabi (dok. pribadi)

Yang unik lagi, setelah aku mencari referensi tentsng Masjid Peneleh, ada yang mengatakan tiangnya ini kalau dilihat-lihat seperti kepala tengkorak dengan dua mata dan gigi. Sebenarnya aku tidak begitu sadar ya. Tapi pas dilihat-lihat kok bener desain tiangnya menyerupai tengkorak ini. Alasannya sebagai bentuk pengingat akan kematian. 

Untuk kamar mandi dan tempat wudhu tidak tampak seperti tempat wudhu di Masjid Jami' Kraton Solo yang lebih jadul. Di sini tempat wudhu masih tampak modern.

Bukti penyebaran agama Islam

Adanya masjid arsitektur kuno ini menjadi bukti bahwa penyebaran Islam di surabaya sudah ada sejak zaman Majapahit yang dipimpin oleh ibu suri Suhita, Diah Kertawijaya. 

Yang ternyata di masa itu sedang masa peralihan ke era Islam. Di saat itu kerajaan Majapahit memberikan sebidang tanah di kawasan Ampel termasuk juga Peneleh kepada Sunan Ampel. 

Kenapa Ibu Suri memberikan sebidang tanah pada Sunan Ampel? 

Karena di masa itu, masyarakatnya termasuk juga para elite kerajaan yang mengalami krisis moral, seperti berjudi, mabuk-mabukan, menggelapkan pajak dan lain sebagainya. 

Sunan Ampel diminta untuk memperbaiki moral masyarakat dan elite kerajaan dengan memberikan sebidang tanah untuk pembangunan pusat ibadah dan perbaikan moral masyarakat.

Dari situlah bermula penyebaran agama Islam di Jawa Timur.  Setelah itu ramailah pedagang dari arab Yaman dan lama-lama menjadi pusat perdagangan hingga menjadi komunitas Islam tertua.  

Jamaah Masjid Peneleh

Mungkin karena siang, jamaah sholat dzuhur tidak terlalu banyak. Untuk akhwatnya pun bisa dihitung jari. Rata-rata juga para lansia. Kalo ini sepertinya hampir semua kondisi masjid. 

Setelah sholat dan dzikir, aku mengambil beberapa foto dan segera pulang. Kami pun mencari makan di warung makan dekat jembatan Peneleh.

Read More
Setelah berkunjung ke Rumah Kelahiran Soekarno, kami pun melanjutkan destinasi wisata sejarah Surabaya selanjutnya yaitu mengunjungi museum HOS. Tjokroaminoto atau Haji Oemar Said Tjokroaminoto.

Tidak Jauh dari Rumah Kelahiran Bung Karno

Jarak dari Rumah Kelahiran Bung Karno ke Museum HOS. Tjokroaminoto sekitar 350 meter atau 6 menit dengan berjalan kaki. Meski harus berjalan di bawah terik jam 11 siang, kami– eh aku aja kali ya– tetep semangat pergi ke rumah tokoh pergerakan nasional HOS. Tjokroaminoto. Ihiiyy.

Sebenarnya lokasinya tidak terlalu susah dicari karena sudah ada papan penanda. Hanya perlu ketelitian saja karena papannya tidak terlalu besar.

Di sisi kanan jalan, kendaraan berbelok melewati jembatan Peneleh yang melewati Kalimas–sudah pada tahu kan wisata perahu Kalimas?

Di jembatan ini di mana Soekarno pernah bercengkerama bersama Siti Oetari yang menjadi istri pertama Soekarno. Sayangnya, beliau ini bercerai. Setelah itu, Siti Oetari menikah dengan Sigit Bachroensalam dan memiliki anak bernama Harjono Sigit, seorang arsitek dan pernah menjadi rektor ITS. Harjono Sigit inilah ayahnda Maia Estianty.

Siang itu, kendaraan tidak terlalu ramai. Persis di depan jembatan ada jalan menuju museum HOS. Tjokroaminoto, yaitu Jalan Peneleh Gang 7.

Toko Buku Peneleh adalah tempat Bung Karno sering mencari buku dulu (dok. Pribadi)


Suami memarkirkan mobil dekat toko buku Peneleh yang menjual buku-buku jadul. Beberapa orang terlihat seperti pengunjung di Gang tersebut.

Museum HOS. Cokroaminoto dari depan (dok.pribadi)

Kami berdiri di depan bangunan berwarna hijau dan putih yang masih terjaga keasliannya. Kalaupun direnovasi hanya untuk memperbaiki kerusakan. Catnya masih tampak baru. Vibe-nya masih seperti rumah jadul. Pintu lebar dua sisi. Jendela lebar kayu yang bisa dibuka atas dan bawah. Bangunan tidak terlalu tinggi. Atap limasan. Pagar kayu hijau. Dua tiang kayu di bagian depan khas rumah limasan. Di depan museum ada bendera merah dan putih.

Di bagian depan, tampak dua nomor bangunan : 29 dan 31.

Beli Tiket Museum Online

Ketika kami mau masuk, kami dicegat penjaga dan meminta menunjukkan karcis kami. Ternyata kami harus pesan tiket dulu di tiketwisata.surabaya.go.id. 

Kita pilih tujuan wisata kemudian pilih hari dan jamnya. Perhatikan kuotanya. Kalau habis berarti pilih di jam berikutnya. Cuma setahu aku sih nggak strict banget. Terus isi data diri. Setelah itu lakukan pembayaran yang hanya bisa QRIS.

Setelah membeli tiket dan menunjukkan kepada penjaga, kami pun memasuki rumah bergaya klasik berwarna hijau itu.

Rumah Pendiri Sarekat Islam

Suasananya tampak sendu dan remang karena lampunya sengaja digunakan lampu kuning seperti zaman dulu.

Karena berada di wilayah padat penduduk, bangunan ini hanya memiliki jendela di bagian depan. Sehingga pencahayaan cuma dari depan bangunan dan lampu di dalamnya. Sirkulasi udara pun hanya dari jendela depan. Namun, museum ini sudah dilengkapi dengan AC portable sehingga pengunjung tidak akan kegerahan memasuki museum (apalagi kalau berdiri dekat AC. Haha).

Ruang tamu, dulu tempat berkumpulnya para pahlawan

Ruang tamu (Ulasan Google Hanif Kusumaning Tyas) 

Ketika memasuki museum, suasana tenang dengan lampu kuning dan remang khas lampu pameran.

Sebuah buku besar diletakkan di atas kayu seperti podium untuk tempat pidato. Aku membacanya sebagai pengantar sebelum memasuki area yang lain.

Dari sini aku jadi membayangkan sedikit bagaimana tampilan fisik HOS. Tjokroaminoto jika beliau di depanku. Tinggi, ganteng dengan sorot mata tajam. Bunda Maia aja cantikkkk gituu apalagi kakek buyutnya.

Aku pun jadi mengerti sangat sedikit bagaimana karakter pendiri Sarikat Islam ini. Apa yang membuat beliau memiliki banyak pengikut. Soekarno muda pun saat ngekos di rumah beliau belajar banyak dari beliau. Tokoh pergerakan nasional itu telah mengajarkan Bung Karno banyak hal, mengenai pemikiran, kepemimpinan, komunikasi yang bisa membangkitkan nasionalisme. Karena itulah Pak Tjokro menjadi idolanya Bung Karno. Ia telah dididik bagaimana harusnya menjadi pemimpin bangsa.

Salah satu pesan Pak Tjokro:

"Jika kalian ingin menjadi pemimpin, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator."

Meski orasi Pak Tjokro terkenal kaku, lurus, to the point, intonasi datar tetapi menggelegar dan bisa membangkitkan semangat nasionalisme bagi pendengarnya.

Bung Karno mempelajari semua tipikal orasi Pak Tjokro bahkan Bung Karno melakukan teknik rasi yang berbeda yang bisa membedakan dengan Pak Tjokro. Yaitu menggunakan intonasi. Yang kita bisa lihat di video-video orasi Bung Karno yang penuh pemantik api semangat.

Di sisi kanan ada satu set kursi tamu kayu dengan meja bandar. Di dinding tertempel foto para tokoh pergerakan nasional. Di dekatnya ada lemari kayu berisi penghargaan sebagai bukti pengabdian HOS. Tjokroaminoto.

Aku tidak terlalu banyak mengambil foto karena kamera tidak bisa menangkap jelas saat kondisi kurang cahaya.

Kamar HOS. Tjokroaminoto

Kami memasuki ruangan kamar yang seluas sekitar 2.5 x 2.5 m. Kamar yang sitempati HOS Tjokroaminoto dan istrinya ini memiliki perabotan yang tertata rapi dan desain yang klasik seolah kita sedang memasuki zaman kolonial. 

Kamar HOS. Tjokroaminoto (dok. Pribadi)

Ranjang besi dengan kasur kapuk dan seprei putih ditambah selambu putih menambah kesan klasik. Lampu teplok menerangi sedikit ruangan kamar itu. Meja rias kayu yang sedikit besar dan ranjang yang membuat ruang kamar terasa sempit. Di dindingnya, ada dua potret tokoh warna abu-abu dengan keterangan di bawahnya.

Kamar kos Bung Karno

Bagaimana bisa Bung Karno ngekos di rumah HOS. Tjokroaminoto ini bermula dari permintaan ayahnya, Soekemi, agar Soekarno melanjutkan sekolah ke HBS setelah lulus dari ELS. 

Karena Soekemi dan HOS. Tjokroaminoto ini bestie, jadi Soekarno ngekos di rumah Pak Tjokro. 

Kamar kosnya ada di lantai atas seperti di bagian atap bersama dengan temannya yang lain, seperti Musso, Alimin, Kartosuwiryo, Darsono dan lain-lain. Menuju ke kamarnya ini agak serem karena harus melewati tangga yang agak tegak. Anak kecil harus didampingi karena tangganya bukan seperti tangga biasa. 

Kamar Kos Soekarno (dok. Pribadi)

Di kamar kos ini, Soekarno mempraktikkan ilmu orasi yang didapatkan dari Pak Tjokro. Ia berorasi di depan teman-teman sekamarnya hingga membuat mereka terbangun dan tertawa.

Ruang pameran

Ruang pameran ini berada di depan kamar HOS Tjokroaminoto di mana di tempat ini dulunya menjadi tempat makan. 

Di ruang ini, pengunjung bisa melihat baju Soekarno yang dipakai saat ke sekolah HBS dan di rumah Pak tjokro.

Kemeja arrow putih dengan dasi kupu dan jas ivory. Bagian bawah pakai jarik batik motif parang barong. Alas kaki memakai selop.

Pakaian sekolah HBS Soekarno
Pakaian Sekolah Bung Karno di HBS dulu (dok. Pribadi)

Di sini juga ada koran Bandera Islam yang dibingkai di mana Pak Tjokro menjadi redaksinya, sejarah kongres PPKI dan sejarah ISDV atau Partai Komunis Indonesia.

Kenapa sampai ada sejarah PKI di rumah Pak Tjokro ini?

Karena ternyata anak kos yang juga anak didik ideologis Pak Tjokro ini merupakan tokoh utama PKI awal. 

Semakin bertumbuhnya pemahaman dan pengetahuan anak didiknya pada berbagai macam ilmu politik justru membuat ideologis anak didiknya berbeda dengan ideologis Pak Tjokro. Paham sosialisasi dan komunisme berkembang di bawah panji Sarekat Islam.

Tokoh Komunis ini menyusup di tubuh Sarekat Islam. Karena itulah, Pak Tjokro membersihkan paham yang berbeda itu dari kalangan buruh Sarekat Islam.

Dalam buku Islam dan Sosialisme karya HOS. Tjokroaminoto ini mengungkapkan bahwa sosialisme dalam Islam bisa berjalan sesuai dengan nilai kemanusiaan dan akhlak.

Pemuda Penggerak Bangsa

Dari perjalanan ke museum HOS. Tjokroaminoto, aku pun tahu bawah peran pemuda ini begitu penting dalam melawan kolonialisme. Usia HOS. Tjokroaminoto saat memimpin Sarekat Islam adalah 25 tahun. Bung Karno saat menjadi proklamasi kemerdekaan di usianya 25 tahun. 

Maka harusnya pemuda-pemuda sekarang bisa meniru beliau-beliau dalam memajukan peradaban masyarakat atau bangsa. 

Oiya dari rumah kos inilah, Soekarno jatuh cinta pada anak HOS. Tjokroaminoto, Siti Oetari, dan akhirnya menikah. Aw aw aw so sweet banget.

Ternyata punya bapak kos seorang tokoh pergerakan nasional bisa 'menghasilkan' anak kos dengan berbagai ideologi, bahkan menjadi proklamator dan Presiden Pertama RI. 

Terus aku jadi mikir mungkin harusnya nyari kos itu ya sama seperti nyari teman. Berteman sama penjual wewangian akan ikut wangi.. nyari bapak kos yang ahli ibadah bisa ikut rajin ibadah. Nyari bapak kos yang ahli ilmu, kita jadi pintar. Nyari bapak kos yg ternyata tokoh pergerakan nasional, kita pasti akan menjadi tokoh penting juga. Nah kayaknya bisa banget nih kalo yang cari kos juga harus lihat latar belakang pemilik kosnya. Soalnya kayak cari jodoh dan akan memengaruhi kehidupan kita.

Selesailah kunjungan wisata sejarah kami ke rumah HOS. Tjokroaminoto di Surabaya. Karena adzan sudah berkumandang, kami pun ke masjid terdekat, Masjid Peneleh, yang ternyata adalah masjidnya Sunan Ampel dulu. MaasyaAllah.
Read More
Perjalanan panjang bangsa ini tak lepas dari peran para pemuda di zaman dulu. Keberanian dan semangat pantang menyerah untuk memerdekakan bangsa ini dari penjajahan bisa terlihat jelas pada diri pahlawan bangsa. Presiden pertama RI dan bisa disebut pemuda menjadi salah satu pahlawan bangsa yang berjasa memerdekakan bangsa ini.

Ir. Soekarno telah melewati masa-masa berat dan suram. Tapi aku kali ini tidak akan menjadi guru sejarah yang akan membuat para pembaca yang baik hati mengantuk karena tulisanku. Hehe. Semoga memang tidak mengantuk ya..

Rencana mengunjungi Peneleh akhirnya terwujud juga. Kunjungan pertama adalah ke rumah masa kecil Ir. Soekarno. Berbekal Google Maps kami pun tiba di sekitar kawasan Peneleh, salah satu kawasan tertua di Surabaya yang sudah ada sejak tahun 1275.

Yang agak susah, tempat parkir untuk mobil yang terbatas. Kami pun parkir di pinggir jalan tanpa pepohonan. Beberapa bus juga terparkir di sisi jalan yang lain. 

Ternyata ada hotel di sekitar Peneleh yang sepertinya untuk rombongan trip sejarah. Sepertinya...

Di tengah panasnya Surabaya meski masih jam 10 pagi, kami berjalan menyusuri jalanan pinggir Peneleh, yang dekat dengan sungai Kalimas. 

Gerbang Rumah Kelahiran bung Karno (dok. Pribadi)

Kami berhenti sejenak di depan gapura bertuliskan Rumah Kelahiran Bung Karno. Aku mengambil foto-foto sejenak. Gapuranya biasa. Ada sketsa di sisi kiri gapura. Ada juga ikon buaya dan ikon hiu ditempel di gapura. Seorang penjaga duduk di dekat gerbang masuk. 

Gang di depan kami sama seperti gang Surabaya lainnya, kecil, paving dan bukan jalur untuk mobil. Jalan ini bernama Jalan Pandean IV yang pernah menjadi saksi lahirnya putra bangsa.  

Memasuki Kampung Pandean, gang yang bersih dan padat dengan rumah penduduk, aku melihat sisi kiri lukisan tentang perjalanan Bung Karno dari lahir. Tanaman hijau sederhana memperindah pemandangan dari luar.

Perjalanan Bung Karno di Surabaya

Seni mural perjalanan masa kecil Soekarno (dok. Pribadi)

Dari seni mural di Jalan Pandean IV ini memberikan kisah singkat tentang sejsrha rumah lahir Bung Karno di Surabaya.

Kami memasuki rumah tanpa teras yang memiliki penanda rumah masa kecil Bung Karno. Rumahnya jelas sudah direnovasi. Dindingnya bercat putih dengan jendela kaca dan bingkai kayu cokelat. Pintu rumah berada di tengah bangunan. Di bagian atas pintu ada penanda berbentuk kipas bertuliskan "Rumah Lahir Bung Karno".

Depan Rumah Kelahiran Bung Karno (dok. Pribadi)

Dari luar, tidak tampak seperti rumah di sekitarnya. Unsur jadul memang masih terasa sedikit meski tampaknya sudah bangunan baru karena sudah direnovasi. Sepertinya bagian atap juga sudah ditinggikan. Biasanya nih bangunan jadul milik pribumi tidak terlalu tinggi jarak lantai ke atap.

Tak ada petugas loket di bagian depan. Tak ada pengunjung lain. Semua tampak sepi seperti gang yang kami lewati. Hanya suara anak-anakku yang berisik. 

Undakan sedikit untuk memasuki rumahnya. Ketika membuka pintu, foto masa kecil Soekarno yang memakai blangkon tampak jelas menyambut pengunjung. Wajahnya yang tampan membuatku mengaguminya. Tak heran jika di waktu itu banyak perempuan yang jatuh hati pada beliau.

Di sampingnya bertuliskan:

"...Saja dilahirkan di Surabaja jadi saja arek Surabaja." - Ir. Soekarno.

Soekarno Masa Muda (dok. Pribadi)

Jelas yo rek! Bung Karno arek Suroboyo! Hehehe

Keluarga Bung Karno

R. Soekeni, ayah Bung Karno, merupakan orang Tulungagung yang berprofesi sebagai guru Tweede Klasse Scholen di Buleleng, Bali, pada tahun 1891. 

Kemudian bertemu dengan Ida Ayu Nyoman Rai. Meski berbeda agama, islam dan Hindu, mereka akhirnya menikah tahun 1897. Karena perbedaan agama ini, keluarga mereka tidak merestui hingga nikah lari. 

Mereka memiliki anak pertama bernama Soekarmini tahun 1898. Di tahun yang sama mereka pindah ke Jawa, tepatnya di Surabaya. Pada waktu itu status rumah masih mengontrak.

R. Soekeni mengajar di Inland Scool (sekarang: SDN Sulung) di Surabaya.

Kelahiran Bung Karno

Dua tahun di Jawa, Ida Ayu melahirkan anak kedua bernama Koesno Sosrodihardjo di tahun 1901 pada pagi hari, yang kita kenal sebagai presiden pertama Indonesia.

Dalam bahasa Jawa, Koesno artinya kesentausaan dan menyukai ilmu pengetahuan. 

Yang paling mengharukan dari perkataan ibunya pada Bung Karno kecil adalah:

Anakku, engkau sedang memandangi matahari terbit. Dan engkau anakku kelak akan menjadi orang yang mulia, pemimpin besar dari rakyatmu, karena ibu melahirkan saat fajar menyingsing. Jangan sekali-kali engkau lupa, Nak, bahwa putra sang fajar.

MaasyaAllah. Saat baca ini. Aku terharu. Bagaimana tidak, kata-kata seorang ibu itu ibarat doa yang mudah sekali Allah wujudkan. Padahal seorang Ida Ayu masih menganut Hindu hingga akhir hayatnya. Mungkin ia tahu bahwa ucapan ibu adalah doa.

Aku berkaca pada diriku. Tiga anakku semua lahir saat fajar. Semoga kelak mereka menjadi orang mulia dan pemimpin rakyat. Semoga lisanku juga mudah berucap kata baik-baik untuk anak-anakku. Aamiinn.

Dan kamar Koesno kecil yang dulu masih berupa tanah dan bambu, kini telah difungsikan untuk pemutaran film dokumenter Pak Soekarno kecil. 

Ruangan kamar Koesno kecil juga telah direnovasi. Tidak ada benda peninggalan apa pun dari Soekarno dalam rumah ini. Di ruangan tersebut disediakan beberapa kursi, televisi untuk menayangkan film dokumenter dipasang di dinding, dan di pojok ruangan, sound system dipasang agar suara lebih terdengar jelas. 

Ruangan Augmented Reality

Uniknya, di ruangan lain, disediakan layar augmented reality. Ketika kita duduk di kursi, maka layar akan menyala otomatis. 

Seketika layar memperlihatkan rekaman masa kecil Soekarno dan gambar Soekarno sedang berdiri memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. 

Anakku excited ketika melihat mereka bisa masuk ke dalam televisi. Tangan mereka terangkat. Mereka tertawa. Mereka bergeser dari kiri ke kanan. Lucu.

Ruangan Augmented Reality (dok. Pribadi)

Pekerjaan Soekeni dan Sekolah Soekarno

Setelah enam bulan lahir, ayahnya, R. Soekeni ditugaskan menjadi guru di Jombang. Saat orang tuanya tingga di Jombang, sekitar tahun 1903, Soekarno diasuh kakaknya di Tulungagung. Koesno kecil ini sering sekali sakit. Sampai akhirnya keluarga memutuskan agar mengganti namanya menjadi Soekarno. Penggantian nama ini diikuti dengan selametan. 

Kemudian tak lama Soekeni dipindahkan lagi ke Sidoarjo dan Mojokerto. 

Di tahun 1915, Soekeni ditugaskan ke Blitar. Satu tahun kemudian, di usia 16 tahun, saat orang tuanya di Blitar, Soekarno kembali ke Surabaya untuk menuntut ilmu di Hoogere Burgerschool (HBS). Beliau mengontrak di rumah HOS. Cokroaminoto yang tidak jauh dari rumah lahirnya hingga lulus tahun 1921.

Perjalanan Hidup Soekarno (dok. Pribadi)

Belajar dari orang tua Soekarno

Alasan aku kenapa menyukai pergi ke museum adalah karena biasanya ada cerita yang bikin hati terasa trenyuh atau bisa jadi refleksi diri untuk menjadi lebih baik. 

Pertama ketika membaca tulisan di bawah potret ayahnda, Raden Soekeni Sosrodihardjo.

Beliau mengajarkan tegas dan disiplin dalam mendidik anak. Koesno sering dihukum karena melanggar aturan yang sudah diajarkan Soekeni.  

Apakah kalian juga menerapkan hukuman pada keluarga kecil kalian?

Semoga Allah terus membimbing kami. Semoga menjadikan anak-anak kami (para laki-laki) ini tegas dan disiplin. Calon pemimpin masa depan. Aamiinn

Beliau juga mengajarkan untuk menyayangi sesama makhluk hidup. Beliau juga menanamkan pendidikan formal dan agama secara mendalam kepada anak-anaknya.

Sementara ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai, ketika Koesno mendapat hukuman dari ayahnya, maka ibunya ini menjadi penyeimbang dengan memberikan pelukan hangat. Ibu menjadi tempat untuk berlindung dan mengadu. 

Terakhir, tentang persaudaraan dengan kakak perempuannya. Aku benar-benar lupa. Tidak sempat aku foto. Dan pesannya mirip sekali dengan kondisi anak-anak kami.

Rumah Kelahiran Bung Karno, Rumah Kecil Penuh Makna

Meskipun sederhana, tidak bisa disebut museum karena memang tidak ada barang bersejarah yang dimuseumkan. Tapi meski tampak rumah biasa dan tak ada banyak benda bersejarah, selain kisah sejarah hidup Soekarno, ternyata Rumah Bung Karno Surabaya ini menyimpan makna tentang hubungan orang tua dan anak serta persaudaraan.  dan sejarah.

Ketika kalian mencari wisata sejarah Surabaya, datanglah ke rumah lahir Bung Karno. Peneleh tak hanya menyimpan cerita tentang rumah lahirnya Soekarno tetapi juga rumah HOS Cokroaminoto yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dari rumah Soekarno.

Ada yang sudah pernah mengunjungi Rumah Lahir Soekarno?

Oiya kalau kalian sudah berkunjung ke Rumah Kelahiran Soekarno, saranku kalian pergi ke Sumur Tua Majapahit yang hanya beda dua gang saja. Aku pun baru tahu loh infonya jadi aku nggak sempat ke sana. Setelah itu baru ke rumah museum HOS. Cokroaminoto.
Read More
Sebagai warga yang tinggal di pinggiran Kota Surabaya, ketika ada keluarga jauh datang, kami menawarkan untuk jalan keliling Surabaya. Tapi kalau malam hari, tempat wisata Surabaya yang bisa dikunjungi seperti wisata Tunjungan Romansa, tempat wisata sejarah di sekitar Jalan Tunjungan. Hanya saja tempatnya ramai dan banyak anak muda. Bagi keluarga yang sudah lansia mungkin kurang cocok kali ya. Apalagi kalau tidak suka keramaian dan jalan yang jauh. Akhirnya, aku menawarkan wisata perahu Kalimas yang mirip seperti wisata air Venezia di Italia atau seperti Singapura. Aku kurang tahu kalau di kota lain apakah ada wisata air yang serupa?


Lokasi tengah kota Surabaya

Lokasinya cukup jauh dari rumah kami yaitu berada di Jalan Ketabang Kali. Lama perjalanan dari Waru sekitar 40 menit atau sekitar 16 km.
Lokasinya juga mudah dicari lewat Google. Nanti ada pujasera di dekat taman Prestasi dan dermaga Kalimas. 

Pemesanan tiket

Pertama kali ke sana, kami tidak tahu kalau harus pesan tiket wisata perahu Kalimas di website Tiket Wisata Surabaya. Jadilah kehabisan kuota dan kami tidak bisa naik perahu. Kesempatan selanjutnya, ketika keluargaku dari Kalimantan datang, kami pun memesan tiket wisata dulu sebelum berangkat. Alhamdulillah masih dapat kuota. Harganya murah cuma 7.000 rupiah saja. Kuotanya terbatas. Makanya cepat habis. Sekali naik perahu bisa 10an orang.

Wisata Perahu Kalimas

Wisata Perahu Kalimas direvitalisasi sekitar tahun 2021 dan mulai aktif digunakan tahun 2022.

Sebenarnya ada dua rute wisata perahu Kalimas yaitu Taman Prestasi - Monumen Kapal Selam (Monkasel), dan Taman Prestasi - Museum Pendidikan. Kita ambil rute Taman Prestasi - Museum Pendidikan karena tidak terlalu jauh. Harganya berbeda setiap rute. 

Jam buka Wisata Perahu Kalimas dari jam 8 pagi sampai jam 9 malam. Jangan mepet datang jam setengah 9 ya karena biasanya masih antri. Daripada nggak keburu.

Kami tiba di sana sekitar jam 8 lewat dikit. Ketika keluarga mertua datang, kami hanya sempat foto-foto saja. Anak-anak kecil menyukai bermain di taman Prestasi.

Ketika keluarga dari Kalimantan datang, mereka setuju untuk wisata perahu Kalimas. aku langsung memesan tiket di website. 

Malamnya setelah makan malam Bebek wahid hasyim kami meluncur ke Wisata Perahu Kalimas.

Di sana mobil sudah parkir cukup banyak meskipun agak susah karena berada di pinggir jalan. 

Aku langsung segera menuju ke loket tiket. Di sana aku harus menunjukkan tiket yang sudah di pesan. Setelah itu, kami berjalan menuju garis antrian sebelum naik perahu. 



Di depan kami ada beberapa orang yang juga akan naik. Tidak terlalu ramai sih. Jadi kami bisa langsung naik perahu tanpa antri lama. 

Sebelum naik, penumpang diminta untuk memakai pelampung oranye. Begitu juga anak-anak. Mereka memakai pelampung. Orang dewasa juga. Petugas meminta kami ysng sudah memasang pelampung untuk segera menaiki perahu. Seorang petugas sudah duduk dibalik kemudi dan siap untuk membawa penumpang keliling sungai.

Kapal bergerak perlahan meninggalkan dermaga. Lampu-lampu menghiasi tepian sungai Kalimas. Warna magenta terang  menerangi sungai yang gelap. 



Anak-anak mulai sumringah merasakan perahu berjalan pelan. Adik cuma bengong saja melihat ke arah depan. Semua merasakan pengalaman yang baru malam itu.

Di tengah sungai, tergantung lampion dengan berbagai bentuk seperti kupu-kupu, bebek, dan lain-lain.

Dari kejauhan tampak tingginya Tunjungan Plaza dan menara apartemen yang dihiasi dengan lampu-lampu. 

Setelah berjalan sedikit jauh ke arah Museum Pendidikan, sungai sudah mulai gelap karena lampu-lampu sudah mulai jarang. Di sini aku merasa agak serem dikit.

Memang sedikit gelap meski lampion-lampion menghias sungai.

Kapan waktu yang tepat naik perahu? 

Menurutku paling enak saat sore hari menjelang maghrib karena udara tidak panas dan masih terlihat bangunan di pinggir sungai. Tapi kalau kalian suka melihat lampion yang menyala bisa pilih jadwal yang malam hari.

Sejarah Singkat Sungai Kalimas 

Jika sekarang, jalan-jalan menjadi cikal bakal dam urat nadi perkembangan suatu kota. Maka di zaman dulu, sungai, sebagai anugerah yang diberikan Allah sebagai pencipta, yang menjadi awal mula perkembangan suatu kota.

Begitu juga Kalimas yang menjadi jalur transportasi dsn perdagangan Majapahit dan VOC. Dari jalur inilah, rempah-rempah didistribusikan dari pelosok daerah ke negara lain begitu juga sebaliknya. Sungai kalimas ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan bersejarah era kolonial.

Kalimas zaman dulu (IG @surabayapunyacerita)

Kalimas ini merupakan jalur transportasi yang membawa barang dagangan yang berharga. Itulah mengapa disebut Kalimas. Kali dalam bahasa Jawa artinya Sungai. Dan mas artinya adalah emas yang bisa dimaknai dengan sesuatu yang berharga.

Karena jalur penting ini di beberapa tempat juga dibangun jembatan yang bersejarah seperti jembatan merah, jembatan petekan dan jembatan peneleh yang masih bisa kita lihat sekarang.

Pada tahun 1990an, wisata perahu Kalimas dimiliki oleh Grahadi kemudian berpindah ke Dinas Pariwisata Surabaya.

Kalau ke Surabaya, Jangan Lupa Naik Perahu Kalimas

Nah, wisata perahu Kalimas ini bisa menjadi destinasi wisata Surabaya yang sayang untuk dilewatkan. Mungkin bisa coba yang rute dari Monkasel. Jadi setelah wisata di monumen kapal Selam bisa naik perahu Kalimas. 

Read More

Follower